Mendadak Jadi Dady

Mendadak Jadi Dady
Aku ingin memeriksanya


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian.


Kini Yosha sudah menyelesaikan kuliahnya begitu pun dengan Nania. Pernikahan mereka berjalan harmonis hampir tak ada masalah yang berarti dalam rumah tangga mereka. Yosha berkerja di perusahaan besar dan lebih memilih tidak mengikuti orang tuanya yang tetap menjalankan bisnisnya dan menetap di jepang. Hanya satu yang belum melengkapi rumah tangga mereka, anak. Sampai saat ini Nania tak kunjung hamil, meskipun mereka telah menjalankan program hamil beberapa tahun terakhir ini.


Yosha membuaka matanya, melihat Nania yang sudah tidak ada di sampingnya.“Dia sudah bangun?” gumamnya.


Tak lama terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Nania keluar dengan wajah sendunya.“Kamu sudah bangun?” sapa Yosha, Nania hanya terdiam murung duduk di samping suaminya.“Ada apa?” tanya Yosha membelai lembut sulur rambut Nania.


“Ini,” Nania memberikan sesuatu pada Yosha.


Yosha melihat tespek yang di pegangnya, yang lagi lagi bergaris satu. Yosha menatap wajah Nania yang smakin terlihat sedih.


“Sabar, aku yakin kamu bisa hamil.” Yosha mengelus bahu Nania.


“Ini sudah lama sekali, pasti ada seseatu yang tidak beres padaku.” ucap Nania yang mulai merasa pesimis.


“Jangan berkata yang tidak tidak.” Yosha berusaha menenangkan.

__ADS_1


“Tapi aku sungguh ingin memliki bayi.” mata Nania yang berkaca kaca perlahan menjadi cairan bening yang membasahi pipinya. Nania tak sanggup lagi menahan kesedihanya.


Yosha segera menyeka air mata sang istri.“Apa kamu mau kita mengadpopsi bayi?” usul Yosha.


Nania dengan cepat menggeleng.“Aku takut bayi itu meninggalkan ku.” teringat pada baby Ryu yang akahirnya di ambil kembaali oleh orang tua kandungnya.


“Lalu apa kamu mau memeriksanya ke dokter?” usul Yosha kembali.


Lagi lagi Nania menggeleng. Nania takut hasil pemeriksaan akan mengecewakannya dan semakin membuatnya down. Yosha segera menarik tubuh Nania ke dalam peluknya.“Tenanglah, aku yakin semua akan baik baik saja.” ucap lembut Yosha. Nania hanya megaangguk pelan.


***


“Ibu aku ingin ini!” pekik suara anak kecil yang terdengar begitu nyaring. Nania menoleh ke arah suara tersebut. Tampak seorang ibu dengan dua anak di sisinya dan satu bayi di gendonganya. Ibu itu terlihat sangat kerepotan meledeni dua anaknya yang meminta ini dan itu serta bayi di gendonganya yang juga menangis.


“Adik mau apa?” Nania menghaampiri anak yang berusia 3 tahun, yang terus saja bertriak mrepotkan ibunya.


“Mau itu,” menunjuk snack di etaalase yang cukup tinggi. Nania segera mengembilkan beberapa snack tersebut.

__ADS_1


“Ini,” Nania memberikanya. anak itu tersenyum senang dan langsung membuka snacknya.


“Kaka, snacknya di bayar dulu.” omel sang ibu.


“Aku mau makan sekarang.” balas sang anak tak mau kalah.


“Yasudah, tante antar ke kasir ya kita bayar dulu.” bujuk Nania.


“Maaf tante merepotkan, ini uangnya.” ucap ibu itu sungkan seraya memberikan selembar uang pada Nania.


“Biar saya yang membayarnya.” Nania tersenyum dan segera mengantar anak itu ke kasir.“Sudah ya, jangan menyusahkan ibu lagi.” pesan Nania yang kembali mengatarya pada ibunya.


”Terima kasih ya tente, maaf sudah merepotkan.” balas ibu muda itu.


Nania tersenyum ramah, memperhatikan wajah ibu muda itu yang masih terlihat sangat muda, bankan lebih muda darinya tapi sudah memilki banyak anak. Nania tertengun hatinya merasa iri sekaligus sedih. Andai saja dirinya bisa memiliki anak meskipun hanya satu.


Nania kembali ke rumahnya, merenung di sudut ranjang. Tanganya meremas dress yang di kenekanya. Sampai terdengar pintu kamar yang terbuka.“Sayang.” sapa Yosha yang baru saja pulang kerja.

__ADS_1


”Sayang, aku ingin memeriksakan rahimku ke dokter kandungan.” ucap Nania tiba tiba.


“Apa?” Yoshaa tampak terkejut dengan ucapan sang istri.


__ADS_2