
Suara benturan sebuah benda terdengar begitu keras di telinga Chandra Juandi. Kemudian disusul suara decitan logam yang membuat bulu kuduk berdiri dan diakhiri dengan suara dentuman besar.
Semua kendaraan roda empat yang berada di depannya berhenti mendadak. Raungan mesin, decit gesekan antara karet ban dengan aspal, dan suara klakson yang saling menyahut seakan berlomba menjadi yang paling kencang memenuhi udara.
Lalu, semuanya menjadi sunyi dan mencekam seakan-akan waktu berjalan lambat.
Satu per satu, orang-orang keluar dari kendaraan mereka masing-masing. Lalu terdengar mereka mulai berbisik-bisik, bercakap-cakap, kemudian berteriak memanggil dari barisan paling depan.
Sebuah kecelakaan lalu lintas.
Awalnya, Chandra enggan turun dari mobil karena dia harus menghemat energinya sebelum menangani operasi besar yang akan dia lakukan. Akan tetapi, melihat orang-orang terlihat panik dan meminta tolong, jiwanya sebagai seorang dokter merasa terpanggil.
Tergesa-gesa Chandra turun dari mobilnya, berlari ke lokasi kejadian. Tak jauh dari sana, dia terdiam melihat kecelakaan tersebut.
Sebuah kecelakaan tunggal. Sebuah mobil terlihat terbalik, kaca depannya pecah, salah satu ban belakangnya copot. Asap membumbung tinggi dari bagian depan mobil.
Kondisi mobil yang rusak parah membuat Chandra skeptis apakah pengendaranya masih selamat. Tetapi tubuhnya tetap bergerak mendekati kendaraan tersebut. Dia membungkukkan badan dan melihat kondisi si pengemudi. Si pengemudi tampak mengerang kesakitan dengan raut wajah yang menahan rasa sakit di kepalanya.
Chandra melihat dua orang laki-laki berusaha menarik pengemudi keluar. Akan tetapi, mereka tidak bisa melakukannya. Salah satunya berteriak kalau seatbelt si pengemudi tidak bisa dilepas.
Chandra segera berjalan memutari bagian depan mobil. Dia memecahkan kaca depan mobil. Dari sana, dia memasukkan tubuhnya, meraih seatbelt si pengendara dan melepaskannya. Lalu, dia berkali-kali mendorong si pengendara hingga keluar melalui pintu yang terbuka di sebelah pengendara tersebut.
Si pengendara segera diangkut oleh dua orang laki-laki yang berusaha menyelamatkannya.
Chandra menarik tubuhnya, hendak keluar. Akan tetapi, gerakannya terhenti begitu menyadari kalau ada sisa kaca jendela yang menancap di punggungnya.
Bersamaan dengan darah yang merembes keluar dari kemejanya, rasa perih yang menusuk dia rasakan. Chandra mengerang kesakitan. Sambil menahan rasa sakit tersebut, dia berusaha untuk tetap tenang. Laki-laki itu mengatur nafasnya di dalam mobil yang mulai dipenuhi oleh asap, rasa pengap, dan hawa panas.
Orang-orang di sekitar mobil berteriak panik, menyuruhnya untuk segera keluar. Akan tetapi, seberapapun kuatnya dia berusaha, kaca itu menancap layaknya kail pancing. Semakin dia memaksa untuk keluar, semakin dalam pula kaca itu menusuknya.
Mau tidak mau dia harus bergerak maju dulu untuk melepaskan diri, lalu kembali mundur dengan posisi tubuh yang lebih rendah.
Normalnya, rasa sakit yang dirasakan sanggup membuat orang hingga pingsan. Akan tetapi, adrenalin yang terpompa dalam tubuh membuatnya melupakan rasa sakit. Chandra berhasil lepas dari tusukan kaca. Dia hendak mundur keluar dengan posisi yang lebih rendah, namun sayang…
Suara ledakan terdengar begitu keras di telinganya. Dalam sekejap, api menjalar dan membakar seluruh tubuhnya.
Hawa panas bagai neraka.
Hanya kegelapan yang kini menyelimutinya.
***
__ADS_1
Dingin. Satu hal yang Chandra rasakan saat kesadarannya kembali. Perlahan dia membuka matanya. Semuanya terlihat buram. Dia pun mengerjapkan matanya supaya bisa melihat dengan jelas. Di saat yang sama, sayup-sayup terdengar suara.
Ketika semuanya terlihat jelas, suara itupun kini terdengar dengan jelas. Seorang wanita berteriak memarahinya.
“Dasar menantu tidak berguna! Kamu itu orangnya biasa, nggak sehebat istrimu, bisanya bikin susah sama bikin malu saja! Kenapa kamu nggak mati dan menghilang dari hadapanku sih!?”
Linglung, Chandra berusaha untuk mencerna situasi. Dia ingat dengan jelas kalau dia seharusnya mati terkena ledakan—atau setidaknya luka berat. Akan tetapi, di tempat yang saat ini dia duga sebagai rumah sakit, dia tidak sedang dalam perawatan.
Tubuhnya normal dan sehat.
Tetapi dia merasa aneh. Tangan yang dia lihat, tidak seperti tangan yang dia kenal selama ini. Ukuran kakinya dan tinggi tubuhnya tidak terasa sama. Dia beranjak bangkit tanpa menghiraukan wanita yang sedari tadi terus memarahinya.
Dia melihat ke cermin yang ada di salah satu dinding ruangan. Wajahnya sudah berubah.
