Menantu Dirumah Mertua

Menantu Dirumah Mertua
Bab: 2


__ADS_3

POV WAWAN


"Dasar Anita, kerjaannya cuma ganggu aja," gerutuku dalam hati. Sungguh, rasanya sangat kesal melihat Anita yang tak bisa mandiri sendiri. Sengaja aku menyuruh Anita melahirkan di rumah ibu biar aku ngak repot. Tapi tetap saja, sedikit-sedikit menelpon. Semakin membuatku kesal saja.


Awalnya setelah menikah, kita mengontrak disebuah rumah yang tak jauh dari rumah ibu. Jaraknya sekitar dua jam perjalanan jika ditempuh dengan mengunakan motor. Anita mengajak mengontrak karena ingin mandiri, katanya. Namun, ketika perut Anita mulai membesar, ibu memintaku untuk pindah saja ke rumah.


"Sayang uangnya, Wan, daripada untuk membayar kontrakan rumah, mending uangnya dikasihkan ke ibu. Udah gitu Anita juga bisa terurus kalau sama ibu disini," teringat ucapan ibu waktu itu.


Ibu dengan begitu tulus menawarkan bantuan pada kami, aku dan Anita. Namun susah sekali bernegosiasi dengan Anita. SEtalah mengucap beberapa janji dan kata manis, baru lah Anita menyetujuinya. Janji dulu, tak apa kan? Yang penting Anita mau mengikuti apa yang aku perintahkan.


Eh tapi, ini Anita mau melahirkan. Ibu dan Mbak Meri kemana? Lebih baik aku telepon Ibu dulu, nanti malah melahirkan di rumah lagi. Malah bkin repot semua orang.


Tit.


"Hallo, Bu, Ibu dimana?" ucapku setelah telepon tersambung dengan ibu.


"Ini, Wan, Ibu lagi belanja. Ada apa?" tanya ibu di sebrang sana.


"Bu, tadi Anita telepon. Katanya sakit erut, Anita mau melahirkan, Bu," ucapku pada ibu.


"Duh, tapi ibu lagi tanggung nih, Wan, emang kamu ngak bisa nemnin?" tanya ibu terdengar santai.


"Tak bisa, Bu, aku lembur hari ini," ucapku pada ibu.


"Yaudah biarin lah, Anita udah gede juga kan. Biar latihan mandiri, ntra paling kedepan naik ojek. Eh tapi, bilangin Anita ke bidan aja Wan. jangan ke rumah sakit. Kan kalau ke rumah sakit itu mahal," ucap ibu yang masih terdengar santai.


"Iya, Bu, coba nanti Wawan telepon lagi Anitanya," ucapku pada ibu.


Tit.


Telepeon dimatikan oleh ibu.

__ADS_1


Aku coba menelpon Anita, namun tidak diangkat olehnya. Ah Anita, aku hanya ingin menyampaikan pesan ibu. Namun susah sekali menghubungimu.


"Sudah lama menunggu, Mas?" ucap wanita cantik di depanku yang baru datang.


"Untuk wanita cantik sepertimu, tak apa aku menunggu lama," ucapku tersenyum semanis mungkin.


Ya inilah alasanku untuk tidak menemani istriku yang mau melahirkan sekarang. Karena aku ada janji dengan wanita cantik bernama Tari. Sebenarnya Tari ini ngak terlalu cantik, masih kalah cantik dengan Anita yang cantik alami. Tapi lama- kelamaan, Anita itu membosankan. Wajahnya kucel, badannya tak terurus, apalagi sedang hamil besar seperti ini, malas sekali melihatnya.


Kalau sama Tari aku main-main saja. Aku laki-laki normal,pengen lah lihat yang bening. Apalagi Tari naksir sama aku, yaudah lah kenapa tidak? Hanya bermain-main saja tak apa kan? Ada makanan gratis kok ditolak.


"Tar,Mas mau pulang dulu. Udah malem," ujarku sambil beranjak.


"Yah, Mas, kan kita juga baru ketemu," ucap Tari terlihat manyun. AKu menyunggingkan senyum terlihat ekspresinya. Beginilah kalau orang ganteng bereaksi. Tari saja tergila-gila, padahal dia tahu aku sudah punya istri. Ah, Wawan Prayoga, selain dirimu ganteng luar biasa ternyata memang menjadi favorit para perempuan.


"Hati-hati dijalan, Mas," ucap Tari menetapku. Aku hanya tersenyum ke arahnya lalu meninggalkan Tari yang masih mematung menetapku.


