Menantu Terbaik

Menantu Terbaik
Rencana Gelap


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan selama hampir tiga jam lamanya, akhirnya Chandra dan Sonya tiba di tempat tujuan. Chandra mengajak Sonya ke sebuah penginapan di daerah pegunungan dengan udara yang dingin. 


Sonya yang lebih sering berlibur ke Luar Negeri merasa kagum dengan penginapan pilihan Chandra. 


Penginapan mereka berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu, dengan kolam berendam air panas di bagian belakangnya. Satu rumah hanya berisikan maksimal dua orang tamu. Rumah-rumah itu dikelilingi oleh berbagai pohon yang menjulang tinggi.


Membuat siapa pun yang menginjakkan kakinya di sana, seperti berada di tengah hutan belantara. 


"Kamu bisa tau tempat penginapan ini dari mana? Tempatnya bagus banget, aku pikir setelah kita turun dari pesawat tadi, kita akan menginap di hotel di tengah Kota, tapi ternyata aku salah," Sonya meletakkan tasnya di kursi kayu di ruang tamu, lalu ia sibuk menjelajah rumah panggung itu. 


"Aku dulu pernah ke sini, sewaktu masih kuliah. Kamu beruntung, karena tempat ini sudah banyak mengalami perbaikan. Suasananya masih sama, hanya bangunannya saja yang kurang terawat." Chandra mengikuti Sonya ke halaman belakang, tempat kolam berendam air panas berada. 


"Aku baru tau, di Kota ini ada tempat penginapan seindah dan senyaman ini. Papa dan Mama lebih sering mengajakku liburan ke Luan Negeri, jadi aku tidak punya pengetahuan apapun tentang tempat terpencil seperti ini." 


"Tapi sekarang sudah kan? Maaf Sonya, aku hanya bisa mengajakmu liburan ke tempat kecil seperti ini. Aku tidak punya pengalaman pergi berlibur ke Luar Negeri." 


Chandra bisa melihat dengan jelas binar bahagia di mata istrinya. 


"Oh ... ayolah jangan kamu rusak moodku dengan perkataanmu yang membuatku sakit telinga. Aku tidak pernah mengharapkanmu memberikanku semua kemewahan itu, aku hanya ... berharap suatu saat kamu mau memaafkanku Chandra." Sonya menunduk, ia tak punya nyali menatap wajah Chandra yang sejak tadi sibuk menekuni wajahnya. 


"Tingkahmu seperti gadis remaja saja, menunduk karena mengakui perasaanmu pada seorang pemuda," Chandra tertawa melihat Sonya yang ternyata juga bisa bersikap malu-malu. 


"Kamu ini, selalu saja meledekku. Menyebalkan," Sonya mencibir. 

__ADS_1


Chandra tertawa mendengar Sonya merajuk bahkan memanyunkan bibirnya ke depan. Rasanya ia ingin sekali mengecup bibir merah muda milik istrinya itu. Tapi ia tidak memiliki nyali. Belum. 


"Bagaimana jika kita berkeliling ke tempat wisat yanga da di sekitar sini? Kamu mau kemana? Lihat danau hijau, atau kawah vulkanik? Atau penangkaran rusa?" Chandra berusaha untuk membuat mereka tidak terjebak terlalu lama di dalam kamar, karena ia takut kehilangan kendali atas dirinya. 


"Aku ingin melihat kawah vulkanik, sepertinya itu seru karena pasti membuat adrenalin berpacu," Sonya menyadari maksud dan tujuan Chandra, karena ia pun mulai merasa gugup. 


Chandra tertawa mendengar ucapan Sonya yang terdengar sedikit berlebihan, "Tidak Sonya, adrenalinmu tidak akan berpacu. Kita hanya akan naik dan turun tangga." 


Lokasi tempat wisata yang mereka tuju tidak jauh dari penginapan yang mereka sewa, hanya sekitar sepuluh menit dan tibalah mereka di tempat tujuan. 


Dari pintu gerbang, mereka masih harus melanjutkan perjalanan dengan mobil sekitar lima belas menit namun, sepanjang perjalanan pendakian, Sonya tak hentinya menyerukan kekaguman. Tiba di lokasi, Chandra mengulurkan tangannya pada Sonya. 


