
POV WAWAN
Terdebngar helaan nafas berat sekali. Sepertinya BUde menyesal telah marah sama kami. Mampuslah kamu Anita, kali ini Bude yang akan memarahimu langsung. Makanya jangan kurang ajar.
"Dobrak pintu kamarmu. Bude harus bicara dengan Anita sekarang juga!" ucap Bude tajam.
Jujur, aku senang melihat Bude yang marah seperti ini pada Anita. Tapi ngak harus dobrak pintu juga kali. Duh, ya rusak deh pintu kamarmu.
"Tak perlu didobrak juga kali, ya Mbak, nanti rusak dong pintunya, " Ibu berusaha menghalangi Bude Indri.
Bude akhirnya berjalan mendekati pintu kamar. Ya Merasa penasaran, Bude menekan dan memutar handle pintu. Ya Namun nihilisme, ya karena ANita mengunci pintunya dari dalam. Aku dan Ibu hanya membuntutinya dari belakang.
"An, buka pintunya, Nak," ucap Bude sambil mengetuk pintu.>" Namun tak ada sahutan dari dalam.
"An, ini Bude, buka pintunya!"
Ketukan Bude semakain kecang. Anita, amu lagi ngapain sih di dalam?
"Tak ada cara lain. Dobrak pintunya sekarang juga, Wawan!" titah Bude.
"Tapi, Mbak ..."
"Cepatlah, jangan membantah!"
Akhirnya aku menuruti permintaan Bude yang aneh ini. Entah apa yang ingin dilakukan sama Anita, aku tak tahu. Kalau tak dituruti, siap-siap saja kena amuk Bude lagi.
Braakk!
Pintu terbuka setelah beberpa kali kudorong paksa. Mataku membelalak melihat Anita duduk di pojokan kamar dengan posisiyang masih menggendong bayinya. Dari sorot wajahnya nampak sangat ketakutan melihat kami semua masuk. Kenapa lagi nih orang? Aneh lama-lama.
"Anita, kamu tidak apa-apa, Nak? Sini, mendekatlah sama Bude!" ujar Bude mendekati Anita dengan pelan.
__ADS_1
"Tidaaak! Jangan sakiti bayiku. Pergi kalian semua!" Anita berteriak di depan kami semua.
"Sialan sekali kamu, Anita. Kamu berteriak seperti itu di depan Bude solah aku dan Ibu menyakiti bayimu. Apa ini bagian dari rencanamu, Anita?" Batinku yang mulai geram melihat tingkah Anita. Bukankah Bude tadi niatnya ingin marah sama Anita, kenapa sekarang jadi lembut seperti ini? Tk salah lagi, ini pasti bagian dari rencana Anita.
"Pergi! Pergi!" Anita berteriak lagi dan semakin memeluk erat bayinya. Terlihat sekali tanganya gemetaran.
"Kalian lihat sekarang! Jika terjadi apa-apa dengan Anita, aku tuntut kalian semua. Aku tak segan-segan menjebloskan kalian ke penjara!"
Sontak aku terkejut dengan ancaman Bude, begitupun Ibu, tak kalah kaget dengan ucapan yang dilontarkan Bude. Demi membela seorang Anita, Bude mengancam ingin memenjarakan kami.
"Sekarang pergilah kalian, tinggalkan kami berdua disini. Biar aku yang mengurus Anita sendiri,"
Aku dan Ibu keluar menuruti perintah Bude. Ya Karena penasaran, aku membuka sedikit pintu kamar yang sudah rusak bekas kudobrak tadi. Lantas mengintip sedikit agar bisa melihat apa yang akan dilakukan Bude pada Anita.
"Istrimu itu mulai gila atau gimana sih? " tanya Ibu yang ikut mengintip ANita disisir? Namun aku hanya mengedipkan bahu malas meladeni ocehan Ibu. Saat ini fokusku hanya pada Bude dan ANita.
"An, ini Bude, ya Nak. Lihatlah, sudah ngak ada siapa-siapa. Coba lihat sekelilingmu," Bude masih mencoba merayu Anita, namun Anita masih bergeming ditempatnya. Bahkan semakin erat memegang bayinya.
Tok tok! "Assalamu'alaikum," Kali ini suaranya lebih kencang.
"Waalaikum salam," jawab Ibu sambil melangkah ke depan untuk membuka pintu.
"Eh, ada Mbak Manda, ada apa ya, Mbak Man?' tanya Ibu. Dari raut wajah Ibu, sepertinya Ibu kurang suka melihat kedatangan Mbak Manda.
