Menantu Dirumah Mertua

Menantu Dirumah Mertua
Bab :22


__ADS_3

Hancur


"Rusdi, kenapa kamu diam saja! Lihat, istrimu diperlakukan seperti itu. Apa kamu akan terus diam saja jika Meri mati di tangan wanita gajah ini!" Teriak Ibu. Tangannya menunding ke arah Rusdi dengan murka . Namun Rusdi hanya plonga-plongo mendengar teriakan Ibu. Mungkin dia tak peduli istrinya mendapat perlakuan seperti itu. Namun untuk menutupi kebusukannya, muka pura-pura panik dan polos ia tampilkan di depan Ibu. Dasar susami gila!


"Astagfirullah.... "ucap Mbak Manda dengan menutup mulutnya.


Aku terkejut ketika Mbak Manda tiba-tiba datang dan sekarang berada disampingku. Mbak Manda juga kelihatan syok melihat yang terjadi di depan mata. Sedangkan wanita yang sedang menghajar Mbak Meri, melepaskan cengkeramannya setelah Mbak Meri tak berdaya. Lantas berdiri membenahi dirinya.


Mbak Manda mengambil minum untukku, dan langsung ku tenggak hingga tandas. Entahlah, padahal aku sudah menduga bahwa ini pasti terjadi, namun kenyataannya tetap saja berbeda jika berada di depan mata.


"Kamu gapapa, An," tanya Mbak Manda. Lantas mengambil alih Sania dalam gendonganku. Rasanya terasa lega setelah Mbak Manda datang dan sekarang berada disampingku.


"Seperti yang Mbak lihat, aku gapapa. Dia yang punya masalah," ucapku lirih sambil menunjuk Mbak Meri. Rambutnya acak-acakan dan mukanya penuh bekas cakaran. rasanya ikutan nyeri melihatnya. Wanita gempal pun juga tak kalah berantakan. Nafasanya masih ngos-ngosan karena menghajar Mbak Meri tadi.


"Tetangga diluar rame banget, An. Makanya aku langsung kesini setelah pulang dari sekolah Galih. Terlebih tadi kamu nelpon aku, jadi makin panik jadinya," ujar Mbak Manda.


"Dasar wanita gila! Aku tak terima anakku babak belur begini. Akan ku tuntut kamu kerena telah menganiaya anakku!" Ibu mertua kembali meradang setealh melihat Mbak Meri babak belur. Aku kira perangnya sudah selesai namun sepertinya mau lanjut lagi.


"Biar saja, Bu, banyak bukti kalau wanita gajah ini telah menganiayaku. Nanti kita ke kantor polisi, untuk melaporkan dia, Bu. Biar suaminya malu sekalian karena punya istri narapidana!" teriak Mbak Meri dengan suara lantang. Aku heran dengan Mbak Meri, sudah babak belur bagitu masi ngegas aja. Mbak Manda yang berada disampingku mencengkram lenganku erat.


"Ini urusan rumah tangga keluargamu, An, aku ngak enak disini!" ucap Mbak Manda. jelas dia melihat pertikaian keluargaku. Mana meeka semua masih berada di kamarku lagi, entah seperti apa keadaan di dalam ruangan ini.


"Ngak, Mbak, Mbak Man ngak boleh pergi. Mbak Manda adalah kakak yang menemaniku disini. Mbak Man tahu, aku hampir disandera oleh mereka tadi, sebelum wanita gempal itu datang." ucapku sangat lirih. Mbak Manda nampak menutup mulutnya mendengar ucapanku. Mungkin dia tak menyangka.

__ADS_1


"Hahaha ... kalian mau melaporkan ke polisi? Baiklah, aku juga akan melaporkanmu, wanita ******. Kamu telah berzin* dengan suamiku!" ucap wanita itu lantang. Mbak Meri nampak membelalakkan matanya.


"Aku mempunyai banyak bukti untuk memenjarakanmu, wanita jal*ng. Bahkan aku juga menyimpan vidio menijikan kamu dengan suamiku. Kamu mau aku menyebar ke sosmed, agar menjadi artis terkenal dan viral karena kejalanganmu?" teriak wanita itu.


Semua orang yang berada di ruangan ini nampak membelalakan mata, termasuk Mbak yang di sampingku ini. Mungkin merasa ngak percaya dengan apa yang ia dengar. Ya, beginilah tetanggamu yang sebenarnya ini, Mbak.


