
"Berhati-hatilah, tangganya sedikit licin dan agak terjal. Ingat, jangan lepaskan tanganku Sonya." Chandra tak hentinya mengingatkan Sonya yang berjalan di samping kanannya.
"Aku pasti berhati-hati Chandra, dan kalau pun aku terjatuh kamu pasti akan menolongku 'kan?" Sekarang Sonya tak lagi malu atau pun canggung di hadapan Chandra.
"Memangnya ada orang lain yang akan menolongmu selain aku di sini?"
"Kamu, selalu saja meledekku." Sonya mencibir.
Dengan tetap menggenggam tangan Sonya, Chandra selalu melindungi tubuh wanita itu dari orang yang berlalu-lalang tanpa memerhatikan sekitarnya. Chandra terlihat begitu sangat menyayangi Sonya, hingga ia tak rela jika Sonya di sentuh orang lain meski hanya seujung kuku.
Saat mereka hampir tiba di anak tangga terakhir, tiba-tiba beberapa anak remaja lelaki berlarian dari belakang mereka dan menabrak Sonya. Wanita itu nyaris saja terjatuh ke depan jika Chandra tak menangkapnya.
"Kamu tidak apa-apa 'kan?" Chandra memeriksa seluruh bagian tubuh Sonya, takut kalau-kalau Sonya terluka karena kejadian tadi.
Melihat begitu pedulinya Chandra terhadap keselamatannya, membuat Sonya kembali mengingat saat dulu. Ketika ia selalu bersikap ketus dan tak peduli terhadap Chandra.
Chandra tak pernah sekalipun meminta haknya sebagai seorang suami. Bahkan, sepanjang pernikahan mereka Chandra tak pernah tidur di ranjangnya. Pria itu selalu tidur di lantai beralaskan karpet.
"Chandra, aku tidak apa-apa. Kamu tidak perlu begitu khawatir, aku baik-baik saja." Sonya menghentikan tangan Chandra yang sedang menepuk-nepuk pakaian yang melekat di tubuhnya seolah debu tidak boleh menempel barang secuil.
"Tunggu di sini sebentar, aku akan memberi mereka pelajaran."
"Chandra, tunggu …. " belum sempat Sonya mencegahnya, Chandra sudah pergi menjauh mencari keberadaan remaja yang tadi menabrak Sonya.
"Orang itu, terkadang berlebihan." Sonya mendengus, tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.
Sambil menunggu Chandra kembali, ia memilih untuk bersandar di pegangan tangga, dan mengamati pemandangan sekitarnya.
__ADS_1
Udara dingin, dan sedikit kabut yang menutupi pinggiran kawah memberikan kesan tersendiri baginya.
Dingin sekaligus hangat. Sonya merasa udara di sana semakin dingin, ia pun merapatkan jaketnya. Tapi, ia tersenyum manis penuh kebahagiaan saat mengingat kejadian tadi. Ketika Chandra memintanya untuk menggenggam tangan pria itu dan tidak pernah melepaskannya. Muka Sonya memerah dan sedikit panas.
Setelah menunggu beberapa saat, Chandra kembali menghampirinya bersama beberapa anak remaja yang tadi berlarian dan menabrak dirinya.
"Ayo, kalian harus minta maaf pada istriku. Andaikan tadi aku telat memegang tangannya, mungkin saat ini ia sudah terluka karena perbuatan kalian yang tidak bertanggung jawab," Chandra menatap para remaja itu dengan tatapan sengit.
Sonya menatap Chandra dengan tatapan bingung meminta penjelasan, sedangkan Chandra hanya mengangguk sekilas ke arahnya.
"Tante, saya sama teman-teman mau minta maaf karena kecerobohan kami, tante hampir terjatuh." Salah satu dari remaja itu menyampaikan permintaan maafnya dengan kepala yang tertunduk.
"Kamu menyebutku Tante?" Sonya terkejut mendengar panggilan untuk dirinya.
Chandra menahan tawanya karena melihat wajah Sonya yang menahan kesal karena tidak terima dengan panggilan Tante. Di saat ia sibuk memikirkan keselamatannya, wanita itu justru sibuk memikirkan hal yang sangat sepele.
"Sepertinya naik ke atas jauh lebih sulit dibanding saat kita turun tadi," Sonya memandang anak tangga yang menjulang hingga atas.
