Menantu Dirumah Mertua

Menantu Dirumah Mertua
Bab :24


__ADS_3

Mengungkap Fakta


"Jangan usir mereka, Mbak Indri. Tolong Mbak, mereka mau tinggal dimana jika pergi dari sini? Hmm... "Ibu mertua menangis dan berlutut di depan Bude Indri.


Bude Indri merenung sejenak. Mungkin bingung apa yang akan dilakukan kemudian. Apalagi Ibu nampak menangis dan memohon di depannya. Namun keteika melirik ke arah Mbak Meri yang masih memeluk Rusdi seperti itu, Bude Indri kembali mengepalkan tangannya.


"Aku hanya mengusir Rusdi, bukan meri. Jika Meri keberatan aku mengusirnya, silahkan pergi berdua! Apa kamu tak bisa melihat, Ririn, Rusdi itu membawa pengaruh buruk buat Meri!" Bude Indri mencoba memberi penjelasan pada Ibu mertua.


"Tapi Meri mencintainya, Mbak. Aku ngak mau semakin menyakiti Meri jika mengusir Rusdi dari rumah ini," Ibu mertua melirik sekilas ke arah dua ratu drama tersebut.


"Mbak Indri tahu persisi kan, Meri sekarang pasti sudah dapat sanksi sosial dari para warga tentang masalahnya. Biarlah dia tenang dulu bersama Rusdi, Mbak," Ibu mertua masih mencoba merayu Bude Indri.


"Jangan bodoh kamu jadi orang tua, Ririn. Meri seperti itu karena ulah suaminya. Lihatlah anakmu yang cinta mati dengan suami tak guna itu, apa kamu ngak curiga jika semua ini berasal dari Rusdi. Pakai otakmu buat mikir, Ririn!" Bude semakinmurka mengingat kejadian tadi.


Bude indri memang sangat peka, bisa membaca keadaan di sekelilingnya. Terlihat pada Rusdi yang sedari awal terlihat ngak suka, BUde Indri tak segasegan mengusirnya ketika dia membuat masalah.


"Sudah, Mer, mending aku pergi aja dari sini. Sepertinya Bude Indri memang tak suka denganku. Aku ngak mau jadi penghalang disini. Demi kebaikan bersama, lebih baik aku segera prgi dari sini,"Rusdi ingin beranjak tapi masih di tahan oelh Mbak Meri.


"Tidak! Aku tidak mau kamu pergi ninggalin aku, Mas. Hmmm ... saat ini aku sangat butuh kamu, Mas, tolong jangan tinggalin aku, hmmm..." MbakMeri menangis dengan menahan langkah Rusdi.


Sungguh, geram sekali melihat drama mereka. Begitu Rusdi, pintar sekali memainkan perasaan Mbak Meri. Pdahal sudah disuruh pergi sedari tadi, tapi sengaja bertahan dengan memainkan perasaan Mbak Meri. Karena saat ini memang Mbak Meri yang menjadi senjatanya.


"Mbak Meri bucin banget sama suaminya ya, An," Mbak Manda berbisik di sebelahku.

__ADS_1


"Bukan bucin, Mbak, tapi bego. Udah tahu suaminya begitu masih saja dibelain," bisikku geram.


Sebucinnya prang jatuh cinta, tak akan ada yang mau menjual dirinya sendiri pada lelaki lain. Hanya Mbak Meri satu-satunya yang melakukan itu. Entahlah, otaknya suadah digadaikan sama Rusdi mungkin, sampai tak bisa berpikir dengan benar.


Saat ini Mbak Meri masih menghalangi langkah Rusdi. Namun mataku mendelik ketika Mbak Meri lari dan bersujud di kaki Bude Indri. Pun Mbak Manda, melotot menyaksikan aksi Mbak Meri.


"Maaf, Bude, Meri minta maaf pada Bude dengan sedalam-dalamnya. Tapi Meri mohon, tolong jangan usir suami saya, Bde. Saat ini hanya dia yang menjadi semangat hidup Meri. Meri mohon, Bude," Mbak Meri menangis sesenggukan dengan memeluk kaki BUde Indri.


"Tolong beri kesempatan sekali lagi untuk Mas Rusdi, Bude. Meri janji, tak akan melakukan hal yang aneh-aneh dan akan selalu menurut dengan Bude," ucap Mbak Meri yang masih memeluk kaki Bude Indri.


Bude Indri kembali menerawang. Lantas perlahan tangannya mengelus rambut keponakan yang berada dibawahnya itu. Namun hatiku sendiri mulai dilanda was-was.


"Tanyakan dulu pada suamimu, Meri apakah setelah ini dia akan mencari pekerjaan yang halal untukmu?" ucap Bude Indri. Seakan memberi sinyal pada mereka.


