
Asap masih mengepul dari kap mobil yang ditumpangi oleh Sonya dan Chandra. Di dalamnya, pasangan suami istri itu masih terdiam karena masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Hingga akhirnya, Chandra lah yang pertama kali bersuara.
"Kamu tidak terluka 'kan?" Chandra menatap Sonya dengan seksama, dari atas hingga bagian bawah tubuh wanita itu seolah ia takut melewatkan sesuatu.
"Aku … tidak terluka. Hanya saja rasanya seperti baru lolos dari malaikat maut," Sonya balas menatap wajah Chandra dengan ekspresi yang sulit digambarkan.
"Kamu masih Sonya kan?" Chandra menepuk-nepuk pipi wanita itu seolah sedang menyadarkannya dari pingsan.
Dengan gemas dan sedikif kesal Sonya menyingkirkan tangan Chandra dan berkata dengan nada merajuk, "Aku bukan Sonya, aku hantu Sonya."
"Maaf … aku hanya memastikan kesadaranmu," Chandra kemudian menggantikan tepukan di pipi Sonya menjadi sebuah belaian.
"Aku takut sekali Chandra, rasanya kakiku berubah menjadi jelly karena lemas. Kamu benar-benar nyaris membuat kita berdua tewas di tempat ini." Sonya kemudian mencoba untuk melepaskan sabuk pengamannya. Namun, setelah beberapa saat mencoba ternyata ia tak berhasil membukanya.
Chandra yang melihat hal itu segera mengambil insiatif untuk membukanya, "Biar aku yang membukanya." Dalam satu kali percobaan Chandra langsung berhasil membukanya.
"Ayo, kita harus segera keluar dari mobil. Aku takut akan terjadi ledakan nantinya," wajah Chandra berubah murung sangat mengatakan hal itu. Ia masih ingat semuanya tentang apa yang terjadi di malam nahas beberapa bulan yang lalu.
Chandra dengan sigap keluar dari mobil, setelah itu ia dengan cekatan membantu Sonya keluar dari mobil.
"Chandra, barang-barangku masih di kursi belakang." Ucap Sonya saat Chandra membawanya berjalan menjauh dari mobil mereka yang masih mengeluarkan asap.
"Kita harus menjauh dari mobil dulu Sonya, setidaknya kita punya tempat aman untuk berlindung jika terjadi ledakan." Chandra terus berjalan sambil memapah tubuh Sonya.
Setelah berjalan cukup jauh, Chandra berhenti di sebuah sudut kebun teh yang cukup terlindung di balik bukit kecil. Kemudian ia membantu Sonya duduk di atas sebuah batu besar, untunglah wanita itu tidak terluka. Hanya saja wajah Sonya terlihat begitu pucat.
Chandra mengambil sapu tangan dari dalam saku celana jeans miliknya, dan mengusap keringat yang membasahi wajah cantik Sonya. Wanita itu jelas tertegun dengan perbuatan suaminya itu yang menurutnya sangat romantis.
__ADS_1
"Kamu tunggu di sini ya, aku rasa di sini cukup aman. Aku harus kembali ke lokasi mengambil barang-barang kita yang masih ada di sana. Ponselmu dapat sinyal 'kan? Hubungi aku secepatnya jika terjadi sesuatu. Aku akan kembali secepatnya," Chandra kemudian menyerahkan sapu tangannya pada Sonya dan beranjak dari sana.
"Tunggu, bagaimana jika mobilnya meledak saat kamu di sana? Sudahlah barang-barangnya tidak perlu diambil. Kita duduk saja di sini sampai bantuan datang." Sonya enggan melepas kepergian Chandra.
"Di tasmu pasti ada barang penting punyamu, dan tidak mungkin ditinggalkan begitu saja. Tenanglah Sonya, aku pasti baik-baik saja."
"Bagaimana jika kamu terluka?" Sonya masih bersikeras agar Chandra tidak meninggalkannya.
"Aku akan berhati-hati. Tetap di sini, jangan pergi kemana pun. Tempat ini cukup aman untuk berlindung." Chandra melangkah menjauhi Sonya, sambil sesekali melihat keadaan sekitar.
Setelah berjalan beberapa lama, ia mengeluarkan ponselnya. Kemudian memeriksa lagi pesan masuk yang sudah dibacanya tadi pagi.
Berhati-hatilah mereka merencanakan sesuatu untukmu.
Hanya sebuah kalimat, tapi isinya langsung membuatnya jauh lebih waspada sekarang.
