
Mendengar ucapan Chandra membuat Linda dan Andre sangat syok karena selama ini mereka berdua menyembunyikan fakta itu dari siapapun. Jelas mereka tak menyangka jika Chandra bisa mengetahui hal itu.
Melihat wajah Linda dan Andre yang memucat seketika, menambah keyakinan Chandra untuk menyerang balik mereka.
“Kenapa? Kalian heran bagaimana aku bisa tahu? Mudah saja. Sejak tadi kuperhatikan kaki Andre tak berhenti bergerak gelisah. Meskipun dia berusaha menutupinya, aku tahu dengan jelas gejala apa itu. Penyakitmu bahkan sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan,” kata Chandra lagi-lagi dengan senyuman sinis.
Tak hanya Linda dan Andre, Sonya dan yang mendengar ucapan Chandra juga terkejut. Betapa tajam pengamatan pria itu.
Kali ini Linda dan Andre benar-benar sudah tak dapat mengelak dan merasa sangat malu. Dengan menahan rasa marah dan juga malu, Linda mengajak putranya pergi meninggalkan kediaman keluarga Wijaya.
“Ayo Andre, sebaiknya kita pergi saja dari sini. Sebelum kita dipermalukan lebih jauh lagi oleh pria miskin itu,” kata Linda sambil berjalan menuju pintu keluar.
Andre yang mendengar ucapan ibunya hanya bisa menurut. Tak lupa ia juga membawa lukisan mahal yang semula ingin ia gunakan untuk menarik perhatian tuan Prayoga Wijaya demi memperlancar jalannya mendekati Sonya.
Di halaman depan, ternyata mereka bertemu dengan dokter Edy. Hubungan Andre dengan dokter kepala Edy tidak begitu baik. Andre jelas tidak menyukai pria itu yang menurut Andre terlalu sombong dan arogan. Tapi ia tau, suka atau tidak, pria itu memiliki jabatan tinggi yang sudah seharusnya disegani.
“Selamat malam dokter Edy, kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini,” kata Andre dengan ramah meskipun ia melakukan itu dengan terpaksa. Karena ia tahu, dokter Edy pasti tidak akan mempersulit dirinya jika ia berusaha menjilat pria itu.
__ADS_1
“Andre, sedang apa kau di sini?” dokter Edy bertanya balik.
“Aku dan ibuku kebetulan sedang berada di sekitar sini kemudian kami mampir sejenak. Ibuku dan nyonya Amelia adalah sahabat dekat,” kata Andre dengan jumawa.
Belum sempat dokter Edy melanjutkan obrolannya, tiba-tiba dari arah dalam rumah keluarlah Chandra dan berkata dengan tidak ramah, “Datang satu lagi pria arogan. Mau apa kau ke sini?”
Andre sontak merasa kaget mendengar ucapan Chandra yang sangat tidak ramah itu. Hal itupun segera dimanfaatkan olehnya untuk memprovokasi dokter Edy dan menjatuhkan nama baik Chandra dihadapan orang lain.
“Hei pria miskin, kau ini tidak punya tata karma, ya? Sungguh benar-benar sial nasib Sonya karena memiliki suami seperti dirimu!” Andre berkata dengan berapi-api.
(Rasakan kau lelaki tidak tahu diri, kali ini kau pasti tidak akan selamat. Dokter sombong itu pasti akan mempermalukan mu lebih dahsyat lagi. Aku dan putraku hanya tinggal menonton sambil tertawa), batin Linda.
“Kalian seharusnya bersikap lebih sopan kepada Chandra! Kalian ini benar-benar hanya bisa memandang seseorang dari hartanya saja, ya? Sungguh memalukan! Apa kalian tidak tahu, Chandra sudah kuanggap sebagai adikku sendiri, jadi jaga sikap kalian!” Jawaban dokter Edy yang jelas diluar dugaan Andre dan Linda.
Belum sempat mereka memberikan reaksi atas ucapan dokter Edy, pria itu kembali melanjutkan perkataannya, “Kalian tidak tahu ‘kan betapa hebatnya seorang Chandra Juandi? Ia berhasil menyelamatkan nyawa nona Aluna Kusuma yang bahkan seorang dokter sekelas Melvin Senjaya pun angkat tangan!”
Mendengar perkataan dokter Edy, Andre dan Linda bertambah kaget. Mereka tak habis pikir. Dokter Edy jelas bukanlah seseorang yang mudah memuji orang lain, bahkan ia pantang mengakui keunggulan orang lain dibanding dirinya sendiri.
__ADS_1
Tanpa menunggu reaksi pasangan ibu dan anak itu, dokter Edy memilih untuk menyampaikan pesan yang dia bawa untuk Chandra.
“Chandra, kepala rumah sakit memintamu untuk menemui beliau besok di ruangannya. Beliau ingin memintamu menjadi dokter utama di rumah sakit. Ini kesempatan emas bagimu, jadi jangan sampai kau tidak datang. Aku tunggu kau besok di rumah sakit.”
“Baiklah, besok aku pasti akan datang. Terima kasih dokter Edy, maaf jadi merepotkanmu,” kata Chandra.
“Tak masalah, kau sudah kuanggap adikku sendiri. Jadi, sudah sepantasnya aku menyampaikan berita bahagia ini secara langsung kepadamu. Baiklah, kalau begitu aku pamit, sampai jumpa besok Chandra.”
Dokter Edy kemudian melangkah memasuki mobilnya dan pergi dari sana.
Chandra pun berbalik, melangkah masuk ke dalam rumah. Baru saja ia memasuki ruang tamu, langkahnya dihadang oleh Linda dan Andre. Jika tadi mereka bersikap sangat arogan bahkan menghina Chandra, kali ini mereka justru bersikap sebaliknya.
“Chandra, maafkan atas sikap kami yang kasar tadi. Sungguh kami tidak tahu siapa kau sebenarnya, kami benar-benar minta maaf. Aku mohon Chandra, tolong periksa anakku Andre, kau pasti bisa mengobatinya. Kasihan putraku, dia sudah melakukan segala cara untuk sembuh tapi hasilnya masih nihil,” suara Linda Rahayu kali ini terdengar memohon.
“Benar Chandra, kumohon bantulah aku. Aku tahu kau pasti orang hebat, karena dokter Edy tidak mungkin sembarangan bicara. Aku sudah berupaya menyembuhkan penyakitku ini. Kau pasti paham, jika penyakit ini terus berlanjut bisa menyebabkan kondisiku semakin memburuk. Sebagai imbalannya, kau boleh memiliki lukisan ini.” Andre berjalan menghampiri Chandra sambil menyerahkan lukisannya.
“Maaf, tapi aku tidak tertarik dengan lukisan ini. Apalagi jika harus berurusan dengan kalian. Kalian tidak perlu memohon padaku, karena aku tidak akan membantu kalian, meski kalian berdua menangis darah sekalipun!” jawab Chandra dengan tegas.
__ADS_1