
Nania membeku, lidahnya terasa keluh dengan cairan bening di pelupuk matanya.“Aku harus pergi.” ucap Nania dengan suara yang bergetar dan hendak berjalan ke luar rumah.
“Kamu tidak boleh pergi!” tegas Yosha menahan lenganya.
“Lepaskan aku, aku benar benar harus pergi.”
“Apa Rachel yang menyuruhmu seperti ini?” sentak Yosha.
Nania terdiam, menahan air matanya.“Jika Rachel tak menyuruhku , aku akan tetap pergi.”
“Tidak kau tidak boleh pergi, kau harus tetap di sini!” paksa Yosha, ia tak tau lagi bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Nania, satu yang pasti Yosha sangat berharap Nania untuk tetap bersamanya.
“Untuk apa aku di sini?” Nania mencoba menatap nanar mata pria di hadapanya itu.
“Baby Ryu tidak membutuhkamu.”
Nania menggeleng.“Baby Ryu sudah tak membutuhkanku, sudah ada yang menjaaganya, sudah ada ibu kandungnya.”
“Baby Ryu hanya membutuhkanmu!”
“Maafkan aku, aku tidak bisa berasamanya lagi.” Nania melepaskan tangan Yosha. Berjalan cepat, menaiki taksi yang melintas di depan rumahnya.
“Nania jangan pergi dengarkan aku Nania!!” seru Yosha mengetuk kaca mobil berulang kali. Namun Nania tak menghiraukanya dan taksi itu berlalu pergi.
“Nania!!” seru Yosha mengusap gusar wajahnya.
Yosha segera masuk ke mobilnya , melajukanya pada suatu tempat. Samapai mobil itu berhanti di tempat kost Nania. Terliahat sepi, Yosha berulang kali mengetuk pintu tapi tak ada jawaban Nania tak ada di sana. Yosha menunggunya sampai menjlang pagi, tapi Nania tak kunjung datang.
“Nania, ke mana kamu.” lirih Yosha.
***
pagi hari Yosha pun kembali ke rumah.“Yosha.” panggil Rachel yang sudah berada di teras rumahnya. Yosha menatapnya penuh amarah, rasanya sungguh kesal pada wanita itu
“Untuk apa kamu ke sini?” tanya Yosha mencoba meredam emosinya.
“Tentu saja untuk melihat bayiku, boleh aku membawanya?” ujar Rachel enteng.
“Tidak, kau tidak boleh membawanya!!” cegah Yosha yang sudah merasa kehilangan Nania dan tidak ingin kehilangan baby Ryu.
“Kalau begitu, menikahlah denganku.” lagi lagi Rachel mengucapkan kalimat yang membuat Yosha geram mendengarnya.
“jangan bermimpi!” ketus Yosha yang langsung berjalan meninggalkan Rachel mengambil baby Ryu dari gendongan aisiten rumah tangganya. Yosha masuk ke kamarnaya, meletakan baby Ryu di kasur, menatap baby yang tak berdosa itu.“Maafkan aku, seharusnya kamu tidak ada dalam situsi ini.” lirih Yosha mengecup lembut kening baby Ryu. Perasaanya terus berkecamuk memikirkan hal yang terburuk dalam hidupnya, Nania pergi dan Rachel berhsil merebut baby Ryu darinya.
***
Selama beberapa hari Yosha mencoba mencari keberadaan Nania, tapi nihil. Yosha tak menemuknya, Nania tak lagi masuk kampus dan tak terlihat di pandanganya.“Nania, di mana kamu.” gumam Yosha yang terus mneyetir.
“Apa dia kembali ke kampungnya?” fikir Yosha yang tiba tiba terinagat pada kampung gadis itu.“Pasti dia di kampung.” Yosha pun segera melajukan mobilnya menuju kampung Nania. Setelah menempuh perjalan cukup lama Yosha sampai di kampung tersebut. Yosha segera keluar dari mobilnya dan mengetuk pintu.
“Kamu?” ucap wanita paruh baya yang tak lain adalah bibi Nania.
“Saya suami Nania.” Yosha segera mencium punggung tangan wanita itu.
__ADS_1
“Ada apa ke sini? Nania bilang kamu sedang ada perkerjaan di luar kota?” wajah bibi itu terlihat heran.
“Nania berkata begitu?” membuat Yosha yakin jika Nania benar ada di sini.
“Iya, Nania berkata seperti itu.”
“Nania ada di sini?”
“Iya, sejak kemarin dia ada di sini.” Yosha tersenyum lega mendengarnya.
“Bisa aku bertemu denganya?”
“Dia sedang ada di kebun tunggu, bibi panggilkan dulu.”
“Terima kasih.” Yosha tersenyum dan menunggu di teras.
Bibi pun segera berjalan ke kebun.“Nania, ada yang ingin bertemu denganmu.” ucap bibi menghampiri Nania.
Nania mengrutkan keningnya.“Bertemu? siapa?”
“Sudah, temui saja dulu.” bibi menuntun Nania meninggalkan kebun. Sampai langkah kaki Nania terhenti melihat Yosha yang beranjak dari duduknya.“Suamimu mancarimu.” bisik bibi seraya tersenyum dan meninggalkan mereka berdua.
“Nania, aku ingin bicara denganmu.” ujar Yosha yang sudah berdiri di hadapan Nania.
“Kita bicara di sana saja.” Nania menunjuk tempat duduk di dekat rumahnya.“Ada apa kesini?” tanyanya dengan nada dingin.
“Tentu saja untuk menjemputmu.”
“Nania, dengarkan dulu.”
