Menantu Dirumah Mertua

Menantu Dirumah Mertua
Bab: 18


__ADS_3

Panik


Pantas saja Ibu bisa bergaul dengan gengsosialitanya jatah dari Mas Wawan juga lebih dari cukup untuk bersenang-senang seorang diri. Baju dabn tas yang berjejer di kamarnya, sudah membuktikan kalau Ibu seorang sosisialita. Sedangkan aku?


Selama ini Mas Wawan menjatahku 3 juta sebulan untuk memenuhi kehidupan kami dikontrakan. Itu pun sudah termasuk membayar kontrakan dan membeli token. Bahkan aku harus mengirit demi bisa menabung untuk biaya persalinanku. Namun lagi-lagi Ibu mertua mengeluhkan uang dan tabunganku pun lenyap untuk memenuhi keinginannya itu.


Kuambil uang yang berada di amplop lantas memasukan beberapa lembar di dalamnya. Lalu melipat kembali dan memberikannya pada Mas Wawan. "Buat Ibu," ucapku sembari memberikan amplop coklat pada Mas Wawan yang tengah merapikan bajunya.


Mas Wawan menoleh ke arahku, lalu mengambil amplop yang berada di tanganku.


"Aku menaruh 2 juta di dalammnya," ucapku lagi.


Mas Wawan tersenyum sinis, "Ini hanya cukup untuk arisan Ibu,"


"Terserah, itu urusanmu. Jika kamu mendukung Ibu untuk bergaul dengan geng sosialitanya, silahkan kamu carikan uang sendiri untuk Ibumu itu. Yang jelas ini adalah hak Sania!" ucapku yang mulai meradang.


Aku sudah berbaik hati memberikan untuk Ibu namun tetap saja Mas Wawan seperti tak terima. Aku juga sadar kalau Mas Wawan masih bertanggung jawab atas Ibunya. Namun, jika mengikuti kemauan Mas Wawan dan Ibu yang ada aku dan Sania tak teerurus disini.


Mas Wawan keluar dari kamar setelah rapi dan sudah siap untuk berangkat kerja. Aku pun menyusulnya dari belakang. Di dapur, nampak Bude Indri sudah mengolah bahan makanan seorang diri. Seketika rasa tak enak menyelimuti hati. Biasanya aku yang menyiapkan semua disini, namun sekarang sudah diolah oleh Bude Indri.


"Maaf ya, Bude. Ada Anita, Bude malah masak sendiri. Kenapa tak memanggil Anita saja sih," ucapku setelah mendekati Bude Indri. Dan membantunya mengiris bahan sayuran.

__ADS_1


"Ya kan, kamu lagi pemulihan, An. Gapapa juga Bude yang masak, kan ngak setiap hari. Biar kamu cepat pulih juga," ujar Bude Indri sembari menumis sayur. Bau harumnya tercium hingga yang di dalam perut ini meronta.


Bude Indri memang baik. Tapi sayang, kebaikannya malah dimanfaatkan oleh orang seisi rumah ini. Seperti sekarang, Mbak Meri dan Ibu masih mendekam di dalam kamar sedangkan Bude Indri saja sudah mengolah makanan di dapur.


Mataku menyipit melihat Mas Wawan masuk ke kamar Ibu dengan membawa amplop.


"Bude, Anita nengokin Sania dulu, ya!" kilahku pada Bude sambil beranjak dari dapur.


"Ya, Sayang," jawab Bude.


Mas Wawan sepertinya mau memberikan jatahnya tadi buat Ibu. Aku hanya ingin tahu reaksi Ibu setelah jatahnya berkurang. Pintu kamar Ibu terlihat membuka sedikit, sehingga aku bisa mendengar pembicaraan mereka.


"Ini jatah untuk Ibu," Mas Wawan memberikan amplop tadi untuk Ibu, dan Ibu pun kelihatan sumringah mendapatkan uang dari Mas Wawan.


"Wawan, kemarin Meri ngomong sama Ibu. Katanya, Rusdi dipecat dari kantornya, dan Meri meminta sama kamu, untuk meringankan bebannya membayar cicilan mobil," ucap Ibu lirih. Mas Wawan pun mulai gusar mendengar ucapan Ibu.