"Mas Rusdi akan cari kerja Budse, iya kan, Mas?" Mbak Meri meminta persetujuan suaminya.


"Iya Bude. Maafkan saya sebelumnya. Saya akan kembali kerja demi Meri, Bude. Karena saya sangat mencintainya,"


Sungguh, mual sekali endengar ucapan Rusdi. Namun Mbak Meri nampak senang hingga pipinya bersemu merah.


"Merka sudah janji, Mbak, sudah minta maaf dan menyesal. Tolong beri kesempatan sekali lagi, untuk mereka," Ibu mertua menambahkan.


Bude Indri merenung. Mungkin menimbang keputusan yang akan segera diambil. Namun sepintas, kulihat Rusdi yang tersenyum menyerigai ke arah Bude Indri dan Mbak Meri. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku pastikan semua yang diucapkan tadi hanya bualan.

__ADS_1


"Jangan percaya ucapan Rusdi, Bude. Rusdi adalah penipu yang diam-diam akan menggerogoti kita semua pelan-pelan!" ucapku pada Bude Indri.


Semua mata kini memandang ke arahku yang sedang berdiri. Ibu mertua terlihat mendelikkan matanya ke arahku. Bude Indri juga terkejut mendengar suaraku yang sedari tadi diam saja. Begitu juga dengan Mbak Meri dan Rusdi, nampak sekali tak sukanya ditujukan padaku. Biar saja, lama-lama aku juga tak tahan dengan kelakuan Rusdi yang menjijikan itu.


"Diam kamu Anita, tak usah ikut campur urusanku. Dasar wanita sialan tak tahu diri!" teriak Mbak Meri memakiku dengan lantang.


Tangan Mbak Manda sedari tadi menarikku. Mungkin menyuruhku diam dengan drama yang ditunjukan oleh mereka. Namun aku yang mengetahui kebusukan mereka, lama-lama pun tak tahan jika harus selalu berdiam diri.


"Kamu yang diam, Meri. Katakan, Anita, apa yang kamu ketahui tentang mereka?" tanya Bude Indri lugas dan tegas.


"Beberapa hari lalu aku pernah mendengar pembicaran mereka, Bude. Mbak Meri mengeluh capek melayani lelaki hidung bel*ng setiap malam. Namun Rusdi memberi syarat, jika Mbak Meri ingin keluar dari pekerjaannya, maka Mbak Meri harus bisa merayu Ibu untuk meminta uang pada Mas Wawan. Mereka juga berencana membayar cicilan mobilnya dengan meminta pada Mas Wawan setiap bulan, Bude."


Nampak semua mata tercengang mendengar penuturanku. Mbak Manda mengenggam tanganku erat. Mungkin khawatir jika tiba-tiba mereka menyerangku. Dan aku? Entahlah, rasanya aku tak tahan menyembunyikan fakta yang menyimpan racun ini. Dan setelah Bude Indri tahu, tangannya kembali mengepal dan tatapanya tajam ke arah Rusdi.


"Anita bohong, Bude. Dia dari dulu memang ngak pernah suka sama saya. Makanya mengarang cerita seperti itu!" Teriak Mbak Meri tak terima.


"Diam kamu, Meri. Anita tak mungikn berbohong padaku. tak sadarkah kau hanya diamnfaatkan oleh suamimu sendiri," Bude Indri menjauh dari pelukan Mbak Meri, lantas duduk dengan napas yang masih naik turun menahan emosi.


"Sekarang juga kamu, Rusdi. Cepat kemasi barang-barangmu dan pergilah dari sini. Waktumu hanya 10 menit dari sekarang! Cepatlah, atau kamu akan mendekamb di penjara!" Bude Indri berucap lantang dengan menuding ke arah Rusdi.


Rusdi nampak kaget dengan ucapan Bude Indri, lantas melirikku dengan tatapan inginmembunuh. Sepertinya dia menyimpan dendam untukku. Mbak Meri kembali meraung di kaki Bude Indri, namun kali ini Bude Indri benar-benar membuang muka.


"Aku saudah tak peduli lagi, Mer. Jika kamu ingin mengikuti suami kamu, silahkan berkemas sekarang juga. Karena waktumu hanya 10 menit!" Bude Indri berkata tanpa memandang wajah Mbak Meri.

__ADS_1


Rusdi keluar dari kamar dengan membawa tas ranselnya. Melihat Rusdi yang sudah keluar, Mbak Manda nampak menggenggam sebelah tanganku. Dan jantungku berdetak cepat ketika mata ini tertuju ke arah Rusdi.


__ADS_2