
Orang-orang di dalam ruangan ICU terdiam. Mereka seolah sedang menyaksikan sebuah adegan film horor yang menegangkan. Bagaimana tidak, kondisi Aluna yang semula mulai stabil kini kembali kritis.
“Dokter Edi, apa kau yakin bisa mencabut jarum-jarum itu dengan benar?” bentak nyonya Kusuma.
Sejenak, ekspresi wajah dokter Edi terlihat sedang berpikir keras. Dia sebenarnya merasa ragu, karena tak memiliki pengetahuan sedikitpun mengenai akupunktur. Tapi dia juga tak mungkin menghentikan aksinya dan mengakui kelemahannya di depan nyonya Kusuma, karena bisa menghancurkan reputasinya.
“Tentu saja, nyonya. saya bisa melakukannya,” jawaban dokter Edi terlihat yakin.
Saat jarum-jarum yang lain dicabut, kenyataan seolah tak berpihak pada dokter Edi. Wajah Aluna semakin pucat, bahkan kini darah terlihat mengalir dari sudut bibirnya walaupun sedikit.
Nyonya Kusuma yang melihat hal itu semakin panik dan tersulut emosinya. Kondisi putrinya terlihat semakin memburuk dan dia kembali memarahi dokter Edi,
“Apa yang kau lakukan!? Lihatlah, wajah putriku semakin pucat bahkan kini bibirnya keluar darah! Cepat, panggil dokter Melvin ke sini! Kamu memang tidak becus!”
Akhirnya dokter Edi pun menyerah. Dia tahu, jika memaksakan diri lebih jauh, bukan hanya reputasinya sebagai dokter yang dipertaruhkan tapi juga nyawa orang lain. Dengan tergesa-gesa dia memanggil dokter Melvin Sanjaya untuk membantunya.
Beruntung, dokter Melvin saat itu berada di lorong rumah sakit tak jauh dari bangsal tempat Aluna dirawat.
“Dokter Melvin, kumohon tolong aku! Kondisi Aluna semakin memburuk!” pinta dokter Edi.
“Memburuk? Bagaimana bisa? Bukankah tadi katanya kondisinya sudah membaik?” tanya dokter Melvin bingung.
“Ceritanya panjang, nanti saya ceritakan. Tapi sekarang, kita sedang diburu waktu karena nyawa Aluna bisa melayang kapan saja!”
__ADS_1
“Baiklah, antar aku ke sana!”
Mereka berdua pun berjalan tergesa-gesa menuju ruang tempat Aluna berbaring.
Sesampai di dalam ruangan, dokter Melvin terkejut melihat keadaan Aluna.
Bukan karena keadaanya menjadi kritis, tetapi karena tusukan jarum yang dilakukan oleh Chandra. Tidak seperti dokter dan perawat lain di rumah sakit ini, dokter Mevlin tidak memiliki pandangan apapun soal Chandra—benar-benar netral.
Akan tetapi, dia mengakui kalau Chandra bukanlah orang sembarangan. Bukan hanya ilmu medis modern yang dikuasainya, tetapi juga ilmu medis alternatif yang tergolong sulit untuk dipelajari. Penggabungan dua ilmu ini adalah suatu hal yang luar biasa karena jika ada kesalahan sedikit saja, maka itu bisa berakibat fatal untuk pasien.
Dokter Melvin merasa kalau ilmunya masih belum apa-apa dibandingkan Chandra yang sedari tadi disebut sebagai perawat. Dia pun berkata pelan, “Maaf nyonya, sepertinya kita perlu memanggil kembali Chandra.”
“Apa maksudmu dokter Melvin?” tanya nyonya Kusuma.
“Setelah saya telaah, kasus nona Aluna ini sangat berat dan nyaris tidak tertolong. Tetapi, Chandra berhasil menyelamatkan nona Aluna menggunakan gabungan ilmu pengobatan modern dan tradisional. Karena meski secara medis nona Aluna nyaris tidak tertolong, tetapi teknik pengobatan tradisional seperti akupuntur ini bisa melakukannya karena menitikberatkan pada syaraf-syaraf dan energi dalam tubuh orang itu sendiri.
“Jadi maksudmu, hanya pria itu yang bisa menyelamatkan putriku? Pria yang hanya berstatus sebagai seorang perawat itu? Kau bercanda dokter Melvin, itu jelas tidak mungkin! Kau yang terlalu lemah dan tidak berani mengambil resiko untuk menyelamatkan putriku!” Nyonya Kusuma terdengar tidak terima atas penjelasan dokter Melvin.
“Maaf Nyonya, tapi itulah kenyataannya,” ucap dokter Melvin dengan berat hati.
***
Sonya berdiri di lorong bangsal tempat Aluna dirawat. Meski dia berada di luar ruangan, tapi dia masih bisa mendengar percakapan mereka semua. Dia merasa apa yang dikatakan oleh dokter Melvin adalah sebuah fakta.
__ADS_1
Entah kenapa, sejak kejadian di mana suaminya melakukan percobaan bunuh diri, semua yang ada pada laki-laki itu berubah baik dari cara berbicara, bersikap, maupun kemampuannya dalam hal pekerjaan.
Dulu, Chandra Juandi yang dia kenal tidaklah lebih dari seorang pria canggung yang ceroboh, tidak percaya diri, dan cenderung defensif.
Namun setelah kejadian itu, sosok itu seolah menghilang dan tak berbekas.
Chandra menjelma menjadi sosok yang begitu berkharisma dan percaya diri. Aura maskulinnya pun seolah terpancar walau dia hanya diam. Ya, Sonya menyadari itu.
Namun, dia juga tak bisa gegabah untuk mengubah sikapnya terhadap Chandra. Ada harga yang harus dia bayar.
Sedikit banyak, bisa dibilang Sonya-lah yang dulu menyebabkan Chandra memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dia—dan ibunya—membuat pria itu merasa tak dihargai, tak berguna, dan menjadi rendah diri.
Jadi, tentu saja pria itu tidak mungkin akan memaafkannya begitu saja bukan?
Tapi apa mau dikata? Nasi telah menjadi bubur. Apa yang telah terjadi tidak bisa diulang kembali. Yang ada hanyalah bagaimana cara ia memperbaiki semuanya. Memperbaiki sikapnya selama ini kepada suaminya. Meski itu berarti dia harus menghadapi ibunya sendiri.
***
Suara orang yang sedang berlari terdengar menggema di sepanjang lorong rumah sakit. Seorang pria dengan wajah panik terlihat sedang mencari seseorang. Dia berkejaran dengan waktu dan maut, kali ini nyawa seseorang dipertaruhkan bukan di tangannya melainkan di tangan orang lain yang harus segera dia temukan.
Dokter Edi mencari Chandra yang tadi sempat dia usir. Dia pun menemukannya, Chandra sedang berdiri di lorong yang terbuka menghadap taman.
Dengan tergesa dokter Edi menghampirinya, “Chandra, kau harus pergi secepatnya ke ruangan nona Aluna dirawat. Kondisinya kembali kritis.”
__ADS_1
Tanpa memalingkan wajahnya Chandra berkata dengan dingin, “Untuk apa? Bukankah kau bilang tadi akan menanganinya dengan baik? Siapa aku? Aku hanya seorang perawat pecundang yang tidak becus melakukan apapun. Jadi buat apa kalian mencari aku?”
“Kau... kau ini benar-benar keras kepala! Aku sudah datang dan memohon padamu, apa itu masih belum cukup!?” bentak dokter Edi.