
"Sonya, kamu baik-baik aja 'kan?" Wajah Chandra mulai terlihat pucat karena darah yang terus mengalir dari kedua kakinya namun, senyum kelegaan karena melihat Sonya yang masih baik-baik saja menghiasi bibirnya.
"Chandra! Apa yang terjadi padamu?" Sonya ingin berlari dan memeluk Chandra tapi gerakannya seperti tertahan oleh sesuatu.
Melihat ada sesuatu yang janggal, membuat Chandra kembali waspada. Ia bahkan sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi, "Jika kalian berani melukai istriku sedikit saja akan aku pastikan kalian menyesal telah dilahirkan."
"Hahahaha … kau memang cerdas Tuan. Tapi sayang, kau tidak bisa menghirup udara lagi esok hari!" Pria yang tadi melemparkan pisau padanya keluar dari persembunyiannya di balik tubuh Sonya. Dengan wajah penuh kemenangan, lengan kiri pria itu menempelkan ujung pisaunya di pinggang Sonya dan lengan kanannya melingkari leher Sonya dengan erat.
Wajah Chandra sontak mengeras, karena pria itu benar-benar melakukan ancamannya. "Apa sebenarnya mau kalian? Aku tidak mengenal kalian, jadi kurasa kita tidak punya urusan."
"Tak peduli kau mengenalku atau tidak Tuan. Aku menginginkan istrimu yang cantik ini. Jadi, sebelum aku melukainya lebih baik kau menyerah saja," wajah Sonya semakin memucat seiring mengencangnya himpitan lengan pria itu di leher Sonya.
"Lepaskan dia!" Chandra menggeram menahan marah namun, siapa yang tahu jika sebenarnya dia sedang menyusun strategi untuk menyelamatkan Sonya.
Dengan kecepatan yang tak diduga-duga, Chandra melemparkan pisau yang tadi menancap di kakinya ke arah pria itu dan membuat Sonya melebarkan matanya lalu secepat kilat ia juga menutup matanya erat karena terkejut dan ketakutan.
Setelah beberapa saat, Sonya tidak merasakan sakit atau pun perih pada tubuhnya. Ia kemudian membuka mata perlahan saat menyadari rintih kesakitan, disusul terlepasnya jepitan pada leher cantiknya.
"Lari, Sonya!" Chandra setengah berteriak karena ia takut rombongan pria itu masih berada tak jauh dari tempat mereka.
Setelah pria itu roboh, Sonya berlari kemudian menabrak Chandra dan memeluknya erat. Tangisnya pecah seketika.
"Tenanglah, pria itu sekarang mungkin sudah tewas," Chandra membalas pelukan Sonya dan mengusap punggung wanita itu dengan lembut sambil melirik mata kiri pria itu yang mengeluarkan banyak darah segar.
Chandra tak berniat membunuh pria itu namun, ia tak punya pilihan lain. Pria itu telah membahayakan nyawa istrinya.
"Apa dia mati?" Sonya bertanya dengan posisi masih memeluknya erat.
"Aku ... tidak tau. Semoga saja ia masih bisa diselamatkan." Chandra sungguh berdoa dalam hati semoga pria itu masih bisa diselamatkan, karena walau bagaimana pun ia tidak ingin menjadi seorang pembunuh.
__ADS_1
"Aku takut sekali Chandra, kenapa kamu pergi lama sekali?"
"Maafkan aku Sonya, sungguh aku tidak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini. Aku bahkan telah membahayakan nyawamu."
"Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Sekarang lebih baik kita cari tempat yang lebih aman dan mengobati lukamu." Meskipun suara Sonya terdengar lebih tegar, tapi Chandra jelas masih menangkap rasa takut dalam diri wanita itu.
"Kita harus mencari tempat persembunyian yang lain, karena aku tidak mau mengambil resiko. Aku masih kuat berjalan hingga beberapa meter ke depan," Chandra melepaskan pelukannya.
Mereka kembali berjalan menyusuri kebun teh yang terlihat tak ada habisnya. Setelah beberapa saat, mereka akhirnya menemukan sebuah gubuk kecil yang terletak di tengah kebun teh yang terlihat sangat sepi.
Sonya membantu Chandra untuk duduk dan mulai membuka tas yang tadi di bawa Chandra dari mobil.
"Sepertinya tas kecil itu begitu berharga bagimu ya?" Chandra menatap Sonya dengan seksama.
"Iya, tas kecil ini berisi benda-benda penting bagiku. Apa kamu tau? Aku tidak pernah meninggalkan tas ini ke manapun aku pergi." Sonya kemudian mengeluarkan isinya dan membuat Chandra mengernyitkan dahinya.
