Menantu Dirumah Mertua

Menantu Dirumah Mertua
Bab : 17


__ADS_3

Bertahan


"Hei, kok mlah bengong. Ini saya bawa masuk ke dalam ya, sepertinya kamu kerepotan," ucap Rusdi yang berada di depanku.


Beginilah sikapnya, manis seperti tak terjadi apa-apa. Tapi sedari dulu alku memang sudah tak suka dengan caranya yang memandangku. Tapi ternyata di hatinya memang melebihi seorang psikopat.


"Bo-boleh kalau tak merepotkan," ucapku tergagap. Tak kupungkiri, ketakutan menghampiri hingga jangtung ini seakan mau melompat dari sarangnya. Namun aku tak boleh gegabah, aku tak mu dia curiga kalau aku mengetahui niat busuknya. Apalagi sampai dia tahu kalau aku sudah mendengar pembicarannya tadi, yang ada detik ini juga Rusdi akan melenyapkanku dari bumi ini.


"Lagi ngapain kamu, An. Kamu mau menggoda suami saya?" sinis Mbak Meri ketika Rusdi membawakan keranjangku di depan kamar. Rusdi menawarkan untuk membawakan keranjang hingga masuk ke dalam kamar, namun aku menolak. Cih! Lancang sekali. Dan Mbak Meri cemburu mengira aku merayu suaminya.


'Ngaca dong, apa perlu aku ambilkan kaca, biar kamu bisa tahu diri, dasar genit. Sukanya mengoda suami orang saja!" serunya lagi. Mendengar ucapan Mbak Meri tanpa sadar, tanganku mengepal kuat. Entah apa yang dilihat dari Rusdi ini, Mbak Meri mencintainya hingga cemburu buta seperti ini.


"Yang suka menggoda suami orang siapa Mbak? Coba, mari kita sama-sama ngaca!" ucapku pelan namun tajam.


Mbak Meri nampak mendelikkan matanya. Begitu juga dengan Rusi, sepertinya kaget dengan ucapanku. Aku hanya memberi pemanasan saja, tak mungkin aku meyebutkan secara blak-blakan.


"Memang tadi aku yang sengaja menolong Anita, Sayang. Aku hanya kasihan saja melihatnya kerepotan,"


"Kamu memang suami idaman, Yang. Aku makin cinta deh sama kamu," aku merasa mual mendengar ucapan Mbak Meri. Entah bego atau gimana, sampai tak menyadari jika Rusdi ini hanya memanfaatkan saja. Aku saja yang baru sekali, sudah bisa menilai. Biar saja, itu urusannya. Mungkin otaknya sudah berpindah ke kepala Rusdi.


"Awas kamu, Anita. Tak ada ampun bagimu jika berani menggoda suamiku," Mbak Meri melotot dengan lendotan ke lengan Rusdi.


"Tapi sayangnya, suamimu itu bukan seleraku, Mbak," Rusdi melotot mendengar ucapanku. Begitupun Mbak Meri, menghentakkan kakinya sembari melotot ke arahku. Kutinggalkan mereka yang masih memantung, lantas menguncinya dari dalam.


Aku harus hati-hati dwengan mereka, terutama dengan Rusdi. Untung saja tadi aku sudah minta tolong sama mbak Manda memanggil tukang ke rumah untuk mengganti handle pintu yang rusak bekas didobrak tadi pagi. Dan sekarang aku bisa bernafas lega jika sudah berada di dalam kamar.

__ADS_1


Tok tok tok!


Aku terlonjak mendengar suara orang mengetuk pintu. Kegiatanku yang baru melipat baju Sania seketika berhenti.


Tok tok!


"An, buka pintunya! Ini Bude,"


Aku bernafas lega mendengar suar Bude Indri. Kuraih hijab bergo yang tergeletak di meja lantas mengenakannya. Setelah rambut ini tertutup aku langsung beranjak untuk membuka pintu dan menemui Bude Indri. Saat pintu terbuka, nampak lah Bude Indrio dengan ditemani Ibu di sebelahnya.


"An, ini Bude bawakan makanan untukmu. Tadi kamu masih tertidur pulas, jadi ditinggal deh. Makan ya, Ibu menyusui makan harus banyak," uajar Bude Indiri menyerahkan makanan untukku.


"Makasih banyak, Bude," ucapaku senang . Dari dulu, Bude Indri memang perhatian denganku. Hal itu yang membuat Mbak Meri dan lainnya iri.


"Ngak papa di kamar, Bu, soalnya sambil ngejagain Sania juga," uajarku beralasan. Kenapa Ibu mertua melarangku makan di kamar.