Apa yang terjadi? Kenapa tubuhnya berubah? Operasi plastik setelah kecelakaan, atau…
Dia berpindah ke tubuh orang lain?
Di saat semua pertanyaan tersebut berkecamuk di dalam kepalanya. Perempuan tersebut memanggil dirinya.
“Malah bercermin… Dengarkan mertuamu ini kalau sedang bicara, Chandra Juandi!”
***
Duduk di salah kursi di lorong Unit Gawat Darurat yang tak jauh dari tempatnya sadarkan diri tadi, Chandra berusaha untuk memproses situasinya. Tubuh yang saat ini dia gunakan jelas bukan tubuhnya. Fisiknya sama sekali berbeda dengan tubuh yang dia kenal. Selain itu, identitasnya juga berubah. Yang dia tahu, Chandra Juandi yang sekarang adalah seorang perawat, bukan dokter.
Melipatkan tangan di depan dada, mata terpejam dan berpikir keras, Chandra sama sekali tidak menemukan hal masuk akal yang dapat menjelaskan situasinya saat ini. Dia hanya menghela nafas panjang di dalam lorong yang lengang itu.
Tiba-tiba, situasi mendadak ramai. Rupanya Unit Gawat Darurat tersebut kedatangan seorang pasien yang mengalami kecelakaan lalu lintas. Chandra dapat melihat dengan jelas ketika pasien perempuan yang dibawa menggunakan kasur dorong melintasinya.
Pasien sekilas tampak hanya mengalami cedera pada bagian kepala. Akan tetapi, Chandra menyadari ada sesuatu yang lain. Dia segera bangkit dan mengikuti pasien tersebut.
Salah satu dokter jaga di sana, yang juga merupakan dokter kepala bernama Edi, mulai memerintahkan semua orang untuk mengambil tindakan medis yang diperlukan, “Cek semua tanda vitalnya, jangan sampai ada yang terlewat!”
Seorang perawat yang berada di sisi kanan ranjang melaporkan hasil pemeriksaannya, “Dokter, tekanan darah pasien normal 120mmHg/80mmHG, denyut jantung 170/menit, suhu normal, respirasi sedikit terhambat…” Perawat tersebut kemudian terdiam.
“Ada apa, kenapa kamu terdiam!?” tanya dokter Edi, gusar.
“Dia mengalami sesak nafas,” lanjut si perawat.
“Itu bukan hanya sekedar sesak nafas biasa. Lihat, ada pembengkakan pada dadanya. Dia mengalami fraktur tulang rusuk,” potong Chandra yang tiba-tiba masuk ke dalam pembicaraan.
__ADS_1
Dia terlihat gelisah melihat kondisi pasien karena dia tahu nyawa si pasien sedang terancam.
“Jangan biarkan pasien terlalu lama menunggu, kita harus segera melakukan tindakan Thorakostomi.”
Semua orang tiba-tiba terdiam, beberapa ada yang saling lirik satu sama lain. Bagaimana tidak? Chandra yang mereka kenal adalah seorang perawat biasa tanpa kelebihan apapun. Bisa dibilang dia adalah perawat payah yang sering melakukan kesalahan dalam hal yang sepele sekalipun.
Tapi, saat ini, tiba-tiba dia mengatakan sesuatu yang tampaknya tidak mungkin diucapkan oleh seorang Chandra yang mereka kenal.
“Ngapain kamu ikut-ikutan!?” ucap dokter Edi, “Jangan sok tahu, jangan bikin situasi semakin runyam! Kau tahu siapa pasien ini? Dia Aluna Kusuma, putri direktur rumah sakit tempat kita bekerja! Kalau dia kenapa-kenapa karena diagnosamu yang ngaco itu, kamu bisa tanggung jawab?!”
"Cepat bawa pasien ke ruang chest x-ray, semakin cepat kita bergerak, semakin baik," perintah dokter Edi sambil berjalan tergesa-gesa.
Sesampainya di ruangan cxr, pasien diletakkan di tengah ruangan untuk pengambilan gambar. Sesaat setelah gambar telah dihasilkan, wajah dokter Edi terlihat pucat pasi.
Apa yang dikatakan oleh Chandra ternyata benar: Fraktur tulang rusuk¹ dan lebih parahnya lagi itu adalah flail chest dan menyebabkan kondisi Hematothorax⁴ pada pasien. Hal ini terlihat dari banyaknya noda hitam yang menutupi hampir separuh rongga pleura⁵.
Lemas, dokter Edi memerintahkan perawat untuk memasang selang oksigen dan membawanya ke ruangan ICU. Terlalu berisiko untuk melakukan operasi saat ini, karena perdarahan yang parah. Pasien bisa kehilangan nyawanya di meja operasi. Andaikan ia tadi mendengarkan saran Chandra, harapan untuk menyelamatkan Aluna pasti besar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan Kaki
Fraktur tulang rusuk¹ :
Patah tulang rusuk
Thorakostomi²:
Tindakan bedah minor yang terbanyak dilakukan pada thorax dan menjadi life-saving. Dengan cara memasang chest tube dan menyedot cairan dalam pleura.
Flail chest³ :
Tulang patah yang bergeser atau keluar dari tempat asalnya terjadi ditiga atau lebih tulang pada tempat yang berbeda.
Hematothorax⁴ :
Trauma thorax yang menyebabkan adanya darah pada rongga pleura yang disebabkan oleh trauma pada dinding thorax, diafragma, paru-paru, atau mediastinum.
Pleura⁵ :
Selaput yang menyelimuti paru-paru
__ADS_1
Hayo Mblo yang pengen ABM cepat update dukung juga novel ini ya..