Menantu Terbaik

Menantu Terbaik
Keahlian Candra Juandi


__ADS_3

“Suamiku, bagaimana keadaan putri kita?” tanya seorang wanita paruh baya kepada Rega.


“Tenanglah, Aluna sedang ditangani oleh Chandra di dalam,” jawab Rega sambil tersenyum menyapa Dokter Melvin yang datang bersamaan dengan istrinya.


“Apa dia dokter hebat seperti dokter Melvin?” istrinya bertanya untuk memastikan.


Rega sekilas menatap wajah dokter Melvin yang sedang menunggu perintah darinya untuk menyusul masuk ke dalam ruang tindakan.


Kemudian, ia berdeham dan berkata, “Tidak. Dia… bukan seorang dokter. Dia ... hanya seorang perawat. Tapi dia tau apa yang harus dilakukan.”


Dokter Melvin dan istrinya terkejut mendengar penuturan Rega. Bagaimana mungkin, seorang Rega Kusuma berani menyerahkan putrinya untuk dioperasi seorang perawat!? Ini di luar logika mereka berdua.


Dokter Melvin yang menyadari ketegangan di antara pasangan suami istri itu memilih untuk menjauh sejenak. Kemudian, ia berjalan mendekati dokter Edi.


“Dokter Edi, bisakah aku melihat hasil pemeriksaan nona Aluna? Karena sepertinya tadi tuan Rega berkata kondisinya sangat kritis, namun entah mengapa beliau justru mempercayakan nyawa anaknya pada seorang perawat,” tanya dokter Melvin.


“Kau bisa melihatnya di ruanganku, dokter. Silahkan ikuti aku,” kata dokter Edi sambil berjalan ke ruangannya.


Setelah mereka berdua masuk, dokter Edi mempersilakan dokter Melvin duduk dan menyerahkan salinan medis Aluna. Raut wajah dokter Melvin bergidik ngeri karena bahkan dengan kemampuannya yang tinggi pun, dia tak yakin mampu menyelamatkan nyawa Aluna.


"Ini," ucapnya tertahan di tenggorokan sebelum menggeleng pelan.


Dengan kondisi Hematothorax dan sudah tertunda untuk diambil tindakan, kesempatan Aluna untuk sembuh sangatlah kecil. Bahkan bisa dibilang hanya keajaiban yang dapat menyelamatkannya.


Sementara itu, emosi nyonya Kusuma meledak setelah mendengar anaknya sedang dirawat oleh seorang pria yang ternyata hanya seorang perawat.


“Kau benar-benar tidak masuk akal, Rega! Bagaimana mungkin kau mengambil tindakan gegabah hanya karena secara kebetulan Chandra mendiagnosa dengan benar sekali!?”

__ADS_1


“Dengarkan aku! Kondisi Aluna semakin memburuk setiap detiknya! Kau pikir dengan kondisi seperti ini, pilihan apa yang aku punya?” Rega membalas perkataan istrinya dengan gusar.


Nyonya Kusuma hendak membuka mulut untuk membalas perkataan Rega, tapi tiba-tiba pintu ruang ICU terbuka. Terlihat Chandra keluar dan berjalan mendekati sepasang suami istri itu dengan wajah tenang.


“Tuan Rega, kondisi putri anda saat ini sudah stabil. Kita tinggal menunggu tanda alat-alat vitalnya kembali bekerja dengan baik. Setelah itu bisa saya pastikan, masa-masa kritis putri anda sudah berakhir,” jelas Chandra sambil tersenyum kecil.


Mendengar hal itu, Rega dan istrinya terdiam, merasa lega. Lalu, nyonya Kusuma pun bertanya, “Apa aku bisa melihat putriku sekarang?”


“Tentu saja Nyonya, anda bisa melihatnya sekarang. Tapi saya harap anda tetap tenang saat bertemu dengannya.” Chandra mengangguk memberikan persetujuannya.


Wanita paruh baya itu bergegas menuju ruang ICU. Sebelum masuk, tak lupa dia memakai pakaian pelapis sebagai standar perawatan ruangan ICU.


Melihat putrinya berbaring tak berdaya membuat hatinya sebagai seorang ibu remuk redam. Wajah ceria Aluna yang sehari-hari bersamanya kini terlihat putih pucat. Pandangannya turun ke bawah, menelusuri bagian tubuh putrinya seakan ingin memastikan bahwa putrinya sudah baik-baik saja.


Saat pandangannya tiba di bagian tubuh, wajahnya membeku seketika.


(Bagaimana mungkin ada banyak jarum yang tertancap di sana? Ini jelas rumah sakit, bukan klinik pengobatan tradisional! Mengapa ada begitu banyak jarum di tubuh anakku?) batin nyonya Kusuma.


