Menantu Terbaik

Menantu Terbaik
Sebuah Bumerang


__ADS_3

Suara mesin mobil terdengar berhenti tepat di depan pintu kediaman keluarga Wijaya. Tak lama masuklah seorang lelaki paruh baya yang kemudian disambut oleh Amelia.


“Hai sayang, bagaimana perjalananmu tadi?” tanya Amelia kepada suaminya. Kemudian dengan sigap ia mengambil tas kerja dari tangan Prayoga Wijaya.


“Yah, seperti biasa. Macet di mana-mana. Membuatku pening,” dia mengulurkan tas kerjanya pada sang istri.


“Di meja makan sudah ada Linda dan putranya Andre, bagaimana kalau kita makan bersama? Kami sengaja menunggumu,” ajak Amelia.


“Baiklah, kebetulan sekali perutku juga sudah sangat lapar,” Prayoga pun berjalan menuju ruang makan.


Melihat kedatangan Prayoga, Linda dan Andre spontan berdiri dan menyalami pria itu. Mereka berdua terlihat sangat berusaha untuk mengambil hati Prayoga.


“Selamat malam, om,” sapa Andre.


“Halo, tuan Prayoga, apa kabar?” sapa Linda.


Prayoga hanya tersenyum menanggapi sapaan kedua orang itu dan kemudian duduk di kursinya. Pelayan kemudian mulai menghidangkan makanan dan minuman ke hadapan mereka.


“Andre, tumben kamu ikut sama mamamu main ke sini? Biasanya kamu cuma nganter terus pulang,” tanya Prayoga.


Merasa seperti mendapatkan angin segar, Andre pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu.


“Tadi saya sama mama baru dari galeri pelukis langganannya om sama tante Amelia. Kami memesan lukisan terbaru yang memang belum di-launching,” jawab Andre sambil tersenyum jumawa.


“Oh, ya? Keren dong? Habis kita selesai makan malam, om mau liat lukisannya,” kata Prayoga.


“Tentu om, pasti boleh! Tadi lukisannya saya letakkan di ruang tamu,” jawab Andre yang semakin kegirangan.


Selesai makan malam, mereka semua berjalan menuju ruang tamu untuk melihat lukisan yang tadi dijanjikan oleh Andre. Sebuah lukisan pemandangan gunung Eiger yang diselimuti oleh salju dengan kaki gunungnya yang terlihat hijau karena dikelilingi oleh padang rumput.

__ADS_1


Sungguh kontras.


Prayoga terlihat sangat tertarik pada lukisan itu. Saat pria itu sedang menatap lukisan dengan penuh kekaguman, Andre mengambil kesempatan untuk mendekati Prayoga lebih jauh lagi.


“Sepertinya om menyukai lukisan ini sama seperti saya,” kata Andre membuka percakapan.


“Oh iya, om suka lukisan ini. Terlihat begitu gagah gunung Eigernya dan begitu damai padang rumputnya,” jawab Prayoga tanpa mengalihkan pandangannya dari lukisan.


“Saya dan Sonya waktu masih duduk di bangku SMA dulu pernah bercita-cita bisa pergi liburan berdua ke gunung Eiger.”


“Loh, jadi kamu dulu temenan sama Sonya juga?” tanya Prayoga sedikit kaget.


“Iya om, saya dan Sonya sudah berteman sejak kecil. Karena mama dan tante Amelia sering pergi bareng, jadi saya sama Sonya juga sering ketemu,” jawab Andre dengan sumringah.


“Kok om malah baru tau, ya?”


Mendengar jawaban Andre yang begitu terang-terangan membuat Prayoga mulai bisa menilai ke mana arah tujuan pembicaraan ini akan berlanjut. Namun, ia tak mau gegabah dalam menyimpulkan. Ia pun memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan ini sampai Andre mengucapkan sendiri apa yang menjadi kecurigaannya.


“Kamu sekarang kerja di mana? Kok om nggak lihat kamu ya, waktu pesta pernikahan Sonya? Kan kamu temennya Sonya.”


“Oh iya om, saya waktu itu masih syok waktu dengar kabar Sonya menikah. Karena sebenarnya saya sudah lama memiliki perasaan sama Sonya,” jawab Andre sambil tersenyum canggung.


“Jadi kamu patah hati ceritanya?” goda Prayoga.