"Terima kasih untuk peringatanmu, tapi aku rasa mereka bergerak lebih cepat dari dugaanku. Aku dan Sonya … mengalami kecelakaan. Rem mobil kami tidak berfungsi. Tidak … kami baik-baik saja Lis, semenjak membaca pesanmu tadi pagi semua kemungkinan sudah aku pikirkan. Kamu … di sana baik-baik saja 'kan?"
"Syukurlah kalau begitu, aku harap mereka tidak bertindak terlalu jauh lalu ikut menyulitkanmu Lisa. Tolong terus awasi mereka." Chandra mengakhiri percakapannya lalu termenung sesaat.
Lisa, aku berhutang nyawa padamu. Kata Chandra dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kamu baru pulang?" Lisa menghentikan langkahnya saat melewati ruang tamu megah yang terasa dingin baginya.
"Iya Ma, tugasku belakangan ini bertambah banyak." Lisa memandang Mamanya yang sedang asik membaca majalah fashion keluaran terbaru.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu mau bersembunyi Lis?"
Pertanyaan itu lagi. Sebuah pertanyaan yang membuat kepalanya terasa sakit setiap kali mendengarnya dari mulut Mama.
Demi sebuah sopan santun, Lisa akhirnya mengalah dan menghampiri sang mama. Kini ia ikut duduk di kursi, dengan posisi bersebrangan dengan Mamanya.
"Kita sudah membahas ini berkali-kali Ma. Aku ingin berdiri sendiri dengan kedua kakiku, bukan dengan hasil rasa simpati dari orang lain."
"Tapi itu adalah hakmu! Darahnya mengalir di dalam tubuhmu, kamu juga berhak atas apa yang dimiliki oleh Ayahmu." Mamanya meletakkan majalah ke atas meja dengan gusar.
"Ma … sudahlah. Hidup kita sudah nyaman seperti ini. Aku juga tidak butuh pengakuan dari pria itu, aku sudah punya Mama. Tidak bisakah kita melupakan semuanya Ma?" Lisa memijit pelipisnya yang terasa pening.
"Tidak akan pernah! Mama tidak akan melupakan semuanya Lis. Kamu, Mama minta bekerja di rumah sakit itu supaya kamu bisa mendekati pria itu. Dia harus tau keberadaanmu Lisa."
"Tidak Ma, biarkan semua seperti ini. Aku lelah mencari sebuah pengakuan," Lisa kini membaringkan tubuhnya di atas sofa, matanya menatap langit-langit rumah seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kalau kamu memang mencintai atasanmu itu, kejarlah! Kamu bahkan bisa menolongnya keluar dari masalah ini kalau kamu mau memberitahukan keberadaanmu pada Ayahmu. Semua masalahmu Mama jamin akan selesai dalam sekejap mata Lisa." Kali ini Mamanya lebih memilih untuk membujuk dengan cara halus.
"Dari mana Mama tau? Mama ini, selalu saja mengambil kesimpulan sendiri." Lisa berdecak sebal karena sebenarnya apa yang diucapkan oleh Mamanya itu benar. Dia mencintai atasannya. Tapi nasib tak berpihak padanya, Chandra telah memiliki seorang istri.
"Aku Ibumu, kamu mau bersembunyi di lubang semut sekalipun, Mama pasti tau Lis. Dengarkan Mama baik-baik. Mama menyekolahkanmu di sekolah perawat bukan tanpa alasan, Mama memintamu datang ke rumah sakit itu hanya sebagai seorang perawat biasa juga bukan tanpa alasan.
"Kamu mungkin hanya seorang perawat di mata orang lain, tapi pada kenyataannya kamu adalah salah satu pewaris kekayaan keluarga itu. Posisimu sekarang membuatmu aman dan tidak mendapatkan banyak perhatian, itu artinya kamu bisa bergerak bebas melangkahkan kakimu."
Lisa menghembuskan nafas lelah. Mama dan rencananya yang selalu di luar pemikiran dirinya. Membuatnya selalu merasa gamang, antara mengikuti rencana Mamanya atau tetap berjalan sesuai keinginannya.
Lisa jelas membenci pria itu. Orang yang disebut Mamanya sebagai Ayahnya. Namun, entah kenapa Mamanya terlalu memaksakan diri agar dirinya mendapatkan sebuah pengakuan.
__ADS_1
"Ambilah apa yang seharusnya menjadi milikmu Lisa. Jangan biarkan orang lain selalu memandangmu sebelah mata. Kamu cukup mendapatkan pengakuan dari Ayahmu, maka semua masalahmu selama ini selesai dan kamu tetap bisa melangkah dengan bebas." Mamanya kemudian beranjak dari sana, meninggalkan Lisa yang sedang berkutat dengan pikirannya sendiri.