
"Aku lapar …. " Sonya mengusap perutnya sambil menatap kebun teh.
"Maaf ya, kamu jadi susah begini. Harusnya kita liburan di tengah Kota saja, bukan di pedesaan seperti ini." Chandra berusaha menutupi kondisinya sendiri yang sebenarnya lebih mengkhawatirkan.
"Kamu … masih saja menyebalkan. Sudahlah tidak perlu dibahas. Aku senang bisa pergi berdua denganmu," Sonya memalingkan wajahnya untuk menutupi rasa malu.
"Aku harap sebentar lagi bantuan kita datang." Chandra menatap ke arah jalan setapak yang mengarah ke jalan raya.
"Kamu sudah minta pertolongan?" Sonya jelas terkejut karena Chandra bergerak cepat.
"Iya, aku minta tolong sama Lisa. Tadi pagi, dia memberi kabar, hari ini dia juga cuti karena harus menjenguk neneknya di Kota ini." Setelah menghubungi polisi dan tak mendapatkan respon yang diinginkan, Chandra akhirnya meminta pertolongan pada Lisa.
Saat ini, hanya Lisa yang bisa dia andalkan. Karena wanita itu mengetahui keadaan yang sebenarnya. Tadi, saat ia tak bisa menghubungi aparat keamanan setempat ia menghubungi Lisa dan memberitahu lokasinya saat ini pada wanita itu.
"Jadi kamu sempat menghubungi asistenmu itu?" Sonya mencibir.
"Iya, aku tidak tau harus menghubungi siapa lagi selain Lisa." Chandra menatap Sonya dengan bingung, karena sesaat tadi ia menangkap nada suara Sonya yang seperti orang cemburu. Sesuatu hal yang mustahil bukan?
"Kamu bisa menghubungi Mama dan Papaku Chandra! Bukannya wanita itu. Memangnya apa sih yang bisa dia lakukan?" Kali ini emosi Sonya jelas terpancing, karena Chandra masih tidak paham jika ia jelas cemburu.
"Aku … tidak mungkin merepotkan mereka berdua Sonya. Aku sudah berjanji pada mereka untuk menjagamu, tapi jika tiba-tiba sekarang aku meminta pertolongan pada mereka karena kondisi kita sekarang, menurutmu apa yang akan mereka pikirkan tentangku?" Chandra merubah posisinya karena nyeri di kakinya berangsur membaik.
"Mereka bukan orang jahat Chandra!" Sonya berusaha meredam suaranya yang menandakan jika ia sedang menahan marah.
"Aku tau, mereka bukan orang jahat. Tapi aku jelas tidak mau mengecewakan mereka Sonya. Aku sudah berjanji pada mereka untuk menjagamu sebaik mungkin, dan aku akan menepati janjiku." Chandra berusaha memahami kondisi Sonya saat ini yang merasa tidak nyaman dengan keadaan mereka.
"Kamu …. "
"Dokter, maaf menunggu lama," Lisa berdiri di samping gubuk mereka, hingga mereka tak menyadari kedatangannya.
__ADS_1
"Tak apa Lisa, kamu mau datang saja aku sudah sangat berterima kasih. Maaf merepotkanmu," Chandra tersenyum hangat padanya.
Sonya memandang Lisa dengan kesal. Di matanya, Lisa tak lebih dari seekor lalat penganggu.
Tanpa diminta, Lisa langsung membuka tas yang dibawanya di punggung. Ia mengeluarkan peralatan bedah dan obat-obatan.
"Ini pesananmu dokter, aku harap lukamu tidak parah. Kemarikan kakimu biar aku obati," Lisa mennggulung lengan baju panjang turtle neck yang dipakainya.
"Tidak perlu Lisa, biar aku saja. Tolong temani Sonya berkeliling mencari makanan, perutnya sudah mulai lapar."
"Tidak, aku mau di sini menemanimu." Sonya mendelik sebal ke arah Chandra.
"Pergilah bersama Lisa Sonya, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat. Lalu aku akan menyusul kalian nanti." Chandra membujuk Sonya dengan lembut.