“Apa kau memintaku kembali untuk baby Ryu?”
“Tidak, aku menmintamu kembali, karena aku mencintaimu.”
Jantung Nania berdegup mendengar ucapan Yosha, tak tau harus mearasa senang atau sedih.“Aku mencintaimu, Nania.” Yosha mengulangi ucpanya. Menatap lembut nanar mata Nania.
“Aku tidak mencintaimu.”
Yosha tersenyum kecut mendengar ucpan gadis itu, Yosha yakin, bukan itulah isi hati Nania.“Aku akan menunggumu sampai kamu mencintaiku.”
“Aku tidak akan pernah mncintaimu, pernikahan kita pun terjadi karena terpaksa dan aku tidak pernah mencintamu, jangan pernah lagi menemuiku.” uajr Nania yang berlalu pergi masuk ke dalam rumahnya.
Yosha membeku. Rasanya begitu pilu, ini kali pertama dirinya mendapat penolakan padahal dirinya sudah sangat mencintai Nania.
Hari itu Nania sama sekali tak keluar dari kamrnya mesikpun Yosha bermlam di sana.“Yosha, bangunlah.” Nania membangunkan Yosha yang sedang tertidur di sofa, menepuk pelan tubuhnya.
“Ada apa?” Yosha perlahan membuka matanya.
“Aku ingin bicara.” Yosha tersenyum tipis, berharap Nania sudah berubah fikiran dan mau memulai semua dari awal denganya. Nania pun mengajaknya bicara di teras.
“Ceraikan aku.” ujar Nania tanpa basa basi. Bak tersambar petir, Nania justru menegaskan dan semakin yakin dengan keputusannya.
“Aku tidak akan menceraikanmu.” tolak Yosha.
__ADS_1
“Apa kau ingin menyiksaku? aku tidak bahagia dengan pernikahan ini!” lirih Nania dengan air mata yang perlahan lolos dari mata indahnya
“Aku tau ini semua karena Rachel.” Yosha menyeka air mata itu dengan jarinya namun dengan cepat Nania menepisnya.
”Ini bukan karena siapa siapa, aku benar benar ingin brcerai, aku ingin kamu pergi dari hidupku!” seru Nania, membuat Yosha perasaan Yosha begitu sakit dan tercabik mandengarnya.
Yosha terdiam sejenak,“baiklah, jika itu mau mu. Aku akan mengurus surat perceraian kita.” balas Yosha dengan wajah kecewa dan berlalu pergi ke dalam mobilnya meninggalkan tempat itu.
“Maafkan aku.” lirh Nania menghapus air matanya yang tehapus.
***
Yosha kembali ke rumahnya. Dadanya masih terasa sesak atas penolakan penolakan Nania. Yosha sama sekali tidak menginginkan perpishan itu namun Nania begitu keras, dan bersikuku ingn berpisah denganya. Yosha keluar kamar dan melihat Rachel yang lagi lagi sudah berada di rumahnya.
“Yosha, kamu mau ke mana?” Rachel mengejar langkah kaki Yosha yang hendak meninggalkan rumah.
“Mengurus surat perpisahan ku dengan Nania.”
“Apa?” Rachel tampak terkejut mendengarnya.
“Kenapa? kau senang mendengarnya?” Yosha menatap geram wanita itu.
“Memang begitu kan seharusnya.” Rachel tersenyum puas.“Setelah ini kita akan menjadi orang tua sesungguhnya baby Ryu.” ujar Rachel senang.
“Tidak, aku memang akan berpisah dengan Nania, tapi aku tidak akan menikah denganmu.” tegas Yosha.
“Apa maksudmu?” mata Rachel mendelik kaget mendengarnya. Yosha tak menghiraukanya dan beregegas masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Rachel yang berdecak kesal.
Beberapa hari kemudian.
[ Nania, aku sudah mengurus surat percarain kita, datanglah ke sini untuk tanda tangan.] tulis Yosha dalam pesanya.
Perasaan Nania sangat sesak dan sedih melihat pesan tersebut. Tap tak ada pilihan lain untuknya. Yosha harus kembali pada Rachel agar baby Ryu bersama orang tua kandungnya yang lengkap.
[ Baiklah, aku akan ke sana besok.] balas Nania.
Keesokan harinya Nania kembali ke Jakarta menunju rumah Yosha, sepanjang perjalanan air matanya tak berhenti mengalir, ia benar-benar tak tau tepat atau tidak keputusan yang diambilnya yang difikirkanya saat ini hanyalah baby Ryu, bayi mungil itu berhak hidup dengan ibu kandungnya, bukan dirinya.“Nania.” ujar Yosha yang membuka pintu, melihat kedatangan Nania.
“Aku datang memenuhi janjiku.” balas Nania dengan nada dingin.
“Masuklah.” Yosha mempersilahkannya masuk dan duduk.
“Mana surat percerainya?” tanya Nania yang ingin cepat cepat menyelesaikan semuanya.
“Tunggu.” Yosha beranjak dari duduknya dan mengambil surat tersebut.“Ini,” Yosha memberikan surat tersebut pada Nania.
Nania tertengun, membaca isinya, tidak percaya jika pernikahan pertamanya harus berakhir seseingkat ini.“kamu sudah membritahu orang tuamu?” tanya Nania.
“Orang tuaku tidak akan menerimanya jika tau.”
Nania menghela nafas pelan, mengambil pulpen dan hendak menantangani surat trsebut. Ia yakin ini keputusan terbaik untuknya, Yosha dan juga baby Ryu.
Makasih ya yang masih setia baca novel ini..🤗🤗🤗
__ADS_1