Menantu Dirumah Mertua

Menantu Dirumah Mertua
Bab : 11


__ADS_3

Aku menahan sakit luar biasa di sekitar perut hingga berdiri pun rasanya sangat susah. Namun melihat keadaanku yang seperti ini masih saja membuat Mbak Meri angkuh.


"Yang, itu Anita kenapa?" tanya Rudi suami Mbak Meri.


"Biarin aja, Yang. Biar dirasakan sendiri akibatnya. Berani sama Meri, tanggung sendiri akibatnya. "


Melihat Mbak Meri yang angkuh begini, membuatku mengepalkan tangan. Aku tidak akan melupakan perbuatanmu, Mbak, lihat saja nanti.


"Kita periksakan aja, Yang, gimana kalau aku saja yang mengantarkannya ke rumah sakit? " Aku terkesiap mendengar tawaran Rudi. Tampangnya saja yang sok alim, tapi pandangannya sungguh menjijikkan. Lebih baik aku mati di tempat, daripada diantar oleh Rudi brengs*k itu.


"Jangan, Yang! Tanganmu terlalu berharga untuk membantunya. Biar saja dia menanggung sakit sendiri. Biar tahu rasa dia! " ketus Mbak Meri angkuh lantas meninggalkanku yang sedang menahan sakit.


Aku tertatih dan mencari Mas Wawan namun aku tak menemukan keberadaannya. Tidur dimana dia? Apa mungkin dia tak tidur dirumah? Perutku terasa lengket dan sangat perih. Apa yang terjadi, Ya Allah? Aku harus memeriksakan diri ke rumah sakit, tapi Sania gimana? Aku tak mungkin meninggalkan bayiku pada keluarga setan disini.


"Kenapa kamu? " tanya Mas Wawan yang baru datang. Entah darimana, aku tak tahu, yang jelas mukanya terlihat segar. Dari selingkuhannya? Aku tak peduli.


"Antarkan aku ke rumah sakit, sekarang! "


"Jangan manja! Ngabisin duit saja bisanya. "


"Antarkan aku ke rumah sakit sekarang, atau aku teriak keluar rumah. Kamu tak tahu apa yang dilakukan Mbak Meri padaku tadi? "


Mas Wawan tampak terkejut, lantas kembali seperti biasa. Entah dimana nuraninya, melihatku yang kesakitan seperti ini hatinya tak tergerak sama sekali untuk menolongku. Dasar laki-laki tak punya perasaan.


"Jika kamu seperti ini, aku bisa mati ditangan keluargamu, Mas. Mana janjimu yang katanya melindungiku?" Sungutku geram yang masih menahan sakit.


"Yaudah, ayo!" tutah Mas Wawan setelah kupaksa.

__ADS_1


"Mau kemana kamu, Wawan?" tanya Ibu mertua yang baru datang. Entah darimana Ibu mertua kali ini, yang jelas saat Mbak Meri menyerangku tadi, tak seorang pun berada di dalam rumah.


"Tolong jagain bayi sebentar, Bu! Anita mau cek up!" pinta Mas Wawan malas. Ibu hanya melongo mendengar ucapan Mas Wawan.


"Tunggu, Sania?" tanyaku. Aku mendadak ragu jika meninggalkan bayiku sendirian, apalagi menitipkan pada Ibu.


"Kamu mau membawa Sania dalam keadaan seperti itu? Yang ada nanti malah semakin menyusahkanku!" ketus Mas Wawan lantang. Benar kata Mas Wawan, jika aku membawa Sania, yang ada aku malah susah sendiri.


"Kalau ada apa-apa dengan bayiku, aku tak akan segan-segan melaporkan Ibu pada Paak RT. Atau kalau perlu kepada semua teman-teman Ibu!" ketusku pada Ibu dengan penuh penekanan.


"Jangan kurang ajar kamu Anita! Memang kamu pikir kamu siapa? Berani sekali mengancam Ibu!" Ibu teriak meradang.


"Cepatlah, An. Kalau kamu ngoceh terus, kapan berangkatnya?" ketus Mas Wawan lantang. Dan kali ini aku terpaksa meninggalkan bayiku beraada perjagaan Ibu.


'Lindungi anakku, ya Allah. ' Doaku dalam hati lantas mengikuti Mas Wawan menuju rumah sakit.


"Setelah saya periksa tadi, terdapat nanah di bagian bekas sayatan, Bu. Jadi jangan terlalu banyak tekanan ya. Jangan mengangkat yang berat-berat dulu, kalau terluka malah lama sembuhnya." Dokter cantik di depanku berucap setelah memeriksa bekas sesar kemarin.


