Menantu Terbaik

Menantu Terbaik
Let It Go


__ADS_3

Chandra menghembuskan nafasnya pelan, konsentrasi menyetirnya sedikit terganggu karena mengingat ekspresi wajah Sonya yang masih saja murung sejak tadi malam. 


Bukannya ia tidak tertarik untuk tidur di atas ranjang bersama Sonya namun, ia takut kehilangan kendali atas dirinya sendiri. 


Sonya jelas terluka karena penolakannya tadi malam. Chandra memilih untuk pura-pura tidak menyadarinya, karena di dalam kepalanya ia telah merencanakan sesuatu. 


Tiba di rumah sakit tempatnya bekerja, Chandra bergegas menuju ruang rawat milik Reza. Hari ini ia berencana untuk melepaskan semua jarum-jarum itu. 


"Selamat pagi Lisa, terima kasih banyak telah membantuku mengawasi Reza," Chandra memakai sarung tangannya karena ia akan mencabut semua jarum. 


"Sama-sama dokter, kondisi Reza dari tadi malam sangat stabil, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Lisa memberikan laporan. 


"Iya, dan aku harap itu akan berlangsung seterusnya. Aku ingin mengambil cuti selama beberapa hari ke depan, jika kau membutuhkan bantuanku, kau bisa langsung menghubungiku. Aku juga akan meminta tolong dokter Edy untuk mengawasi Reza." 


"Aku bisa mengawasi Reza dokter, aku sudah terbiasa dengan ini. Tapi jika menurutmu dokter Edy lebih mumpuni, baiklah tak masalah," nada bicara Lisa menyiratkan kekecewaan. 


"Tidak Lisa, ini bukan tentang mampu atau tidak mampu. Aku membutuhkanmu untuk pekerjaan yang lain, aku tidak mau kau diserang oleh banyak pihak karena hal ini. Kau tahu apa yang aku maksudkan?" 


"Ada apa sebenarnya dokter? Hasil rapat kemarin sepertinya terlalu simpang siur. Nyonya Sonya bahkan mendesakku untuk memberitahunya apa yang sesungguhnya terjadi." Lisa menatap Chandra dengan tatapan bingung. 


Chandra menyadari tatapan penuh selidik dari Lisa, tapi ia tak bisa memberitahu asistennya itu. Tidak sekarang. Meskipun posisinya saat ini berada di puncak, bukan berarti ia bisa melenggang dengan tenang. Ada banyak pihak yang masih tidak bisa menerima penunjukkan dirinya sebagai dokter utama. Ia sadar, posisinya saat ini justru sangat berbahaya. 


Setelah memeriksa detak jantung, tekanan darah dan juga saturasi oksigen pasien, Chandra mulai melepas jarum itu satu persatu dimulai dari titik yang paling aman.


Sesekali ia berhenti beberapa saat untuk melihat reaksi yang diberikan oleh Reza.


Selesai melepaskan jarum-jarum itu, Chandra membersihkan semuanya dan membuang semua peralatan tadi ke tempat sampah khusus yang berada tak jauh dari sana. Karena sangat berbahaya jika membuang jarum yang sudah terkontaminasi darah seorang ODHA secara sembarangan. 

__ADS_1


Ia masih memeriksa beberapa bagian organ vital milik Reza saat pasiennya itu tiba-tiba membuka matanya. Hal yang sangat dinantikan oleh Chandra, karena itu artinya kondisi pasien yang membaik. 


"Selamat pagi Reza, akhirnya setelah sekian lama kita bisa bertatap muka," Chandra menyapa pasiennya dengan senyuman hangat. 


Reaksi yang diberikan oleh pasien hanya berupa sebuah anggukan lemah. Lalu dengan perlahan pasien memperhatikan kondisi sekitar, sebelum akhirnya kembali memejamkan matanya dan tertidur. 


"Lisa, sepertinya rencanaku berubah. Aku ingin kau membantu dokter Edy mengawasi Reza selama aku tidak berada di rumah sakit. Berikan laporan secara berkala padaku dan juga dokter Edy. Karena sepertinya obat yang kita masukkan bekerja dengan sangat efektif terhadap tubuh Reza." Chandra terlihat senang. 


"Tentu saja dokter, semua itu juga berkat metode akupunktur yang dokter lakukan tadi malam. Aku akan memberikan laporan secara berkala pada dokter nanti, selesaikan saja urusan dokter. Biar Reza menjadi urusanku." Lisa terdengar sangat senang karena ia memiliki alasan untuk menghubungi atasannya itu. 


