Menantu Dirumah Mertua

Menantu Dirumah Mertua
Bab :16


__ADS_3

Rahasia


Aku tak mau memikiran pemendangan yang berada di depanku. Entah apa yang direncanakan Ibu mertua, aku tak peduli. SEgera kuambil sepiring nasi yang suda dibawa oleh Mbak Manda tadi, lantas aku memakannya dengan lahap. Yang kuinginkan cuma satu, segera sembuh dan pergi sejauh-jauhnya dari sini.


"Makannya pelan-pelan, An,'uajr Mbak Manda dengan mengambilkan air minum yang yang ada di meja sebelah kasur.


"Minim dulu," Mbak Manda menyodorkan air minum di sela-sela makanku.


"Sabar, An, apapun yang terjadi, aku akan selalu disampingmu. Jangan merasa sendiri, ya," Mbak Manda menguatkanku. Aku hanya mengangguk mendengar ucapannya.


Setelah makananku habis, Mbak Manda lantas menaruh piring ke maja. Setelah itu ia mengambil obat yang tergeletak dan memberikannya padaku. Aku sudah selesai makan dan minum obat, namun keluarga ini masih berdrama dan memainkan perannya masing-masing. Silahkan, puaskan saja sandiwara kalian. Aku sudsah tak peduli.


"Mbak, aku ingin secepatnya pergi dari sini," ucapku pada Mbak Manda lirih, dengan menoleh Bude Indri yang masih memeluk Ibu mertua.


Mbak Manda meremas tanganku, seolah menguatkan. "Pergilah, An, pergi jauh dan raihlah sendiri kebahagianmu. Kamu berhak bhagia. Tapi jangan saat ini, kamu harus memulihkan kondisimu,"


Aku tersenyum mendengar ucapan Mbak Manda, seolah mendapatkan energi positif kalau esok lusa aku akan pulih seperti sedia kala.


"Kamu istirahat saja dulu, biar cepet pulih. Aku pulang dulu, takutnya nanti Galih nyariin. Jangan takut dan jangan mikir aneh-aneh ya,"


"Makasih untuk semuanya, Mbak Man," ucapku yang dibalas anggukan oleh Mbak Manda. Lantas Mbak Manda menghampiri Bude Indri untuk berpamitan.


"Bude, saya permisi mau pulang dulu ya," Pamit Mbak Manda pada Bude Indri dan seketika Bude Indri menoleh, lantas mendekati mbak Manda.


"Makasih banyak, Mbak, sudah membantu Anita," ucap Bude ramah.

__ADS_1


Mbak Manda tersenyum, "Sama-sama, Bude. Saya permisi dulu kalau begitu," ujar mBak manda lantas melewati para pemain drama dan keluar dari ruangan ini.


Aku merebahkan badanku stelah Bude menyuruh untuk istirahat. Tadinya Ibu keberatan, alasanya takut darah putih naik jika tidur siang sehabis melahirkan. Namun Bude Indri meyakinkan bahwa itu hanya mitos. Dan dengan terpaksa Ibu mengiyakan ucapan Bude.


Tentu saja aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku harus istirahat agar badan ini segera pulih. Tadi bayi Sania sempat rewel, namun sekarang kembali tertidur setelah aku meyusuinya. Bismillah, kupejamkan mataku dengan memeluk bayi Sania. "Maafkan Bunda, Sayang. Bunda janji akan membahagiakan kamu dengan tangan Bunda sendiri," gumamku dengan memeluk bayi Sania.


*******


"Duh cantiknya anak Bunda," seruku pada Sania yang sudah kumandikan sore ini. Rasanya bahagia sekali melihat tumbuh kembang Sania, bayi yang belum genap dua minggu ini nampak begitu menggemaskan. Kaki dan tangannya sudah mulai lincah ia mainkan.


Aku mengendong Sania keluar kamar namun tak kudapati seorang pun berada dirumah ini. Pada kemana? Bukankah Bude Indri masi berada disini? Bude Indri memutuskan untuk tinggal beberapa hari dirumah ini menemaniku. Tentu saja tak akan kusia-siakan kesempatan ini, setelah Bude Indri pulang, aku pun juga akan pergi jauh dari sini.


Saat beranjak untuk mengambil jemuran dibelakang rumah, sayup-sayup kudengar suara dari arah kamar Mbak Meri. JIka Mbak Meri sendiri berada di rumah, alau kemana yang lainnya?


