Mendadak Jadi Dady

Mendadak Jadi Dady
Mencari baby sitter


__ADS_3

Di kamar bi Rina terus menatap lekat bayi mungil yang sedang tertidur pulas, jemarinya mengusap lembut bayi tak berdosa itu.


"Sebenarnya bayi siapa ini? apa ini bayi den Yosha?" batinya mengingat majikan mudanya itu kerap kali membawa wanita masuk ke kamarnya.


Wanita paruh baya itu menghela nafas, dengan sorot mata kekecewaan.


, baginya Yosha sudah seperti putranya sendiri karena menghabiskan banyak waktu bersamanya sedari kecil.


"Kalau tuan dan nyonya tau, pasti mereka akan marah besar." gumamya kemudian mengingat orang tua Yosha yang sudah cukup muak dengan berbagai ulah putra tunggalnya.


Sampai bi Rina hendak memejamkan matanya sura ponselnya tiba-tiba berbunyi dan dia segera mengangkatnya.


"Halo nak, kenapa?" ucapnya saat menerima panggilan dari anak gadisnya yang berada di kampung.


"Buk, bapak sakit, sudah tiga hari keadaannya semakin memburuk," ucap gadis itu dengan nada gelisahnya.


"Apa? sakit?"


"Iya buk, ibu bisa tidak pulang ke kampung besok?" pinta sang putri.


Bi Rina dengan perasaan khawatirnnya sesaat melirik ke arah bayi mungil di sampingnya.


"Baiklah, ibu akan pulang besok." keluarganya lebih penting untuknya.


***


Pagi itu dengan tergesa gesa bi Rina bergegas menuju kamar Yosha dengan bayi di gendongannya.


"Den, Den Yosha." ucapnya seraya mengetuk pintu berulang kali.


Yosha yang masih terpejam dengan berat membuka kedua matanya lalu langkah gontainya segera membuka pintu.


"Ada apa bi?" tanyanya dengan nyawa yang masih belum terkumpul.


"Den, bibi pamit mau pulang kampung,"


Sontak saja membuat Yosha semakin membuka lebar matanya." Pulang kampung? sekarang kan belum idul fitri bi?" tanyanya heran.


"Bukannya gitu den, suami bibi di kampung sakit keadaannya semakin memburuk, bibi harus segera pulang." ucapnya dengan mata yang berkaca kaca membuat Yosha tak tega melihatnya.


"Begitu? Yasudah, bibi pulang kampung saja." balasnya dengan berat hati.


"Maafkan bibi ya den, kalau keadaannya sudah membaik bibi pasti kembali,"


"Tunggu sebentar," Yosha bergegas masuk ke kamarnya dan mengambil sesuatu.


"Ini untuk bibi," memberikan uang yang cukup banyak kepada asisten rumah tangga yang sudah di anggapnya seperti orang tuanya sendiri.


"Makasih den, tolong jaga bayi ini." memberikan bayi di gendongannya pada Yosha. Menatap wajah polos bayi tersebut dengan wajah khawatir meninggalkannya bersama majikan mudanya.


"Iya, bibi hati hati di jalan."

__ADS_1


Bi Rina mengangguk dan bergegas keluar dari rumah besar tersebut. Yosha kembali masuk ke kamarnya, meletakkan bayinya di kasur.


"Enggak ada bi Rina lagi, siapa yang jaga nih bayi? masa iya gue bawa ke kampus?" gumamnya seraya melirik bayi mungil yang tampak bergumam tak jelas.


"Aduh.. gimna ya, apa gue harus cari baby sister baru?" tampak bingung dan memijat pelan keningnya.


Sampai tak lama handphonenya berbunyi dan Yosha segera mengangkatnya.


"Halo yos, loe enggak masuk kampus?" terdengar suara Damar di telepon.


"Oh, iya gue enggak masuk dulu."


"Lho,kenapa?"


"Ada urusan." Yosha langsung menutup teleponnya.


"Aduh pusing.. mending makan deh." gumamya yang langsung bergegas mandi.


Selesai mandi dan berpakaian Yosha melirik bayi mungilnya yang tampak mengisap jarinya dengan wajah yang mengemaskan.


"Aduh, ke mana mana mesti bawa nih bayi, kaya ibu ibu gue." gerutunya. Namun hanya bisa pasrah lalu mengendong bayinya untuk pergi ke suatu tempat.


Sampai tak lama Yosha tiba di sebuah cafe untuk makan di sana. Yosha melsmbaikan tangannya memanggil pelayanan di cafe tersebut.


"Mau pesan apa mas?" seorang wanita menghampiri seraya membawa daftar menu.