"Iya ngak papa, An, sudah sana makan. Biarkan saja, Ririn, mungkin Anita lebih nyaman makan di dalam kamar. Kan sambil menjaga anaknya," ucap Bude Indri. Seketika raut wajah Ibu terlihat tak suka namun terpaksa tersenyum ketika Bude Indri melihatnya. Lucu sekali mukamu wahai Ibu mertua.


Setelah Bude indri berlalu, aku langsung mengunci kembali pintu kamar. Lantas membuka makanan yang dibawakan oleh Bude Indri tadi. Mataku berbinar ketika mendapati iga bakar dari restoran ternama dan sekotak martabak manis. Seketika hawa lapar menyelimuti. Makasih, Bude, ini adalah moodboster yang sangat nikmat bagiku.


********


~Pagi hari


pagi ini aku bangun lebih segar, perut sudah tak nyeri lagi. Tapi tetap harus hati-hati dan tak mendapat tekanan yang berat agar benar-benar bisa pulih. Tadi Ibu baru saja menelpon, mengabarkan bahwa untuk saat ini Ibu masih belum bisa kesini menemui Sania. Akupun juga tak masalah, karena keadaan juga masih seperti ini.

__ADS_1


Tok tok!


Saat berbenah di dalam kamar, terdengar ada suara mengetuk pintu. Lantas aku beranjak untuk membuka pintu yang terkunci.


"Kenapa dikunci sih, bikin ribet aja. Emang aku ngak boleh masuk ke kamarku sendiri.," ketus Mas Wawan lantas masuk ke dalam dan mengambil baju kerja yang berada di lemari.


Ya, sepertinya hari ini Mas Wawan sudah mulai masuk kerja setelah cuti berhari-hari. Namun cutinya malh sering dia habiskan di luar rumah.


"Mana jatahku, Mas?" tanyaku setelah menyadari bahwa Mas Wawan memegang tas kecil yang kuyakini berisi uang itu. Namun Mas Wawan hanya menatapku sekilas, lalu mengabaikan ucapanku.


Hari ini adalah hari gajian, dan aku yakin Mas Wawan sudah mengambil uangnya di ATM. Sebelum jatuh ke Ibu dan Mbak Meri tanpa sisa, aku harus mendahuluinya. Bukan apa-apa, saat ini ada Sania yang membutuhkan banyak pengeluaran. Mana mereka peduli dengan keperluan Sania.


"Mana jatahku, Mas?" Tanyaku lagi. Kali ini suaraku terdengar lebih lantang.


"Jatah apa? Jangan mengada-ada kamu, Anita. Kamu sudah memerasku habis-habisan, jadi sudah ngak ada lagi bagian untukmu. Biar Ibu saja semuanya yang megang, toh selama ini kamu tidak pernah kelaparan kan?"


"Baiklah, terserah kamu, Mas. Tapi jangan lupakan perjanjian kemarin. Kamu mau memilih aku memberikannya ke kantor polisi atau ke Bude Indri," ucapku santai namun tajam. Mendengar ucapanku, Mas Wawan menatapku nyalang. Tatapan ingin menerkam, itulah yang terlihat dari raut wajahnya.


Sudah kuduga, Mas Wawan akan mengingkari janji yang sudah ditandatangini sendiri. Namun aku juga tak bodoh, sengaja ketekan kalimat tadi agar Mas Wawan memikirkan ucapanku kembali.


"Kamu memang benar-benar sialan, Anita! Dasar istri pemeras!" ucapnya pelan, saking gemasnya denganku hingga suaranya bergetar di tenggorokan. Sungguh mengerikan sekali, padahal yang meminta adalah istri yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Namun seolah aku ini orang lain yang hanya memeras hidupnya.


Mas Wawan mengeluarkan amplop dari tasnya, dan memberikannya padaku dengan kasar. Bukan kasar, lebih tepatnya melempar ke mukaku. Sepertinya dia sudah mempersiapkannya untuk memberikannya pada Ibu. Namun ternyata aku yang lebih dulu memintanya.


Mataku membelalak saat aku membuka amplop pemberian Mas Wawan. Jatah untuk Ibu sendiri adalah 8 juta. Sebenarnya berapa gaji Mas Wawan? Pantas saja Ibu bisa bergaul dengan geng sosialitanya, jatah dari Mas Wawan juga lebih dari cukup untuk bersenang-senang seorang diri. Baju dan tas yang berjejer di kamarnya, sudah bisa membuktikan kalau Ibu seorang sosialita. Sedangkan aku?

__ADS_1


__ADS_2