Menantu Terbaik

Menantu Terbaik
Kondisi Aluna Membaik


__ADS_3

“Sudah kubilang tadi bukan? Jangan sentuh jarum-jarum itu. Jika kalian mau mendengarkan aku sedikit saja, semua ini tidak akan terjadi. Kalian memandang rendah orang lain seolah hanya kalian yang memiliki kemampuan,” ucap Chandra Juandi.


Dokter Edi terdiam setelah mendengar ucapan Chandra. Hati kecilnya membenarkan pernyataan pria di hadapannya.


“Baiklah, mungkin kau benar kali ini dan aku meminta maaf atas ucapan kasarku tadi. Sekarang bisakah kau selamatkan nona Aluna?” Dokter Edi berkata dengan frustasi.


Belum sempat Chandra Juandi menjawab permintaan dokter Edi, nyonya Kusuma datang dan lagi-lagi menunjukkan sikap arogannya.


“Kau benar-benar orang yang tidak tahu malu! Tadi kau datang seperti seorang pahlawan yang menawarkan bantuan pada putriku dan sekarang berlagak jual mahal. Berapa banyak uang yang kau butuhkan?” kata nyonya Kusuma dengan menggebu-gebu.


Wajah Chandra kembali mengeras. Dia terlihat berusaha menahan amarahnya karena mendengar ucapan nyonya Kusuma.


"Jika anda berfikir uang mampu menyembuhkan putri anda lalu kenapa masih mencari saya?" Chandra bertanya balik dengan sinis.


"Kau!!” nyonya Kusuma terlihat semakin kesal. Namun tiba-tiba Rega datang dan membentak istrinya itu.


“Tutup mulutmu! Kau selalu saja memandang rendah orang lain dan mengedepankan egomu bahkan di saat Aluna sedang berjuang melawan maut! Ibu macam apa kau ini!?” Rega terlihat emosi kepada istrinya.


“Chandra, aku mohon tolong selamatkan putriku. Hanya kau satu satunya harapan kami. Aku mohon maaf atas semua ucapan istriku,” ucap Rega pelan.


Sadar setelah ditegur keras oleh suaminya, nyonya Rega langsung mengubah sikapnya. Dia tersadar, tak lagi emosi dan memaki Chandra. Dengan membuang semua egonya, dia bahkan rela memohon kepada Chandra untuk menyelamatkan nyawa Aluna.


“Chandra, aku minta maaf atas ucapan kasarku tadi. Semua itu kulakukan karena aku panik. Aku tak sanggup melihatnya menderita walau hanya tergores benda tajam. apalagi dengan kondisinya yang seperti itu. Kumohon, selamatkan putriku!” nyonya Kusuma memohon sambil terisak menatap Chandra.


Mendengar permintaan maaf nyonya Kusuma, hati Chandra pun luluh. “Baiklah, aku akan melakukan yang terbaik untuk nona Aluna,” ucap Chandra. Dia mulai melangkah menuju ruangan tempat Aluna dirawat, “Semoga belum terlambat.”


Rega dan istrinya, menunggu di luar ruangan dengan gelisah. Mereka berjalan mondar-mandir tanpa henti. Terlalu banyak waktu yang terbuang hanya sekedar untuk mempertahankan ego yang seharusnya tidak diperlukan. Padahal Aluna putri mereka tidak membutuhkan itu semua, Aluna hanya membutuhkan pertolongan secepatnya dari orang yang mumpuni.


Aluna adalah bukti nyata bagi mereka bahwa siapapun orangnya, selama dia memiliki kemampuan atas hal tersebut, berhak untuk diberikan kesempatan tanpa memandang status sosial yang dia miliki. Pelajaran yang sangat berharga bagi mereka.

__ADS_1


Empat puluh lima menit berlalu. Chandra keluar dari dalam ruangan, lengannya menyeka bulir-bulir keringat yang membasahi keningnya.


Rega dan istrinya bergegas menghampiri pria itu.


“Bagaimana Chandra, apakah putriku berhasil diselamatkan?” Rega bertanya dengan cemas.


Dengan mantap dan senyuman yang tulus, Chandra menjawab, “Tenanglah tuan Rega, putri anda sudah baik-baik saja. Dia telah melewati masa kritisnya. Detak jantungnya sudah normal, hanya tinggal menunggu ia terbangun dan melalui masa pemulihan.”


Tangis nyonya Kusuma pun pecah mendengar kabar bahagia ini. Sedangkan Rega secara refleks memeluk bahu Chandra dengan erat.