Aku mengelus dada kuat-kuat. Bagaimana mungkin aku bisa cepat pulih, jika keadaannya terus seperti ini. Aku hanya punya perjanjian dengan Mas Wawan saja, tidak dengan Ibu dan yang lainnya. Apa yang aku lakukan sekarang?


"Kamu dengar kan, Mas? Tuh, Dok, suami saya ngak percaya kalau sehabis melahirkan itu ngak boleh capek, Dok! " ucapku sengaja.


"Mas nya harus dukung dong, istrinya. Disaat begini istrib itu sangat butuh semangat lo. Jangan sampai istrinya stres. Apalagi melahirkan secara sesar, Mas. Bekas sayatan itu rasannya sangat sakit, jangan sampai terjadi pendarahan," ujar Dokter bijak. Penjelasan dari Dokter tadi sudah sangat mewakilkan perasaanku. Semoga Mas Wawan paham akan hal ini.


"Iya, dok," ucap Mas Wawan lirih. Pasti saat ini dia sangat malu.


"Dok, saya minta obat yang paling mahal agar luka saya cepat kering, ada, Dok?Saya ingin cepat sembuh, Dok, agar bisa merawat anak saya dengan baik!" Mas Wawan terlihat mendelikkan mata. Namun aku tak peduli.

__ADS_1


"Ada, Bu. Baiklah, saya rekomendasikan obat paling bagus disini ya, biar cepet sembuh dab pulih. Ini resepnya." Dokter menyodorkan resep padaku. lantas kami pun berpamitan dengan Dokter cantik tersebut.


"Kenapa kamu minta obat aling mahal, An? Jangan sok merasa orang kaya kamu! Memang kamu mau membayar biaya sendiri?" sungut Mas Wawan ketika kami baru keluar dari ruangan Dokter.


"Itu semua salah keluargamu, Mas. Mbak meri yang bikin aku seperti ini. Jika kamu tak ingin keluar banyak uang, lindungi aku dari tangan jahat keluargamu. Jika tak bisa, bersiaplah keluar uang lebih banyak lagi untuk membiayai pengobatanku!" ketusku panjang lebar.


Jika yang dipermasalahkan adalah masalah uang, aku juga bisa mengancam dengan uang. Biar saja, biar dia bisa berpikir dengan jernih. Mas Wawan tak pernah tahu, bagaimana rasanya perut yang habis disayat lalu terluka kembali karena banyak tekanan. Rasanya, aku tak bisa menunggu lama untuk pergi dari rumah neraka itu.


"Kamu lama-lama kurang ajar!" ucapnya penuh penekanan dan tangannya melayang ingin menamparku. Namun tangannya menggantung di udara ketika ada suara teriakan tepat berada disamping kami.


"Om jangan nakal, dong, kenapa mau memukul tante ini?"


Aku terkesiap mendengar suara anak kecil yang marah dengan Mas Wawan. Lantas memandang wajah imutnya.


"Bunda! Hmmm .... Bunda, kenapa Bunda meninggalkan aku, hmmm...." Aku terlonjak kaget ketika anak ini menangis sambil memelukku sangat erat dan mengira aku adalah Bundanya.


"Liana, sayang, sini Nak," ucap laki-laki di depanku. Sepertinya ini adalah ayah dari gadis kecil yang memelukku ini.


"Pak, kok, Bapak ada disini?"tanya Mas Wawan kaget. Sepertinya Mas Wawan mengenali Ayah dari gadis kecil ini.


"Iya, maaf ya, Pak Wawan, Bu. Ibu jadi dipeluk seperti ini sama anak saya, Lian, sini sayang!" ajak laki-laki di depanku ini sungkan.


"Sayang, kamu kenapa?" tanyaku yang reflek menyapa gadis kecil ini dan mengelus pipiny. Kasihan sekali ayahnya sudah menunggunya namun gadis ini masih memelukku.


"Bunda, Bunda jangan tingggalin aku lagi ya. Ayah, tadi Bunda mau dipukul sama orang itu, Yah. Cepat marahin, Yah! Orang itu jahat!"


Gadis ini mengadu pada sang Ayah dengan menuding tangannya ke arah Mas Wawan. Gadis ini terlihat marah sekali dengan Mas Wawan. Ayah dari gadis ini terlihat bengong. Maka Mas Wawan nampak memerah menahan malu. Sedangkan aku, ingin rasanya tertawa melihat muka Mas Wawan. Gimana rasanya, Mas?

__ADS_1


__ADS_2