Mendadak Jadi Dady

Mendadak Jadi Dady
Kedatangan Rachel


__ADS_3

[ Yosha aku ingin bertemu denganmu. Rachel.]


Mata Yosha mendelik kaget melihat pesan tersebut. Rachel mantan kekasihnya yang telah lama tak lagi di jumpainya.


[ Tidak, aku tidak ingin bertemu denganmu.] balas Yosha ketus


[ Ada yang ingin kubicarakan padamu.]


[ Aku tidak perduli.]


Yosha menaruh ponselnya dan menghampiri Nania di kamar. Tampak Nania yang sedang menimang baby Ryu.“Dia belum tidur?” tanya Yosha.


Nania meletakan jari telunjuknya di bibir Yosha.“Jangan berisik, sebentar lagi dia tidur.”


Yosha terdiam, duduk di sudut ranjang memperhatikan Nania yang tampak telaten menimang dan menyayikan lagu untuk baby Ryu. Yosha tersenyum, Nania tak seperti kebanyakan wanita yang di temuinya, sangat mandiri dan sederhana.


***


Yosha bergegas mengambil tasnya untuk pergi ke kampus pagi itu.“Yosha tunggu,” suara Nania menghentikan langkah kakinya.


“Ada apa?”


“Aku sudah membuat sarapan untukmu.”


“Sarapan?”


“Iya, kita tidak pernah sarapan bersama jadi aku membuat sarapan untukmu.” ujar Nania dengan wajah sedikit malu malu.


Yosha hanya terdiam.“Kalau tidak mau juga tidak apa apa.” lanjut Nania.


“Siapa bilang? aku mau, aku lapar sekali.” balas Yosha. Nania tersenyum. Mereka pun menuju meja makan. Yosha memperhatikan Nania yang tampak sibuk memberi susu baby Ryu.“Kamu enggak sarapan?”


“Oh, aku nanti saja.”


Yosha mengambil sesendok makanannya dan mendekatkanya pada bibir Nania.“makanlah,”


“Tidak, aku sarapan nanti saja.”


“Nanti kau bisa sakit jika terlambat sarapan, kalau kamu sakit tidak ada yang menjaga baby Ryu, ayo makanlah.” paksa Yosha.


Nania membuka mulutnya,menerima suapan demi suapan dar Yosha.“Berantakan sekali.” Yosha mengambil tissu, membersihkan sudut bibir Nania yang sedikit kotor karena sisa makanan.


Wajah Nania menunduduk, tampak merona malu. Keduanya pun terlihat canggung.“Oia kamu ada kelas hari ini?” tanya Yosha memecah keheningan.


“Oh, ada.”


“Nanti siang asisten rumah tanggaku akan kembali, jadi kau bisa ke kampus, dia yang akan menjaga Ryu.”


“Oh, yasudah kalau begitu.”


Selesai sarapan Yosha pun segera pergi kampus. Siang harinya asisten rumah tangga Yosha yang dulu kembali dan mulai berkrja lagi di sana. Nania siang itu bergegas ke kampus. Tak lama Nania sampai di kampus“Nania.” panggil Yosha yang baru mmelihat Nania memasuki halaman kampus.“Asisiten rumah tanggaku sudah datang?” tanyanya.


“Sudah.”


Yosha mengambil tissu di sakunya. Mengusap sedikit keringat di kening Nania.“Apa kamu naik angkutan umum? kenapa keringatan seperti ini?”

__ADS_1


“Oh,.. i..iya tadi aku naik angkutan umum.” balas Nania sedikit gugup.


“Yosha.” panggil seorang wanita.


Tampak seorang wanita nan seksi menghampirinya.


Rachel!!


“Kamu?” Yosha kaget bukan kepalang melihat wanita itu.


“Kenapa? kamu kaget melihatku?”


“Mau apa kamu kesini?”


“Aku ingin bicara.”


“Aku tidak ada waktu.” balas Yosha ketus.


“Dia siapa?” tanya Nania memperhatikan dengan seksama wanita itu.


“Kita pergi saja.” Yosha meraih tangan Nania meninggalkan Rachel.


“Yosha, bayi itu adalah miliku.” teriak Rachel. yang sontak saja menghentikan langkah kaki mereka.


“Apa maksudmu?” Yosha menatap tajam Rachel.


“Bayi yang ada di depan rumahku itu adalah bayi kita.” jelas Rachel membuat persaan Nania sangat sakit mendengarnya.


”Jangan bercanda kamu!” sentak Yosha terpancing emosi.


Yosha mematung begitu juga Nania yang perlahan melepaskan tanganya dari Yosha.“Nania, jangan percaya kata katanya.” Yosha menahan lengan Nania yang hendak meninggalkanya.


“Aku ada kelas.” lirih Nania menepis tangan Yosha dan berlalu pergi.


“Aku tidak prcaya ucapanmu.” ucap Yosha yang hendak meninggalkan Rachel.


