Menantu Terbaik

Menantu Terbaik
Lenny Juandi


__ADS_3

Suara denting lift terdengar. Sarah keluar dari dalamnya dan segera berjalan cepat. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari dokter Edi.


Dokter Edi berdiri di ujung lorong. Badannya terlihat sedikit membungkuk ke depan dan wajahnya sedikit menunduk. Dia terlihat khawatir dan takut akan dimarahi lagi oleh Sarah.


Akan tetapi, Sarah tidak memarahi dokter Edi. Wanita itu mendekatinya dengan cepat dan berkata dengan nada serius, “Ayo dokter, kita harus bergegas menuju ruangan nona Aluna sebelum tuan Rega meninggalkan tempat ini.”


“Baik Nyonya, silahkan ikuti saya,” jawab dokter Edi.


Dokter Edi, diikuti oleh Sarah di belakangnya, tampak berjalan dengan tergesa-gesa. Mereka tahu, arti kehadiran tuan Rega adalah untuk menemani Putrinya yang sedang menjalani perawatan. Tapi, bukankah hal itu bisa berarti sebagai ajang untuk menarik perhatian dari direktur Kusuma Group? Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Itulah yang ada dalam benak semua orang yang memiliki kepentingan di rumah sakit itu.


Di dalam ruangan, tuan Rega terlihat sedang sibuk memeriksa berkas laporan catatan medis milik Aluna. Dia terlihat tenang, namun siapa yang tahu, dalam hati pria itu sedang merasa remuk redam.


Tok tok tok


Tanpa persetujuan dari Rega, pintu ruangan dibuka dan terlihat Sarah tersenyum manis dari balik pintu.


“Selamat malam tuan Rega. Apakah saya mengganggu?” sapa Sarah sopan.


Rega menggeleng pelan sambil terus menatap catatan yang ada di tangannya. "Masuklah, aku sedang memeriksa catatan medis milik Aluna,” jawab tuan Rega.


“Saya turut berduka tuan atas apa yang menimpa nona Aluna. Saya berharap semoga nona segera pulih. Sungguh, ini terdengar tak adil bagi orang sebaik anda dan keluarga, tapi kita juga tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita,” kata Sarah dengan suara sendu.


“Terima kasih perhatiannya, nyonya Sarah. Itu sangat berarti bagi kami sekeluarga.” Rega tersenyum hangat.


“Bolehkah saya melihat kondisi nona Aluna?” tanya Sarah.


“Tentu, silahkan.”


Sarah berjalan menghampiri ranjang tempat Aluna berbaring. Tadi, dokter Edi sempat memberitahunya jika yang menolong Aluna adalah seorang perawat bernama Chandra Juandi.

__ADS_1


Dokter Edi juga menjelaskan kalau Chandra memadukan ilmu pengobatan medis dan ilmu pengobatan tradisional akupuntur.


Sarah terkejut saat melihat jarum-jarum yang tertancap hampir di sekujur tubuh Aluna. Dia memang bukan seorang ahli akupuntur, tapi dia tahu sedikit banyak bagaimana proses pengobatan akupuntur. Jarum yang ditancapkan oleh Chandra jelas bukan jarum biasa.


Jarum-jarum itu mengandung reiki. Reiki adalah sebuah teknik pengobatan di mana dokter, dalam kasus ini: Chandra, menyalurkan energi ke dalam tubuh pasien menggunakan sentuhan jarum untuk mengaktifkan proses penyembuhan natural tubuh pasien.


Tidak hanya fisik, tetapi reiki ini juga dipercaya memberi pengaruh positif pada alam bawah sadar pasien sehingga proses penyembuhan menjadi semakin cepat dan efektif.


Hanya segelintir orang ahli akupuntur yang mengetahui teknik ini. Sarah yakin, sudah pasti Chandra ini bukanlah orang sembarangan. Keahliannya sungguh luar biasa.


Setelah beberapa lama dia terpesona dengan jarum-jarum itu, dia pun pamit undur diri.


Begitu Sarah keluar ruangan, dia memanggil dokter Edi dan berbisik padanya, “Dokter, di mana si Chandra ini sekarang?”


“Dia baru saja pulang bersama dengan istrinya,” jawab Dokter Edi.


“Aku ingin kamu menghubunginya dan suruh dia menemuiku besok pagi di kantorku. Ada hal penting yang harus kubicarakan dengannya.”


Chandra menyetir mobil, di sebelahnya, sang istri, Sonya Wijaya duduk. Keduanya terdiam canggung, tidak mengatakan apapun selama mobil terus melaju.


