
"Om kan sayang sama orang yang kamu panggil Bunda itu, Sayang. Tak mungkin lah Om menyakitinya, " ucap Mas Wawan yang berusaha merayu gadis kecil ini.
"Ngak, Om ngak boleh sayang sama Bunda. Yang boleh sayang tuh, Liana sama Ayah!" ucap gadis ini langsung. Aku melongo mendengar ucapan gadis kecil ini. Begitu juga dengan Mas Wawan dan Ayahnya gadis kecil ini nampak melongo bersamaan. Sedangkan pelukannya semakin erat padaku, tatapannya tajam mengarah pada Mas Wawan.
"Liana yang sopan kamu! Pak Wawan, Bu, saya benar-benar minta maaf atas ulah Liana, anak saya, " ucap Ayah gadis ini dengan tak enak hati.
"Hmmmmm... Papa jahat! Aku mau ikut Bunda aja ngak mau ikut Papa, hmmm.. "Gadis yang ku ketahui bernama Liana ini menangis karena bentakan sang ayah. Ini tak bisa dibiarkan, aku harus mengambil tindakan. Hal yang kulakukan adalah mengambil kesempatan dalam kondisi sempit seperti ini.
"Udah ya, Sayang. Jangan menangis lagi ya, ada Bunda disini,"ucapku yang seolah menjadi Bunda dan memeluknya. Aku harus menenangkannya dulu.
"Mas, lebih baik Mas Wawan segera menebus obatku dulu. Nanti setelah selesai pasti Liana ngerti," ucapku yang sengaja berbicara seperti itu agar ayah Liana mendengarnya. Jika ada yang mendengarnya mau tak mau dia akan mengikuti titahku. Kalau tidak, silahkan menanggung malu.
Mas Wawan pun pergi ke ruang administrasi menebus obat, langkahnya terlihat berat. Biar saja, gara-gara keluarganya aku jadi seperti ini.
"Maaf, Bu, gara-gara anak saya Ibu jadi direpotkan seperti ini," ucap Ayah gadis kecil itu.
"Tidak apa-apa, Pak. Maaf, Pak kalau boleh tahu,memangnya Bundanya Liana kemana?" tanyaku pada Ayahnya Liana.
"Bundanya Liana meninggal, Bu. Kecelakan beberapa bulan lalu telah merenggut nyawanya."
Seketika hati ini merasa teriris mendengar ucapan dari Ayah Liana. Kasihan sekali gadis ini kehilangan Bundanya masih kecil seperti ini. Perutku kembali nyeri karena terlalu lama berdiri. Aku pun mengajak Liana mencari tempat duduk untukb merehatkan badan ini sebentar.
"Sayang, dudukb disana yuk!" titahky mengajak Liana.
"Ayo, Bun. Yeay ... akhirnya Liana ketemu Bunda!" ucap Liana senang. Dan itu cukup membuatku miris. Kasihan sekali kamu, Nak.
"Semenjak Bunda Liana meninggalb, Liana selalu mengajak kesini. Katanya ingin menjenguk Bunda yang sakit. Padahal saya sudah menerangkan pelan-pelan kalau Bundanya sudah ngak ada, tapi Liana ngak percaya," lirih Ayah Liana setelah kami semua duduk. Dan Liana masih melendot padaku. "Sungguh malang sekali kamu, Liana,' batinku sambil mengelus rambutnya.
__ADS_1
"Sudah, An. Gimana, dedek cantik ini masih ingin bersama Bunda?" tanya Mas Wawan yang baru datang. Lalu duduk disampingku.
"Maaf ya, Pak Wawan, saya bujuk Liana dulu," ucap Ayah Liana. Namun berbagai cara telah dilakukan oleh Ayah Liana, bnamun nihil. Liana masih melendot ke tubuhku.
"Liana sayang, Bunda ngak jauh-jauh kok, Bunda hanya ingin pergi senbentar. Kalau Liana ingin menemui Bunda tinggal ngajak Ayah, kan."
Biarlah untuk saat ini janji dulu. Aku harus cepat meninggalkan tempat ini. Kepikiran Sania yang ku tinggal sendirian bersama Ibu. Kalau Liana sendiri ingin menemuiku, biarlah nanti diantar Ayahnya ke rumah. Bukankah Mas Wawan dan Ayah Liana saling mengenal?
"Benar, Yah, kalau Liana kangen sama Bunda, Ayah akan mengantarkanku ke tempat Bunda?" tanyua Liana sumringah. Matanya terlihat berbinar sekali.