“Yosha, lihatlah ini.” langkah kaki Rachel mengejar Yosha memperlihat sesuatu di ponselnaya.


“Ini?” mata Yosha mendelik kaget melihat foto di ponsel itu.


“Iya, ini bayi itu saat baru lahir, masih sangat merah, bagaimana bisa aku punya foto ini kalau aku bukan ibunya.” Rachel kembali meyakinkan.


Yosha tertengun, tak ada lagi alasan untuk menampik ucapan Rachel. foto bayi di ponselnya memanglah baby Ryu.“Aku benar benar ibu bayi itu.”


“Lalu apa yang kau inginkan sekarang? kenapa waktu itu kamu tega membuangnya!” seru Yosha yang semakin emosi. Dulu memang dia ingin cepat menemukan ibu ayi itu, tapi tidak untuk sekarang. Nania rasanya sangat cocok menjadi ibu bayi itu, dan Yosha merasa mulai menyuakai Nania.


“Aku fikir waktu itu kamu tidak akan mau bertanggung jawab jadi aku menyerahkan padamu, tapi sekarang aku tau itu salah, aku ingin kembali mengurus bayi itu, dan meikah denganmu.”


“Kamu sudah gila! aku tidak bisa menikah denganmu, aku sudah menikah dengan wanita lain.” tolak Yosha mentah mentah.


“Apa dengan wanita tadi kamu menikah?”


“Iya.”


“Ceraikan wanita itu, dan menikahlah denganku.”

__ADS_1


Yosha tersenyum kecut mendenagar ucapan koyal Rachel.“Aku tidak akan menceraikanya!” tegas Yosha.


“Kalau begitu aku akan mengambil bayi itu darimu.” ancam Rachel.


“Aku tidak akan menyerahkannya.”


“Aku akan mengembil hak asuhnya bagaimana pun!” seru Rachel. Yosha tak menghiraukanya dan berlalu pergi.


***


“Nania.” panggil seorang wanita saat Nania hendak meninggalkan kampus sore itu.


“Kamu?” sedikit terkejut melihat Rachel yang sudah berdiri di hadapanya.


“Aku ingin bicara.” ujar Rachel. Nania mengangguk sampai wanita itu mengajaknya ke taman kapus dan duduk di sana.


“Ada apa?” Nania mentap bingung wanita di sampingnya.


“Kamu istrinya Yosha?”


“Benar.”


“Apa kamu mencintainya? apa pernikahan kalian sebuah ketepaksaan?” Rachel memberikan pertanyaan menohok. Nania terdiam. Benar pernikahanya dengan Yosha mungkin bisa di katakan keterpaksaan, tapi sepertinya saat ini dirinya sudah mulai mencintai Yosha.


“Kenapa bicara seperti itu?”


“Aku hanya berfikir bagiamna bisa wanita yang belum menikah tapi menikah dengan seorang pria yang sudah memiliki bayi dan ibu bayi itu pun belum jelas.”


 Nania tetap terdiam.“Sekarang ibu bayi itu ingin mengambil bayinya.”


“Kalau kamu ingin mengambilnya, kenapa waktu itu membuangnya?”


“Kamu tau Yosha, dia banyak tidur dengan wanita, aku berfikir Yosha tidak akan mau bertangung jawab, tapi saat ini aku benar benar merasa kehilangan bayiku.” Nania tertengun. Terasa pilu mendengarnya, karena dirinya merasa sudah menyanyangi baby Ryu.“Nania, aku mengingikan bayiku dan ayah dari bayi itu.”


“Apa?”


“Tinggalkan Yosha, apa kamu tega membiarkan bayi itu kehilangan kasih sayang dari salah satu orang tuanya?”


Nania semakin terdiam. Hatinya benar benar tak ingin berpisah dengan Yosha dan baby Ryu tapi dirinya pun dapat merasakan bagaimana rasanya tak ada ornag tua atau orang tua yang lengkap di sisinya. Terlebih Rachel ibu kandung dari baby Ryu.


“Nania, jawablah, apa kamu bisa meninggakan Yosha?” desak Rachel.


“Baiklah, aku akan meninggalkan Yosha.”


“Terima kasih Nania.” Rachel tersenyum puas.


Nania pun segera pulang.“Sudah pulang non,” sapa ramah asisten rumah tangganya saat memasuki rumah.


“Sudah.” balasnya melirik sendu baby Ryu yang sedang terlelap di gendongan asisten rumah tangganya. Nania segera menuju kamarnya, mengemasi pakainanya.


“Mau ke mana non?” tanya heran asisiten rumah tangganya melihat Nania mennteng dua tas besar di tanganya.


”Aku harus pergi.” lirih Nania mengusap lembut pipi baby Ryu, mencium keningnya.


“Pergi kemana non?” Nania tidak menjawab dan berjalan ke arah pintu utama.

__ADS_1


“Nania?” mau ke mana kamu?” ucap Yosha yang baru pulang, melihat Nania dengan tas besar yang di peganya.


__ADS_2