
Suara deru mesin mobil yang terdengar asing berhenti di pekarangan rumah keluarga Wijaya. Sonya yang sejak tadi menanti kepulangan Chandra dengan cemas, langsung berlari menuju jendela kamarnya dan mengintip melalui celah gorden.
Kenapa suamiku turun dari mobil itu? Bukankah itu mobil milik Aluna? Batin Sonya.
Rasa cemas, gelisah, dan khawatir yang sejak tadi memenuhi dadanya berubah, menguap begitu saja dan berubah menjadi amarah. Hatinya tercubit, karena selama ini ia tak pernah memberikan apa pun untuk Chandra.
“Aku menantimu sejak tadi, kenapa kau tidak memberiku kabar jika ternyata pulang terlambat?” todong Sonya saat melihat Chandra telah memasuki kamar tidur mereka.
“A ... apa maksudmu?” Chandra jelas tak bisa menjawab pertanyaan dari Sonya yang di luar dugaan.
“Aku bertanya, kenapa kau tidak memberi kabar karena pulang terlambat? Aku menunggumu sejak tadi. Aku bahkan tidak bisa makan karena .... “ Sonya tak melanjutkan ucapannya, karena ia baru sadar, ini adalah hal paling konyol yang pernah ia lakukan.
“Ada apa Sonya? Hm?” Chandra melangkah mendekatinya dan bertanya dengan senyum menghiasi wajahnya.
“Aku ... sudahlah, lupakan saja.” Sonya menjadi gugup karena ditatap sedemikian rupa oleh Chandra.
“Ada apa? Katakan saja, aku pasti akan menjawabnya jika itu sebuah pertanyaan.” Chandra membujuk sambil meraih tangan Sonya dan membelainya lembut.
“Kenapa kau tidak memberi kabar kalau hari ini pulang terlambat? Dan bukankah barusan kau turun dari mobil Aluna?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Sonya.
“Jadi sekarang kau mengkhawatirkanku?” seloroh Chandra.
“Jelas aku mengkhawatirkanmu Chandra. Aku istrimu, dan kau suamiku. Apa itu salah?” Sonya menjawab sambil memunggungi Chandra, ia tak mau suaminya itu melihatnya menahan tangis.
“Aku tadi mampir ke arena balap milik keluarga Kusuma, dan bertemu dengan Nona Aluna di sana. Kami ... bertukar kabar dan bicara banyak. Hanya itu,” maaf Sonya aku berbohong, aku tak ingin hubungan kita yang mulai membaik menjadi buruk lagi. Batin Chandra.
“Lalu kenapa mobil Aluna bisa ada padamu?”
“Tadi ... dia memberikannya padaku, dia bilang sebagai ucapan terima kasih atas pertolonganku waktu itu.” Chandra tersenyum lembut.
__ADS_1
“Baiklah, aku percaya padamu. Lebih sekarang bersihkan tubuhmu. Pakaian tidurmu akan kusiapkan di ruang ganti.” Sonya beranjak dari sana menuju ruang ganti namun, baru saja ia melangkah ucapan Chandra membuatnya berhenti.
“Apa kau mau menemaniku makan?”
Dengan senyum tertahan dan hati berbunga, Sonya menganggukkan kepalanya. “Baik, aku akan menemanimu. Biar aku suruh pelayan mengantarkan makanan ke sini.”
Sonya terlihat masih menahan senyum sambil menyiapkan pakaian untuk Chandra. Dulu, ia begitu membenci Chandra karena baginya Chandra tidak lebih dari seorang parasit yang memanfaatkan kekayaan dan nama besar keluarganya. Tapi, ternyata ia keliru. Seiring berjalannya waktu Chandra bisa membuktikan, bahwa ia memang layak untuk dihormati oleh semua orang.
\*\*\*
Chandra berjalan keluar dari kamar mandi dan terkejut karena melihat posisi tidur Sonya di atas ranjang. Jika biasanya Sonya tertidur sambil menyelimuti seluruh tubuhnya, kali ini sebaliknya. Tubuh Sonya hanya berbalut sebuah gaun tidur tipis dengan panjang selutut, memperlihatkan kakinya yang putih dan jenjang. Dengan model lengan bertali sphagetti, dan lagi-lagi memperlihatkan sebuah bahu yang mulus dan seputih susu.
Chandra yang merasa perutnya sangat kenyang karena makan malam dua kali (sore bersama Aluna, dan baru saja bersama Sonya) hingga ia merasa ngantuk, kini berubah menjadi panas dingin.
