
"Mulutmu itu dijaga kalau ngomong, An. Ngelahirin aja minta sesar, kok segala ngomongin Meri. Udah, mendingan kamu pulang dulu sana!" sungut Ibu mertua meluap-meluap. Emang bener kan, kalau tujuannya kesini cuma pamer mobil doang. Lah, mau jemput siapa? Mas Wawan juga bawa motor.
"Sudahlah, An, mending kamu pulang dulu saja. Jangan bikin ribut disini, malu tau dilihat orang!" ketus Mas Wawan menatap tajam ke arahku.
Tanganku mengepal kuat mendengar ucapan Mas Wawan. Seharusnya Mas Wawan bisa menjadi jembatan antara aku dan keluarganya. Namun malah ikut memojokkanku. Apa dia tak memikirkanku sama sekali? Ah, lupa, jelas dia tak bisa berpikir dengan baik, otaknya saja sudah digadaikan. Okelah, aku ikuti permainan kalian semua.
"Baiklah Mas, aku pulang duluan. Tapi aku tak mau naik ojek, aku maunya naik tadi saja. Kalian semua baik mobil masa aku ojek."
"Eh, eh, apa-apa minta naik tadi segala. Emang kamu ngak tau, tadi itu mahal. Lihatlah, Wawan, istrimu itu selain menyebalkan juga manjanya kebangetan. Udahlah ngelahirinya menyusahkan, sekarang pulang pun ingin menyusahkan pula!" Ibu mengoceh pelan. Jelas pelan, karena ini di tempat umum. Tak mungkin bisa dia teriak-teriak seperti biasanya.
"Udahlah, Mas, aku capek berdebat. Minta uang dua ratus ribu, untuk ongkos naik taxi!" Pintaku sambil menadahkan tanganku ke arah Mas Wawan.
Mas Wawan terlihat kikuk, dia menoleh sekeliling seolah-olah takut kami jadi pusat perhatian. Lihatlah, Mas, harga dirimu itu terlalu tinggi sehingga takut menjadi pusat perhatian. Malu kan, seandainya istrimu ini minta uang tapi tak kamu kasih.
Dengan tangan bergetar, Mas Wawan mengeluarkan uang 200 ribu dan memberikanya padaku. Aku tersenyum puas kearah Mas Wawan. Sebenarnya ada rasa tak tega karena seakan memeras Mas Wawan dan memintanya di depan umum. Namun kali ini aku ingin menunjukkan pada mereka semua, kalau aku adalah seorang istri yang juga punya hak atas Mas Wawan.
"Wawan! Apa-apaan kamu!" Ibu melotot ke arah Mas Wawan.
"Sudahlah, Bu, jangan berisik, ini tempat umum. Malu dilihat orang, Bu. Kamu, An, cepatlah pergi dari sini. Aku muakb melihat mukamu. Oh ya, ini kunci rumah, pergilah!" Mas Wawan menyerahkan kunci rumah padaku, dan aku pun bergegas menghindari mereka.
"Eh, ini keperluan bayimu kenapa ditinggal, bawa sendiri lah. Enak saja Ibu disusruh bawa, pasti bau!" sinis Ibu.
Aku menghela napas panjang, Ibu mertuaku ini seorang Ibu padahal. Tapi kenapa seperti tak mempunyai hati nurani? Ku ambil tasku, lantas berlalu dari mereka. Menenteng tas sembari menggendong bayi, tak masalah bagiku. Aku tidak boleh lemah, akan ku tunjukan pada mereka kalau aku bisa walaupun tanpa mereka.
__ADS_1
"Biar saya bantu, Bu," ucap Pak Satpam lketika melihatku kesusahan. Pak Satpam ini yang tadi sempat kumintai bantuan. Dan ternyata beliau memperhatikanku dari tadi. Sekilas, aku melirik Mas Wawan, mukanya nampak merah. Mungkin dirinya malu karena ada orang lain yang merasa iba padaku.
"Boleh Pak Satpam, sebelumnya terima kasih banyak ya," ucapku haru dengan tawaran Pak Satpam.
"Ibu mau pulang naik apa?" tanya Pak Satpam sembari jalan membawa tas.
"Saya sudah memesan grap mobil, Pak," ujarku setelah sampai di pinggir jalan. Pak Satpam menemaniku hingga mobil grap datang. Sungguh, aku tidak akan melupakan kebaikannya.
"Makasih banyak, Pak, udah bantu saya,"
"Gapapa, Bu, melihat Ibu yang sehabis melahirankan sepoerti ini, saya teringat almarhum istri saya." Muka Pak Satpam terlihat sendu.
