
Chandra berdiri di ruangan kerjanya sambil memandangi hasil CT scan yang ia letakkan di atas kotak persegi yang berisi lampu neon. Lembaran foto itu menunjukkan adanya beberapa peradangan di bagian batang leher dan otak belakang pasien. Meningitis.
Chandra menghela nafas panjang, sebuah penyakit yang terlihat sepele tapi sangat berbahaya. Ia juga segera mengecek hasil pemeriksaan darah lengkap milik pasien. Lagi-lagi, hasilnya membuat Chandra terkejut.
Sekarang, ia telah memahami bagaimana pasien bisa mengalami meningitis padahal tidak pernah bepergian ke luar negeri. Hasil tes darah juga menunjukkan hasil yang di luar dugaan, jika awalnya Chandra berpikir pasien hanya mengidap meningitis, kini kecurigaan lain bermunculan seiring dengan laporan hasil pemeriksaan yang jauh dari harapan.
"Lisa, tolong siapkan pasien untuk melakukan tes darah lanjutan. Aku ingi pasien menjalani tes antibodi ELISA (Enzyme-linked immunosorbent assay) berikut dengan IFA (Immunofluorescene antibody assay), tes PCR dan tes kombinasi antibodi-antigen," Chandra berbicara melalui sambungan telepon.
Seorang perawat yang baru saja dipanggil Chandra dengan sapaan Lisa langsung menyetujui permintaannya, "Baik dokter, nanti saya sampaikan ke pasien."
"Aku harap hasil pemeriksaan bisa keluar secepatnya Lisa. Karena hal ini akan menentukan langkah kita selanjutnya."
"Tapi bagaimana jika keluarga pasien menolak?" Lisa paham apa itu serangkaian tes yang baru saja disebutkan oleh Chandra. Tidak semua orang bisa memahami pentingnya tes tersebut.
"Aku yang akan menghadapi mereka," Chandra kemudian menutup sambungan telepon.
Chandra kemudian berjalan keluar ruangan, kasus meningitis kali ini sepertinya akan menjadi lebih istimewa, apalagi jika hasil serangkaian tes yang harus dijalani oleh pasien nanti ternyata sesuai dengan dugaannya.
Hari sudah menunjukkan pukul dua belas siang saat ia berjalan menuju sebuah cafétaria yang berada di lantai lima rumah sakit. Saat di dalam lift, ia berpapasan dengan dokter Edy yang saat itu juga akan menuju cafétaria.
"Sebuah kebetulan kita bisa bertemu di sini Chandra. Kamu mau pergi ke cafétaria juga?" Sapa dokter Edy dengan senyum ramahnya.
"Iya dok, kebetulan jam makan siang ini saya tidak ada jadwal, jadi bisa makan siang di sana sambil menghirup udara segar," Chandra menjawab pertanyaan dokter Edy dengan ramah.
"Kalau begitu, kita bisa makan siang bersama. Kita belum pernah bicara santai sebelumnya 'kan?" Dokter Edy menepuk pelan bahu Chandra, menandakan agar ia berjalan lebih dulu keluar dari lift saat mereka tiba di lantai lima.
__ADS_1
Mereka berdua duduk di sebuah meja dengan dua kursi saling berhadapan. Samping kanan mereka sebuah taman kecil dengan air mancur di tengahnya. Meskipun kecil, tapi cukup untuk sekedar melepaskan penat mereka setelah berjibaku dengan pekerjaan yang seolah tak ada habisnya.
"Saya dengar tadi ada pasien darurat. Bagaimana perkembangannya?" Dokter Edy memulai percakapan mereka sambil menyantap makan siang.
"Hasil tesnya sesuai yang saya perkirakan dok, meningitis. Tapi ada hal lain yang sepertinya akan membuat kasus kali ini lebih rumit. Hasil tes darah jelas menunjukkan kondisi pasien lebih buruk dari perkiraan." Chandra menjelaskan panjang lebar, sekarang ia merasa jauh lebih dihargai dibanding dulu.
"Apapun nanti hasilnya, saya percaya kamu pasti bisa menanganinya Chandra. Kemampuan kamu sudah teruji, tidak perlu diragukan lagi," dokter Edy tersenyum dengan tulus, memberi semangat untuk Chandra.
"Terima kasih dok, saya hanya berusaha memberikan yang terbaik." Chandra tetap menjadi dirinya yang dulu.
