
Yosha segera membawa bayi mungil itu ke dalam rumahnya.
"Bi, bibi!!" teriaknya memanggil bi Rina dengan nada panik.
"Iya den, ada apa?" berjalan setengah berlari menuju majikannya itu, namun matanya terbelalak kaget melihat bayi mungil yang sedang menangis di gendongan Yosha.
"Astagfirullah, ini bayi siapa den?"
"Ceritanya panjang, sekarang bibi tolong diamkan bayi ini." perintahnya yang langsung memberikan bayi itu pada bi Rina.
Bayi itu semakin menangis kencang." Sepertinya dia ingin susu den," ucap bi Rina yang menatap lekat bayi tak berdosa itu.
"Susu?"
Wanita paruh baya itu mengangguk.
"Ok, bibi tunggu di sini biar aku yang belikan susu," ucap Yosha yang langsung bergegas masuk ke mobilnya menuju mini market.
Tak lama Yosha sampai di mini market.
"Beli susu yang mana nih?" mengaruk kepalanya yang tampak bingung memilih banyak merk susu berjajar rapih di hadapannya.
Yosha segera menghampiri kasir wanita di sana.
"Mbak," panggilnya pada kasir tersebut yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Iya mas," gadis itu mendngkakan wajahnya membuat Yosha mengingat sesuatu saat melihat wajahnya.
__ADS_1
"Loe, yang waktu dulu pernah numpahin minuman ke sweater gue kan?!"
Gadis tertenggun melihat wajah Yosha yang sudah berdiri di hadapannya." Ini kan cowok angkuh yang di kampus waktu itu?" batinya.
"Maaf,kalau kamu masih teringat." ucapnya kemudian dengan wajah melemas.
"Nih cewek mukanya kemayu banget, jiwa jiwa pasrah gitu." batin Yosha.
"Udahlah kenapa gue jadi ngobrol, cariin susu buat bayi dong," pintanya dengan nada memaksa.
"Susu untuk bayi?" tanya gadis itu seraya mengerutkan keningnya.
"Iya, udah cepet cariin," perintahnya kembali layaknya seorang boss.
Gadis itu pun bergegas menuju tempat susu di ikuti Yosha yang berjalan di belakangnya.
"Umur? aduh berapa ya? gue enggak tau. lagi." batin Yosha yang tampak bingung.
"Enggak tau,"
"Hah, enggak tau?!" gadis cantik itu semakin memasang wajah heran.
"Umur berapa aja lah yang penting minum susu," ucap asal Yosha.
"Bisa berbahaya jika memberinya sembarangan susu, emm.. apa bayi itu ukurannya masih kecil dan kulitnya masih memerah?"
"Sepertinya iya," Yosha mengangguk.
__ADS_1
"Oh sepertinya untuk usia 0 sampai 6 bulan." memberikan sekotak besar susu pada Yosha.
"Ya sudah gue beli, cepat bungkus."
Gadis itu pun segera mentotal belanjaan Yosha dan membungkus susu tersebut lalu bergegas kembali menuju rumahnya.
"Untuk apa dia beli susu ? apa dia sudah menikah dan memiliki bayi?" gumam gadis yang bernama Nania dengan wajah bingungnya.
"Nih bi, susunya." segera memberikan susu pada bayi yang masih menangis tersebut.
"Yaudah, bibi buatkan dulu den, tolong gendong sebentar." menyerahkan bayi itu pada Yosha dan segera membuatkan susu.
Selesai membuatkan susu bi Rina segera memberikan susu tersebut pada bayi mungil itu dan tangisnya pun mereda.
"Bi, malam ini bayi ini tidur sama bibi ya," ucap Yosha seraya melirik bayi tersebut yang tampak semangat menghisap susunya.
"Oh, iya den, tapi.. ini tuh bayi siapa?" tanyanya yang masih bingung dengan keberadaan bayi itu.
"Aku ceritakan nanti, sudah ya, aku ngantuk mau tidur." sahutnya ketus yang langsung meninggalkan bi Rina ke lantai dua rumahnya.
Yosha merebahkan tubuhnya di kasur, otaknya terus berfikir tentang bayi lakilaki tersebut.
"Siapa bayi itu? di dalam surat tertulis dari mantan gue? tapi siapa?!" mulai mengingat ingat satu persatu mantannya tapi itu semakin membuatnya bingung karena hampir dengan semua mantannya dia pernah melakukan hubungan badan.
"Atau jangan jangan ini bayi dari Yuna," gumamya sambil mengingat salah satu mantannya yang mengaku hamil beberapa bulan yang lalu..
"Iya, gue yakin ini bayi dari Yuna karena dia yang paling memaksa gue untuk bertanggung jawab." gumamya penuh keyakinan.
"Gue harus cari keberadaan Yuna secepatnya." gumamya kembali yang perlahan mulai memejamkan matanya dan teridur malam itu.
__ADS_1