Menantu Terbaik

Menantu Terbaik
Dia yang tak bisa disentuh


__ADS_3

"Kamu pulang telat lagi malam ini," Sonya sudah berdiri menunggunya di samping jendela kamar tidur mereka. 


Chandra terkejut, karena ia baru saja melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar. Dengan wajah lelah namun tetap berusaha tersenyum hangat kepada Sonya, "Iya, maafkan aku Sonya. Malam ini aku harus menunggu reaksi obat ARV yang baru saja dimasukkan. Aku takut terjadi penolakan dan pasien bisa saja kondisinya turun drastis." 


"Aku dengar tadi kamu rapat sama tim dokter yang lain. Aku juga dengar, saran mereka kamu tolak. Apa benar?" Sonya menatapnya lekat, menuntut sebuah jawaban. 


"Aku tidak akan menolak jika mereka tidak menyulitkan pasien. Tapi yang terjadi justru sebaliknya." 


"Apa maksudmu? Semua dokter yang ada di rumah sakit adalah yang terbaik dalam bidangnya. Mereka tidak mungkin mempersulit pasien, Chandra." Sonya menatap wajah Chandra dengan bingung, ia semakin tak mengerti dengan jalan pikiran suaminya itu. 


Lebih tepatnya, mereka berniat mempersulitku Sonya. Bahkan sekarang mereka berhasil membuatmu kembali meragukanku. Batin Chandra. 


"Chandra, aku sedang bertanya padamu." Sonya memicingkan matanya, terlihat tidak sabar karena Chandra tak kunjung menjawab pertanyaannya. 


"Kami kehabisan waktu Sonya, aku tidak mungkin mencoba semua ARV itu satu persatu untuk melihat reaksi tubuh pasien. Sedangkan meningitis-nya menuntut untuk segera diobati." Maafkan aku Sonya, aku harus menutupi semuanya darimu. Biarkan ini jadi urusanku. Kata Chandra dalam hati. 


Tidak. Bukan itu tadi yang aku dengar. Jelas ada sesuatu yang kalian tutupi dariku. Entah itu mereka, atau justru itu kau sendiri suamiku. Kumohon, beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Batin Sonya. 


"Baiklah, aku percaya padamu. Jika ada sesuatu atau seseorang yang mempersulitmu di rumah sakit, katakan padaku. Aku siap menjadi sekutumu Chandra." Sonya akhirnya memilih untuk mundur sementara waktu.


"Terima kasih Sonya, karena kamu masih mau percaya sama aku." Meskipun ia tak yakin, tapi setidaknya ia tahu, kali ini Sonya bersedia untuk mengalah. 


"Mandilah, aku sudah menyiapkan makan malam untukmu. Aku tunggu di ruang makan." 


"Makan?" Chandra bertanya dengan bingung.


"Iya makan. Apa ada yang salah? Aku menyiapkan makan malam untuk suamiku sendiri, hal yang wajar 'kan?" Sonya berjalan menuju pintu kamar, tapi tepat sebelum ia memegang handle pintu, ia berhenti setelah mendengar ucapan Chandra. 


"Aku … tadi sudah makan malam di rumah sakit. Maaf …. " jawab Chandra pelan. 

__ADS_1


"Akan kusuruh pelayan untuk merapikan meja," Sonya kemudian keluar pintu dengan hati mencelos. Entah kenapa usahanya untuk mendekati Chandra selalu berbuah kegagalan. 


Sebegitu dalamkah luka yang aku berikan untukmu dulu Chandra? Jika memang iya, maafkan aku. Kalau perlu, aku akan memohon padamu. Akan kuperbaiki semuanya, hingga kau jatuh cinta padaku. Batin Sonya. 


Chandra menghembuskan nafas dengan lelah, malam ini ia memilih untuk mandi berendam air hangat. Kepala dan tubuhnya terasa lelah. Sambil menikmati harum aromatherapy yang biasa dipasang oleh Sonya, pikirannya kembali melayang ke beberapa jam yang lalu. 


***


"Lisa, siapkan ARV yang aku minta tadi, siapkan juga ruangan khusus untuk pasien. Tidak, pindahkan saja dia ke ruang rawat VIP, bilang ke bagian administrasi, aku membutuhkan ruangan khusus agar pasien lebih rileks."


Chandra memberikan instruksi pada perawat asistennya. 


"Baik dokter, ada lagi yang harus aku lakukan?" Lisa memastikan semuanya bisa berjalan sesuai dengan lancar. Meskipun sebagian besar orang masih meragukan kemampuan Chandra, tapi tidak dengannya. Ia mendampingi Chandra saat pria itu melakukan tindakan operasi Aluna Kusuma. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, seberapa hebat kemampuan atasannya itu. 