Terkejut dan bingung, nyonya Kusuma kembali emosi. Dia keluar dari ruangan dan melangkah cepat mendekati Chandra yang sedang menulis laporan hasil pemeriksaan.


“Chandra! Apa yang kau lakukan pada putriku? Kenapa ada begitu banyak jarum yang tertancap di tubuhnya?” cecar nyonya Kusuma.


Chandra menghentikan kegiatannya. Dia tahu kalau tidak ada yang percaya dengan kemampuan ‘Chandra’—sang pemilik asli tubuh. Dia bisa menerima itu. Tetapi dia merasa sakit hati juga karena metodenya dipertanyakan seperti itu. Dia pun berusaha untuk menjelaskan apa yang telah terjadi.


“Maaf sebelumnya nyonya, saya sama sekali tak berniat untuk menambah penderitaan nona Aluna. Saya justru membantunya untuk stabil lebih cepat dengan kondisinya yang sudah sangat memprihatinkan. Karena selain mengalami fraktur tulang rusuk dengan kasus Hematothorax, nona Aluna juga mengalami Efusi Pericardial¹. Itu diakibatkan karena adanya serpihan kaca yang masuk ke dalam pembuluh darah dan berpindah ke vena brachiocephalic².”


Chandra mencoba untuk menyelesaikan penjelasannya, namun nyonya Rega memotong.

__ADS_1


“Kau pikir aku percaya begitu saja pada ucapanmu!? Kau mungkin secara kebetulan telah menyelamatkan nyawa putriku, tapi bukan berarti kau bisa seenaknya mengambil tindakan yang mengerikan seperti itu! Cabut semua jarum itu sekarang juga, atau aku akan membuatmu menyesal seumur hidup!”


Chandra menghela nafas panjang. Rasanya, dia mulai paham perasaan ‘Chandra’ yang tidak pernah dipercaya oleh orang lain. Ya, bagaimana pun juga dirinya sekarang berada di dalam tubuh ‘Chandra’ yang lain.


Dokter Edi yang kebetulan berjarak tak jauh dan mendengarkan percakapan itu seakan mendapat angin segar untuk membalikkan harga dirinya. Tersenyum licik, dia menghampiri kedua orang itu.


“Kau menggunakan pengobatan jarum tradisional!? Apa yang telah kau lakukan, Chandra!? Kita ini tidak hidup di zaman Majapahit! Cepat kau pergi dari sini sebelum keadaan semakin memburuk karena ulahmu!” cemooh dokter Edi.


Chandra kembali menghela nafas panjang. Dia sadar kalau dia kalah telak. Kedua orang yang berada di depannya ini telah menutup telinga mereka rapat-rapat. Maka, dia pun menyerah untuk menjelaskan dan berkata, “Baiklah, aku akan pergi sesuai permintaan kalian. Tapi aku ingatkan: jangan mencabut satupun jarum-jarum itu jika kalian ingin kondisi nona Aluna tetap stabil. Jika sampai ada yang tercabut, kalian akan pasti akan menyesal!”


Chandra pun berjalan menjauh.


Dokter Edi tersenyum penuh kemenangan. Dia kemudian berbalik menatap nyonya Kusuma dan berkata, “Nyonya, jika anda mengizinkan saya akan membereskan masalah ini. Anda tidak perlu khawatir.”


“Baiklah, aku izinkan kau membereskan masalah ini, tapi aku harus ikut denganmu. Aku harus memastikan kondisi putriku baik-baik saja.” Nyonya Kusuma mengangguk.


“Baik Nyonya, anda bisa ikuti saya.” Dokter Edi menjawab dengan penuh keyakinan.


Di dalam ruangan, dokter Edi terdiam sesaat melihat ada begitu banyak jarum yang tertancap di tubuh Aluna. Dia pernah mendengar metode pengobatan tradisional yang berasal dari Cina tersebut, metode itu dikenal dengan nama Akupunktur. Metode itu terlihat sederhana, namun memiliki efek yang luar biasa.


Akupunktur adalah metode pengobatan menggunakan jarum kecil yang ditusukkan ke beberapa bagian tubuh di titik-titik tertentu yang merupakan pusat saraf. Metode ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang dan harus melalui pelatihan selama bertahun-tahun.


Sejenak, dokter Edi terlihat berpikir. Bagaimana mungkin seorang Chandra Juandi bisa menguasai metode pengobatan tradisional Cina yang terkenal rumit ini?


Tapi dia tidak ingin ambil pusing akan hal itu. Yang ada dalam benaknya sekarang hanyalah menyelamatkan nama baiknya dihadapan semua orang.


Dengan tenang dokter Edi mencabut jarum itu satu persatu. Tapi, saat dia baru mencabut beberapa jarum, tiba-tiba alat monitor EKG berbunyi, menandakan adanya perubahan pada detak jantung pasien.

__ADS_1


Detak jantung Aluna melemah.


__ADS_2