Menantu Terbaik

Menantu Terbaik
Kesempatan Kedua


__ADS_3

Mereka semua duduk menghadap meja bundar besar di tengah ruangan. Sesekali terdengar suara tawa dari mereka, terutama Sonya. Sedangkan Chandra lebih memilih sibuk dengan ponselnya. Alex yang masih tidak terima karena telah dipermalukan di hadapan Sonya, berniat untuk membuat Chandra merasa rendah diri secara tidak langsung. Akal liciknya langsung bekerja.


“Baiklah, aku pikir sudah saatnya kita makan malam. Silahkan pesan apa pun yang kalian inginkan, aku yang akan membayar. Jadi jangan sungkan,” ucap Alex dengan sombongnya.


“Pelayan kemarilah!” perintah Alex kepada salah seorang pramusaji.


“Selamat malam Tuan, ada yang bisa kubantu?” tanya pramusaji itu.


“Berikan kami semua hidangan terbaik Restoran ini, jangan sampai ada yang terlewat,” perintah Alex.


“Baik Tuan, tapi alangkah baiknya jika Tuan melihat daftar menu terlebih dahulu, agar tidak ada kesalahpahaman nantinya,” saran si pramusaji.


“Apa maksudmu? Apa kau bermaksud mengatakan jika aku tak mampu membayar semua pesananku nanti?” Alex terlihat sedikit emosi.


“Tidak Tuan, bukan begitu maksud saya. Saya hanya ....”


“Tidak perlu banyak alasan, cepat bawa pesananku. Dan jangan lupa, aku pesan Anggur yang terbaik di restoran ini. Keluarkan semua stok anggur yang kalian punya.” Alex langsung tersenyum dengan congkaknya.


( Kau tidak akan mampu berkelit kali ini Chandra! Aku akan mempermalukanmu hingga kau merasa tak sanggup lagi untuk menatap wajah orang lain. Kau tidak akan pernah bisa mengalahkan seorang Alex Purwanto) Batin Alex.


Tak lama, semua hidangan pun sampai ke meja mereka. Hidangan itu terlihat sangat enak dan juga mahal. Kali ini, Alex sedikit sukses membuat Chandra merasa rendah diri. Karena, jangankan untuk bisa makan makanan mewah seperti ini. Untuk sekedar bisa makan dengan layak pun dulu terasa begitu sulit baginya. Bahkan, bisa makan sehari tiga kali dalam sehari saja sudah merupakan anugerah besar dalam hidupnya.


Alex yang melihat wajah Chandra sedikit tertekan segera merasa di atas angin karena kali ini strateginya berhasil. Tapi ia tak berniat berhenti hanya sampai disitu. Ia ingin mempermalukan Chandra lebih jauh lagi. Selesai menghabiskan hidangan, Alex berkata sambil menatap Chandra. “Hai, kau Chandra. Sebagai tanda perkenalan kita, bagaimana jika aku mentraktirmu minum? Minumlah sebanyak yang kau mau, ini adalah anggur terbaik di restoran ini. Jadi bisa kupastikan rasanya sangat enak.”


“Baiklah, dengan senang hati aku menerima tawaranmu Alex,” Chandra mengangkat gelasnya yang telah berisi anggur.

__ADS_1


Gelas demi gelas berulang kali diisi oleh mereka. Bahkan tak terasa mereka telah menghabiskan sepuluh botol anggur. Alex yang berniat mempermalukan Chandra dengan membuatnya mabuk, justru sebaliknya. Ia yang mabuk, dan Chandra masih terlihat baik-baik saja.


Di saat pramusaji membuka botol kesebelas, tanpa diduga Alex mengeluarkan semua isi perutnya di hadapan semua orang. Bahkan muntahannya nyaris mengenai gaun Sonya yang duduk tak jauh dari tempat Alex. Mereka semua terdiam melihat Alex, bahkan mereka mulai merasa jijik.


Yunita yang melihat hal itu langsung tahu apa yang harus ia lakukan. Ia harus membantu Alex mempermalukan Chandra, karena ia yakin jika ia membantu Alex maka Alex juga akan membantunya untuk masuk ke pergaulan kelas atas seperti yang selama ini menjadi dambaannya.


“Chandra, kau harus membantu Alex! Kau adalah seorang perawat bukan? Jadi aku rasa sudah sepantasnya kau membantu orang yang sedang mabuk dan tidak sadarkan diri seperti Alex. Kau tidak bisa membiarkannya begitu saja, karena itu berarti kau melanggar kode etik dan sumpah jabatan yang kau lakukan dulu.” Yunita berusaha menyudutkan Chandra.


Ruangan yang semula hening kini mulai terdengar suara orang yang berbisik-bisik sibuk membicarakan Chandra dan statusnya yang ternyata hanyalah seorang perawat biasa.


“Oh ternyata suami Sonya hanya seorang perawat biasa? Bagaimana caranya ia bisa menikahi seorang keturunan Wijaya?”