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Sonya, apa kau sudah tidur?" Chandra masuk ke kamar tidurnya dan mendapati lampu kamar tidurnya sudah padam. 


Setelah menunggu jawaban Sonya beberapa saat yang tak kunjung ia dapatkan, Chandra memilih untuk menyalakan lampu kamar dengan settingan redup. Saat itulah ia melihat Sonya tengah meringkuk di atas ranjangnya. 


Sonya, seorang wanita yang selalu ia kagumi dari jauh. Entah apa yang terjadi pada tubuhnya, ia hanya ingat sedang berusaha menolong seorang korban kecelakaan saat terjadi ledakan. Dan saat terbangun, ia justru terjebak di tubuh ini. Tanpa diduga, tubuh ini adalah milik seorang pria yang ternyata adalah suami dari Sonya Wijaya. 


Wanita yang selalu hadir dalam mimpinya, setelah ia puas menatap wajah Sonya dari kejauhan saat mereka tidak sengaja bertemu di beberapa kesempatan.


Dengan kemampuan yang dimilikinya, ia berhasil mengetahui masa lalu suami Sonya. 


Dengan lapang dada, ia menerima semuanya. Dengan tetap bersikap tenang layaknya seorang Chandra Juandi yang hanya seorang perawat namun, ia bertekad untuk merubah nasibnya. 


Chandra tak bisa menahan keinginanya untuk menyentuh wajah lembut itu, saat melihat anak rambut yang jatuh menutupi wajah Sonya. 


Ia menyelipkan anak rambut itu ke belakang telinga Sonya dengan selembut mungkin agar Sonya tak terbangun.

__ADS_1


Namun, sayangnya yang terjadi juatru sebaliknya. 


Sonya membuka matanya, dan menatap wajah Chandra. Tatapan wanita itu menunjukkan kerinduan yang termata sangat.


"Maaf, aku membangunkanmu." Chandra belum melepaskan tangannya yang masih berada di kepala Sonya. Ia justru membelai kepala Sonya dengan lembut. 


"Tak apa. Kamu baru pulang?" Sonya merasa sangat nyaman kepalanya dibelai dengan lembut. 


"Iya, maaf ... aku sudah berusaha untuk pulang lebih cepat tapi ternyata tetap terlalu larut untukmu." 


"Aku yang tidur lebih cepat. Kamu sudah makan belum?" Sonya semakin tenggelam dalam buaian Chandra. 


Chandra hampir saja menjawab saat tiba-tiba, ia teringat wajah murung Sonya tadi pagi karena penolakannya kemarin malam. Ia kemudian bangkit dari duduknya, dan berjalan mengambil seauatu dari dalam tasnya yang tadi ia letakkan di atas sofa panjang. 


Sonya merasa kehilangan buaian Chandra yang menyenangkan ia ikut bangun dan duduk di atas ranjang. Dahinya mengernyit bingung saat Chandra menyerahkan dua lembar amplop padanya. 


"Apa ini?" Sonya menatap Chandra, meminta sebuah jawaban. 


"Bukalah .... " Chandra kembali ke tempat duduknya semula. 


Dengan tidak sabar Sonya mengikuti perintah Chandra, ia membuka amplop yang tadi diberikan oleh Chandra dan mengeluarkan isinya. Mata Sonya berbinar bahagia saat mengetahui isinya. 


"Aku tidak sedang bermimpi kan?" Sonya menatap Chandra dengan kegembiraan yang tak bisa ditutupi. 


"Tidak, besok pagi kita berangkat. Aku sudah mengajukan cuti beberapa hari ke depan. Kita belum pernah pergi berlibur bukan? Besok, kita akan berpetualang. Lepaskan semua kegelisahan hatimu, kita bersenang-senang." Chandra menatap wajah Sonya yang penuh dengan binar bahagia. 


Sonya refleks memajukan tubuhnya ke depan, dan memeluk Chandra dengan hangat. Ia merasa sangat bahagia, karena akhirnya Chandra mau memberinya kesempatan untuk masuk ke dalam hidup pria itu lebih jauh. 

__ADS_1


Berbahagialah Sonya, kau berhak mendapatkannya. Maafkan aku karena membuatmu merasa tak diinginkan kemarin lalu. Aku berjanji, mulai besok aku akan melepaskan semua keraguanku. Aku akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Kata Chandra dalam hati. 


__ADS_2