Menantu Terbaik

Menantu Terbaik
Luluhnya Sebuah Hati


__ADS_3

Tak disangka, percakapan mereka sejak tadi didengar oleh tuan Prayoga. Dengan sikap tenang ia menghampiri mereka dan mencoba untuk memberikan solusi.


“Chandra, kau pasti tahu dengan baik apa tugas dan kewajiban seorang tenaga medis bukan? Sebagai seorang tenaga medis kau pasti berada di bawah sumpah yang mewajibkanmu menolong setiap manusia yang membutuhkan tanpa memandang siapa mereka dan apa status sosial mereka.


“Keluarga Wijaya dan keluarga Kertadinata sudah menjalin hubungan baik sejak dulu. Bahkan, mereka sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri. Jika orang lain saja kau tolong, kenapa kau tidak bisa menolong keluargamu sendiri?” ucap tuan Prayoga dengan tenang.


Mendengar perkataan ayah mertuanya, Chandra terdiam dan membenarkan perkataan ayah mertuanya dalam hati.


(Bukan karena mereka sudah dianggap keluarga oleh ayah mertuaku, tapi aku sudah berada dibawah sumpah sebagai seorang tenaga medis. Hidupku sudah seharusnya kuabdikan untuk masyarakat tanpa pandang bulu), batin Chandra.


Akhirnya, Chandra mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya dan mengambil sebuah bolpoin dari saku kemejanya. Kemudian ia menuliskan sesuatu dan menyerahkan kertas itu kepada Andre.


“Ini, ambillah. Minum obat ini secara teratur, jika dalam waktu satu minggu kau tidak mengalami perubahan segera temui aku. Obat ini juga untuk mengurangi kegelisahanmu di malam hari.”


Dengan senyum sumringah Andre mengambil secarik kertas itu dan berkata, “Terima kasih Chandra, aku tahu kau pasti orang baik. Maafkan atas perkataanku tadi. Aku yakin, Sonya pasti sangat beruntung karena memiliki suami seperti dirimu. Ini ambillah lukisan ini sebagai ucapan terima kasihku.”


“Ingat Andre, tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan selama kita mau berusaha. Kau tidak boleh menyerah,” kata Chandra sambil menepuk pundak Andre dengan hangat.


Kemudian ia mengambil lukisan yang diberikan oleh Andre dan ikut mengucapkan terima kasih.


Setelah kepergian ibu dan anak itu, jantung Chandra berdetak dua kali lebih cepat. Ia tahu, ia telah melakukan sebuah kesalahan yang besar. Ia telah menghina keluarga Kertadinata yang jelas merupakan sahabat baik keluarga istrinya.


“Ayah mertua, maafkan atas sikap kasarku tadi. Seharusnya aku lebih bisa menahan emosiku dan tidak mudah terpancing,” kata Chandra dengan gugup.


Mendengar permintaan maaf Chandra, tuan Prayoga tersenyum dengan hangat.


(Aku memang tidak pernah salah menilaimu Chandra. Kau mungkin hanya orang biasa dan tanpa bakat istimewa di mata orang lain, tapi di mataku kau adalah sosok hebat dan memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi), tuan Prayoga berkata dalam hati.


“Tak apa Chandra, justru sudah seharusnya mereka mendapatkan perlakuan seperti itu. Aku justru senang kau bisa bersikap tegas sekarang. Jika semut saja bisa menggigit saat terinjak oleh gajah, apalagi manusia yang terus menerus disakiti. Jadi sudah sewajarnya mereka membela diri, termasuk kau. Ayo, sudah malam lebih baik kita masuk, kasihan Sonya pasti sudah menunggumu di dalam.”


Tuan Prayoga merengkuh bahu Chandra dan mengajaknya masuk.

__ADS_1


***


“Aaarrrggghhhh!” Suara teriakan seorang wanita terdengar dari dalam kamar mandi. Saat itu Chandra baru saja akan mengganti pakaian kerjanya dengan bathrobe. Chandra langsung bergegas menuju kamar mandi.


Tok tok tok


“Sonya, apa kau baik-baik saja di dalam?” Chandra bertanya, khawatir.


“Kakiku terkilir! Aku tak bisa menggerakkannya, rasanya sakit sekali!”


Chandra bisa saja langsung masuk dan menerobos ke dalam kamar mandi, namun ia tahu, Sonya pasti akan sangat marah padanya. Jadi dia memutuskan untuk bertanya lagi, “Apa aku boleh masuk dan memeriksa keadaanmu Sonya?”


Sesaat hening dari dalam sana, tak ada jawaban. Bahkan Chandra menahan nafasnya karena takut pertanyaannya justru akan membuat Sonya menjadi marah.


“Tidak apa, kau boleh masuk Chandra,” jawab Sonya.


Jantung Chandra semakin berdegup kencang saat tahu ia akan masuk ke dalam. Membayangkan tubuh istrinya hanya menggunakan sehelai handuk, atau bahkan tanpa benang sehelai pun membuat tubuhnya panas dingin.