Tuan Rega memang tidak pernah salah dalam menilai orang. Selain hebat, Chandra juga tidak sombong. Kata dokter Edy dalam hati.
oOo
Suara ketukan di pintu ruang kerjanya membuat Chandra sedikit teralihkan dari beberapa berkas yang sedang dibaca olehnya.
"Masuk," perintah Chandra.
"Permisi dok, ini saya mau menyerahkan hasil tes yang tadi dokter minta," seorang perawat masuk ke dalam ruangannya.
"Kamu tidak kesulitan membujuk pasien dan keluarganya tadi Lis?" Chandra mengulurkan tangannya, mengambil sebuah map yang disodorkan oleh Lisa.
"Tidak dok, sepertinya mereka memahami dengan baik kondisi pasien saya jelaskan tadi fungsi dari tes yang harus dilakukan," Lisa kemudian pamit undur diri dari hadapan Chandra.
__ADS_1
Dengan tergesa, Chandra membuka map tersebut, dengan perlahan matanya mulai membaca baris demi baris laporan hasil tes. Sesuai dengan dugaannya sejak awal, selain menderita meningitis, pasien juga berstatus sebagai ODHA (Orang dengan HIV/AIDS).
"Lisa, tolong panggilkan keluarga pasien Reza ke ruangan saya. Ada hal penting yang harus saya sampaikan." Chandra kemudian meletakkan gagang telepon mejanya dengan wajah murung.
Tak lama, suara ketukan di pintu ruangannya kembali terdengar, lalu Lisa membuka pintu tanpa permisi, "Dok, keluarga pasien Reza sudah datang."
"Persilakan mereka masuk,"
Setelah sedikit berbasa-basi, Chandra akhirnya menyampaikan maksud dan tujuannya memanggil mereka semua ke ruangannya, "Tuan dan Nyonya, sebelumnya saya mau sedikit bertanya tentang pola hidup Reza. Karena ini berkaitan dengan penyakit yang diidapnya. Beberapa tahun ke belakang, kalau saya boleh tau apa Reza memiliki gaya hidup bebas?"
Kedua orang tua Reza saling berpandangan, mendengar pertanyaan dari Chandra. Terlihat sekali bahwa mereka sesungguhnya enggan menceritakan kondisi yang sebenarnya. Chandra dengan sabar menunggu, kira-kira jawaban apa yang akan diberikan oleh kedua orang tua di hadapannya.
Ayah Reza menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjawab, "Anak kami memang terlibat pergaulan bebas. Bahkan dia sering pulang menjelang pagi, dengan keadaan setengah sadar. Banyak perempuan yang datang silih berganti mencari Reza, tapi kami tidak tau apa hubungan Reza dengan mereka. Teman lelakinya pun banyak yang datang, kemudian mereka pergi bersama dan mereka pulang menjelang fajar."
"Apa kegiatan Reza selama di luar rumah diketahui oleh Tuan dan Nyonya?"
Sepasang orang tua itu menggeleng lemah, mereka tidak tau apa yang di lakukan oleh putranya di luar sana. Karena kalaupun mereka bertanya, sudah pasti Reza tidak akan menjawabnya.
"Begini Tuan dan Nyonya, saya minta maaf jika kabar yang akan saya sampaikan ini nantinya mengganggu, tapi ini adalah kondisi yang sebenarnya." Ada jeda sedikit sebelum Chandra melanjutkan ucapannya.
"Reza mengidap penyakit meningitis. Penyakit ini disebabkan karena infeksi jamur, bakteri ataupun parasit. Apa bisa disembuhkan? Jelas bisa namun membutuhkan waktu yang cukup lama, hal ini diperparah dengan adanya virus lain yang menyertai. Maaf Tuan dan Nyonya, dengan berat hati harus saya sampaikan jika Reza adalah ODHA."
Bagai tersambar petir di siang bolong, sepasang orang tua itu benar-benar syok. Mereka benar-benar menyesal sekarang karena tidak bisa bersikap tegas terhadap anaknya.
"Lalu … apa yang harus kami lakukan sekarang dok?" Ibu dari Reza bertanya dengan bibir gemetar.
__ADS_1
"Ada dua cara pengobatan yang bisa saya berikan sebagai solusi. Pengobatan secara medis dan pengobatan tradisional. Namun, ada beberapa hal yang harus kita pantau sebelum menentukan teknik pengobatannya. Daya tahan tubuh pasien itu sendiri, karena meningitis bisa membahayakan nyawa pasien."