Menantu Terbaik

Menantu Terbaik
Kebimbangan Chandra


__ADS_3

Tumpukan berkas hasil pemeriksaan pasien terlihat berserakan di meja kerja Chandra. Ada banyak hal yang harus segera diputuskan olehnya.


Hasil skrining menyatakan seberapa parah tingkatan kasus HIV AIDS yang diderita oleh Reza. Seorang pria muda yang baru memasuki usia duapuluh lima tahun. Usia produktif, dimana seharusnya Reza bisa mencapai posisi gemilang dalam hidupnya. 


Gaya hidup bebas anak muda zaman sekarang membuat pemuda itu harus terbaring tak berdaya. Bahkan tingkat kerusakan sel CD4 yang merupakan bagian dari sel darah putih pun sangat tinggi. Sesuatu hal yang sangat sulit untuk dikendalikan. 


Di satu sisi, Chandra harus bisa segera mengambil keputusan yang berkaitan dengan kasus HIV AIDS pemuda itu, di sisi lain ia juga harus segera mengobati meningitis yang diderita oleh Reza.


Dua-duanya jelas membutuhkan prioritas. 


Kasus Reza membuat Chandra menjadi lebih sibuk dari biasanya, serangkaian tes lanjutan yang harus dijalani oleh pemuda itu jelas menyita waktu dan perhatiannya. Ia berangkat pagi-pagi sekali, dan pulang ke rumah saat hampir tengah malam. 


Hal ini membuat Sonya sedikit banyak merasa terabaikan, baginya Chandra seolah menjauh. 


"Kamu belum tidur?" Chandra memasuki kamar tidurnya bersama Sonya, dan melihat istrinya sedang sibuk mengganti channel televisi. 


"Bagaimana aku bisa tidur, jika suamiku belum pulang?" Sonya menjawab sambil lalu. 


"Tunggu sebentar, aku mandi dulu." Chandra masuk ke dalam kamar mandi tanpa menoleh lagi. Sonya yang melihat sikap dingin suaminya itu hanya mencibir. 


Setelah tigapuluh menit berlalu, akhirnya Chandra sudah rapih dengan piyama tidurnya. Lalu, ia berjalan menghampiri ranjang dan duduk di sebelah istrinya. 


"Kamu sudah makan?" Chandra berharap bisa meredakan sedikit ketegangan yang terjadi di antara mereka. 

__ADS_1


"Tidak perlu berbasa-basi. Setiap hari, kamu berangkat kerja sebelum ayam berkokok, dan pulang saat burung hantu mulai keluar dari sarang. Kamu pikir ini hotel?" Sungut Sonya. 


Chandra tersenyum hangat mendengar ucapan Sonya. Ia sadar, belakangan ini ia memang lebih sibuk dan lebih sering berada di rumah sakit daripada di rumah.


"Aku minta maaf, kamu pasti sudah dengar 'kan kasus pasien meningitis sekaligus penderita HIV AIDS?" 


"Iya, aku tau. Tapi ada banyak dokter di rumah sakit, bukan cuma kamu. Kenapa semuanya harus dikerjakan sendiri sama kamu?" Sonya mulai berapi-api. 


"Iya, memang ada banyak dokter dengan prestasi gemilang di rumah sakit, tapi tetap saja, aku punya tanggung jawabku sendiri di sana. Aku tidak mungkin lepas tangan begitu saja Sonya," Chandra menjelaskan dengan hati-hati. 


"Sebegitu sibukkah kamu, sampai tidak punya waktu untukku Chandra?" Wajah Sonya kali ini terlihat begitu memelas. 


Chandra mematung mendengar pertanyaan Sonya. Sebuah pertanyaan sederhana dan lumrah bagi pasangan suami istri, jika itu pasangan normal. Tapi tidak dengan mereka, pikir Chandra. 


"Baiklah, aku minta maaf. Aku janji, setelah ada titik temu dalam kasus ini, aku pasti akan meluangkan waktu lebih banyak untukmu," Chandra berkata dengan lembut. Ia ingin sekali membelai kepala Sonya, dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi kening wanita itu, tapi ia takut Sonya menjadi risih dan membuat kondisi rumah tangga mereka memburuk. 


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Dokter, ini hasil pemeriksaan lanjutan milik pasien Reza." Lisa meletakkan map yang cukup tebal di hadapan Chandra. 