"Dasar wanita gajah kurang ajar!" Teriak Mbak Meri sambil berlari ke arah wanita itu. Mbak Meri kalap dan ingin sekali mencekiknya. Aku dan Mbak Manda saling mencengkeram melihat aksi Mbak Meri. Ta habis pikir aja, ternyata dia masih punya tenaga untuk melawan wanita itu.


"Meri ..." Ibu hanya berteriak memanggil nama Mbak Meri. Sedangkan Rusdi nampak membelalakkan matanya. Rusdi ini suami bodoh atau gimana sih, melihat istrinya sperti itu tapi tak berbuat apa-apa.


Wanita itu sempat kewalahan mendapat serangan mendadak dari Mbak Meri. Namun tak lama, tangan Mbak Meri kini berada dalam genggamannya.


"Kamu memang menjengkelkan ya, kalau babak belur belum membuatmu kapok. Aku seret saja di tengah kerumunan warga. Belum pernah merasakan gimana rasanya dapat sangsi sosial dari warga? Ayo, rasakan sekarang!" Geram wanita itu dengan menyeret Mbak Meri keluar.


"Yang, tolong aku, Yang, aku tak mau dibawa keluar. Lepaskan aku, wanita gajah sialan!" teriak Mbak Meri yang tengah meronta ingin melepaskan diri.


"Rusdi, kamu itu bego atau gimana sih, itu istrimu mau dibawa keluar. Emang kamu ngak malu kalau istrimu dipajang di tengah kerumunan?" Ibu eradang juga dengan manusia yang bernama Rusdi itu.


Rusdi lantas mendekati Mbak Meri dan ingin menolongnya.


"Diam kamu, berani ikut campur, kubunuh kamu!" Ancam wanita itu. Dan seketika itu juga Rusdi mundur teratur.


Aku dan Mbak Manda saling berpegangan erat ketika wanita itu melewati kami dengan menyeret Mbak Meri. Mbak Meri nampak meronta ingin melepasan diri, tapi lagi-lagi dia kalah tenaga.

__ADS_1


Krekk!


Jangtungku semakin deg-degan tak karuan saat wanita itu membuka pintu.


"Meri ..."


Ibu mengejar Mbak Meri yang mau dibawa keluar, lantas menahan Mbak Meri dan mendorong wanita itu dengan kuat. Namun terlambat, wanita yang didorong Ibu itu terpental hingga jatuh keluar rumah. Dan mataku membelalak ketika wanita itu jatuh menimpa kerumunan warga di depan rumah. Ternya benar kata Mbak Meri, nampak para tentangga ngumpul di depan rumah hanya untuk melihat pertikaian di rumah ini.


Ibu yang melihat kerumunan itu seketika menganga, ia membelalakan matanya. Seakan tak percaya bahwa yang di depan itu memang benar nyata. Pasti sekarang Ibu mertua merasa martabatnya sudah hancur sekarang. Dan anaknya sendiri yang sudah menghancurkannya.


"Ternya diluar rame, Mbak," bisikku pada Mbak Manda.


"Iya, kan tadi aku udah bilang, An," bisik Mbak Manda pula.


"Ibu-ibu semuanya, dengarkan saya. Pasti kalian disini kenal dengan yang namanya Meri kan? Dia telah selingkuh dengan suami saya, Bu. Padahal suami saya sudah tua lo, Bu, tapi sepertinya Meri mau saja. Mungkin karena kegatel*n ya, Bu," ucap wanita itu. Tiba-tiba membuat orasi di depan para tetangga.


"Saya hanya mau menghimbau pada Ibu-ibu semua disini. Berhati-hatilah dengan Meri, Bu-ibu, takutnya nanti suami kalian yang menjadi incaran Meri," ucap wanita itu pada para warga.


Nampak para warga tengah berbisik antara yang satu dengan yang lain.


"Ternyata Meri jadi pel*kor," kudengar seriwingan para tetangga nampak berbicara yang satu dan yang lain.


"Iya, tak menyangka lo, aku. Padahal punya suami, tapi masih kurang. Mbak Meri ternyata doyan ya, sama suami orang," ucap seseorang yang entah siapa, terdengar jelas ditelingaku.

__ADS_1


Ibu menangis sambil memegang bahu Mbak Meri. Pasti malu dan syok dengan apa yang terjasi hari ini. Apa yang kalian tanam, itu yang kalian panen. Dan hukum alam itu pasti terjadi, makanya jangan semena-mena memperlakukan orang lain.


"Ada apa ini rame-rame?" ucap seseorang yang baru datang hingga membuatku membelalak. Ibu pun nampak melotot matanya. Habislah riwayat kalian hari ini.


__ADS_2