Mendadak Jadi Dady

Mendadak Jadi Dady
Baby Ryu sakit


__ADS_3

Pagi itu jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi, terdengar samar suara tangis bayi di telinga Nania. Gadis itu membuka matanya tampak baby Ryu yang menangis kencang.


"Sayang, kamu sudah bangun?" bergegas menggendong baby Ryu.


"Kenapa tubuhnya panas sekali?" memegang beberapa bagian tubuh bayi itu yang suhu tubuhnya terasa panas.


"Sayang, kamu sakit?!" bertanya dengan nada panik yang hanya di respon tangisan dari baby Ryu.


Nania bergegas keluar kamar dan mempercepat langkahnya.


"Yosha, bangun!!" serunya sambil mengetuk pintu berulang kali.


Yosha yang mendengar suara panik Nania langsung beranjak dari ranjangnya dan membuka pintu.


"Ada apa?"


"Baby Ryu sakit," ucapnya panik.


"Apa? sakit?!" tak kalah panik dan langsung memegang bagian tubuh bayi itu yang memang terasa panas.


"Kita bawa ke rumah sakit sekarang." Nania memgangguk dan Yosha bergegas mengambil jaket dan kunci mobilnya.


Pagi itu hujan turun sangat deras. Yosha melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena mendengar isak tangis bayi mungilnya yang tak kunjung berhenti. Namun di tengah tengah perjalanan mobilnya tiba-tiba berhenti.


"Kenapa berhenti?" tanya Nania.


"Enggak tau," Yosha tampak bingung dan berulang kali mencoba menghidupkan mesin mobilnya, namun tetap saja tidak menyala.


"Aku cek dulu," keluar dari mobilnya dan mengecek mesin mobilnya.


"Sepertinya mobil ku mogok." ucapnya kembali saat masuk ke dalam mobil dengan tubuh yang sedikit basah.


"Lalu bagaimana?!" tanya Nania yang semakin panik mendengar tangisan bayi di gendongannya.


Yosha terdiam dan mencoba berfikir.


"Jarak ke rumah sakit sedikit lagi, kita jalan saja,"


"Jalan? tapi ini sedang hujan besar??!"


"Aku akan memayungi kalian dengan jaket ku." melepaskan jaket tebal yang melekat di tubuhnya.


Nania tampak ragu.


"Ayo cepat kasihan Ryu." seru Yosha yang sudah keluar dari mobil.


Nania pun keluar dengan cepat Yosha memayungi Nania dan bayinya dengan jaket tersebut.


"Kenapa tidak memayungi mu juga?" teriak Nania yang suaranya hampir tak terdengar dengan suara derasnya hujan.


"Kalau di pakai untuk memayungi ki, kalian akan tetep basah terkena cipratan, sudah ayo jalan." titahnya, mereka pun dengan langkah cepat bergegas berjalan ke rumah sakit.


Tak lama mereka sampai di rumah sakit dan baby Ryu segera di tangani petugas medis di sana.

__ADS_1


"Bagaimana, keadaannya?" tanya Yosha panik.


"Bayi anda hanya demam, tidak usah khawatir dari hasil pemeriksaan semuanya normal, saya akan memberikan obat penurunan demam untuknya," ucap dokter wanita dengan wajah ramahnya.


"Oh, syukurlah," Yosha tersenyum lega.


"Di mana ibunya?" tanya dokter itu kemudian.


"Ibunya?"


"Iya, anda ke sini bersama istri anda kan? bisa saya bicara dengannya?"


Yosha terdiam dan tampak bingung, tapi dia teringat Nania yang menunggu di luar ruangan.


"Bisa saya bicara dengan istri anda?" ucap dokter itu kembali.


"Oh, iya.. tunggu aku akan memanggilnya," beranjak dari kursinya lalu ke luar ruangan tersebut.


"Nania, bisa kamu ke dalam sebentar?" menghampiri Nania yang duduk di ruang tunggu.


"Ke dalam?!"


"Iya, sebentar saja."


Nania pun akhirnya masuk ke dalam dan duduk di hadapan dokter wanita tersebut.


"Apa anda ibu dari bayi ini?" tanya dokter itu saat Nania sudah duduk di hadapannya.


"Oh, i.. iya saya ibu bayi ini," ucap gugup Nania.