Sejenak Ayah Liana menoleh ke arahku dan Mas Wawan bergantian, mungkin merasa ngak enak sama kami.
"Iya, Sayang," ucapnya.
"Liana sini dulu, sama Ayah!" titah Ayahnya sembari menggendong Liana. Dan kali ini gadis kecil ini menurut dengan Ayahnya. Huh, akhirnya.
"Dada Bunda ..." ucap Liana dari jauh sembari melambaikan tangannya. Dan aku langsung membalasnya.
π΄π΅πΊπ·πΈπ±
"Ganjen banget sih jadi orang! Kamu sengaja tebar pesona di depan bosku?"
Oh, jadi tadi bos nya Mas Wawan.
"Ngak usah marah-marah, Mas! Lebih baik kita segera pulang sekarang. Aku kepikiran Sania dirumah, semoga Ibu takb menyakitinya!" ucapku enteng. Namun membuat Mas Wawan meradang.
"Emang kamu pikir Ibuku apa, Hah?" Hardik Mas Wawan lantang. Namun memasang wajah datar ketika menyadari banyak yang melirik kami. Mas Wawan mengeluarkan motornya dan kami melaju pulang agar segera sampai di rumah.
__ADS_1
Setelah sampai di depan rumah Mas Wawan lantas memarkirkan motornya, dan aku pun bergegas ingin menengok Sania yang kutinggal sedari tadi.
Mataku membelalak ketika mendapati bayi Sania tengah digendong oleh Ibu. Dan lebih mengejutkannya lagi, Ibu tengah menghaluskan pisang di sebelah bayiku. Jantungku berdatak sangat kencang ketika ingin memasukkan sendok berisi pisang di mulut Sania.
Aku melangkah dengan tergesa " Jangan macam-mcam dengan bayiku, Bu!" ucapku sambil teriak dan merebut Sania dari gendongan Ibu dengan kasar.
Ibu terpental tak bisa mengimbangi tubuhnya dan akhirnya terjatuh di lantai. Tepat posisi seperti ini, Mas Wawan masuk ke dalam rumah. Jantungku masih berpacu cepat, tanganku pun rasanya gemetar menggendong Sania.
"Lihatlah, Wawan! Kamu lihat sendiri kan ulah istrimu. Kasar sekali mendorong Ibu hingga terjatuh. Hemmm ... padahal aku yang menjaga bayinya, tapi datang-datang malah mendorong Ibu." Ibu menanggis sesenggukan di depan Mas Wawan, seolah dirinya ini telah teraniaya.
"Benar begitu, Anita?"
Mata Mas Wawan nyalang menatapku. Klihatan sangat marah sekali. Mukanya merah dan nafasnya terlihat naik turun.
"Kamu tahu apa yang mau dilakukan Ibumu tadi? Sania, bayi sekecil ini mau dijejali pisang sama Ibumu! Aku tak mendorongnya. Aku hanya reflek merebut bayiku dari tanganya." Seruu tak kalah lantang dengan Mas Wawan.
"Bayimu itu butuh makan, Wawan. Kamu ngak lihat, sudah berhari-hari bayimu tak iksaih makan sama istrimu. Semalam Ibu juga dengar bayimu rewel. Itu pasti karena lapar, tapi Anita tak memeperdulikan bayimu."
Aku melongo mendengar perkataan Ibu. Teori dari mana ini? Bayi baru berumur berapa hari mau dijelai pisang.Coba saja tadi terlambat sedikit, aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan Sania.
"Cobalah lihat dirimu Wawan! Kamu jadi gagah sepeti ini atas asuhan Ibu. Dulu semasa bayi kamu makan pisang dengan lahap. Harusnya Anita itu nurut apa kata orang tua, tapi malah melawan seakan paling pintar. Ibu yang sudah pengalaman, Wawan!"
Ucapan Ibu membuatku takut setengah mati. Ya, kali ini aku sangat takut jika berhubungan dengan anakku.
"Nurutlah sama Ibu, Anita. Jangan sok tahu kamu, jelas Ibu lebih pengalaman karena Ibu orang tua." Mas Wawan menabahkan.
Bdanku bergetar hebat mendengar perkataan Mas Wawan. Bagaimana bisa Mas Wawan berucap seperti itu? Apa dia tak pernah membaca berita-berita tentang bayi diluar sana? Apa otaknya sudah tak berfungsi lagi, sehingga tak memikirkan dampak buruknya. Sania kugendong dengan sangat erat, seakan takut jatuh. Sania.....
__ADS_1