Menantu Terbaik

Menantu Terbaik
Kepercayaan Diri Chandra Juandi


__ADS_3

Dokter Edi berdiri, terdiam di depan kaca ruang ICU tempat Aluna sedang dirawat. Dia memikirkan langkah apa yang harus dia ambil selanjutnya. Sementara itu, perawat yang lain, termasuk Chandra, terdiam berdiri di belakangnya. Mereka tampak cemas menunggu keputusan dari dokter Edi.


Belum sempat dokter Edi mengambil keputusan, tiba-tiba suara seorang laki-laki terdengar keras memanggil namanya.


Dokter Edi menoleh dan mendapati Rega Kusuma, direktur Rumah Sakit sekaligus ayah Aluna, dengan raut emosional berjalan mendekat.


Dokter Edi merendahkan badannya, tersenyum canggung menyapa Rega. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, dia pun menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada Rega.


Dia menjelaskan dengan perlahan, penuh kehati-hatian supaya tidak memicu kemarahan sang direktur.


Direktur tetap marah besar.


“Kau pikir nyawa anakku sebuah lelucon!? Rumah Sakit ini dilengkapi dengan fasilitas medis yang lebih mutakhir daripada rumah sakit lainnya! Sekarang kau bilang nyawa anakku tidak bisa diselamatkan!? Bagaimana bisa seorang dokter senior sepertimu bisa begitu bodoh seperti ini?”


Semua orang hanya mampu terdiam mendengar ucapan seorang Rega Kusuma yang terkenal tegas dan tanpa pandang bulu. Mereka tahu, kali ini keajaiban yang terkadang datang menghampiri pasien, kemungkinan besar tidak akan berlaku untuk Aluna Kusuma.


Hening. Suasana menjadi tegang.


“Putri anda masih bisa diselamatkan pak Rega,” sela Chandra memecahkan keheningan, lalu dengan penuh percaya diri dia melanjutkan, “Izinkan saya melakukan tindakan operasinya.”


Semua orang terdiam, melotot mendengarkan ucapan seorang Chandra Juandi. Bagaimana tidak? Chandra yang mereka kenal hanyalah seorang perawat biasa tanpa sebuah pencapaian atau prestasi gemilang. Lalu, baru saja, dia mengatakan kalau dia akan memimpin operasi Aluna Kusuma?


Tentu saja tidak ada satupun orang yang mau mendengarkan ucapannya—termasuk Rega.


Rega berjalan mondar-mandir. Terlihat jelas kalau dia panik mengetahui kondisi putrinya yang semakin kritis setiap detiknya.


Tak lama, wajahnya terlihat cerah penuh dengan harapan. Dengan tergesa-gesa dia mengambil ponselnya di saku celana dan menghubungi seseorang.


“Halo, dokter Melvin? Ini aku, Rega Kusuma,” ucapnya.

__ADS_1


“Aku membutuhkan bantuanmu, dokter,” lanjut Rega, “Putriku mengalami kecelakaan. Fraktur tulang rusuk¹ dan mengakibatkan hematothorax². Keadaannya semakin memburuk seiring berjalannya waktu. Semua ahli medis di rumah sakitku sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi usaha kami belum membuahkan hasil.”


"Aku sedang berada jauh dari lokasi rumah sakitmu sekarang, dan sialnya ban mobilku pecah. Akan memakan waktu lama bagiku untuk sampai di sana dengan kondisi seperti ini," jawab dokter Melvin Sanjaya.


“Kirim lokasimu saat ini padaku. Aku akan menyuruh seseorang untuk menjemputmu.”


“Baik akan kukirim lokasiku. Tapi apa kau yakin untuk menungguku terlebih dahulu? Aku mungkin butuh waktu satu jam lebih untuk sampai ke rumah sakitmu. Mendengar kondisi putrimu yang parah, aku khawatir tidak akan sempat.”


“T-Tidak apa-apa! Pasti masih sempat!” seru Rega.


“Baiklah kalau begitu. Kuharap dokter-dokter di sana bisa mempertahankan kondisi nona Aluna sampai aku tiba.”


“Terima kasih, dokter.”


Rega kemudian terdiam sejenak. Wajahnya penuh keringat membayangkan yang terburuk. Bagaimana jika dokter Melvin terlambat datang? Pilihan apa yang dia punya untuk menyelamatkan putrinya?


Rega melirik sejenak ke arah Chandra. Sempat terbesit pikiran dalam benak Rega untuk menyuruh Chandra melakukan operasi.


Waktu semakin menipis bagi Aluna.


***


Wajah dokter Edi terlihat memerah hingga daun telinganya. Dia berjalan menghampiri Chandra dengan kedua tangan yang terkepal erat.