"Ini saya ada bubur kacang ijo buat Mbak Anita, Bu. Mbak Anita kan lagi menyusui, kebetulan saya juga bikin banyak," ucap Mbak Manda sambil membawa rantang.
"Oh iya, Mbak Man, nanti saya kasihkan ke Anita ya," ucap Ibu menerima rantang dari Mbak Manda.
"Eem ... Bu, Mbak Anita kemana ya?" tanya Mbak Manda sambil celingukan mencari Anita.
Duh, Mbak Manda ngapain sih nanya-nanya Anita segala? Anita lagi berdrama, aku yang ada nanti aktingnya semakin kuat dengan datangnya Mbak Manda. Aku Lihat saja, aku sepertinya aku sudah bisa menebak jalan rencananya kali ini. Aku Ibu sendiri juga sepertinya nampak ngak suka melihat Mbak Manda yang menari ANita.
__ADS_1
"ANita lagi istirahat, Mbak Man. Nyar saja ketemunya ya?" ujar Ibu. Aku Bagus, Bu, aku berbohong demi kebaikan itu memang dibutuhkan sekali-kali.
"Pergi! "
Kami semua tersentak mendengar teriakan Anita yang berada di dalam kamar. Aku Tak terkecuali Mbak Manda kaget dengan suara dari dalam kamar.
"Mbak ANita kenapa, bu? Maaf ya, Bu, aku saya ingin melihat Mbak ANita sebentar,"
Aku terkesiap melihat Mbak Manda yang mengabaikan Ibu, aku lalu berjalan masuk ke arahku. Lebih tepatnya, aku ke arah suara Anita. Seketika aku langsung menjauh dari pintu kamar dan pura-pura ke dapur. Setelah Mbak Manda masuk, kembali aku menyaksikan drama yang sedang dibuat oleh Anita.
"Astagfirullah ... Mbak Anita!"
Mbak Manda nampak syok mendapati Anita yang masih memluk bayinya di pojokan kamar.
"Mbak Anita, ini aku, Mbak Manda," Mbak Manda berusaha mendekati Anita. Namun kali ini tak ada teriakan apaun dari Anita. Hingga Mbak Manda berhasil mendekatinya.
"Mbak Anita jangan takut ya, sekarang Mbak Anita sudah bersama saya. Yuk kita ke atas," ajak Mbak Manda dengan menuntun Anita. Lalu dibantu Bude juga disampingnya. Anita berjalan dengan masih terlihat gemetar tangannya membawa bayi. Cih! Anita, hanya aku yang tak terpedaya akal bulusmu.
"Mbak, dengar, Mbak Anita itu luar biasa menurut saya. Coba ingat, ketika Mbak Anita berjuang melahirkan sendirian. Dengan susah payah Mbak Anita mengetuk pintu rumah saya, dan akhirnya Mbak Anita bisa melewati itu semua. Mbak Anita ingat kan?" tutur Mbak Manda hingga mengeluarkan air mata.
Kurang ajar! Apa maksud Mbak Manda berkata seperti itu? Apa memang segaja biar Bude Indri tahu kalau Anita sendirian?
Bude Indri nampak terkejut mendengar ucapan mbak Manda. Dan kali ini Anita mulai merespon ucapan Mbak Manda, hingga Anita sekarang menangis tersdu di depan Mbak Manda dan Bude Indri. Dengan perlahan, Mbak Manda mengambil bayi Anita, lantas diserahkan pada Bude Indri.
Mbak Manda mengelus tangan Anita, "Mbak Anita harus kuat, saya percaya Mbak Anita pasti lebih kuat dari ini,"
Anita menangis sesenggukan di depan MBak Manda dan Bude Indri. Lantas Mbak Manda memeluk Anita yang menangis.
"Astagfirullah ...."
Bude Indri mengucap istigfar sambil memegang dadanya. Seakan meyesal dengan kejadian ini. Entah apa maksud Bude Indri, meyesal karena keluargaku merasa menganiaya Anita, atau menyesal karena apa, yang jelas, saat ini martabatku sebagai suami sudah hancur.
__ADS_1
Tanganku mengepal kuat. Dengan adanya Mbak Manda kesini, semakin menguatkan prasangkaku bahwa mereka tengah bersekonkol untuk menjelak-jelekkan keluargaku di depan Bude Indri. Ternyata begini jalan rencanamu Anita. Dengan berpura-pura ketakutan seperti orang teraniaya, dan Mbak Manda yang datang sebagai seorang peyelamat. Itu sudah bisa membuat Bude Indri menilai keluargaku. Akan kubalas tingklah licikmu ini, Anita. Lihat saja, kamu akan menyesal telah bermain-main dengan Wawan Prayoga.