
"Baby sister?" Nania kembali bertanya dengan wajah tak percaya.
Yosha mengangguk."Iya, baby sister.. cukup menjaga bayi ini dan kamu akan mendapatkan bayaran yang besar dari ku, melebihi 3 perkerjaan part time mu itu, bagaimana?"
Nania terdiam dan mencoba berfikir.
Sesaat kemudian dia menggeleng."Aku tidak bisa," tolaknya.
"Tidak bisa?" tampak terkejut mendengar penolakan tersebut. Ternyata memberi tawaran pada gadis di hadapannya itu tidaklah semudah yang di bayangkanya.
Nania mengangguk.
"Kenapa?" tanya heran Yosha.
"Aku tidak berpengalaman sebagai baby sister."
Yosha menggelengkan kepalanya."Hanya itu saja alasannya? aku tidak membutuhkan paklaring mu untuk berkerja dengan ku, tidak pengalaman pun tidak apa apa." bujuk Yosha.
"Kenapa tidak kamu saja yang merawatnya sendiri?" tanya Nania.
"Tidak bisa, aku harus kuliah tidak mungkin aku membawanya ke kampus,"
"Aku pun harus kuliah, memang di mana ibunya?" tanya Nania kembali.
Yosha menghela nafas."Tidak usah banyak bertanya, sudahlah kalau tidak mau, di tawari uang kok enggak mau, dasar aneh!" gerutu Yosha yang beranjak dari duduknya dan meninggalkan cafe tersebut.
Yosha kembali ke rumahnya, keluar dari mobil dan melihat dua orang pria yang sudah menunggunya.
"Yos, bayi siapa tuh?" tanya Damar yang melihat bayi di gendongan Yosha.
"Loe? ngapain loe ke sini?"
"Jenguk loe, kenapa loe enggak ke kampus terus itu bayi siapa?" tanya juga Lukas.
"Masuk aja deh," mempersilahkan ke dua temannya itu masuk.
__ADS_1
Yosha pun menceritakan kejadian yang menimpanya itu kepada kedua temannya tersebut.
"Jadi ini bayi loe?" Damar memasang wajah syok.
Yosha mengangguk.
"Terus siapa kira kira mantan loe itu?" tanya Lukas.
"Kayaknya sih Yuna, karena dia cewek terakhir yang paling meminta gue untuk bertanggung jawab." ujar Yosha dengan analisanya.
"Yaudah kita cari Yuna sekarang," balas Lukas antusias.
"Gue enggak tau di mana Yuna, dia kerja di club malam terakhir gue denger dia enggak kerja di sana lagi."
"Rumah atau apartemennya loe tau?" tanya Damar.
Yosha menggeleng.
Damar tersenyum kecut mendengar ucapan temannya itu."Bisa ya pacaran, tapi rumahnya aja enggak tau." ucapnya seraya menggelengkan kepalanya.
"Gue cuma ketemu Yuna di club malam, waktu itu dia sempat mau di lecehkan sama pengunjung club," jelas Yosha yang mengingat kembali pertemuan dengan mantannya itu.
"Gue khilaf,"
"Loe emang juara," Damar mengajungkan dua jempolnya untuk kelakuan temanya itu.
"Gue coba bantu cari Yuna," sahut Lukas kemudian.
"Butuh waktu, dan sekarang bi Rina pulang kampung mana bisa gue urus bayi ini sendirian." gerutu Yosha seraya melirik bayi yang sedang memakan cemilan di hadapannya.
"Bagaimana kalau untuk sementara waktu loe titipin atau letakan bayi ini aja di panti asuhan, sampai Yuna ketemu," Lukas memberikan usul.
"Panti asuhan?" Yosha mengerutkan keningnya seraya berfikir.
***
__ADS_1
Malam harinya Yosha kembali dengan rutitasnya yang melelahkan. Terbangun beberapa kali untuk membuatkan susu dan menganti diapers bayi mungilnya.
"Astaga.. lelah sekali, mungkin benar kata Lukas untuk sementara waktu gue harus menitipkan bayi ini di panti asuhan." gumamya seraya kembali melirik wajah bayinya.
Pagi pagi sekali Yosha sudah melajukan mobilnya ke sebuah panti asuhan. Yosha memutar pandangannya, terlihat suasana sekitar yang masih sepi, dengan cepat Yosha keluar dari mobilnya dan meletakkan kerajang bayi tersebut di depan pintu rumah panti asuhan tersebut.
"Maafkan aku, untuk sementara kamu harus di sini dulu, sampai aku bisa menemukan Yuna dan menyerahkan mu padanya." gumamya yang menatap lekat bayi tak berdosa itu dan bergegas melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
Keesokan harinya Yosha melakukan aktifitasnya seperti biasanya dia ke kampus dan hidup bebas seperti biasanya. Sampai malam hari Yosha merebahkan tubuhnya di ranjang. Entah kenapa dia merasa rumahnya terasa sangat sepi. Yosha melirik ke samping yang selama beberapa hari biasanya selalu ada bayi mungil di sampingnya.
"Lagi apa ya tuh bayi? gue bahkan belum memberinya nama," gumamya yang merasa sedikit kehilangan.
"Emm.. kalau gue memberinya nama Ryu, sepertinya bagus.. baby Ryu." gumamya kembali dengan senyum tipis di bibirnya dan perlahan memejamkan matanya.
Larut malam Yosha berulang kali terbangun dari tidurnya. Dia merasa selalu mendengar suara tangisan bayi. itu sangat membuatnya tidak nyaman.
"Astaga.. kenapa gue kepikiran bayi itu terus.. " gerutunya yang mulai gelisah.
Yosha tidak bisa memjamkan matanya dan pagi pagi sekali Yosha bergegas mencoba mendatangi panti asuhan itu lagi. Yosha keluar dari mobilnya dan hendak melangkahkan kakinya dengan perasaan ragu.
"Cari siapa mas?" ucap wanita paruh baya yang menghampirinya.
"Emm.. boleh saya masuk?" balasnya dengan senyuman canggung.
Wanita paruh baya yang juga pengurus panti asuhan itu pun mempersilahkan Yosha masuk ke dalam.
"Ada keperluan apa?"
Yosha menghela nafas dalam dalam dan mengumpulkan keberanian."Begini, dua hari lalu saya kehilangan bayi saya dan saya mendapat Informasi bahwa bayi tersebut ada di sini." ucapnya mencari alasan.
"Dua hari lalu? dua hari lalu memang ada yang meletakkan bayi di sini,"
"Benarkah? itu bayi saya, bisa saya bertemu dengannya?" balas Yosha antusias.
"Tapi kemarin ada wanita yang mengambil bayi itu,"
__ADS_1
"Apa? ada yang mengambilnya?!!" rasa panik pun seketika menyelimuti perasaannya mendengar ucapan wanita tersebut.
Aku up lg nih.. kalian jangan lupa komen dan like sebanyak banyaknya yak.. ❤️❤️❤️