Aku pun geram mendengar ucapan Ibu. Dasar Rusdi penipu, di pecat dari mana? Dari tempat pelacuran? Kenapa keluarga ini berisi orang aneh-aneh semua ya? Dan jika kelamaan disini, aku pun juga ikutan gila mengikuti mereka.


"Mas Rusdi dipecat? Kalau minta bantuan, aku bisa membantu memcarikan pekerjaan, Bu. Bukan membantu membayarkan cicilannya. Aku juga pusing jika sudah berhubungan dengan uang!" Mas Wawan meradang. Rasakan lah, Mas, jika kamu bisa tegas dan bahkan bisa menyakitiku, seharusnya kamu juga bisa tegas dengan permintaan Mbak Meri.


"Yaudah deh, ntar Ibu ngomong lagi sama Meri. Eh, tapi kok ini rada tipisan, Wan." uacp Ibu sembari membolak-balikan amplop yang berada di tangan. Muka Mas Wawan sudah pucat menghadapi situasi yang terjadi. Aku hanya terkekeh geli melihat kehebohan mereka yang langka ini. "Tak apa kan sekali-kali senang diatas kepanikan orang lain?" batinku bertanya diri sendiri.

__ADS_1


"Maaf, Bu, memang itu jatahnya berkurang,"


Mas Wawan tertunduk lesu. Ibu mertua buru-buru membuka amplop dan seketika menganga lebar melihat isinya. Lebay sekali Ibu mertua ini? Dulu aku 3 juta harus memutar otak supaya kebutuhan semua terpenuhi. Dan Ibu mertua mendapatkan 2 juta untuk memenuhi hidupnya sendiri masih merasa kurang?


"Wawan, kamu tahu, ini hanya cukup untuk membayar arisan Ibu saja. Lalu gimana jika teman-teman mengajak makan di luar? Duh, mau ditaruh dimana muka Ibu ini, Wawan?" Ibu mulai panik. "Makan tuh teman-teman sosialita!" ketusku dalam hati.


"Udahlah, Bu, aku juga pusing dengan keadaan ini. Anita yang memegang kendali uangku, Bu. Mulai sekarang jika Ibu butuh sesuatu, mintalah sama Anita sialan itu," ketus Mas Wawan.


Aku segera meninggalkan mereka ketika Mas Wawan beranjak ingin keluar meninggalkan Ibu. Ibu masih memanggil Mas Wawan dari kamar, namun sepertinya Mas Wawan tak peduli. Aku pura-pura mengaduk sayur saat Mas Wawan datang menghampiriku di dapur.


"Kopiku mana?" tanya Mas Wawan dengan ketus. Maaku membelalak saat menyadari bahwa manusia satu ini sudah terbiasa minum kopi sebelum berangkat kerja.


"Sudah, An, Bude saja. Orang sehabis lahiran sesar kok, dari kemarin mondar-mandir terus. Kamu tahu ngak Wawan, rasa ngilunya seperti apa? Kalau pengen ngerasain, sini perutmu tak jahit," Bude menggerutu sambil membuat kopi untuk Mas Wawan.


Mas Wawan mukanya nampak memerah mendengar ucapan Bude. Entah malu atau marah, aku tak tahu. Terlebih semenjak habis lahiran, perangainya semakin kasar. Hampir mirip seorang psikopat. Maka dari itu, aku harus pintar-pintar menghadapi Mas Wawan.


"Alhamdulillah, sarapannya sudah mateng. Yuk, An, kita sarapan bareng. Kamu duduk saja di ruang makan, biar BUde saja yang menyiapkan," titah Bude sembari membawa mangkuk berisi sup hangat.


Aku pun menuruti titah Bude Indri dan duduk di meja makan sambil menunggu yang lain. Semenjak ada Bude diisni, jiwaku seperti hidup kembali. tekanan dan beban seakan terangkat.


"Ini pada sarapan apa ngak sih, kok masih betah aja di kamar. Wawan, tolong panggil semua untuk sarapan. Kamu juga mau berangkat kerja kan, cepat panggil yang lain agar kamu ngak kesiangan!" titah Bude.

__ADS_1


Mas Wawan dengan terpaksa beranjak dari tempat duduknya. Terlihat sekali raut wajahnya yang menahan kesal. Terserah kamu saja, Mas. Keluargamu sendiri yang sudah menyusahkanmu, bukan aku.


__ADS_2