Dari kejauhan, Sonya yang merupakan istri Chandra ikut menyaksikan semuanya. Dia tampak tersenyum bahagia atas apa yang dicapai oleh suaminya.


***


Suara ketukan pintu mengalihkan konsentrasi Rega yang sedang menatap putrinya tertidur dengan damai. Wajah Aluna tak lagi pucat memutih bagaikan porselen. Pipinya mulai merona, dan lingkaran matanya tak lagi cekung.


“Selamat malam, tuan. Apa anda mencari saya?” tanya Chandra pelan dari mulut pintu.


“Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu." Rega bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sofa panjang tepat di seberang ranjang milik Aluna.


Mereka berdua duduk bersebelahan, kemudian Rega mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kerjanya dan menyerahkannya kepada Chandra.


“Aku sangat berterima kasih atas semua yang kau lakukan pada putriku. Mungkin ini tidak terlalu besar tapi terimalah sebagai rasa terima kasihku.” Rega menyerahkan sebuah cek.


Chandra terlihat terkejut saat menatap cek bertuliskan namanya dengan jumlah yang sangat fantastis: dua setengah milyar!


Tapi sejurus kemudian dia mengembalikan cek tersebut pada tuan Rega.


"Maaf tuan, saya tidak bermaksud untuk bersikap lancang tapi itu sudah menjadi tugas saya sebagai seorang tenaga medis: menyelamatkan pasien, menyelamatkan sesama. Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya tidak bisa menerima pemberian anda. Ini terlalu berlebihan untuk saya.”

__ADS_1


Rega terdiam setelah mendengar ucapan Chandra. Terbesit rasa kagum dalam hatinya. Pria yang ada di sampingnya ini usianya jauh lebih muda darinya, tetapi dia memiliki pemikiran yang jauh lebih bijak.


Beberapa saat kemudian, Rega terlihat kembali mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. Sebuah Gold Card dan menyerahkannya kembali kepada Chandra.


“Jika menurutmu cek ini terlalu berlebihan, maka aku harap kau mau menerima kartu ini. Ini adalah akses untuk membeli semua kebutuhan yang kau perlukan di semua toko yang berada dalam naungan perusahaan keluarga kami. Kumohon, terima dan pakailah. Anggap kali ini, aku yang membantumu,” ucap Rega dengan senyum hangat.


Chandra menatap kartu itu selama beberapa saat. Lalu bertanya, “Mohon maaf sebelumnya, tetapi apakah perusahaan keluarga anda juga memiliki toko peralatan medis dan obat?”


“Oh, tentu! Tentu saja! Toko kami adalah salah satu yang terlengkap di seluruh negeri untuk kedua hal tersebut.”


Chandra terdiam sejenak. Daripada uang, akses untuk mendapatkan peralatan medis dan obat-obatan baginya jauh lebih berharga. Karena dengan itu, dia bisa menyelamatkan lebih banyak orang lagi yang membutuhkan kemampuannya.


Maka, dia pun menerima kartu tersebut, “Baik tuan, saya akan menerima kartu ini, terima kasih banyak atas perhatian anda.”


Dua orang itu kemudian bersalaman dengan hangat menandakan persahabatan di antara mereka mulai terjalin.


***


“Dokter Edi, bagaimana bisa aku menjadi orang terakhir yang mengetahui keadaan nona Aluna!?” suara seorang wanita terdengar sedang menahan marah di sambungan telepon.


"Maafkan saya nyonya Sarah, saat itu semua orang begitu panik karena luka yang dialami nona Aluna sangat serius dan hampir mengancam nyawanya," jawab Dokter Edi takut-takut.


“Itu bukan alasan! Aku bisa kehilangan muka karena kebodohanmu! Saat semua orang sibuk menyelamatkan nona Aluna, aku justru seperti sedang bersembunyi di dalam gua! Apa kau benar-benar ingin mempermalukanku!?” seru wanita yang bernama Sarah Susanto itu.


Dia adalah kepala rumah sakit milik grup keluarga kusuma.


“Saya benar-benar minta maaf nyonya, saya tidak bermaksud seperti itu. Semua kejadian begitu cepat dan membutuhkan tindakan segera," jawab dokter Edi.


“Baiklah, kali ini kumaafkan kau karena kondisi nona Aluna mulai membaik. Kita bertemu sepuluh menit lagi di lobby utama dan jelaskan secara rinci kondisi nona Aluna padaku!” balas Sarah cepat sebelum menutup telepon.

__ADS_1


__ADS_2