
"Thanks baby," wanita malam itu tersenyum usai melakukan perkerjaannya dan menerima imbalan dari seorang pria yang memakai jasanya.
Yosha tersenyum tipis setelah hasratnya terlamampiaskan.
Yosha Yashuhiro, pria muda blasteran Jepang dengan seribu pesonanya. Terlahir dari keluarga kaya raya karena orang tuanya mempunyai banyak bisnis di jepang, membuat orang tuanya sering menghabiskan waktu di negri sakura tersebut. Yosha tumbuh menjadi pria yang menyukai kesenangan dengan uang di genggamannya tanpa pengawasan orang tua dari remaja hingga saat ini dia duduk di bangku kuliah.
"Bisakah kita bertemu sekarang?" tertulis pesan di ponselnya malam itu.
"Aku sibuk," balasnya ketus.
"Ini penting, aku mohon."
Yosha menghela nafas."Baiklah, tunggu aku di taman kota."
Yosha bergegas memakai pakaiannya dan melajukan mobilnya ke taman kota malam itu. Terlihat wanita cantik yang sedang duduk sendirian di bangku taman dengan wajah sendunya.
"Ada apa menyuruhku ke sini?" ucapnya saat sudah berdiri di hadapan wanita yang bernama Yuna.
Gadis itu pun beranjak dari duduknya dan menatap wajah pria tampan tersebut dengan mata yang berkaca kaca.
"Aku hamil," ucapnya lirih.
"Apa? hamil?" bak tersambar petir mendengar ucapan gadis yang sempat menjadi kekasihnya itu.
"Iya,"
Yosha tersenyum kecut."Apa kamu fikir aku percaya jika itu anak ku? bahkan kita sudah lama putus,"
"Tapi aku hanya berhubungan badan dengan mu," ucap yakin gadis itu.
"Ya sudah, gugurkan saja kandunganmu," ucapnya enteng.
"Apa? kamu tega melakukan itu?" gadis itu tak dapat lagi menahan air matanya mendengar perkataan menyakitkan dari pria yang sempat di cintainya.
"Tidak ada pilihan lain, aku masih muda dan juga masih kuliah, aku belum siap untuk menikah."
"Tapi kenapa kamu bisa melakukan hubungan badan dengan ku jika kamu tidak siap untuk menikah?" gadis polos itu melontarkan perkataan yang membuat Yosha sedikit tertawa mendengarnya.
"Aku melakukan itu karena aku menyukai mu dan kamu menyukai ku tapi tidak untuk menikah," tegasnya.
Gadis cantik itu tersenyum lirih."Aku mengerti, kenapa banyak wanita membenci mu, baiklah aku tidak akan meminta mu untuk bertanggung jawab." ucapnya dengan tatapan penuh kekecewaan.
Yosha memberikan senyum menyebalkannya." Baguslah, memang harusnya seperti itu." merasa lega dengan jawaban gadis tersebut.
Yuna pun bergegas pergi meninggal taman kota dengan seribu kekecewaan di hatinya. Tak lama ponsel Yosha berdering dan dia segera mengangkatnya.
"Halo yos, loe di mana?" terdengar suara Lukas teman kuliahnya di balik telepon.
__ADS_1
"Kenapa emang?"
"Gue sama Damar lagi di rumah loe nih,"
"Oh, ok gue pulang sekarang."
Yosha dengan cepat melajukan mobilnya menuju arah rumahnya lalu bergegas masuk ke dalam dan melihat dua temannya itu sedang duduk santai di sofa ruang keluarga.
"Lama loe, habis dari mana sih?" gerutu Lukas.
"Biasa," Yosha mengambil botol wine yang seolah menjadi kebutuhan pokok di rumahnya.
"Biasa apanya?"
"Ada cewek ngaku hamil anak gue," sahutnya santai.
"Serius?" tanya Lukas dan Damar bersamaan.
Yosha mengangguk seraya menuang wine ke gelas dan menengguknya.
"Terus gimana? loe mau tanggung jawab?" tanya Lukas penasaran
Yosha tertawa mendengarnya."Enggak lah, udah sering cewek kaya gitu, paling modus aja biar bisa numpang hidup sama gue," jawab sombong.
"Bener juga loe," Lukas dan Damar mengangguk setuju dengan pernyataan Yosha.
Bi Rina menggelengkan kepalanya melihat sosok pria yang sedari kecil di rawatnya, asisten rumah tangga yang setia mendampingi Yosha sampai saat ini.