“Chandra, apa kau sudah gila hah!? Kau berkata seolah kau ini seorang dokter ahli bedah hebat! Ingat, kau itu tidak lebih dari seorang perawat dan pecundang! Melakukan tugas sepele saja tidak bisa, sekarang malah ingin mengoperasi nona Alina!? Dasar sinting!”


Belum sempat Chandra membalas perkataan dokter Edi, seorang wanita menyela. “Kau selalu meremehkan orang lain, dokter Edi. Apa itu salah satu keahlianmu sekarang?”


“Diam kau, Sonya! Tahu apa kau tentang ilmu kedokteranku!?” balas dokter Edi.

__ADS_1


Chandra hanya terdiam mendengarkan dua orang yang baru saja dia kenal hari ini. Dia melirik ke arah wanita tersebut. Tanda pengenal yang berada di dadanya bertuliskan Sonya Wijaya.


“Yah, yang kutahu hanya dua: meremehkan orang lain dan menyuruh orang diam,” Sonya menyeringai, “Dengarkan aku dokter Edi, dan tuan Rega yang terhormat. Suamiku mungkin hanya perawat biasa di mata kalian.”


Suami? Chandra sama sekali tidak menyangka kalau Sonya adalah suami dari ‘Chandra’—tubuh yang dia gunakan saat ini.


Tak diketahui oleh Chandra, Sonya sebenarnya berkata seperti itu karena dia merasa sekarang adalah kesempatan emas supaya suaminya mendapatkan kepercayaan dan posisi yang dipandang di rumah sakit.


“Dengarkan aku dokter Edi dan tuan Rega yang terhormat,” lanjut Sonya, “Suamiku mungkin hanya seorang perawat biasa di mata kalian. Tapi, aku mengenalnya dengan sangat baik. Dia tidak suka menebar janji apalagi membuat omong kosong. Jika dia berkata mampu, ia pasti mampu. Aku yakin itu.”


Sonya sebenarnya sama seperti yang lain: dia memandang rendah suaminya itu. Akan tetapi, auranya yang terasa berubah semenjak terakhir kali dia memarahinya. Belum lagi, diagnosanya terhadap Aluna yang ternyata 100% benar membuat Sonya percaya suaminya bisa melakukan operasi itu. Toh, jika suaminya gagal yang disalahkan juga suaminya.


“Apa kau bercanda dokter Sonya? Suamimu tidak lebih dari seorang perawat! Jelas itu sangat menyalahi aturan dan tidak akan pernah diizinkan,” sangkal dokter Edi.


Chandra berniat untuk menghentikan perdebatan keduanya. Akan tetapi, tiba-tiba seorang pria yang merupakan pengawal pribadi Aluna berjalan menghampiri Rega.


“Maaf tuan, saya tidak bermaksud lancang, hanya saja saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kemampuan pria yang bernama Chandra Juandi itu,” si pengawal bicara di dekat telinga Rega.


“Apa maksudmu?” Rega mengernyitkan dahinya.


“Begini Tuan, saat tadi nona Aluna baru saja tiba di Unit Gawat Darurat, pria itu ikut memeriksa keadaan nona Aluna. Hanya dengan melihat keadaan nona dari luar, dia bisa tahu jika kondisi nona Aluna kritis. Dia langsung menyarankan untuk melakukan tindakan operasi. Saya rasa, jika saja saat itu semua orang mengesampingkan ego mereka dan lebih mendengarkan perkataan pria itu, nona sekarang pasti dalam keadaan baik-baik saja,” jawab si pengawal panjang lebar.


Mendengar ucapan si pengawal membuat Rega berpikir ulang. Sebagian besar orang pengawal Aluna hanyalah seorang pengawal biasa, namun pada kenyataannya pria itu adalah salah satu mantan anggota kepolisian yang hebat. Dia tidak mungkin berbicara sembarangan dan tanpa disertai bukti yang kuat.


Ucapan pengawal itu terdengar begitu logis di telinga dan kepalanya. Dia tak bisa lagi mengedepankan egonya dengan menunggu kedatangan dokter lainnya sementara anaknya sedang meregang nyawa di dalam sana.


Kemudian dengan mantap Rega berkata,


“Baiklah! Kau, Chandra Juandi, jika kau memang yakin bisa menyelamatkan anakku, maka aku akan memberimu kesempatan. Tapi ingat baik-baik: jika kondisi putriku semakin memburuk, maka nyawamu-lah yang akan melayang malam ini!”

__ADS_1


Dengan mantap Chandra menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan. Dia pun berjalan menuju ruang ICU tempat Aluna berbaring.


__ADS_2