Menantu Terbaik

Menantu Terbaik
Keluarga Wijaya


__ADS_3

Chandra yang mendengarnya tidak bisa menahan amarahnya. Begitu salah satu preman itu menyentuh lengan Lenny, dia bergegas turun dari dalam mobil dan berlari mendekat.


"Jangan sentuh aku!" teriak Lenny. Namun bukannya berhenti, para preman itu justru semakin menikmati ekspresi takut gadis mungil itu.


"Tinggalkan dia!" teriak Candra tiba tiba.


Para preman itu menoleh ke arah Chandra. Mereka terdiam sesaat, kemudian tertawa dengan keras secara bersamaan.


"Kau pikir kau siapa bung!? Beraninya memerintah kami! Kau yang seharusnya pergi jangan ikut campur urusan kami!" kata si rambut gondrong.


Chandra bukanlah pria dengan tubuh yang atletis. Tubuhnya memiliki tinggi rata-rata dan bahkan cenderung kurus. Secara keseluruhan, fisik tubuh Chandra sama sekali tidak mengintimidasi bagi para preman tersebut.


Meskipun begitu, mendengar dirinya diusir, Chandra hanya terdiam sambil menatap wajah mereka satu persatu dengan tatapan tajam.


"Wah sepertinya, ia benar-benar menantang kita. Dengar bung, tubuhmu yang kurus bagaikan papan itu tidak akan sanggup melawan kami!" Lagi-lagi si gondrong berkata diiringi suara tawa dari kedua temannya.


Kemudian, tanpa basa-basi, si preman berkepala botak maju menghampiri Chandra dan mendorongnya. Tapi dia tak berhasil menjatuhkan Chandra. Tubuhnya bergeming.


Hal itu membuat para preman semakin geram dan memilih untuk menyerang Chandra secara bersamaan.


Pukulan demi pukulan dilayangkan menuju Chandra. Tetapi, entah kenapa, Chandra merasa bisa melihat—memprediksi—semua gerakan tersebut dengan sangat jelas.


Setiap otot yang bergerak dan menegang, kepalan yang dilayangkan bisa dihindari oleh Chandra.


Sembari menghindari serangan bertubi-tubi tersebut, Chandra menusukkan jarinya ke beberapa titik tubuh para preman tersebut. Setiap tusukan jari bagaikan tusukan jarum akupuntur yang menghujam titik syaraf penting tubuh para preman tersebut.


Tidak berapa lama, semua preman tersebut berhenti bergerak. Posisi mereka beragam, ada yang masih dalam pose memukul dan ada yang tubuhnya condong ke depan. Mereka semua mengerang kesakitan, tak bisa bergerak.

__ADS_1


“Kenapa, tidak bisa bergerak?” ucap Chandra menyeringai, "Sekarang kalian yang akan mengikuti perintahku, para pecundang!”


"Aku ingin kalian saling memukul, kemudian menyakiti diri kalian sendiri," kata Chandra yang kemudian diikuti oleh para preman tersebut. Mereka bertiga seolah telah menjelma menjadi boneka mainan Chandra.


Chandra tertawa melihat tingkah laku ketiga preman itu. Diiringi suara gelak tawa Lenny. Setelah dirasa para preman itu telah menderita luka-luka, Chandra kembali memberikan perintah.


"Sekarang, aku ingin kalian memberikan gadis ini uang yang semua kalian miliki ataupun telah kalian curi dari orang lain. Sebagai kompensasi untuk ganti rugi yang kalian timbulkan. Cepatlah!" teriak Chandra.


Lagi, bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya, mereka melakukan apa yang Chandra perintahkan. Dengan tangan gemetar si botak menyerahkan semua pendapatan yang masuk hari ini.


Setelah dirasa semua uang yang dihasilkan telah diberikan kepada Lenny, Chandra membuka totokan pada tubuh mereka masing-masing. Dan dengan lantang Chandra berkata, "Pergilah kalian, jangan sampai aku yang akan mengirim kalian ke meja operasi."


Kemudian mereka bertiga berlari, menjauh dari tempat acara berlangsung.


“Kau tidak apa-apa ‘kan, Lenny?” tanya Chandra.