"Apa ibu memberikan bayi ibu asi?"


"Asi??" lagi lagi Nania tampak bingung harus menjawab apa.


"Iya asi, ibu memberikannya?"


Nania menggeleng pelan.


Dokter itu menghela nafas." Sayang sekali ya, padahal asi sangat bagus untuk imun tubuhnya, baiklah saya akan memberikannya resep obat." ucapnya sambil tersenyum ramah.


Nania pun menghela nafas lega, setelah menjawab pertanyaan pertanyaan yang membuat jantungnya sempat berdegup kencang. Tak lama mereka pun keluar dari ruangan tersebut.


"Aku carikan taksi dulu," Yosha segera keluar rumah sakit untuk mencarikan taksi, tak lama dia kembali dan masuk ke dalam taksi bersama Nania dan bayi mungilnya.


"Kamu tidak apa-apa?" melirik Yosha yang duduk di sampingnya.


"Kenapa memangnya?"


"Tubuh mu basah semua?" memperhatikan tubuh Yosha yang masih basah karena berjalan di tengah hujan tadi.


"Tidak apa apa, tidak usah terlalu memperhatikan ku, nanti kamu bisa jatuh cinta dengan ku," godanya dengan senyum manisnya.


"Menyebalkan," ucap Nania yang langsung memalingkan wajahnya dari Yosha.

__ADS_1


Tak lama mereka sampai di rumah, Nania bergegas memberikan baby Ryu obat.


"Sepertinya, keadaannya sudah membaik," Yosha masuk ke kamar Nania dan melihat baby Ryu yang sudah terlelap.


"Iya, sudah membaik." balas Nania.


"Tentang ucapan dokter tadi apa kamu tidak bisa memberikannya asi?" melirik Nania yang berdiri di sampingnya.


"Asi? aku belum mempunyai anak bahkan menikah, bagaimana aku bisa mengeluarkan asi,"


"Sungguh tidak bisa?" tanya Yosha tidak percaya seraya melirik ke tempat asi berasal.


"Dasar mesum!! jaga mata mu!!" melemparkan bantal ke wajah Yosha dan bergegas ke luar kamar dengan wajah merona bercampur kesal.


"Lucu sekali ekspresi wajahnya," Yosha tertawa kecil atas respon Nania.


***


Pagi berikutnya Nania sudah bersiap dengan blouse yang akan di kenakakannya ke kampus.


"Yosha, bangun." serunya mengetuk pintu kamar Yosha berulang kali dengan baby Ryu di gendongannya.


"Yosha, aku ada kelas pagi ini," kembali mengetuk pintu tapi tetap tidak ada jawaban.


Nania mencoba membuka pintu kamar yang ternyata tidak terkunci. Di lihatnya Yosha yang masih menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Yosha bangun, aku hampir terlambat ke kampus," seru Nania kembali.


Yosha perlahan membuka selimut yang menutupi tubuhnya." Bisa tidak kamu tidak usah ke kampus dulu hari ini, aku sakit."


"Sakit?!" mencoba memegang kening Yosha yang memang terasa panas.


"Panas sekali, ini pasti kerena kehujanan kemarin, tunggu sebentar aku akan mengkompres mu," meletakkan baby Ryu di samping Yosha dan bergegas mengambil air dan es batu untuk mengkompres.


"Di mana kotak obatnya?" tanya Nania saat kembali ke kamar tersebut.


"Tidak ada," Yosha menggeleng.


"Tidak ada?!"


"Aku tidak suka obat."


Nania tertawa." Sudah sebesar inj tidak suka obat? lalu kalau sakit apa mau langsung di suntik mati saja?"


"Aku rasa itu lebih baik,"


"Dasar aneh," Nania menggelengkan kepalanya dan segera mengkompres kening Yosha dengan sapu tangan.


Sesaat pandangan mereka saling bertemu, tidak ada percakapan apa pun. Nania pun sedikit memalingkan wajahnya.


"Yosha!! sejak kapan papa mengijikan mu membawa wanita ke dalam kamar?!!" teriak suara pria yang mengelegar, membuat Yosha dan Nania terlonjak kaget mendengarnya.


Hayo... apa Yosha dan Nania akan menikah?!!!! like, komen dan vote sebanyak banyaknya yak.. semakin banyak dukungan semakin cepat aku up nya.. ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2