“Yah, bisa dibilang begitu om.” Andre menjawab sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


“Jadi lelaki itu harus bisa tegar, apapun yang dihadapi. Termasuk patah hati,” Prayoga menepuk bahu Andre dengan hangat.


“Um... saya dengar, belum lama ini suami Sonya meninggal, ya om? Saya turut berduka cita. Maaf saya tidak hadir di pemakaman karena memang saya juga baru tahu kabar ini. Kalau boleh, saya mau izin untuk mendekati Sonya lagi om. Saya janji akan menjaga dan membahagiakan Sonya seumur hidup saya. Om tidak perlu khawatir, saya dan Sonya sudah berteman sejak kecil. Jadi kami sudah tahu sifat masing-masing, dan bisa dibilang kami punya banyak kecocokan,” kali ini Andre langsung mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah itu.

__ADS_1


Amelia yang mendengar ucapan Andre sedikit kaget. Berita wafatnya Chandra seharusnya tidak tersebar luas. Sedangkan Linda terlihat tersenyum karena melihat putranya begitu lihai memanfaatkan kesempatan yang ada.


Prayoga tersenyum penuh arti.


Belum sempat Prayoga dan Amelia menjawab perkataan Andre, Sonya berjalan memasuki ruang tamu dan wajahnya terlihat memerah karena menahan marah.


Ia dengan lantang berkata, “Percaya diri sekali kamu!? Lagipula siapa yang bilang kalau aku sudah menyandang status janda!? Suamiku masih hidup dan bernafas! Bahkan ia dalam keadaan sehat bugar tanpa kekurangan satu apapun!”


Di belakang Sonya, Chandra terlihat berjalan ke dalam rumah.


Mendengar ucapan Sonya, dan melihat kenyataan yang ada dihadapan mereka membuat emosi Linda dan Andre menjadi tersulut. Karena rencana yang telah mereka susun dengan rapih kini menjadi berantakan.


“Wah... Wah... Ini dia si pria pecundang yang berani mempersunting seorang putri keluarga Wijaya.” Andre memulai peperangan. Namun ia tak puas sampai di situ, “Apa kau tahu? Kau sama sekali tak pantas untuk Sonya! Kau hanyalah si buruk rupa yang sedang beruntung!”


Sonya yang hafal dengan kelakuan teman masa kecilnya itu mulai tersulut emosinya. Ia tak terima suaminya dihina. Dia sempat melirik Chandra yang begitu tenang menghadapi perkataan Andre, sama seperti dulu. Sonya segera maju melangkah untuk membalas perkataan Andre, namun ia kalah cepat dengan ucapan Chandra.


“Wah, sepertinya kau membutuhkan cermin! Tidak ada seorang pria sejati yang mendapatkan wanita yang dicintainya dengan cara menggunakan ibunya. Kau bahkan berusaha menyogok ayah mertuaku dengan lukisan yang kau bawa itukan? Sungguh sangat hebat! Kau lah pecundang sebenarnya bung!” balas Chandra berapi-api.


Linda yang melihat putra kesayangannya dihina pun tak terima. Dia dengan gencar menyerang Chandra.


“Dengarkan aku lelaki miskin! Hei, bangunlah dari tidur panjangmu! Jangan kau pikir karena kau bisa menikah dengan salah satu putri keluarga Wijaya, lantas kau bisa berbuat semaumu. Setinggi-tingginya bangau terbang, pasti jatuhnya akan ke kubangan juga. Sama sepertimu. Kau berasal dari kubangan, maka kau pun akan kembali ke kubangan tempatmu berasal.”


Sonya yang mendengar perkataan Linda pun semakin geram, ingin rasanya ia mencabik-cabik wajah wanita paruh baya itu. Andai saja di sana tidak ada ayah dan ibunya, mungkin ia sudah berlari ke arah wanita itu dan menarik rambutnya hingga rontok.


Kali ini ia tidak akan diam saja, ia akan membalas perkataan wanita itu. Namun, lagi-lagi ia kalah cepat dengan Chandra.


“Baiklah, mungkin aku hanya seekor bangau yang akan kembali ke kubangan tempatku berasal. Tapi aku adalah seorang pria sejati. Tidak seperti anakmu yang mengalami penyakit memalukan bagi kaum pria.”


Chandra berkata sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2