“Ehem .... “ Chandra berusaha menutupi rasa gugupnya.
Seolah dunia berhenti sejenak, menyisakan dua insan anak manusia yang sedang asyik saling menatap dan berbagi tatapan hangat. Alih-alih menerima tawaran Sonya, Chandra justru menggeleng dan duduk di samping sonya.
“Maafkan aku Sonya, tapi ... lebih baik biarkan aku tidur di tempatku semula. Aku takut melanggar privasimu dan tidak bisa menahan diri.” Chandra berusaha menjelaskan.
“Apa maksudmu? Apakah salah jika memang nantinya terjadi sesuatu di antara kita? Aku rasa itu adalah hal yang wajar, karena kita suami istri,” Sonya menggerutu sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Tidak, tidak salah. Hanya saja ... aku takut kau akan menyesalinya nanti. Aku tidak mau itu terjadi, sekarang ini kau sedang dipenuhi emosi karena cemburu. Berpikirlah dengan kepala dingin, aku tidak mau kau menyesal nantinya,” Chandra beranjak dari duduknya dan mengambil posisi tidur seperti biasanya.
Maafkan aku Sonya, aku tak bermaksud menyakitimu. Tapi untuk saat ini, biarlah semua berjalan apa adanya. Batin Chandra.
\*\*\*
“Apa? Oh iya, baiklah. Aku akan segera berangkat ke rumah sakit.” Chandra berjalan mondar-mandir di dalam kamar sambil sesekali merapikan lengan kemejanya.
__ADS_1
“Kau sudah akan berangkat lagi?” Sonya kaget melihat Chandra yang sudah rapi berpakaian dan siap berangkat dengan tatapan terluka.
“Iya, ada pasien darurat yang harus segera ditangani.” Chandra menjawab sambil lalu.
“Bukankah masih ada dokter Edy? Kenapa harus kau?” Sonya jelas tak terima, setelah kemarin Chandra pulang sudah sangat malam, hari ini ia sudah harus berangkat lebih awal.
“Aku tahu, tapi ini juga merupakan tugasku Sonya. Posisiku sekarang bukan untuk hanya duduk manis, tapi juga diikuti dengan tanggung jawab yang lebih besar.” Chandra bisa melihat dengan jelas tatapan Sonya yang murung karena terluka.
“Ya sudah, pergilah. Hati-hati di jalan,” Sonya akhirnya menyerah.
Chandra menatap wajah Sonya yang pagi ini terlihat sangat murung. Entah kenapa sejak semalam Sonya begitu ingin dimanja. Rasa bersalah lagi-lagi menghampiri Chandra, membuat perasaannya semakin tak karuan.
“Baik, terima kasih Sonya. Aku ... pergi dulu. Sampai nanti,” Chandra berjalan dengan tergesa-gesa karena ingin segera tiba di rumah sakit.
Sebegitu sulitkah bagimu untuk memberikanku kesempatan menjadi istri yang baik? Aku tahu, kesalahanku terlalu banyak padamu Chandra, tapi setidaknya beri aku kesempatan untuk membuktikan, bahwa aku sudah berubah. Sonya berkata dalam hati.
\*\*\*
“Apa keluhan pasien?” Chandra bertanya saat memasuki ruang gawat darurat.
“Sakit kepala hebat dan nyeri di sepanjang bagian tulang leher dokter,” jawab seorang perawat sambil menyerahkan beberapa laporan pemeriksaan.
Chandra membaca laporan kesehatan pasien dengan saksama, agar tak ada satu pun yang terlewat, “Tunggu. Kenapa laporan ini sangat mengerikan? Dalam satu bulan terakhir ia terinfeksi virus dan bakteri lebih sering dari yang seharusnya. Dan kenapa tidak ada pemeriksaan lebih lanjut sebelumnya?”
“Sepertinya pasien sedang menyembunyikan sesuatu dokter, tadi ia datang dengan kondisi sakit kepala, demam dan menggigil. Semua data ini kami dapatkan dari keluarga pasien, karna yang bersangkutan tidak bisa dimintai keterangan.” Mendengar penjelasan perawat itu, entah kenapa perasaan Chandra semakin gelisah.
Ia tahu, ada yang salah kali ini. Jika seseorang terlalu sering terinfeksi bakteri dan virus, jelas sistem imun orang itu bermasalah.
“Suster, tolong siapkan pasien untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kita harus melakukan tes darah lebih lanjut, dan juga CT scan. Aku harap dugaanku salah kali ini.” Chandra berkata dengan cemas.
__ADS_1