Ku laju motor kesayangan untuk bergegas pulang. Jalanan lengang karena sudah larut malam. SEbenarnya aku bisa saja bermalam bersama Tari, karena tak kupungkiri aku juga membutuhkan itu. Apalagi melihat Anita yang tak terurus seperti sekarang, malas sekali mendekatinya, apalagi menyentuhnya. Namun, aku masih ingin melihat seperti apa Tari sebenarnya. Karena aku juga baru mengenalnya.


******


"Ada apa ya, Mas?' tanyaku penasaran.


"Begini, Mas Wawan, Mbak Anita tadi meminta diantar sama saya dan istri. Dan sekarang Mbak Anita sedang berjuang sedirian," jelas Mas Doni.


"Sendirian apa bersama Mbak Manda, Mas Doni?" tanya ibu.


"Bersama istri saya, Bu," ucap Mas Doni kikuk.


"Sekarang Mbak Anita berada di rumah sakit Harapan, Bu,"


Ucapan Mas Doni membuatku melotot. "Rumah sakit Harapan yang besar itu, Mas?" tanyaku pada Mas Doni yang nampak heran karena suaraku sudah mulai meninggi.

__ADS_1


"Memangnya, kenapa, Mas?" tanya Mas Doni.


"Rumah sakit itu tidak berkerja sama dengan poerusahan tempat saya bekerja, Mas. Asuransi saya bukan disitu," ucapku tajam.


"Saya tak memikirkan sejauh itu, Mas. Tadi saya dan istri sangat panik melihat Mbak Anita yang sangat kesakitan. Lalu mencari rumah sakit terdekat agar cepat diselamatkan. Terbukti, setelah sampai sana Mbak Anita sudah kehabisan air ketuban, hingga langsung dioperasi," Jelas Mas Doni panjang kali lebar.


"Oprerasi sesar, Maksud Mas Doni?" tanya ibu terbelalakkan matanya.


Meliht respo ibu Mas Doni terlihat semakin kikuk, lalu tak lama langsung pamit untuk pulang.


"Ditolong, bukanya terima kasih malah di introgasi kaya maling. Kasihan banget Mbak Anita," gumamnya pelan sambil berlalu pelan.


"Kamu itu sepertinya sering memanjakan Anita ketika hamil, Wan. coba kalau hamilnya banyak gerak, pasti ngelahirinnya juga lancar," ucap ibu lemas dengan mata menerawang.


Aku hanya terdiam mendengar ucapan ibu. Aku sering lihat Anita kepayahan memengang sapu dan pel ketika hamil besar, apalagi semejak tinggal disini. Ibu sering menasehati Anita untuk selalu banyak gerak. Tapi apa itu hanya pura-pura saja di depanku supaya terlihat rajin? Ah Anita, menjengkelkan sekali dirimu.


"Anita kok hanya menyusahkan kamu saja toh, Wan. Jadi istri bukannya meringankan beban suami, ini malah memperberat. Melahirkan sesar di rumah sakit itu biayanya tak sedikit, Wan," ibu terus nyerocos hingga rasanya hati sangatlah panas.


Benar kata ibu, kalau seperti ini, bukannya menringankan, yang ada malah nambah beban. Seharusnya Anita berpikir sejauh itu sebelum bertindak melangkah ke rumah sakit tadi. Kenapa tadi ngak nanya dulu sih. Dasar Anita sialan! Geram sekali rasanya.


"Coba Anita mau menahan sakit sedikit lagi, pasti melahirkan normal. Sepertinya Anita itu ngak bisa menahan, udah gitu males ngeden. Untung saja sekarang Anita disini, jadi ada ibu yang mengontrol Anita nanti. Coba kalau masih tinggal di kontrakan, udahlah kamu repot, bayimu ngak keurus, udah gitu Anita seenaknya. Tak kebanyang kan, nanti seperti apa?" ucap ibu panjang lebar hingga membuatku tersenyum.


Benar apa yang dikatakan ibu. Untung ada ibu. Ah, beruntung sekali aku punya ibu seperti ibuku ini. Sangat peduli denganku.


"Ibu ngak nemenin Anita sekarang?" tanyaku.


"Ngak lah, ibu ngatuk. Besok saja kesananya, ada Mbak Manda yang nemenin kan?"


Lebih baik aku juga istirahat sekarang. Ada Mbak Manda kan yang jaga Anita, jadi amanlah. Lagian kalau aku kesana sekarang, takut khilaf memarahi Anita. Malah bikin malu lagi. Nanti di rumah saja, biar Anita mendapat pelajaran dariku.


******

__ADS_1


__ADS_2