
Lisa jelas gugup tertangkap basah memasuki ruangan Chandra saat pria itu tak ada di sana. Apalagi yang melihatnya bukan orang sembarangan.
"Apa kau tidak mendengar pertanyaanku dengan baik Lisa? Kenapa kau ada di sini di saat Chandra sedang berlibur dengan istri cantiknya? Kau tidak sedang merencanakan sesuatu bukan?" Pria di hadapannya tersenyum licik seolah mengetahui sesuatu.
"Maaf dokter, dokter Chandra adalah atasanku. Jadi kurasa sudah sewajarnya aku memeriksa ruangannya secara berkala bukan?" Lisa memberanikan diri menatap wajah lawan bicaranya.
"Wah … kau pemberani juga rupanya. Ingat satu hal, kau di sini hanya seorang perawat biasa. Jangan pernah mencoba untuk menentangku," Pria itu bangkit dan berjalan mendekati Lisa dengan rasa marah.
"Maaf dokter, aku tidak bermaksud menentangmu. Tapi bukankah hal yang wajar jika aku melakukan pekerjaanku seperti biasa? Justru keberadaan anda di sinilah yang harus dipertanyakan." Lisa ikut menyunggingkan senyum liciknya.
Sesaat pria itu mematung mendengar ucapan Lisa. Apalagi setelah melihat ekspresi wajah wanita itu. Bukan sorot mata ketakutan seperti yang tadi dilihatnya. Ekspresi ketakutan itu telah berubah menjadi sebuah tatapan penuh ancaman.
Pria itu sekarang merasa ia harus lebih berhati-hati terhadap wanita di hadapannya. Karena sepertinya, Lisa tidak sepolos penampilannya.
"Sepertinya kau justru semakin berani sekarang. Sekali lagi aku ingatkan padamu, jangan pernah menentangku dalam hal apapun! Karena aku bisa membuatmu hancur. Aku tidak main-main dengan ucapanku Lisa."
"Baiklah, aku minta maaf jika terkesan menentangmu. Tapi sungguh, aku hanya melakukan tugasku seperti biasanya dokter. Tanpa ada maksud apapun," Lisa lebih memilih mundur kali ini. Karena ia tahu, jika tetap bersikeras untuk berdebat maka semua rencananya bisa gagal total.
Pria itu akhirnya memilih untuk keluar dari ruangan Chandra. Ia merasa gelisah karena Lisa menangkap basah dirinya berada di tempat yang tidak semestinya. Saat ia sedang berkutat dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya.
Tunggu, kenapa wajah Lisa jika diperhatikan terasa begitu familiar? Di mana ia pernah melihat wajah yang begitu mirip dengan Lisa? Kata pria itu dalam hati.
Dengan tergesa ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, "Halo, Abigail? Ini aku."
"Aku ingin kau menyelidiki seorang wanita. Entah kenapa wajahnya tiba-tiba wajahnya mengingatkanku pada seseorang. Namanya Lisa, dia seorang perawat di rumah sakit ini. Tolong selidiki dia, berikan informasi secepatnya untukku. Keberadaannya benar-benar membuatku merasa gelisah." Setelah mendapatkan jawaban yang diinginkan, ia melanjutkan langkahnya menuju tempat pemberhentian selanjutnya.
Tok tok tok
__ADS_1
"Dokter, ini aku." Ia mengetuk pintu pertanda meminta izin untuk masuk ke ruangan atasannya.
"Masuklah!" Orang yang dipanggilnya Dokter memberinya izin.
Ia kemudian membuka pintu dan berjalan menghampiri atasannya yang sedang berdiri menghadap jendela dan membelakanginya.
"Apa yang kau dapatkan Tommy?" Tanya pria itu tanpa basa-basi.
"Sepertinya perkiraan anda benar dokter. Lisa mengawasi pergerakan kita. Wanita itu bahkan berani menentangku secara terang-terangan. Anda juga benar, dia memang mirip dengan wanita itu." Tommy bicara dengan wajah bingung.
Tommy tak menyangka, semua ucapan atasannya itu ternyata terbukti benar. Tak ada yang meleset satu pun.
Pantas saja, atasannya itu mampu membawa rumah sakit ini pada sebuah kesuksesan.
"Apa kau sudah melakukan apa yang aku minta?" Lagi-lagi atasannya bertanya.
"Sudah dokter, aku juga sudah meminta Abigail untuk menyelidiki siapa Lisa sebenarnya."
"Dengarkan aku Tommy, rumah sakit ini memiliki nilai investasi yang sangat fantastis. Tidak seharusnya sembarangan orang bisa duduk di posisi penting. Aku sudah mengabdikan hidupku di tempat ini selama puluhan tahun. Sudah saatnya mereka mendengarkan suaraku, dan membalas jasaku.