"Kamu harus menggenggam tanganku selama di sini. Aku tidak ingin kita terpisah, di sini ramai sekali ternyata." Chandra menatap Sonya dengan harap-harap cemas. 


Sebuah ucapan yang sederhana, bahkan mungkin berlebihan bagi sebagian orang. Tapi tidak bagi Chandra, ucapan Sonya bagaikan sebuah pernyataan jika mereka harus bersama-sama hingga maut memisahkan. 


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Lisa berjalan dengan langkah gontai menuju ruang kerja atasannya. Baru satu hari ia ditinggal berlibur, tapi rasanya sudah seperti satu bulan. 


Lisa selalu berusaha meyakini dirinya sendiri, bahwa apa yang ia rasakan saat ini terhadap Chandra hanyalah sebuah rasa kagum, tidak lebih. Ia sadar diri, dirinya hanya seorang perawat biasa, dengan kemampuan yang biasa. 


Lagi pula, atasannya itu sudah menikah. Ia tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang lain. Baginya, cukup melihat Chandra bisa tersenyum maka ia pun akan ikut tersenyum. 

__ADS_1


Lisa memilih mengerjakan laporannya di ruang kerja milik Chandra, ia merasa di sana lebih aman dari gangguan orang-orang yang memiliki maksud tersembunyi. 


Belum selesai dengan laporannya, Lisa merasa ingin buang air kecil. Ia membereskan laporannya yang belum selesai, dan ikut membawanya ke dalam kamar kecil. Entah kenapa kali ini ia tidak tenang meninggalkan laporan itu di atas meja, padahal hanya ada dirinya di sana. 


Selesai dengan urusannya di kamar kecil, Lisa baru saja akan membuka pintu ia saat mendengar pintu ruang kerja Chandra dibuka dari luar. 


Suara lengkah beberapa orang juga terdengar memasuki ruang kerja Chandra. Jantungnya berdegup lebih kencang, dengan sangat hati-hati ia menempelkan telinganya di pintu agar bisa mendengar siapa orang-orang itu. 


"Cepat, cari berkas-berkas itu. Aku ingin Chandra pulang dan mendapati ia telah di usir dari rumah sakit ini," seorang pria berkata dengan gusar. 


"Aku rasa kita harus lebih bersabar dokter, Chandra tidak bodoh. Ia pasti bisa mencium rencana kita, dia juga licik. Kita harus lebih berhati-hati menghadapinya." Seorang pria yang lebih muda berkata.


"Kita mulai kehabisan waktu, aku setuju dengannya. Kasus ini bisa semakin melambungkan namanya di hadapan semua orang, terutama di hadapan Tuan Rega. Tapi kasus ini juga bisa menjatuhkannya dengan telak. Jika kita terus mengulur waktu, ia bisa semakin melambung dan kita tak bisa menyentuhnya." Suara pria yang lain membenarkan ucapan pria yang pertama bersuara. 


Lisa mendadak merasa pening, ia tak menyangka jika atasannya memiliki banyak musuh. Chandra padahal tidak pernah mengusik keberadaan orang lain, ia hanya fokus pada pekerjaannya dan juga pasien-pasiennya. 


Tanpa disadari, Lisa meremas berkas yang ada di tangannya. Ia merasa mereka semua sudah keterlaluan, kekuasaan membuat mereka semua menjadi buta dan tidak bermoral. 


"Jangan banyak bicara, aku tidak mau kita gagal. Ingat, jabatan kalian taruhannya. Jadi jangan memancing emosiku. Kerjakan secepat mungkin, dan jangan meninggalkan jejak sedikitpun." 


"Bertahun-tahun aku bekerja keras demi posisi itu, tapi ia dengan mudah merebut semuanya. Si*alan kau Chandra, aku akan menyingkirkanmu. Mengembalikanmu ke tempat asalmu, ke lorong rumah sakit yang sepi." 


Lisa tak kuasa lagi menahan getaran tubuhnya. Ia merosot, dan duduk di lantai kamar kecil. 

__ADS_1


Aku harus menolongnya, aku tidak bisa membiarkannya kehilangan semua yang sudah dicapainya saat ini. Meskipun itu berarti aku yang harus menyingkir dari tempat ini tak masalah, asalkan aku bisa menyelamatkannya. Kata Lisa dalam hati.


__ADS_2