"Ini buat Ibu, tolong diterima ya. Maaf tadi saya ngak sengaja mendengar pembicaran Ibu dan keluarga Ibu," ucap Pak Satpam sambil menyodorkan uang berwarna merah padaku.
Aku menangis haru di depan Pak Satpam. Bukan karena pemberiannya, tapi karena kepeduliannya padaku. Ya Allah, selalu berikan kesehatan pada Pak Satpam yang sudah membantuku ini.
Tak lama, grab yang sudah kupesan pun datang. Pak Satpam membantu membawa tas lalu memasukkannya ke dalam mobil. Aku duduk di tengah sembari menggendong bayiku. Sebelum mobil jalan, sekali lagi kuucapkan terima kasih buat orang yang sudah menolongku dengan tulus itu.
********
Di dalam mobil, aku merenung sembari melihat wajah bayi Sania yang masih tertidur pulas. Malang sekali nasibmu, Nak, kamu punya ayah tapi serasa tidak punya ayah. Bahkan ayahmu saja samapi detik ini belum melihat wajahmu sama sekali. Tapi mama berjanji, Nak, akan selalu berusaha untuk membuatmu bahagia.
Tapi bagaimana aku melawan mereka sendiri? Untuk saat ini aku memang harus menuruti kemauan Mas Wawan. Setelah aku pulih, barulah anati memikirkan bagaimana caranya pergi dari rumah neraka itu. Biarlah seperti ini dulu, sekarang. "Ayo Anita, kamu pasti bisa Anita!" gumamku menyemangati diri sendiri. Mereka memang banyak, tapi banyak menggunakan mulutnya. Aku harus menggunakan akal untuk menghadapi mereka. Tak ada cara lain, selain menghadapinya. "Bismillah, kamu pasti bisa, Anita!" Batinku yang lagi-lagi menyemangati diri sendiri.
__ADS_1
Akhirnya sampai juga di depan rumah. Pak supir membantuku untuk menurunkan tas hingga di depan pintu rumah. Setelah membayar dan Pak supir pun sudah berlalu pergi, barulah aku menyadari bahwa Ibu dan yang lainnya belum pulang. Pdahal Mas Wawan menggunakan motor, harusnya lebih cepat sampainya. Tapi biarlah, mau mampir kemana aku tak peduli.
Aku bergegas membuka pintu dan masuk ke dalam rumah yang seperti neraka ini. lantas masuk ke kamar dan menidurkan bayiku di kasur. Baru duduk disamping bayi Sania, terdengar suara orang mengetuk pintu.
"Mbak Man," ucapku senang setelah tahu siapa yang datang kali ini.
"Tapi aku melihat Mbak Anita yang baru pulang, makanya aku langsung kesini." Mbak Manda masuk ke dalam rumah mengikutiku.
"Kok, sepi, Mbak," tanya Mbak Manda. Namun aku hanya mengedikkan bahu tanda tak rahu. Lantas aku mengajak Mbak Manda masuk ke kamar dimana bayi Sania sedang tertidur pulas saat ini.
"Mumpung ada Mbak Win, Sania ku tinggal dulu ya, aku mau mencuci baju dulu," ujarku sembari memeprtlihatkan baju yang bekas lahiran kemarin dan baju Sania yang sudah mulai banyak.
"Loh, loh, Mbak Anita kan baru melahirkan kemaren, jangan capek-capek, Mbak! Duh, Mbak Anita, takut berdarah itu bekas jahitannya!" Mbak Manda terlihat khawatir.
Aku tersenyum. "Pelan-pelan, bisa kali, Mbak."
"Yaudah, ayo aku bantuin. Kasihan banget sih kamu, apa-apa kok sendiri!" ucapnya sembari mengangkat ember.
"Mbak jagain dedek Sania aa!" Pintaku yang berusaha menahannya. Sungguh, aku tak enak jika menyusahkan mbak Manda terus-menerus.
"Udah, mumpung Dedek lagi tidur. Ntar kalau kebangun malah Mbak Anita ngak bisa apa-apa lo," seleoroh Mbak Manda sambil membawa ember ke kamar mandi dan aku mengenkornya dari belakang.
"Mbak Anita yang ngucek kecil-keil ya, sambil duduk aja. Biar aku yang bagian besar-besarnya," titahnya sambil memberikan deterjen di dalam bak air. Lalu menguceknya pelan. Sungguh, beruntung sekai aku bisa mnengenal wanita sebaik Mbak Manda.
__ADS_1
"Anita! Jangan kurang ajar jadi orang. Masa kamu menyuruh orang lain mencuci bajumu sendiri. Dasar songong!"
Aku tersentak mendengar teriakan seseorang yang berasal dari depan kamar mandi. Begitu juga dengan Mbak Manda yang terlihat tercengang.