Mendadak Jadi Dady

Mendadak Jadi Dady
Melamar


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan cukup lama akhirnya sore itu mereka sampai di rumah Nania. Yosha memberhentikan mobilnya di depan rumah sederhana dalam desa terpencil.


"Ini rumah mu?" menatap rumah yang telah usang termakan waktu.


Nania mengangguk."Iya, maaf rumah ku tidak sebesar rumah mu,"


"Itu rumah orang tua ku, bukan rumah ku," mengambil baby Ryu dari gendongan Nania dan keluar dari mobil.


"Assalamualaikum, bibi," Nania mengetuk pintu dan mengucap salam berlubang kali.


"Walaikumsalam, Nania?" ucap seorang wanita paruh baya saat melihat wajah Nania di balik pintu.


"Bibi, Nania kangen." memeluk haru sang bibi.


"Bibi juga kangen, kamu kok pulang enggak kabarin dulu." tanyanya seraya melirik pria yang berdiri di samping Nania." Ini, siapa?" menunjuk ke arah Yosha.


"Ini teman ku,"


"Oh, silakan masuk," mempersilahkan Yosha masuk dan duduk di dalam.


"Nania, ini bayi siapa?" kembali melirik ke arah baby Ryu yang sedang begumam.


Nania terdiam dan tampak bingung harus menjawab apa.


"Ini bayi ku, aku sudah pernah menikah dan memiliki anak bi," sahut Yosha kemudian yang sontak saja membuat Nania terkejut dengan kebohongannya.


"Ini bayi mu nak? jadi kamu duda? tanyanya tak percaya.


"Iya aku duda," Yosha tersenyum meyakinkan.


"Ya ampun, masih muda dan tampan kenapa menjadi duda, apa istri mu menghianati mu? atau dia sudah meninggal?" tanya sang bibi yang tak dapat menahan rasa penasarannya.


"Istri ku menghianati ku," Yosha kembali berbohong.


"Ya ampun, wanita mana yang tega menghianati pria tampan seperti mu nak? tapi kamu hebat kamu bisa bertanggung jawab atas bayi mu," wanita paruh baya itu pun cukup merasa iba dengan cerita Yosha.


Sampai terdengar suara pria." Assalamualaikum,"


"Walaikumsalam, paman!!" seru Nania.


"Nania, sejak kapan kamu di sini?"

__ADS_1


"Baru saja," mencium punggung tangan pria paruh baya tersebut.


"Ini teman mu?" melirik Yosha yang langsung memberi salam dan sang istri pun menceritakan tentang Yosha, dan sontak saja membuat suaminya pun ikut iba mendengarnya.


"Ya sudah, kalian pasti capek, kita makan dulu," ajak paman.


"Iya, kita makan dulu, sini bayinya biar bibi yang gendong." mengambil baby Ryu dari gendongan Yosha.


Mereka pun menuju meja makan dan makan bersama malam itu.


"Emm.. maksud kedatangan saya ke sini ada yang ingin saya sampaikan," ucap Yosha di tengah tengah makan malam mereka.


"Menyampaikan apa?" tanya paman.


Yosha menarik nafas." Saya, bermaksud melamar Nania," sahutnya yang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan hal tersebut.


"Melamar?" tanya sang bibi yang tampak terkejut.


"Iya, saya ingin menjadikan Nania istri," ucap Yosha, sesaat suasana menjadi hening. Jantung Yosha berdegup tak karuan menunggu jawaban. Dia gugup, ini pertama kalinya dia mengatakan hal tersebut pada keluarga seorang gadis.


"Kami setuju," jawab paman dan bibi serempak dengan senyum di bibirnya.


Yosha tersenyum lega mendengarnya."Terima kasih,"


Uhuk.. uhuk.


Yosha tersendak makanan saat mendengarnya membuat wajahnya pun mememrah.


"Yosha, kamu tidak apa apa? minumlah," Nania bergegas mengambil segelas air untuk Yosha.


"Aduh, kalian ini serasi sekali.." seru kembali sang bibi yang membuat Yosha dan Nania semakin canggung di buatnya.


"Apa bibi mau ikut kami ke jakarta setelah ini?" ucap Yosha kemudian.


"Iya, mau." jawab paman dan bibi serentak.


Selesai makan Yosha menghampiri Nania yang sedang menggendong baby Ryu di teras.


"Dia sudah tidur?" melirik baby Ryu yang sudah terlelap.


"Sudah,"

__ADS_1


"Biar dia tidur dengan ku,"


"Dia tidur dengan ku saja," tolak Nania.


"Kamu tidrlah dengan bibi mu, aku akan memindahkannya ke kamar." mengambil baby Ryu dari gendongan Nania dan membawanya ke kamar.


Tengah malam Yosha merasa sulit memejamkan matanya. Yosha keluar rumah dan memilih duduk di halaman rumah, menikmati suasana hening di desa tersebut.


"Kamu belum tidur?" ucap Nania yang menghampiri Yosha.


"Belum, kenapa kamu tidak tidur?" menoleh ke arah Nania yang sudah berdiri di sampingnya.


"Aku belum mengantuk." duduk di sebelah Yosha."Apa rumah usang ini membuat mu tidak nyaman tidur?" tanyanya kemudian.


Yosha tersenyum kecil."Aku biasa tidur di mana saja,"


Mereka pun terdiam untuk beberapa saat.


"Keluarga mu sangat hangat." ucap Yosha kemudian.


"Keluarga mu juga hangat," balas Nania tersenyum.


"Keluarga ku tidak seperti itu, kami bahkan jarang berbicara di meja makan," lirih Yosha.


"Kenapa seperti itu?"


"Karena seperti ada jarak di antara kami, mereka pulang untuk beberapa minggu dan kembali pergi untuk beberapa bulan, aku bahkan kadang sudah tak merasa rindu untuk bertemu mereka."


"Mereka melakukan itu untuk masa depan mu, bukan? kamu bisa hidup dengan layak dan tumbuh menjadi pria tampan, bukan kah itu menyenangkan?"


Yosha tersenyum kecut."Aku bukan pria baik."


"Aku tau, bahkan satu kampus pun tau tentang itu." balas Nania, Yosha melirik gadis yang tersenyum di sampingnya itu.


"Kalau tau, kenapa masih mau dekat dengan ku?"


"Kamu yang memaksa ku bukan untuk dekat dengan mu, bahkan memaksa ku untuk menjadikan istri sementara mu,"


Yosha terdiam.


"Benar, aku memaksa mu, aku merasa kamu sangat menyayangi baby Ryu."

__ADS_1


"Aku memang menyayanginya," Nania tersenyum, padangan mereka saling bertemu, sejenak Yosha menatap gadis di sampingnya itu. Nania mengalihkan pandangannya.


"Sudah malam, aku mau tidur." ucapnya gugup yang langsung berajak dari duduknya dan masuk ke dalam meninggalkan Yosha.


__ADS_2