Setelah semuanya siap, Chandra berjalan menuju ruang rawat Reza yang baru dengan membawa sebuah tas berisikan beberapa perlengkapan. Di dalam ruangan, Lisa telah menunggu kedatangannya sambil merapikan beberapa kabel yang tersambung ke monitor pemantau detak jantung. 


"Semuanya sudah siap?" Tanya Chandra untuk memastikan semuanya. 


Chandra kemudian memasukkan obat ARV yang berbentuk cair ke dalam infusion pump dan mengaturnya dengan kecepatan sedang. Selesai dengan obat ARV, Chandra kemudian membuka tas yang tadi dibawanya. Chandra mengeluarkan sebuah kotak yang ternyata berisi jarum-jarum akupunktur yang terlihat masih baru. 


Chandra memakai sarung tangan steril dan merendam semua jarum tadi ke dalam cairan alkohol, guna mensterilkan nya sebelum dipakai. 


"Apa dokter yakin? Jarum itu pasti nantinya akan terkontaminasi darah pasien. Itu sangat beresiko untukmu," Lisa jelas terkejut melihat apa yang akan dilakukan oleh Chandra. 


"Kita tidak punya banyak waktu Lisa, jika cairan ARV ini terhambat sedikit saja, aku harus segera melakukan alternatif lain. Tenanglah, aku tau resikonya. Semuanya sudah aku antisipasi, sekecil apapun resikonya." Chandra sudah memperkirakan, pertanyaan itu akan keluar dari mulut asistennya. 


"Baiklah, aku harap semuanya berjalan lancar, karena jika tidak Nyonya Sonya pasti akan patah hati melihatmu menjadi seorang pasien." Lisa berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. 


Chandra hanya tersenyum mendengar ucapan Lisa. Chandra bahkan merasa tak yakin, Sonya akan merasa patah hati jika dirinya menjadi seorang pasien ODHA. 

__ADS_1


Selesai dengan urusan sterilisasi, Chandra mulai menatap layar monitor dengan intens. Ia harus memastikan semuanya berjalan baik-baik saja sesuai rencana atau sebaliknya. Tepat lima belas menit setelah cairan ARV dimasukkan, detak jantung pasien dan tekanan darahnya menurun drastis.


 


"Lisa, bantu aku melepaskan baju pasien. Aku akan melakukan bagianku," Chandra lalu mengambil kotak jarum yang telah disterilkan. 


Satu-persatu Chandra mulai menusukkan jarum-jarum akupunktur di titik tertentu di tubuh Reza. Ada beberapa titik yang mendapatkan dua tusukan jarum sekaligus. 


Hampir limabelas menit berlalu, hingga akhirnya Chandra menyelesaikan pekerjaannya. Dengan penuh kekhawatiran, Chandra terus menatap layar pemantau detak jantung yang belum juga menunjukkan perubahan. Satu … dua … tiga menit kemudian layar monitor mulai menunjukkan perubahan, detak jantung dan tekanan darah pasien kembali normal. 


"Selamat dokter, anda berhasil." Lisa menatapnya dengan senyum merekah. 


"Semua berkat kerjasamamu Lisa. Terima kasih banyak," Chandra balas tersenyum dan melanjutkan ucapannya, "Tolong jangan biarkan siapapun masuk, kecuali keluarga pasien. Aku tidak ingin kejadian yang menimpa Nona Aluna dulu terulang. Biarkan jarum-jarum ini di tempatnya, sampai aku sendiri yang akan melepaskannya."


"Baik dokter, akan aku beritahu perawat yang lain." 


Tok tok tok


Chandra tersadar dari lamunannya, dan merasakan air dalam bak mandi sudah mulai dingin. Itu artinya ia sudah cukup lama berendam. 


"Chandra? Kamu baik-baik saja di dalam?" Suara Sonya terdengar sedikit khawatir. 


"Iya, aku baik-baik saja. Tunggu sebentar, aku sebentar lagi keluar," Chandra kemudian berdiri dan mengosongkan bathub.


"Kamu tidur di dalam kamar mandi?" Sonya terlihat sudah berbaring di atas ranjang. Saat Chandra keluar dari kamar mandi dengan piyama.


"Tertidur …. " Chandra tersenyum malu, karena merasa tertangkap basah. 


"Chandra … tidurlah di sini, di sampingku. Jangan tidur di bawah lagi. Tubuhmu tidak akan kuat menahan dingin dan kerasnya lantai selamanya. Kamu bisa sakit nanti." Sonya menepuk-nepuk bantal di sebalahnya dengan tatapan menggoda. 

__ADS_1


Ingin rasanya Chandra langsung melompat ke atas kasur dan memeluk hangat tubuh istrinya yang cantik jelita itu. Tapi jelas ia tidak memiliki keberanian. Meskipun sikap Sonya dan juga Ibu mertuanya sudah berubah drastis, tapi ia tidak pernah berharap lebih. Ia akan melakukannya nanti, saat waktunya sudah tepat. 


__ADS_2