Chandra menepuk bahu Sonya dengan lembut, dan mengusapnya sesaat sebelum akhirnya berkata, "Kamu pasti bisa, tapi kalau di tengah perjalanan nanti kamu tidak kuat, aku akan menggendongmu."
Sonya tersenyum lebar tanpa bisa ditahan. Chandra benar-benar memperlakukannya bak seorang ratu. Tapi ia tak mungkin merepotkan Chandra, jadi dengan semangat yang menggebu ia berjalan menaiki anak tangga yang terlihat begitu tinggi menjulang.
Mereka tertawa bersama saat telah berhasil sampai di puncak anak tangga yang paling atas. Awalnya, Sonya yang merasa tak sanggup naik ke atas tapi pada kenyataannya Chandra lah yang kerepotan menaiki anak tangga tersebut.
"Siapa ya yang tadi bilang mau gendong aku?" Sonya tertawa tanpa henti melihat wajah Chandra yang memerah karena kehabisan nafas.
"Aku sudah lama tidak olahraga, jadi hal yang lumrah saat aku tak bisa mengatur nafasku tadi," Chandra berusaha membela diri.
__ADS_1
Aku senang melihatmu tertawa Sonya. Begitu cantik dan hidup. Sepertinya keputusanku untuk mengalah padamu kali ini sangat tepat. Karena dengan begini, aku bisa melihatmu dengan rona wajah yang lain. Kata Chandra dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Aku ingin semuanya bersih tanpa jejak sedikitpun. Aku tak peduli jika akhirnya wanita itu ikut lenyap, tidak boleh ada saksi mata. Aku membayarmu mahal bukan untuk gagal, jika kau berani membuat kekacauan aku jamin kebebasanmu tidak akan bertahan lama." Pria itu menutup pembicaraan dengan wajah memerah karena menahan amarah.
Semenjak kejadian di ruangan Chandra kemarin, Lisa kini lebih berhati-hati dalam bertindak. Jika tidak sengaja papasan dengan dokter yang menjadi di pemilik gagasan untuk menyingkirkan Chandra, Lisa sengaja berlama-lama berada di tempat itu.
Seperti hari ini saat ia baru saja keluar dari ruang rawat inap milik Reza, dan mendapati dokter itu sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya sambil berdiri di ujung lorong yang sepi.
Lisa memutuskan untuk menguping dari balik tembok sambil sesekali mengintip untuk melihat ekspresi dokter itu. Setelah memutuskan pembicaraan, dokter itu pergi dengan tergesa-gesa.
Sejenak, Lisa berpikir untuk mengikuti kemana dokter itu akan pergi. Sejurus kemudian ia membatalkan niatnya, saat tersadar dokter itu juga mengatakan tak apa jika wanitu ikut lenyap. Itu artinya, bukan hanya keselamatan Chandra yang dalam bahaya, tapi juga Sonya.
Lisa memutuskan untuk berbalik dan berjalan menuju ruangan Chandra. Ia berencana untuk memberitahu kabar ini pada atasannya itu.
Tidak ingin memancing keributan, dan juga kecurigaan dari orang lain Lisa berjalan dengan santai dan setenang mungkin. Meskipun sebenarnya jantung berdegub lebih kencang, dan tubuhnya terasa lemas.
"Lisa, ada perlu apa kau ke sini?" Seorang pria sudah duduk manis di balik meja Chandra. Wajahnya sama terkejut dengan Lisa.
"Aku ... diminta dokter Chandra untuk membersihkan ruangannya setiap hari selama ia cuti tidak masuk." Sebuah alasan yang sangat klise, tapi ia jelas tidak siap mendapatkan pertanyaan seperti itu.
"Memangnya kemana petugas kebersihan yang selalu bertugas?" Pria itu jelas tidak bisa menerima alasan Lisa dengan mudah.
"Ada, hanya saja dokter Chandra menitipkan pesan seperti itu. Jadi aku hanya mengikuti perintahnya." Lisa memberanikan diri menatap pria di hadapannya.
"Kau tidak sedang merencanakan atau menyembunyikan sesuatu 'kan? Karena jika iya, maka aku tidak bisa membiarkanmu begitu saja."
__ADS_1
"Apa maksudmu dokter?" Lisa menatap bingung pria itu setelah mendengar ucapannya, seolah pria itu menuduhnya berbuat sesuatu.