Meskipun dengan penuh rasa kesal, akhirnya Sonya memilih untuk mengalah dan pergi bersama Lisa.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Tuan, anak buahku tewas satu orang. Aku rasa Chandra bukan orang sembarangan, dia tidak akan mudah disingkirkan." Joko duduk dengan tenang di samping seorang pria bergaya perlente di dalam sebuah mobil mewah.
"Kau tidak perlu menasehatiku Joko! Aku lebih tau siapa Chandra. Dia tidak lebih dari seorang pecundang yang beruntung menikahi putri tunggal keluarga Wijaya." Pria perlente itu tak terima mendengar pendapat Joko.
Joko adalah seorang ketua organisasi pembunuh bayaran yang direkomendasikan oleh temannya. Awalnya ia ingin menolak karena mereka sepertinya kurang pengalaman. Tapi ia tak punya pilihan lain saat ini.
Ia dikejar waktu, Chandra harus segera disingkirkan secepatnya. Sehingga ia bisa menjalankan rencana besarnya dengan lancar, tanpa hambatan.
Chandra menggunting benang jahit setelah menyelesaikan pekerjaannya. Dengan tergesa ia merapikan semuanya dan mengambil sesuatu di dalam tas sesuai dengan pesan Lisa.
Ia menatap barang pesanannya dengan takjub. Sebuah pistol Desert Eagle, dengan lapisan titanium yang sangat elegan. Tidak, bukan karena titanium yang melapisinya yang membuat Chandra begitu takjub, tapi kemampuan pistol Desert Eagle dalam menghabisi sasaran tembak.
__ADS_1
Desert Eagle tidak seperti pistol lainnya yang memiliki enam belas hingga tujuh belas peluru. Desert Eagle hanya memiliki tujuh peluru, karena ukuran pelurunya yang besar.
Daya rusak satu peluru Desert Eagle setara dengan tiga sampai empat peluru biasa.
Selama ini, Chandra hanya menyimpannya di lemari brangkas miliknya di kediamannya yang dulu. Meski dengan tubuh yang baru namun, Chandra tidak melupakan semua hal di masa lalunya.
Aku harap kau hanya akan menghiasi saku jaketku saja. Chandra berkata dalam hatinya.
Dengan segala persiapan yang dirasanya sudah cukup, Chandra melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu.
Tadi, ia sempat meminum beberapa obat untuk meredakan nyerinya. Ia berharap, pertarungan kali ini tidak harus menggunakan banyak tenaga agar lukanya tidak bertambah parah.
Chandra berjalan mengikuti petunjuk yang diberikan Lisa tadi lewat pesan teks. Entah siapa Lisa sebenarnya, tapi kemampuan wanita itu dalam mencari informasi benar-benar patut diacungi jempol.
Chandra melihat sebuah mobil mewah terparkir di sebuah lahan lumayan besar di pinggir kebun teh dan sedikit tertutup.
Sesuai dengan informasi yang diberikan oleh Lisa, mobil itu mudah dikenali karena sudah seperti simbol bagi pria itu. Kecurigaannya semakin bertambah pada orang yang menjadi dalang di balik semua kejadian yang dialaminya hari ini.
Dengan mengendap-endap ia mendekati mobil itu perlahan. Lalu, ia duduk di bagian belakang mobil berusaha mencuri dengar suara dari dalam mobil. Tapi nihil, ia tak bisa mendengar apapun.
Sampai detik ini, Lisa tidak memberitahunya siapa sebenarnya dalang di balik ini semua. Lisa hanya mengatakan jika ia ingin mengetahuinya, maka ia harus datang ke tempat mobil itu diparkir.
Tak lama, suara pintu mobil terdengar dibuka. Chandra otomatis bersiap menghadapi siapa pun orang itu, dan apapun yang akan terjadi nanti.
Saat ia baru saja akan beranjak dari posisinya, tiba-tiba sebuah moncong pistol sudah mendarat di atas kepalanya.
"Wah … ternyata ada seorang penyusup di sini. Sepertinya aku tak perlu lagi mencarimu karena kau sudah mendatangiku lebih dulu Chandra." Pria itu mencibir.
Chandra kemudian berdiri perlahan dan berbalik menghadap orang yang menempelkan pistol di kepalanya. Dengan tenang Chandra berkata, "Selamat siang, dokter. Sudah kuduga selama ini wajahmu penuh dengan sandiwara."
__ADS_1