"Terima kasih banyak Lisa. Bagaimana dengan keadaan psikologis pasien dan orangtuanya?" Chandra harus memastikan pasien dan keluarganya dalam keadaan berlapang dada, karena itu salah satu faktor penting dalam pengobatan. 


"Orangtua pasien masih terpukul, tapi mereka terlihat mencoba untuk tegar di hadapan anaknya. Sedangkan pasien sepertinya belum tau kondisi yang sebenarnya. Kenapa dokter tidak mengatakan yang sebenarnya?" 

__ADS_1


"Ingat Lisa, dia tidak hanya berstatus sebagai ODHA, dia juga menderita meningitis. Kondisinya saat ini jelas tidak memungkinkan untuk berpikir hal yang berat, itu tidak akan baik." Chandra menjawab sambil membaca hasil pemeriksaan. 


"Jumlah RNA di atas seratus ribu kopi per mililiter darah, jelas tidak bisa ditangani dengan mudah. Ditambah kasus meningitisnya yang menuntut daya tahan tubuh optimal. Pengobatan jenis antiretroviral (ARV) juga tidak bisa semuanya dipakai, hanya tiga jenis. Karena ia kebal terhadap dua lainnya," Chandra menghela nafas frustasi. 


"Lisa, tolong sampaikan laporan ini ke bagian penyakit dalam. Tolong sampaikan juga pada dokter yang lain, aku ingin semua yang terlibat dalam kasus ini berkumpul di ruang rapat dalam waktu tiga jam ke depan. Kita harus mengambil tindakan secepatnya," Chandra tahu, ia membutuhkan pendapat dan dukungan yang lain. 


Semua dokter yang terlibat dalam kasus Reza telah berkumpul di ruang rapat sesuai permintaan Chandra. Mereka semua merasa bingung sekaligus senang, karena seorang dokter utama masih menghargai pendapat mereka. 


"Maaf, aku terlambat. Ada beberapa berkas yang harus aku periksa dulu tadi." Chandra duduk di balik meja dengan berwibawa.


 


Semua orang yang ada di sana mengangguk, sebagai tanda menerima permintaan maaf Chandra. Mereka jelas terkejut dengan yang dilakukan oleh Chandra, karena kedudukan pria itu jelas lebih tinggi. Tapi ia sama sekali tidak keberatan untuk minta maaf atas kesalahannya. 


"Baiklah, langsung saja. Kalian pasti sudah bisa menebak kenapa aku meminta kita semua berkumpul secara tiba-tiba. Kita mulai kehabisan waktu, meningitis yang diderita oleh pasien semakin berat. Sedangkan daya tahan tubuh pasien juga semakin melemah. Setidaknya ada obat ARV yang sudah masuk malam ini. Tapi obat meningitis bisa saja tidak bereaksi jika berbenturan dengan kandungan ARV. Adakah di antara kita yang bisa memberiku solusi lain?" Chandra menatap wajah mereka satu per satu. 


"Aku rasa kita harus mencoba kemungkinan sekecil apapun Chandra. Karena bisa saja kemungkinan kecil itu menjadi besar." Seorang dokter yang bernama Tommy bersuara. 


"Tommy benar Chandra, masukkan obat ARV dan kita lihat reaksinya nanti. Selama tidak ada reaksi yang berlebihan, berarti kedua obat itu bisa berjalan beriringan," kali ini seorang dokter yang sudah senior menyampaikan pendapatnya. 


"Yang jadi permasalahan di sini, ada tiga jenis ARV yang bisa diterima oleh tubuh pasien. Itu artinya aku harus memasukkan satu per satu dari ketiga ARV itu, untuk melihat reaksi dari obat meningitis. Itu jelas memakan waktu, sedangkan seperti yang aku bilang tadi di awal. Kita mulai kehabisan waktu." Jawab Chandra dengan tatapan tajam. 


Keempat orang selain Chandra yang ada dalam ruangan saling berbisik mendengar penjelasan darinya. Tadi, sebelum mereka masuk ke ruang rapat semua telah sepakat, bahwa mereka akan menjadikan kasus ini sebagai alat untuk menjatuhkan Chandra. Mereka jelas tidak bisa menerima jika Chandra yang hanya seorang perawat yang beruntung di mata mereka, bisa menduduki jabatan sebagai dokter utama. Itu jelas sebuah penghinaan.

__ADS_1


__ADS_2