Yosha mendongkakan wajahnya melihat paras gadis yang tak asing untuknya.


"Kamu? melirik Yosha dan bayi mungil mengemaskan yang duduk di kursi bayinya.


"Muka loe ada di mana mana sih?" gerutunya yang sudah bosan melihat wajah gadis itu.


"Aku memang melakukan banyak perkerjaan part time," jelas Nania.


"Oh,"


"Ini bayi yang waktu itu di carikan susu?" kembali melirik bayi mengemaskan tersebut.


Yosha mengangguk.


"Kayaknya salah kasih susu deh, ini sih sepertinya di atas usia 3 bulan," melihat bayi tersebut sudah bisa duduk di kursi bayinya.


"Oh salah, yaudah udah terlanjur di minum juga." jawab santai Yosha.


"Aduh kasian sekali bayi tampan itu di urus dengan pria seperti ini." batin Nania seraya menggelengkan kepalanya.


"Kok diam aja? gue mau pesan makan nih," ucap Yosha kemudian yang membuat Nania tersentak kaget dan bergegas mencatat pesanan Yosha dan berlalu pergi.


"Tuh cewek katanya banyak kerja part time, pasti dia sangat butuh uang.. miris sekali hidupnya." gumam Yosha dengan senyum merendahkan di bibirnya.


***

__ADS_1


Malam pun tiba, hari ini hari yang cukup melelahkan untuk pria muda itu, di mana dia harus mengurus bayi mungilnya tanpa bantuan siapa pun. Sampai bayi itu tertidur dan Yosha pun ikut tertidur di sampingnya.


Belum lama Yosha memejamkan matanya terdengar suara tangisan bayi yang cukup kencang, membuat Yosha harus membuka matanya, tampak bayi di sampingnya menangis kencang.


"Aduh.. pake nangis lagi, mau minum susu nih pasti." gerutunya yang merasa tidurnya terganggu dan langsung membuatkan susu untuk bayinya.


Bayi mungil itu pun kembali tertidur begitu pula dengan Yosha. Sekian jam mereka tertidur bayi itu kembali menangis lagi.


"Astaga.. nangis lagi aja? mau susu lagi?" bergegas kembali membuatkan susu namun bayi tersebut tak mau meminum nya dan tetap menangis.


"Enggak mau minum, mau apa coba?" gumamnya yang mulai frustrasi.


Yosha melirik kasurnya yang tampak basah.


"Diapersnya bocor?"


Begegas mengganti diapers bayinya yang bocor dan tak lama bayi itu kembali tertidur. Yosha menghela nafas dan kembali merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Gue harus cari baby sister, bisa mati berdiri gue urus bayi ini sendirian, tapi cari baby sister di mana ya? gumamya seraya memikirkan sesuatu, sampai tergurat senyum di sudut bibirnya."Gue tau.. siapa yang cocok jadi baby sister untuk bayi ini." ucapnya kemudian.


Pukul 10 pagi Yosha bangun dan bergegas pergi ke suatu tempat bersama bayinya. Tak lama mereka sampai di sebuah cafe.


"Nania, ada pelanggan yang mencari mu," ucap atasan Nania seraya menjentikan jarinya pada pelanggan tersebut. Nania mengikuti arah jari tersebut menunjuk tampak pria tampan yang menunggunya di kursi cafe bersama bayi di sampingnya.


"Pria itu lagi? mau apa dia ke sini?"


"Kamu mencari ku?" tanyanya saat menghampiri meja Yosha.


"Duduklah, aku ingin bicara." perintahnya dengan nada yang lebih sopan.


Nania duduk."Bicara apa?"


"Aku tidak suka basa basi, ada berapa banyak perkerjaan part time yang kamu lakukan?"


"Perkerjaan?"


Yosha mengangguk.


"Ada tiga,"


"Banya juga,"


"Ada perkerjaan yang tidak aku lakukan setiap hari," jelasnya.


"Oh.. aku ingin menawari mu perkerjaan dan yang pasti gajinya lebih besar dari ke tiga perkerjaan mu itu."


Nania mengerutkan keningnya."Perkerjaan apa?" tanyanya penasaran.


"Jadi baby sister bayi ini di rumah ku, dan aku akan membayar mu sangat besar,"


"Apa? baby sister?" Nania tampak terkejut dan melirik bayi mengemaskan di hadapannya.

__ADS_1


Guys.. berguna ini novel baru, aku sangat butuh komen dan like kalian untuk meningkatkan level novel ini.. jangan lupa selalu like dan komen yak.. ❤️❤️❤️


__ADS_2