Terdengar suara dari dalam kamar Mbak Meri, membuatku penasaran. Apa maksud Mbak Meri berbicara seperti itu? Penasaran, aku mendekatkan diri ke pintu kamar Mbak Meri. Kadang, menguping itu sekali-kali dibutuhkan.


"Lah, kan aku juga sudah kerja, Yang, mencarikan pelanggan untuk jadi sumber uangmu. Itu namanya apa kalau bukan kerja. JIka tak ada aku, mana mungkin kamu punya simpanan tjir melintir seperti itu?"


Mulutku menganga mendengar ucapan Rusdi, suaminya Mbak Meri. Pekerjaan apa yang mereka tekuni? Pelanggan apa? Bukankah Rusdi kerja di kantoran seperti Mas Wawan, lalu yang kudengar tadi?


"Tak mungkin selamanya aku seperti ini, Yang. Aku ngask mau ya, jika suatu saat istri sah nya datang kesini dan melabrakku. Mau taruh dimana mukaku nanti? Aku juga sudah capek berbohong terus sama Ibu,"


"Itu ngak mungkin terjadi, Sayang. Selama kamu pintar menutup rahasia ini, pasti akan aman sejahtera. Tenang, orang yang menjadi target kita, aku pastikan bukan suami-suami takut istri seperti kebanyakan. Jadi jangan takut, ya"


Lama, ta ada suara di antara mereka. Jangtungku sudah bertalu-talu sejak tadi. Biarlah, itu urusan mereka. Aku harus pergi dari sini, sebelum mereka mengetahui keberadaanku.

__ADS_1


"Tapi, jika kakmu takut mengambil resiko, ngak papa kalau mau berhenti jadi wanita simpanan," ucapan Rusdi benar-benar membuatku syok.


"Kenapa kamu tak memcoba memanfaatkan Bude Indri saja. Sepertinya Budemu itu, banyak uang. Buktinya sekeluarga sedang makan-makan dengan ditraktir oleh Bude Indri sekarang,"


Terdengar suara Rusdi menyebut nama BUde Indri membuat langkahku kembali berhenti.


"Bude Indri itu bukan orang sembarangan, Yang. Aku ngak mau nanti Bude mengusut kerjamu, jadi berabe deh kita berdua. Yang ada nanti kita akan di usir dari rumah ini, aku ngak mau, Yang"


"Benar juga, itu si Wawan setiap gajian dikasih ke Ibumu semua lo. Aku pernah mendengar pembicaraan mereka. Wawan kan, gajinya gede. Cobalah bernegosiasi sama Ibu, siapa tahu berhasil. Soal Anita, bukankah kamu bisa mengatasi wanita bodoh itu," Tanganku mengepal mendengar ucapan Rusdi.


"Benar katamu, Yang. Hahaha ... besok kan Wawan gajian ya, mending minta Wawan saja daripada tiap hari melayani lelaki tua hidung belang. Hahaha ... makasih sayang, kamu berada disampingku saja itu sudah cukup buatku,"


Kutinggalkan mereka yang masih tertawa terbahak-bahak. Aku bergegas mengambil jemuran sambil menggendong Sania. Rasanya tanganku masih gemetar mendengar pembicaran mereka. Masih terngiang jelas ucapan Rusdi yang membuatku syok luar biasa. Mbak Meri yang pergi tiap malam dan berpamitan sama Ibu, ternyata untuk menemui lelaki simpanan yang telah dipersiapkan oleh Rusdi, suaminya.


Pasangan seperti apa, yang bekerja sama menggaet laki-laki lain demi untuk menghasilkan uang? Rusdi dengan tega menjual istrinya sendiri pada orang lain. Dan anehnya lagi, tak ada seorangpun yang mengetahui pekerjaan yang mereka lakoni.


Seketika aku bergidik ngeri membayangkan semua itu. Rusdi yang kelihatanya kalem dan tak banyak bicara ketika berada dirumah ternyata adalah racun berbisa yang siap menyeburkan pada siapa saja. Dan Mbak Meri yang sudah cinta mati tak menyadari bahwa dia hanya dimanfaatkan saja.


Sungguh, miris sekali hidupmu, Mbak Meri?


Baju sudah selelsai dikumpulkan di keranjang dan tinggal membawa ke kamar saja. Namun sedikit kerepotan karena sedang menggendong Sania.


"Sini, An, saya saja yang bawa!"


Mataku terbelalak saat seseorang yang baru saja menari-nari di pikiranku, sekarang berdiri di depenku dan menawarkan bantuan untukku. "Lindungilah aku dari jahatnya ular berbisa ini, ya Allah," Doaku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2