Chandra kemudian menarik nafas panjang sebelum akhirnya membuka pintu kamar mandi di hadapannya. Tepat sesuai dugaannya, Sonya sedang duduk di lantai sambil memegang pergelangan kakinya yang terkilir. Hanya saja, Sonya tak memakai sehelai handuk atau tanpa benang sehelai pun. Wanita itu memakai bathrobe. Sesuatu yang lebih tertutup namun entah kenapa terlihat lebih menggoda di mata Chandra.


Sejenak, Chandra seperti terhipnotis tak bisa bergerak karena melihat pemandangan yang begitu indah di matanya. Mendengar Sonya yang kembali mengeluh sakit, kesadaran Chandra pun kembali.


“Mari, biar kulihat kakimu,” kata Chandra kemudian berjongkok di hadapan Sonya dan memegang pergelangan kaki wanita itu.


Pergelangan kaki Sonya terlihat bengkak dan membiru dalam sekejap, mungkin karena efek kulit Sonya yang teramat putih.


Posisi tubuh mereka yang sangat dekat, membuat Sonya bisa melihat dengan jelas perubahan yang terjadi pada suaminya itu. Kancing kemeja Chandra sudah terbuka beberapa di bagian atas.


Memperlihatkan dada bidangnya. Harum parfum maskulin pun tercium jelas di indera penciuman Sonya. Bahkan rambut Chandra memiliki aroma tersendiri di indera penciuman Sonya, aroma yang memabukkan.


“Apa kau bisa berdiri?” Chandra bertanya sambil menatap wajah istrinya yang terlihat setengah melamun itu.

__ADS_1


“Um... Iya, entahlah... kakiku terasa sangat sakit,” jawab Sonya terbata-bata. Jelas ia sangat malu karena tertangkap basah sedang mengamati pria di hadapannya itu.


“Baiklah, kalau begitu biar aku menggendongmu sampai ke sofa di kamar. Bagaimana, hm?” tanya Chandra sambil tersenyum hangat.


Lidah Sonya terasa kelu, alih-alih menjawab ia hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian Chandra pun menyelipkan tangannya di bawah kedua kaki milih Sonya, dan kedua tangan Sonya berpegang erat pada leher Chandra. Posisi mereka membuat wajah Sonya memerah karena menahan malu.


Chandra menurunkan Sonya di atas sofa panjang di kamar mereka, kemudian ia berlutut dan mulai memijat kaki Sonya. Saat memijit kaki Sonya, lagi-lagi ia tak sengaja melihat bagian bawah bathrobe milik Sonya yang tersibak.


Kali ini, ia bisa melihat dengan jelas, seberapa mulus dan putihnya kaki Sonya, bahkan dada Sonya terlihat penuh meskipun tersembunyi dibalik jubah mandinya yang tebal.


Berkali-kali Chandra berusaha untuk mengalihkan perhatiannya. Namun ia jua seorang pria dewasa normal yang memiliki kebutuhannya sendiri.


Chandra akhirnya memilih jalan aman dengan mengajak Sonya berbincang, “Bagaimana bisa kau terjatuh di dalam kamar mandi, Sonya?”


“Tadi aku terburu-buru karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku... lupa mengeringkan kakiku dan aku setengah berlari,” jawab Sonya, malu.


“Lain kali kau harus lebih berhati-hati. Kali ini kau beruntung karena hanya pergelangan kakimu yang terkilir. Jangan sampai ada bagian lain yang terluka atau bahkan terbentur,” ucap Chandra.


“Coba sekarang gunakan kakimu untuk berdiri,” pinta Chandra.


Sonya pun mengikuti permintaan Chandra dan berdiri. Kemudian wajahnya terlihat cerah, senyumnya pun merekah hangat untuk Chandra.


“Terima kasih Chandra, kakiku sudah baik-baik saja. Kau sungguh berbakat menjadi ahli fisioterapi.”


Chandra membalas senyuman Sonya dengan tak kalah hangatnya. Hatinya terasa hangat melihat senyuman Sonya yang tertuju padanya.


“Baiklah, kalau begitu. Kurasa sekarang giliran aku untuk membersihkan tubuh, kau beristirahatlah. Pekerjaan masih bisa ditunda hingga esok hari.”


Chandra segera masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Sonya yang kini termenung menatap punggung Chandra.


(Kau benar-benar berubah Chandra. Kau sudah bukan pria canggung lagi dan lemah seperti dulu. Bahkan kini kau sangat mempesona dengan caramu sendiri), Sonya berkata dalam hati.

__ADS_1


Setelah tiga puluh menit, Chandra pun keluar dari kamar mandi. Ia memang sengaja berlama-lama di dalam sana. Ia tak sanggup jika harus melihat tubuh Sonya lagi tanpa menyentuhnya.


Chandra sudah memakai piamanya dan bersiap untuk naik ke atas ranjang, saat matanya menangkap sesuatu di bawah ranjang mereka. Meskipun benda itu tersembunyi, namun dari bentuknya jelas itu adalah sebuah tikar dan ada beberapa perlengkapan tidur lainnya. Ia baru sadar kini mengapa tubuhnya bereaksi sedemikian rupa saat melihat tubuh Sonya hanya dalam balutan jubah mandi, itu karena mereka tidur secara terpisah dan tidak pernah berada dalam jarak sedekat tadi.


__ADS_2