Tuan Kusuma senior dulu juga pernah menjanjikan kepemilikkan saham sebesar empat puluh persen untukku jika aku berhasil memajukan rumah sakit ini. Tapi, ketika Tuan Kusuma junior menggantikan posisi ayahnya semua itu lenyap begitu saja. Bahkan dia mengambil keputusan secara sepihak, tanpa meminta pendapatku lagi."
Kepahitan jelas terdengar dari nada bicara atasannya itu. Membuat Tommy semakin yakin untuk berada di pihak atasannya. Mungkin cara yang mereka ambil terlalu ekstrim, tapi itu setimpal dengan apa yang akan mereka dapatkan pikir Tommy.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hawa dingin yang begitu menusuk membuat Sonya enggan untuk terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia merapatkan selimutnya dan bergeser mencari kehangatan dari sosok tubuh yang berbaring di sebelahnya.
__ADS_1
Kosong. Chandra ternyata sudah tidak ada di sampingnya. Sonya bangun dari posisinya dan memeriksa keadaan kamar. Tapi ia tetap tak menemukan pria yang dicarinya.
Dengan hanya mengenakan piyama panjang berbahan tipis, Sonya melangkah keluar kamar dan mendengar suara air mengalir dari arah kolam belakang. Wajahnya tiba-tiba sedikit memanas karena membayangkan Chandra sedang berendam di kolam dengan bertelanjang dada.
Sonya melangkah perlahan bagaikan maling yang takut tertangkap basah ke arah belakang bangunan. Wajahnya langsung menyiratkan kekecewaan saat melihat ternyata Chandra berendam mengenakan pakaian lengkap.
"Kamu sudah bangun? Ada apa dengan wajahmu?" Suara Chandra membuyarkan lamunan Sonya.
Sonya menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya untuk menutupi rasa gugup, "Tidak apa-apa. Mungkin karena udaranya terlalu dingin, jadi membuatku … sedikit … serba salah." Terdengar seperti jawaban yang cukup diplomatis di telinga Sonya.
Tapi sepertinya Chandra paham jika Sonya sedang menutupi rasa malunya. "Maafkan aku, karena tak memberitahumu kemana tujuan kita yang sebenarnya. Jadi kamu bisa bawa pakaian tebal supaya tidak kedinginan."
"Tak apa Chandra. Jika kamu memberitahuku, namanya bukan kejutan lagi 'kan?" Sonya tersenyum manis.
"Masuklah Sonya, sebentar lagi aku selesai. Setelah itu bersiaplah, aku akan mengajakmu berkeliling tempat wisata yang lain." Seperti halnya Sonya yang merasa gugup, Chandra pun demikian. Itu sebabnya ia lebih memilih berendam air hangat dengan pakaian lengkap.
Setelah dua jam mereka lewati untuk merapikan diri, akhirnya mereka berangkat menuju tempat wisata berikutnya. Tak ada firasat buruk ataupun kejadian janggal yang membuat mereka curiga.
Namun, pada saat mobil yang mereka tumpangi melewati jalan yang menurun dan curam Chandra tidak dapat menghentikan laju mobilnya.
Awalnya, ia berpikir jika itu hanya kesalahan mesin yang biasa terjadi.
Tapi, setelah mencoba beberapa kali menginjakkan kakinya di rem, ia tak juga berhasil memperlambat laju mobil. Wajah Chandra mulai panik, ia tak berani menatap Sonya yang duduk di sampingnya dengan wajah bingung.
"Chandra, sepertinya ada yang salah. Kamu tau itu 'kan?"
"Maaf Sonya, sepertinya remnya bermasalah. Aku sudah mencobanya berkali-kali, tapi tidak bisa. Aku akan mencari gundukan tanah yang cukup tinggi dan menabrakan mobil kita di sana. Hanya itu satu-satunya cara untuk.menghentikan mobil ini tanpa membuat orang lain celaka." Chandra menjelaskan apa yang ada di kepalanya pada Sonya tanpa mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Kamu gila ya? Kita tidak boleh celaka Chandra. Aku tidak mau mati konyol. Mobil ini jelas baik-baik saja kemarin, tidak mungkin remnya tidak berfungsi begitu saja."
"Maafkan aku Sonya, kali ini aku tidak memiliki pilihan lain," Chandra kemudian membanting stir ke kiri dan menabrakkan mobilnya ke sebuah gundukan tanah yang cukup tinggi disertai dengan suara dentuman yang keras dan diikuti asap yang mengepul.