Menantu Dirumah Mertua

Menantu Dirumah Mertua
Bab : 27


__ADS_3

Sebuah dendam


Ceklek! Ceklek!


Siapa yang berusaha membuka pintu kamarku? Apa mungkin itu Ibu? Bukankah Ibu tadi pamit keluar, lalu itu ispa? Ah, mungkin aku hanya berhalusinasi saja. Tak ada orang dirumah ini, tak mungin handle pintu kamarku berbunyi sendiri. Nyatanya sekarang sudah tak ada suara apapun yang kudengar. Kucoba untuk menghilangkan rasa takut ini dan berpikir positif, agar terhindar dari panik yang melanda. Aku harus tenang. "Tenang, An, jangan panik. Panik hanya akan membuat pikran buntu!" Batinku menyemangati diri sendiri.


Semua baju sudah ku kemas, termasuk surat perjanjianku dengan Mas Wawan dan uang permberiannya sudah tersimpan rapi di dalam tas. "Aman," gumamku sedikit lega.


Ceklek! Ceklek!


Aku terlonjak kaget saat hendle pintu kamarku ada yang menggerakkan dari luar. Jangtungku berpacu ketika menyadari bahwa kali ini bukanlah halusinasi seperti yang kupikirkan tadi. Aku kembali panik ketika wajah Rusdi mulai terlintas dipikirannku dengan muka penuh dendam dan menyeramkan. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?


Aku memberanikan diri untuk mendekati pintu, namun tak ada suara apapun yang kudengar. Siapa yang sudah menggangguku pagi ini? Apa mungkin Rusdi yang sengaja menerorku dan menakutiku?


Sudah setengah jam mondar-mandir di depan pintu. Menimbang apa yang harus kulakukan sekarang. Bgaimana jika Rusdi sengaja menungguku di luar kamar, lalu akan berbuat nekat padaku jika aku membuka pintu? Tapi apakah Rusdi betah menungguku hingga berjam-jam demi untuk menuntaskan balas dendamnya padaku?


"Ayo berpikirlah Anita, apa yan harus kamu lakukan hari ini?" Gumamku, masih dengan mondar-mandir di depan pintu. Aku harus pergi secepatnya sekarang. Sebelum Mbak Meri kembali ke rumah ini dan menyakitiku lagi.


Sepertinya sudah tak ada suara apapun lagi diluar. JIka itu Rusdi, mungkin dia sudah pulang karena mengetahui pintu kamar yang ku kunci rapat. Tak mungkin juga dia bisa berjam-jam menungguku disini membuka pintu, sementara Mbak Meri pun terus menempel padanya.


Dengan pertimbangan dan segala keberanian untuk membuka pintu kamarku sekarang juga. Selain sudah merasa aman, aku juga harus segera pergi dari sini sebelum gerobolan keluarga psikopat ini berkumpul untuk menyerangku.


Ceklek!


Kali ini aku membuka pintu. DEngan berdebar dan rasa was-was, mataku memandang sekeliling ruangan yang berada diluar. Aman, dan tak ada siapapun. Aku langsung menghampiri Sania untuk segera menggendongnya. Namun baru mengambil kain, mataku terbelalak melihat sosok yang sekranag berada di depanku.


"Mau kemana, Anita sayang?" ujar seseorang dengan tatapan tajam, dan terus mendekatiku yang mulai ketakutan.


Ya, orang yang menghatui pikiranku kini berada di hadapanku. Dan Rusdi memanfaatkan kesempatan ketika tak seorang pun berada di rumah ini. Aku masih berjalan mundur dengan badan gemetaran. Apa yang harus aku lakukan sekarang ya Allah?

__ADS_1


"Mau apa kamu kesini?" Seruku yang masih berjalan mundur menghindarinya.


"Hahaha ... tentu saja mau bermain denganmu, adik ipar. Tak usah takut, ngak ada orang disini. Jadi aman, aku yakin kau juga pasti menginginkannya, kan?" ujarnya. DEngan memendangku dari atas sampai ke bawah. Sungguh menjijikan sekali.


"Pergi!" seruku yang semakin gemetaran melihat Rusdi yang sudah semakin dekat denganku.


" Pergi, tak mungkin aku lewatkan kesempatan ini Anita. Sudah lama aku mengincarmu. Lihatlah, tubuhmu tak berubah sama sekali. Tetap saja menggiurkan setiap mata yang memandang." badanku bergetar hebat mendengar ucapannya. Kini, posisiku sudah mentok di tembok dan Rusdi semakin dekat denganku.


