Menantu Terbaik

Menantu Terbaik
Babak Baru


__ADS_3

Chandra berjalan keluar lift rumah sakit dengan tergesa. Kemarin, sesuai pesan yang disampaikan oleh dokter Edy, ia harus segera bertemu dengan kepala rumah sakit. Saat ia sedang berjalan menyusuri lorong ia berpapasan dengan seorang wanita berusia tak jauh darinya dan memakai seragam perawat rumah sakit.


“Waw, mimpi apa kau semalam, Chandra? Kenapa kau sudah berada di rumah sakit sepagi ini?” tanya wanita dengan nada penuh kebencian.


Chandra tak menjawab pertanyaan yang mengandung sarkasme dari wanita itu. Ia memilih diam. Namun, emosi wanita itu sepertinya sangat tidak stabil terbukti karena wanita itu melanjutkan perkataannya dengan kasar.


“Kau pria lemah dan pecundang! Kau bahkan tak bisa melakukan pekerjaanmu dengan baik. Tapi aku heran, kenapa keluarga Wijaya yang terkenal itu mau menerimamu sebagai menantu di rumah mereka? Atau jangan-jangan kau menggunakan ilmu hitam?”


“Kurasa itu bukan urusan anda, nyonya Kirana, jadi Anda tak perlu memusingkan urusan kami apalagi sampai ikut campur,” kata Chandra dengan tenang.


“Kau... berani sekali kau membalas ucapanku! Sungguh tidak tahu malu! Kau pikir dengan menjadi menantu di keluarga Wijaya kau telah menjadi seorang pria hebat? Sekali pecundang, selamanya kau akan tetap menjadi seorang pecundang!”


Kirana Putri yang merupakan seorang kepala perawat sekaligus atasan Chandra entah mengapa terlihat begitu membenci Chandra.


“Aku kasihan padamu. Kau tidak bisa membedakan posisimu di rumah dan di rumah sakit ini. Di rumah kau mungkin bisa bebas mengeluarkan semua amarahmu, tapi tidak di sini! Kau tidak bisa menghina orang semaumu, apalagi menghinaku yang jelas tak punya masalah denganmu. Tidakkah kau berpikir bahwa hidupmu benar-benar menyedihkan?” Chandra membalas ucapan Kirana dengan pedas.

__ADS_1


“Wah, apa kau sekarang sudah berubah menjadi orang yang sombong dan arogan, Chandra? Kau merasa hebat karena kau adalah menantu keluarga Wijaya? Kuberitahu kau satu hal, kau hanyalah boneka hidup bagi Sonya dan keluarganya. Kau tidak punya harga diri! Jadi jangan pernah merasa di atas angin!” ucapan Kirana kini terdengar semakin keterlaluan.


Ingin rasanya Chandra membalas perkataan wanita itu dengan lebih pedas dan tajam, namun ia teringat waktunya sudah terbuang dengan percuma. Padahal ia harus segera menemui kepala rumah sakit di ruangannya.


Akhirnya Chandra memilih untuk mengalah dan melanjutkan perjalanannya. Baru beberapa langkah ia berjalan, wanita itu justru menghalangi jalannya dan kembali meluapkan emosinya.


“Berani sekali kau mengacuhkanku? Kau pikir kau ini siapa hah?” Kirana mulai berteriak kepada Chandra.


“Maaf Ibu Kirana yang terhormat, aku sedang terburu-buru dan tidak berminat untuk melayanimu. Jadi, tolong menyingkir lah dari jalanku, kepala rumah sakit sudah menungguku di ruangannya,” kata Chandra mencoba untuk bersabar.


Baru saja Chandra ingin membalas ucapan wanita itu, dokter Edy datang menghampiri mereka. Melihat kedatangan dokter Edy, wajah Kirana berubah drastis. Semula wajah Kirana terlihat begitu merah karena amarah yang menguasainya, kini wajahnya sudah berubah menjadi jauh lebih ramah dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya.


“Selamat pagi dokter Edy,” sapa Kirana dengan ramah.


Mendengar sapaan Kirana, dokter Edy hanya meliriknya sekilas dan menganggukkan kepalanya. Ia lebih tertarik pada Chandra yang berdiri di hadapan Kirana.

__ADS_1


“Chandra, kepala rumah sakit sudah menunggmu sejak tadi. Kenapa kau masih belum ke ruangannya?”


Mendengar ucapan dokter Edy, Kirana tertegun. Ia tak menyangka apa yang diucapkan oleh Chandra tadi adalah sebuah kebenaran dan bukan halusinasi pria itu.


“Maafkan saya dokter Edy. Tadi saya sedang berjalan menuju ruangan kepala rumah sakit, namun kepala perawat menghadang jalan saya dan mengatakan saya hanya berhalusinasi karena kepala rumah sakit menunggu saya di ruangan beliau,” jawab Chandra dengan jujur.


Dokter Edy menatap Kirana dengan tatapan tajam, “Kau benar-benar kurang ajar Kirana! Tidak bisakah kau menghargai orang lain sedikit saja? Terlebih lagi jika orang itu adalah Chandra. Seorang kepala rumah sakit saja begitu menghargainya bahkan mengangkatnya menjadi dokter utama, kenapa kau justru malah menghinanya?”


Tubuh Kirana gemetar mendengar ucapan dokter Edy. Jika dokter Edy sampai berkata demikian, maka itu adalah kenyataan. Ia mulai berkeringat dingin mengingat semua ucapan yang tadi ia tujukan kepada Chandra.


Tanpa menunggu respons dari Kirana, dokter Edy mengajak Chandra untuk segera bergegas menuju ruangan kepala rumah sakit. Baru saja Chandra akan melangkah, lengannya digenggam erat oleh Kirana.


“Chandra, maafkan aku. Tolong maafkanlah aku. Aku berjanji tidak akan melakukan hal yang sama lagi terhadapmu. Aku bahkan bersedia menjadi pengikutmu selamanya. Jangan katakan perbuatanku pada kepala rumah sakit. Aku tidak mau dipecat. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini,” suara Kirana terdengar memelas.


Chandra melihat lengannya yang digenggam oleh Kirana, kemudian ia menariknya dengan paksa hingga terlepas. Tanpa menghiraukan permintaan maaf dari wanita itu, ia terus berjalan mengikuti dokter Edy. Mereka berdua berjalan menuju ruang kepala rumah sakit. Menuju babak baru dalam hidup mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2