“Mungkin saja ia menggunakan ilmu guna-guna untuk memperdaya Sonya dan keluarganya.”


“Cukup! Sudah cukup kalian mempermalukan suamiku! Terutama kau Yunita! Kau dan kalian semua tidak sepantasnya berkata seperti itu kepada suamiku. Kalian bahkan tidak tahu apa-apa tentang kami. Aku sungguh menyesal telah datang ke acara ini. Kalian benar-benar tidak memiliki etika yang baik. Sungguh memalukan!”


Kemudian, Sonya beranjak dari duduknya dan menarik tangan Chandra dengan lembut. “Ayo Chandra, sebaiknya kita pulang saja. Maaf aku telah mengajakmu ke acara tak berguna seperti ini, hingga membuang waktumu yang sangat berharga.”


Setelah sekian lama menikah, baru kali ini ia melihat bentuk perhatian dan rasa peduli dari sang istri untuknya. Ia merasa terharu, karena hal yang diharapkannya selama ini akhirnya terjadi.


Sonya tak hanya menunjukkan rasa peduli tapi ia juga membela kehormatannya di hadapan semua orang. Perasaan Chandra seketika menghangat, rasa cinta yang dulu ia pikir selamanya akan bertepuk sebelah tangan, kini mulai terbalaskan.


Lamunan Chandra menjadi buyar saat ia menyadari lengannya ditarik oleh Sonya. “Ayo Chandra, sebaiknya kita pergi dari sini. Aku minta maaf karena telah membuang waktumu yang berharga.”


Saat Chandra berniat untuk berdiri mengikuti ajakan Sonya, wanita yang bernama Yunita menahan mereka. “Sonya, maafkan aku. Sungguh, itu tadi hanya sebuah lelucon. Aku tidak bermaksud untuk menghina suamimu. Aku benar-benar minta maaf, jangan pulang dulu. Bagaimana jika kita naik ke lantai atas untuk bernyanyi di ruang karaoke? Jarang-jarang kan kita bisa berkumpul.”

__ADS_1


Sonya yang semula diliputi amarah mulai berpikir jika apa yang dikatakan oleh Yunita ada benarnya, tidak baik jika ia terlalu membesarkan masalah ini. Akhirnya Sonya menyetujui saran Yunita, ia memutuskan untuk ikut ke lantai atas untuk bernyanyi di tempat karaoke.


Alex melihat ini sebagai sebuah kesempatan emas, untuk menekan Chandra lagi. ( Kau mungkin bisa mengalahkanku dalam pertandingan minum tadi, tapi aku yakin kali ini kau tidak akan bisa mengalahkan aku. Kau hanya pria miskin dan tidak memiliki apapun )Alex menatap Chandra sambil tersenyum licik.


“Benar, ayo kita lanjutkan pertemuan ini dengan bernyanyi bersama di tempat karaoke. Kita jarang bisa berkumpul, sayang sekali jika tidak dimanfaatkan sebaik mungkin,” Alex membenarkan ucapan Yunita.


“Chandra, kau keberatan atau tidak jika kita pergi ke tempat karaoke?” kali ini Sonya memutuskan untuk meminta pendapat Chandra. Ia tak mau mengambil keputusan yang kelak akan menyulitkan Chandra.


“Jika kau menginginkannya, maka kita akan ikut pergi berkaraoke,” Chandra tersenyum hangat pada Sonya.


Alex yang melihat adegan itu langsung merasa terbakar api cemburu, dengan sedikit emosi ia memanggil pramusaji yang ada di dalam ruangan.


“Pelayan, kemarilah.”


Pelayan itu pun mendekati Alex, kemudian Alex mengeluarkan dompet dari saku celananya, lalu mengambil sebuah kartu kredit berlogo visa dan menyerahkannya, “Ini, aku yang bayar semua tagihannya.”


“Baik Tuan, mohon tunggu sebentar.” Kemudian pramusaji itu pergi menuju meja kasir.


Selang tak berapa lama, pramusaji itu kembali dengan wajah gelisah, “Maaf Tuan, sepertinya ada kesalahan di sini.”


Alex terdiam mendengar ucapan si pramusaji. Ia mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh pria di hadapannya, “Bagaimana mungkin ada kesalahan? Apa maksudmu?”


“Maaf Tuan, tapi limit kartu Anda tidak mencukupi total tagihan,” Pramusaji itu berkata dengan sangat hati-hati.


Tidak hanya Alex, tapi semua orang yang berada di dalam ruangan itu terdiam karena mendengar ucapan pramusaji itu. Mereka semua mulai berkasak-kusuk membicarakan Alex, sedangkan muka Alex terlihat memerah karena menahan malu dan emosi. Jika tadi ia merasa akan menang, kini yang terjadi justru sebaliknya, ia merasa kehilangan muka.

__ADS_1


__ADS_2