"Bagun den, sudah pagi waktunya ke kampus," menepuk pelan tubuh Yosha tapi pria itu tetap memejamkan matanya.
Bi Rina memapah perlahan tubuh Yosha ke kamar, tubuh yang sekarang sudah sangat berat membuatnya sedikit sempoyongan memapahnya. Setelah merebahkan tubuhnya di sofa bi Rina keluar kamar dan melakukan perkerjaannya seperti biasa. Sampai suara ponsel Yosha berdering membuatnya terpaksa membuka mata dan mengangkat teleponnya.
"Yos, loe enggak masuk kelas?" terdengar suara Lukas dari balik telepon.
"Masih juga jam 5 pagi," ucapnya yang kembali mencoba memejamkan matanya.
"Jam 5 pala loe? udah jam 9 nih," gerutu Lukas.
Yosha melebarkan matanya dan melihat jam dinding yang memang sudah menunjukkan pukul 9 pagi, dengan cepat Yosha menutup teleponnya bergegas untuk mandi. Dengan tergesa gesa Yosha
mengenakan pakaiannya bergegas keluar rumah dan melajukan mobilnya ke arah kampus.
"Datang juga loe," ucap Damar yang melihat Yosha baru memasuki area kampus.
"Loe pada ngapain di sini?" melihat Lukas dan Damar yang berdiri mematung.
"Nunggu loe lah," sahut Lukas dan berjalan beringin dengan dua temannya itu.
__ADS_1
"Loe udah kencan sama Meta belum?" bisik Damar pada Yosha.
"Udahlah, udah ngerasain," tersenyum licik sambil berjalan seraya melirik para gadis yang memandang paras tampannya.
"Loe emang juara," Damar mengajungkan jempol pada temannya itu yang seolah tak terkalahkan dalam hal meniduri wanita.
Yosha tersenyum simpul sampai dia merasa tubuhnya terdorong dari arah belakang.
"Maaf, maaf." seru seorang gadis yang tanpa sengaja menyenggol Yosha dan menumpahkan ice Coffee yang di pegangnya.
"Astaga, mata loe di pasang enggak sih?" geramnya yang melihat sweater brandednya terkena tumpahan Coffee tersebut.
"Maaf, aku benar-benar enggak sengaja." sesal gadis itu yang hendak membersihkan kotoran di sweater Yosha tapi dengan cepat Yosha menepisnya.
"Kalau di pegang sama loe yang ada sweater gue makin kotor," ucapnya tajam pada gadis cantik di hadapannya namun berpakaian lusuh dan tampak tidak modis sama sekali.
Yosha bergegas kembali berjalan menuju kelasnya .
"Kasar banget loe sama si Nania tadi, dia cantik gitu." ujar Lukas yang mendengar perkataan Yosha dengan gadis itu barusan.
"Namanya Nania?" sahut Damar antusias.
"Iya, cantik ya." Lukas mengangkat sebelah alisnya.
"Dia pasti gadis miskin," cletuk Yosha yang langsung menilai gadis itu dari penampilannya.
"Iya sih, katanya dia dapat beasiswa kuliah di sini," balas Lukas.
"Udah gue kira." tergurat senyum merendahkan di bibirnya.
***
Beberapa bulan kemudian.
Malam itu Yosha pulang ke rumahnya. Sudah sangat larut membuat suasana sekitar sangat hening. Yosha memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya, mematikan mesin mobilnya, namun Yosha mendengar samar suara tangisan bayi malam itu.
"Kaya suara bayi nangis?" keluar dari mobil dan berjalan mencari asal suara tersebut.
Sampai matanya terbelalak kaget melihat keranjang yang berisi bayi mungil di depan pintu rumahnya
"Bayi siapa nih?" ucapnya panik sambil memutar pandangannya tapi Yosha tak melihat siapa pun sampai matanya tertuju pada sebuah surat di dalam keranjang tersebut. Yosha pun segera membacanya.
Halo Yosha ku yang tampan, lihatlah bayi itu dia tampan bukan? jelas dia tampan karena dia adalah darah daging mu. Aku tidak bisa merawatnya, jadi aku serahkan dia pada mu. Rawatlah dengan baik dan jangan mencari ku, karena kamu tidak akan menemukan ku.
Aku mantan mu.
"Astaga.. surat macam apa ini???!!!" geramnya dengan perasaan panik bercampur bingung.
__ADS_1