"Kamu memang wanita pintar, Anita. tidak seperti Meri yang mudah sekali dimanfaatkan. Hahaha ... tapi hari ini kita akan bersenang-senang menikamti kebersamaan kita,"


"Dsar brengs*k!" Teriakku dengan menendang senjatanya ketika dia mau memegang pipiku. Tak sudi aku disentuh oleh bajingan seperti dia. Rusdi terlihat kesakitan terkena seranganku, tapi begitu aku ingin menghindarinya tanganku ditarik dan dia mendorongku ke tempat dimana kini Sania berada.


Perutku kembali ngilu mendapat dorongan kasar dari Rusdi. Dan mukaku pias melihat Rusdi mulai membuka bajunya. Apa yang akan dia lakukan? Tidakkah dia tahu kalau aku habis melahirkan?


"Tolooong!"


Aku berteriak kencang dalam posisi tak berdaya. berharap ada yang mendengar dan menolongku.


Aku dengan bersusah payah masih mempertahankan diri dari serangannya. Dan masih berteriak kencang, mengharap pertolongan. Perutku semakin ngilu ketika Rusdi berusaha membuka paksa hijabku.


Bugh!


Aku tersentak ketika tiba-tiba ada orang yang memukul Rusdi hingga Rusdi terhuyung ke lantai.


"Bunda ..."


Sepertinya aku mengenali suara anak manis ini. Namun, aku tak bisa menggerakkan badanku sendiri karena rasa sakit yang luar biasa di area perut.


"Bunda ... bangun, jangan tinggalin Liana lagi. Hmmm... Ya, aku baru ingat. Anak ini yang pernah memelukku dan mengira aku adalah Bundanya. Dan sekarang sedang menangisi diriku yang tak berdaya disini.

__ADS_1


Ayahnya Liana melirikku sekilas, dan kembali menghajar Rusdi dengan membabi buta.


"Dasar brengs*k kau, beraninya sama wanita! Rasakan ini!" Laki-laki yang tak kukenal itu kembali menghajar Rusdi, hingga wajah Rusdi babak belur penuh dara. Dan sekarang dia terlihat tak berdaya setelah dihajar oleh laki-laki itu. Aku yang berusaha bangun, rasanya sangat tertatih ingin duduk mnghampiri Liana. Namun percuma, rasa sakit yang mendera kembali membuat tubuhku limbung tak berdaya.


"Bunda! Hmmm ... Ayah, tolong Bunda, Yah!" Liana menangis dengan berteriak ke arah Ayahnya. Dengan panik dan masih ngos-ngosan laki-laki itu kemudian menghampiriku.


"Ada masalah, Pak," seseorang yang baru datang, entah siapa, betanya pada laki-laki yang berada di deanku ini.


"Tolong kamu bawa bayi ini, aku akan membawa BUndanya ke mobil!"


"Siap, Pak," ujarnya lantas menggendong Sania keluar.


"Anakku," hanya itu yang bisa ku ucapkan pada Ayahnya Liana. Karena tenggorokan rasanya tercekat, susah sekali menelan ludah sendiri.


"Tenang, anakmu aman bersama saya. Ayo Liana, kita harus segera pergi dari sini!" titahnya. Lantas laki-laki ini membopongku dan membawaku keluar dari sini.


"Kamu tahan ya, kita akan ke rumah sakit sekarang juga!" ucapnya yang masih menggendongku. Mukanya nampak sekali khawatir, apa mungkin mengkhawatirkanku?


"Bunda, jangan sakit Bunda," uajar Liana dari kursi depan. Kini aku berada di dalam mobil dengan ditemani oleh Ayahnya Liana. Ya, laki-laki yang aku lupa namanya ini menemaniku di kursi tengah sambil menggendong Sania. Mungkin yang mengemudikan mobil itu adalah sopir laki-laki ini.


"Pak," ucapku.


Lidahku keluh, rasanya sangat berat hanya untuk sekedar mengeluarkan suara dari tenggorokanku. Ku teguk ludah ini kuat-kuat rasanya tenggorokan pun terasa sakit saking sesaknya.


"Panggil saya Alex, kamu sabar ya. Sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit. Cepet sedikit Pak!" titahnya.


"Pak, tolong jangan bilang sama Mas Wawan kalau saya sekarang saya bersama Bapak."


Setelah menguasai diri dan mengumpulkan kekuatan, au bisa berucap seperti itu pada Pak Alex. Pak Alex yang duduk di sebelahku dan masih menggendong Sania sepertinya terkejut mendengar ucapanku. Namun akhirnya mengganggukan kepala.

__ADS_1


Tak lama, badanku terasa bergetar hebat. Mata pun terasa gelap, hingga badanku limbung di sebelah Pak Alex. Masih sempat terdengar suara memanggilku dengan sebutan "Bunda" dengan menepuk pipiku. Tapi setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi.


__ADS_2