Menantu Dirumah Mertua

Menantu Dirumah Mertua
Bab : 21


__ADS_3

Hukum alam


"Keluar kamu, pelakor! "


Dok dok dok!


Terdengar gedoran pintu yang menggema di ruang depan, membuat kami menoleh dan terkejut. Siapa yang menggedor pintu hingga sekeras itu?


"Keluar kamu, wanita jal*ng sialan!"


Lagi-lagi suara itu menggema di hingga kami semua saling pandang. Aku pun tak kalah terkejut dengan suara lantang yang berada di luar.


"Dasar lancang siapa yang berani ngamuk di luar? Siapa yang disebut pelakor?" gerutu Ibu.


"Anita, apa yang kamu lakukakn diluar sana? Kamu selingkuh dari Wawan? Selingkuh dengan suami orang, begitu?" suara Ibu tak kalah menggema sama yang berada diluar.


Kulirik Mbak Meri, wajahnya pias seperti orang ketakutan. Dugaanku seperti tak meleset, yang diluar itu pastilah istri dari langganan Mbak Meri. Rusdi juga tak kalah syok dengan Mbak Meri. Cih! Ternyata cuma segitu tampang garang kalian.


"Lebih baik di buka saja pintunya, Bu, biar kita tahu siapa yang suka main sama laki orang!" sinisku.


"Ja-jangan, Bu," teriak Mbak Meri dengan tergagap. Ibu nampak mengernyitkan keningnya.


"Maksudku, tak usah dibuka, biarkan saja. Mungkin diluar itu hanya cari sensasi, ntar juga pergi sendri, Bu," kilah Mbak Meri. Sudah terpojok masih saja berkilah.


"Yang ada berisik kalau tidak dibuka, Mer. Malu sama tetangga. Dikira kita m*ling laki orang. Biar saja, nanti kalau terebukti Anita yang selingkuh kita arak rame-rame keliling kampung, biar tahu rasa dia," Ibu menuding ke arahku.


"Aku setuju, Bu, siapapun yang terbukti main sama laki orang dirumah ini, kita arak rame-rame keliling kampung!" ucapku tak kalah garang dengan Ibu. Geram sekali rasanya, belum apa-apa sudah asal nuduh. Rasanya pengen cepet-cepet itu pintu dibuka, biar syok nanti Ibu mertua cap nenek lampir ini.


"Ngomong apa kamu, Anita. Diam, ngak usah banyak komentar!" teriak Mbak Meri murka.

__ADS_1


Kali ini Mbak Meri merangkul lengan Rusdi nampak sekali tangannya gemetaran. Kalian yang bermain, silahkan panen hasil permainan kalian sendiri..


"Hei, keluar kamu wanita ******! Lihat saja, aku bisa mendobrak pintu ini dari luar!"


Terdengar ancaman seseorang dari luar membuat Ibu mau tak mau beranjak dan keluar untuk membuka pintu. Aku yang masih menggendong Sania mengikuti Ibu, namun hanya mengamati dari depan kamar saja.


Krekk!


Ibu membuka pintu yang sedari tadi di gedor, nampak seseorang yang berdiri di depan Ibu tengah berkacak pinggang dengan napas yang tak beraturan.


"Jangan kurang aja di rumah orang! Kenal juga ngak, main gedor aja!" sinis Ibu pada wanita berbadan gempal di depannya.


"Saya hanya ingin menemui wanita jal*ng itu. Cepet suruh dia keluar kesini! Jangan beraninya hanya di belakangku saja!" ketus wanita berbadan gempal tersebut.


"Jangan sembarang kalau ngomong!" ketus Ibu.


"Anita, keluarlah! Jangan bersembunyi kamu!" Ibu berteriak memanggilku hingga aku pun menyusul Ibu mendekati wanita ini.


"Bukan, bukan dia orangnya," ucap wanita itu.


"Jangan asal nuduh, aku bisa memenjarakanmu atas kasus pencemaran nama baik!" kini giliran Ibu yang berkacak pinggang di depan wanita itu. Mungkin untuk menutupi syok padahal tadi sangat berharap akulah pelakunya.


"Aku punya buktinya. Dan setelah saya selidiki wanita ****** ini memang tinggal disini,"


Wanita itu mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan beberapa foto pada Ibu. Aku pun ikut nimbrung dengan melihatnya sekilas. Mata Ibu terbelalak ketika mendapati foto Mbak Meri yang sedang bermesraan dengan lelaki yang kuduga suami wanita di depanku ini. Bahkan ada yang lebih parah dari foto yang kulihat tadi. Wanita itu menunjukkan foto Mbak Meri tengah telanj*ng dan berada dalam satu selimut dengan lelaki itu. Sungguh menjijikan sekali, rasanya mual layaknya seorang pelac*r itu.