Chandra tentu saja tidak tahu letak rumah Sonya. Akan tetapi, berkat ingatan milik ‘Chandra’ sang pemilik asli tubuhnya, dia mengetahui jalan mana yang harus dilalui untuk mencapai rumah.


Lampu lalu lintas berganti warna menjadi merah. Chandra menghentikan mobilnya. Tiba-tiba, pria itu merasa de javu. Dia merasa akrab dengan daerah di persimpangan tersebut.


Lurus adalah jalan menuju rumah Sonya, tetapi begitu lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, pria itu membelokkan mobilnya ke kanan.


Sonya tentu saja merasa aneh karena Chandra mengambil jalur yang tidak pernah mereka lalui bersama. Akan tetapi, setelah semua kejadian yang terjadi hari ini, dia memilih untuk tetap diam sambil mengamati perubahan yang terjadi pada suaminya tersebut.


Melewati jalan lurus di daerah pertokoan yang sudah cukup sepi karena malam semakin larut, Chandra merasakan hangat di dadanya. Ya, itu adalah jalan menuju rumah orang tuanya. Dia pun menepikan mobilnya dan mulai memperhatikan sebuah toko kue apem yang terletak di seberang jalan.

__ADS_1


“Kau… Ingin beli kue?” tanya Sonya tiba-tiba. Rasa penasarannya mengalahkan niatnya untuk tetap diam.


“Tidak, aku hanya...” Chandra terdiam sesaat. Dia tidak tahu harus menjelaskan apa terhadap Sonya. Pria itu melanjutkan diamnya sambil memperhatikan toko kue di seberang jalan.


Toko kue tersebut adalah milik kedua orang tuanya di mana ayahnya mencari uang untuk menyekolahkan Chandra hingga lulus perguruan tinggi.


Dia jadi teringat kalau selama beberapa tahun belakangan ini, sebelum tubuhnya berubah menjadi sekarang, dia sangat jarang menjenguk kedua orang tuanya. Dia juga merasa kalau dia kurang membalas budi kedua orang tuanya tersebut.


Lalu, seorang gadis muda dan cantik keluar dari dalam toko tersebut. Rambutnya yang panjang dan berwarna hitam legam di kuncir ekor kuda.


Gadis itu tak lain adalah Lenny Juandi, adik semata wayangnya. Lenny terlihat akan membersihkan bagian depan toko.


Chandra masih tetap diam memperhatikan adiknya. Lalu, dia menyadari ada sekumpulan pria berpakaian layaknya preman datang menghampiri adiknya. Mereka terdengar membentak Lenny.


“Hei, kau gadis ingusan! Sudah seminggu ini ayahmu tidak membayar uang keamanan. Kau pikir tenaga kami gratisan? Kalau keluarga kalian tidak mau membayar uang keamanan jangan salahkan kami jika suatu saat toko kalian ini dijadikan sarang penyamun!” kata seorang preman yang berambut gondrong.


“Ma-maaf Kak, t-tapi kami benar-benar belum punya uang. Uangnya hanya cukup buat beli obat untuk ayah yang sering sakit. Aku mohon maaf!” ucap Lenny dengan nada bergetar karena ketakutan.


“Kau pikir kami peduli!? Jika semua orang yang memiliki alasan sepertimu kami lepas begitu saja, bisa bangkrut kami!” preman berambut gondrong kembali menjawab.


“Tapi aku tidak bohong, kak. Setelah kakakku meninggal, ayah dan ibu jadi sering jatuh sakit. Toko kue kami jadi sering tutup dan penghasilan pun berkurang. Untuk sekedar makan dan biaya berobat pun kami harus meminjam dari sanak saudara,” kata Lenny hampir menangis.


Kemudian para preman itu saling melirik satu sama lain dengan penuh arti. Si gondrong terlihat tersenyum lebar, sementara si botak terlihat menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum licik, dan si gendut tertawa terbahak-bahak.


“Sepertinya, kau bukan gadis ingusan lagi,” kata si botak.


“Apa maksudmu?” tanya Lenny dengan bingung.


“Kau tidak punya uang untuk membayar keamanan, bagaimana jika kau membayarnya dengan tubuhmu sebagai gantinya?” kata si botak tersenyum mesum.

__ADS_1


Kedua temannya yang lain pun tertawa keras mendengar ucapan si botak.


Wajah Lenny berubah menjadi pucat pasi. Pikirannya berkecamuk, membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


__ADS_2