Menantu Terbaik

Menantu Terbaik
Silent Killer


__ADS_3

Chandra masih sibuk memilih beberapa barang yang dianggapnya penting untuk dibawa keluar dari mobil saat tiba-tiba ia merasakan ada seseorang yang mendekat dengan perlahan. 


Namun, ia berusaha untuk tetap tenang sambil menunggu kesempatan untuk meringkus orang itu. Karena ia yakin, jika orang itu berniat baik pasti tidak akan mendekatinya dengan mengendap-endap. 


Ketika dirasanya orang itu sudah sangat dekat, Chandra mencengkram erat sebuah dongkrak yang memang sejak tadi sudah diincarnya akan dijadikan senjata penolong. 


Secara tiba-tiba, Chandra berbalik sambil mengayunkan dongkrak itu dan berhasil mengenai rahang orang itu. Membuatnya mundur beberapa langkah karena ia jelas tak siap dengan serangan mendadak dari Chandra, hal itu dimanfaatkan Chandra untuk melihat siapa orang itu. 


Sayangnya wajah orang itu ditutupi dan yang paling menarik perhatian Chandra, orang itu memegang sebuah senjata api lengkap dengan peredam suaranya. 


Dengan sigap Chandra melayangkan sebuah tendangan tepat di rahang orang itu. Seketika orang itu terhuyung namun, ia sempat melepaskan sebuah tembakan ke arah kaki Chandra sebelum akhirnya ia sendiri roboh setelah dua kali menerima pukulan di tempat yang sama.


Rasa sakit mulai menjalar di kaki kiri Chandra, timah panas itu ternyata mengenai paha kirinya. Darah juga mulai mengucur dari lukanya yang terasa semakin nyeri. 


Sambil menahan rasa sakit Chandra kembali bergerak untuk memeriksa barang yang akan dibawanya turun.


Sialnya, kali ini ia tak membawa peralatan medisnya. Rasa menyesal perlahan mulai menyusup ke dalam hatinya karena kemarin ia memutuskan untuk meninggalkan peralatan medisnya di rumah. 


"Ternyata kau hebat juga ya, masih bisa berdiri setelah kakimu tertembak," seorang pria lain yang tak disadari kehadirannya oleh Chandra sudah berada di belakangnya. 


Chandra berbalik untuk melihat siapa orang yang bicara dengannya namun, lagi-lagi wajah pria itu tertutup topeng kain. Pria yang tadi roboh di dekatnya sudah hilang entah kemana. 


"Siapa kau? Apa maumu?" Chandra bertanya dengan emosi tertahan. Lukanya terasa semakin berdenyut, dan pria di hadapannya itu telah mengeluarkan sebilah pisau dengan ujungnya yang sangat runcing. 

__ADS_1


"Sudah jelas aku ingin menghabisimu di tempat ini bukan? Aku rasa kau tidak sebodoh itu Tuan." Pria itu kemudian menyerang Chandra dengan pisau yang mengarah padanya siap melukai tubuh Chandra. 


Dengan menahan rasa sakit, Chandra menangkis serangan pria itu. Ia menangkap pergelangan tangan pria itu, kemudian memelintirnya ke belakang. Chandra lalu menjatuhkan pisaunya dan menendangnya agar tak bisa lagi dijangkau. 


Posisi pria itu kini membelakangi Chandra dengan tangan yang terpelintir dan membuatnya sulit untuk bergerak. Chandra kemudian menotok beberapa titik saraf yang ada di punggung pria itu dan membuatnya roboh ke depan tergeletak tak berdaya. 


Gerakan yang cukup menguras tenaga karena saat ini kakinya tengah terluka. Ia juga harus mengurangi pergerakannya agar darah yang keluar tidak semakin deras. 


Chandra mempercepat pekerjaannya mencari barang, dan akhirnya ia menemukan kain perban untuk membalut lukanya. Meskipun tidak begitu efektif tapi setidaknya bisa menahan pendarahan di kakinya untuk sementara waktu. 


Chandra kemudian mencari handuk kecil dan melipatnya lalu ia gunakan handuk kecil itu untuk menekan lukanya. Setelah itu ia mulai membebat lukanya dengan perban dan mengikatnya dengan kencang.


Baru saja ia bernafas lega, suara gemerisik rumput diinjak terdengar. Seseorang berjalan mendekatinya. Ah, sial siapa lagi ini? Umpat Chandra dalam hati. 