"Asal ibu tahu, laki-laki yang bersama wanita ****** ini adalah suami saya!" wanita itu kembali menaikan suaranya setelah memperlihatkan foto-foto itu pada kami.


Ibu mundur dua langkah dengan mata membelalak. Ia terlihat sangat syok sekali mengetahui kebenarna anaknya. Mbak Meri itu bodoh atau gimana, berani sekali dia berfoto dan berpose ria dengan sangat menjijikkan seperti itu. Hingga dia tak meyadari bahwa jejak digital itu bisa mematikan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Dimana dia sekarang?' tanya wanita itu dengan mata berkilat-kilat. Kembali emosi dengan melihat beberapa foto yang berada di ponselnya.


Ibu terlihat masih syok, mulutnya masih menganga hingga pertanyaan wanita ini tak dijawab olehnya.


"Masuk saja ke dalam, Bu, tapi tolong jangan buat keributan di kamarku," titahku dengan tangan menunjuk ke arah kamarku.


Ya, Mbak meri dan Rusdi sepertinya tengah bersembunyi di dalam kamarku. Sedari tadi tak menampakkan hidungnya sama sekali. Ibu nampak melotot ke arahku karena telah menunjukkan keberadaan Mbak Meri. Cih, sudah terbukti bersalah masih saja dilindungi. Sekarang, terimalah hadiah yang diperbuat oleh anakmu sendiri, wahai Ibu mertua.


Dengan langkah tergopoh, wanita ini masuk kedalam rumah mendahului kami. Aku yang masih menggendong Sania, membuntutinya pelan masuk ke kamarku.


"Oh ternyata kamu bersembunyi disini rupanya. Dibayar berapa kamu sama suami saya, hingga bisa kegatel*n seperti itu," ucap wanita ini ketika sudah menemukan keberadaan Mbak Meri.


Seketika wajah Mbak Meri pias ketika wanita itu perlahan mendekatinya. Tangan Mbak Meri semakin erat menggengam lengan Rusdi.


"Suami Ibu yang menggoda saya," Mbak Meri berkelit, sehingga membuat wanita itu semakin emosi.


"Dasar wanita jal*ng tak tahu diri!"


Plakk!


Wanita itu menampar pipi Mbak Meri hingga terhuyung ke belakang. Nampak matanya bwerkilat-kilat penuh dengan emosi.


"Dasar wanita sial*n, pantas saja suamimu memilihku. Lihat saja, badanmu saja seperti gajah berjalan. Ngaca dong!" teriak Mbak Meri. Padahall sudah jatuh terhuyng ke lantai tapi masih sombong.


'Dasar ****** kamu ya, udah melac*r aja bangga!" geram wanita itu dengan menjambak rambut Mbak Meri. Rambut Mbak Meri ditarik hingga kepalanya mendongak ke belakang. Aku yang melihatnya saja merasa nyeri sendiri membayangkan apa yang dirasakan Mbak Meri.


"Kalau seandainya kamu ngomong baik-baik tadi, ngak bakal aku sekasar ini. Kamu yang dudah memancingku, wanita ******!" ucap wanita itu dengan masih membabi buta.


Aku yang melihatnya seperti ikut ngos-ngosan. Persis seperti habis lari maraton. Gimana tidak ngos-ngosan, melihat Mbak Meri dijambak sedemikan rupa, dan entah berapa kali wanita itu menampar Mbak Meri pun masih tegak menunjukkan kesombongannya.

__ADS_1


"Meri ... minggir kamu wanita sialan!" Ibu lari ke arah Mbak Meri yang sekarang berada di bawah wanita itu. Ya, wanita itu tengah menunggangi Mbak Meri yang sudah tak berdaya. Jelas Mbak Meri kalah tenaga, tubuh Mbak Meri kecil, berbeda dengan lawannya yang memang gempal.


"Rusdi, kenapa kamu diam saja! Lihat, istrimu diperlakukan seperti itu. Apa kamu akan terus diam saja jika Meri mati ditangan wanita gajah ini!" Teriak Ibu. Tangannya menuding ke arah Rusdi dengan murka. Namun Rusdi hanya plonga plongo mendengar teriakan Ibu.


__ADS_2