“Uh… I-Itu… Oh, aku membaca nama di seragammu!” ucap Chandra cepat. Dia sempat panik karena tidak sengaja menyebut nama Lenny. Tentu saja adiknya tersebut tidak tahu kalau ‘Chandra’ yang ada dihadapannya ini adalah kakak kandungnya. Penampilannya sudah berubah jauh.


“O-Oh, begitu! Saya berterima kasih karena telah menyelamatkan saya dari para preman itu!” ucap Lenny sambil membungkukkan badannya.


“Tidak perlu dipikirkan, aku sudah cukup senang membantu. Jaga diri baik-baik, ya!” ucap Chandra sambil bergegas kembali ke mobil dan mulai melaju.


“Aku tidak tahu kamu bisa berkelahi seperti itu,” ucap Sonya.


“Oh itu… Aku sendiri juga tidak tahu, haha!” balas Chandra sambil tertawa canggung. Dia tidak punya niat sama sekali untuk melanjutkan pembicaraan dengan Sonya. Yang ada, dia hanya ingin sampai di rumah Sonya dan istirahat setelah hari yang penuh dengan kejadian ini.


Tetapi, dia tidak menyadari kalau sesuatu tengah menunggu di rumah Sonya.

__ADS_1


***


Dua orang wanita paruh baya sedang berpelukan dan saling melemparkan senyuman hangat. Mereka seolah lama tidak bertemu, padahal baru seminggu yang lalu mereka bertemu. Sebagai sepasang sahabat Amelia Pratama—ibu Sonya Wijaya—dan Linda Rahayu terbilang sangat dekat. Bahkan mereka sudah seperti keluarga.


“Ya ampun Lin, kok kamu mau main ke sini enggak kasih kabar dulu?” tanya Amelia.


“Iya Mel, tadi aku sama Andre abis ngambil pesanan lukisan. Kebetulan, galeri pelukisnya sejalan sama rumahmu, jadi ya kupikir enggak ada salahnya kalau mampir sebentar,” jawab Linda.


“Kamu abis beli lukisan baru lagi?”


“Ini loh Andre, lukisannya mau dipajang di rumah barunya. Kata dia supaya dindingnya enggak keliatan kosong aja,” jawab Linda berusaha merendah padahal jelas tujuannya untuk menyombongkan diri.


“Wah, udah punya rumah baru aja nih nak Andre. Pasti seleranya enggak jauh dari seleramu Lin,” kata Amelia.


Mendengar ucapan Amelia, sepasang ibu dan anak itu tersenyum penuh arti. Tujuan mereka datang ke rumah Amelia bukanlah sebuah kebetulan belaka. Semuanya telah direncanakan dengan matang.


Dua minggu yang lalu…


“Kamu serius, Pa? Suaminya Sonya meninggal?” Linda terkejut mendengar ucapan suaminya.


“Iya Ma, masa Papa bohong? Ini menyangkut nyawa seseorang, enggak mungkin Papa bercanda Ma,” kata suami Linda.


“Berarti, sekarang Sonya jadi janda muda dong ya, Pa? Kok Amelia nggak kasih kabar ke mama ya?” Linda terlihat sedang berpikir.


“Mungkin dia enggak siap anaknya menyandang status itu, makanya dia lebih memilih untuk diam kali ini.” Suaminya menjawab sambil menatap istrinya dengan bingung.


Bagaimana ia tidak bingung, saat ia menyampaikan berita ini, istrinya tidak terlihat berduka sedikitpun. Padahal hubungan istrinya dengan istri pemilik Wijaya grup itu sangat dekat. Istrinya justru terlihat seperti sedang berpikir keras.

__ADS_1


(Bagus. Ini adalah kesempatan emas bagiku. Aku akan menyuruh Andre menikahi Sonya. Tak apa. Sonya mungkin sudah bukan gadis lagi, tapi ia jelas pewaris utama kekayaan keluarga Wijaya. Dengan begitu, seluruh aset milik keluarga Wijaya akan menjadi milik Andre, dan otomatis akan menjadi milikku juga. Amelia ... kita mungkin sahabat, tapi aku tak pernah menyukai statusmu yang lebih tinggi dariku), kata Linda dalam hati sambil tersenyum licik.


__ADS_2