Chandra mengangkat wajahnya, dan kali ini ia bisa melihat dengan jelas wajah pria di hadapannya itu, "Ada apa dengan kalian? Aku jelas tidak mengenal kalian. Aku juga tidak ingin berurusan dengan kalian." 


"Kau tidak perlu tau siapa kami Tuan, cukup kami yang mengenalmu. Aku beri tau satu hal, kami diizinkan untuk melukaimu. Kami juga diizinkan untuk menikmati tubuh istrimu yang cantik itu," pria itu menyunggingkan senyum liciknya. 


"Kau ... kalian ... awas saja jika kalian berani menyentuh istriku meskipun hanya seujung kuku, aku akan menghabisi kalian ribuan kali! Hingga kalian akan berpikir lebih baik mati." Chandra mulai terpancing karena pria itu berani menjadikan Sonya sebagai target kejahatan mereka. 


Pria itu terkekeh mendengar ucapan Chandra, "Hei Tuan, apa kau buta? Lihatlah, dengan kakimu yang terluka apa kau pikir bisa melawan kami? Kau memang telah berhasil merobohkan kedua temanku, tapi percayalah kami akan menghabisimu di tempat ini. Apa kau tau? Pada saat kau dan aku sibuk berbicara di sini, istrimu mungkin sudah tertangkap oleh temanku yang lain." 


Tanpa bisa diduga, Chandra melayangkan sebuah tendangan dan berhasil mengenai wajah pria itu dengan telak. Tendangan itu berhasil membuat pria itu roboh ke belakang namun, sepertinya kali ini Chandra mendapatkan lawan yang lebih kuat. 

__ADS_1


Dalam sekejap, pria itu telah berdiri dan memang kuda-kudanya bersiap untuk melawan Chandra. 


Dengan masih menahan sakit, Chandra berusaha bangkit dan ikut bersiap untuk menyerang pria itu lagi. Kali ini, Chandra melayangkan sebuah pukulan yang berhasil ditangkis oleh pria itu. 


Perkelahian pun sudah tak dapat dihindari. Satu ... dua ... tiga pukulan berhasil mengenai wajah lawannya, hal itu membuat Chandra sedikit tenang, karena pria itu ternyata tak sekuat penampilannya. 


Saat Chandra yakin kemenangan sudah di depan mata, pria itu tiba-tiba berlari menjauhi Chandra. Hal itu membuat Chandra tertegun dan kehilangan konsentrasinya namun, secepat kilat pria itu berbalik dan terlihat melemparkan sesuatu ke arah Chandra. 


Karena Chandra masih tertegun dengan apa yang dilakukan oleh pria itu, benda yang ternyata sebuah pisau menancap dengan sukses di kaki kanan Chandra. 


Chandra terdiam saat menyadari luka tusukan di kaki kanannya. Darah segar kembali mengucur dari kaki kanannya, membuatnya jatuh berlutut karena tak kuasa menahan sakit. 


Untuk sesaat, Chandra terdiam untuk menyesuaikan rasa sakit di kaki kanannya. Sonya, ia teringat dengan istrinya yang ia tinggalkan sendirian di sisi lain kebun teh ini. Sudah cukup lama ia meninggalkan istrinya, hal itu seolah memberikan kekuatan tersendiri baginya. 


Dengan tertatih, ia bangkit dari posisinya dan kembali mencari handuk kecil juga gulungan perban. Chandra kembali duduk dengan bersandar pada bagian samping mobil, lalu ia menahan napas sejenak saat mencabut pisau yang menancap di paha kanannya. 


Kemudian, ia melakukan hal yang sama pada kaki kanannya seperti yang ia lakukan tadi di kaki kiri. Selesai dengan itu semua, Chandra memanggul tas yang berisi barang-barang penting milik mereka dan mulai berjalan dengan tergesa karena teringat ucapan pria tadi. 


Di jalan Chandra akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan kepolisian setempat, dengan menghubungi nomor darurat. 


"Kantor polisi sektor X? Aku Chandra, posisiku di area kebun teh perbukitan sebelah selatan, aku membutuhkan bantuan. Aku diserang orang tak dikenal .... " 


Belum sempat Chandra menyelesaikan ucapannya, sambungannya terputus. Membuat Chandra merasa sangat frustasi. Hal yang tak pernah ia alami sebelumnya. 

__ADS_1


__ADS_2