"Selengkap itukah isi tas milikmu?"
"Selebihnya biar aku saja yang mengerjakan. Luka di kaki kananku adalah luka tembak, untungnya peluru itu sepertinya tidak menancap terlalu dalam karena aku masih bisa merasakan bagian belakang kakiku," Chandra menatap ke arah sekitar seperti mencari sesuatu.
"Kamu tertembak?" Sonya menatap Chandra dengan syok, karena pria di hadapannya itu terlihat sangat tenang seolah itu adalah hal yang biasa dan sering dialami olehnya.
Namun, bukannya menjawab pertanyaan Sonya ia justru meminta Sonya untuk melakukan sesuatu, "Kamu tau daun talas? Kurang lebih dua meter ke arah kiri dari tempat kita ada sebuah pohon talas yang cukup besar. Kamu bisa tolong ambilkan beberapa batangnya untukku?"
"Daun talas? Aku ... aku tidak tau. Maaf .... " Sonya menjawab pertanyaan Chandra dengan suara pelan.
Chandra menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Sejenak ia lupa, jika istrinya itu tidak pernah mengenal banyak tanaman obat. Lalu, dengan sabar ia menarik bahu Sonya dan menunjuk kemana arah yang harud didatangi oleh wanita itu.
"Hati-hatilah Sonya, jangan sampai kamu terkena getahnya terlalu banyak karena itu bisa menyebabkan rasa gatal. Tolong ambilkan batang yang paling besar untukku."
__ADS_1
Sonya mengangguk dan kemudian berjalan meninggalkan Chandra seorang diri. Setelah kepergian istrinya, Chandra mulai membersihkan pisau lipat kecil, gunting, dan juga penjepit kecil yang terbuat dari besi dengan cairan alkohol yang tadi dikeluarkan Sonya dari dalam tas.
Selesai mensterilkan alat, ia mulai membuat sayatan kecil di atas lukanya untuk mempermudah mengeluarkan peluru yang bersarang di kakinya. Sayatan itu dibuat agar ia lebih leluasa mencari keberadaan peluru. Tak lama kemudian, ia menemukannya dan segera mengambil penjepit kecil untuk mengeluarkan peluru itu.
Sesuai dugannya, peluru itu tidak menancap terlalu dalam. Hingga lebih mudah untuk dikeluarkan. Rasa nyeri di kakinya kini sedikit bertambah, tapi setidaknya keadaannya sudah lebih baik.
Sonya meletakkan beberapa batang daun talas yang cukup besar sambil menatap Chandra dengan wajah penuh kengerian.
"Kamu ... memangnya tidak sakit? Kamu membuat lukanya semakin besar."
"Tidak, aku hanya membuat sedikit sayatan agar lebih mudah mencari keberadaan pelurunya. Lihatlah, pelurunya sudah berhasil aku keluarkan," Chandra menunjuk sebuah peluru kecil yang terletak di samping alat penjepit tadi.
Saat Sonya sedang sibuk menatap peluru itu, Chandra mengiris-iris batang daun talas. Ia kemudian mengoleskan sebanyak mungkin getahnya di atas luka, di kedua kakinya. Daun talas mungkin selama ini sering dianggap sebagai tanaman penganggu karena getahnya yang membuat gatal.
Tapi selain membuat gatal, getah daun talas juga bermanfaat untuk menyembuhkan luka.
"Kenapa kamu pakai getah daun talas? Aku punya obat luka kamu bisa pakai itu," Sonya kemudian sibuk mengambil kapas dan menuangkan obat luka miliknya.
"Tidak perlu Sonya, ini sudah cukup. Untuk pertolongan pertama getah daun talas jauh lebih baik untuk saat ini. Aku tidak bisa menjahit lukaku, jadi aku memakai ini."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Daun talas untuk sebagian orang dianggap hanya sekedar tanaman pengganggu karena getahnya yang bisa menyebabkan gatal-gatal.
Tapi sesungguhnya getah daun talas sangat bermanfaat untuk menyembuhkan luka. Getah batang daun talas ternyata mengandung senyawa flavonoid yang bersifat antibakteri.
Selain itu, batang daun talas juga mengandung anti inflamasi dengan kata lain anti radang. Sehingga mampu menekan rasa nyeri akibat luka.
Batang daun talas juga mengandung tanin. Tanin ini berfungsi sebagai adstringen yang membuat pori-pori kulit jadi mengecil sehingga meminimalisir pendarahan.
__ADS_1
( Sumber : https://m.liputan6.com )