Mendadak Jadi Dady

Mendadak Jadi Dady
Pengalaman pertama


__ADS_3

Tak lama Yosha dan Nania pun pulang.“Nania, hari ini kamu ada kelas?” tanya Yosha di tengah tengah perjalan mereka.


“Oh, enggak ada.”


“Emm.. bagaimana kalau kita jalan jalan dulu.” Yosha mengutarakan maksudnya.


“Jalan jalan, kemana?”


“Bagimana kalau kita pergi nonton.”


Nania hanya terdiam.


“Kamu mau Nania?” tanya Yosha yang mulai merasa pesimis.


“Oh, boleh.” balas Nania gugup.


Yosha tersenyum dan melajukan mobilnya ke sebuaah mall. Tak lama mereka sampai dan langsung menuju gedung bioskop.“Bagaimana kalau kita nonton film horror?” usul Yosha saat melihat jadwal film.


”Owh, boleh.”


Mereka pun segera masuk ke dalam studio sampai film itu berlangsung. Sepanjang menonton tak terhitung sudah beberapa kali Nania memejamkan matanya atau mengalihkan pandanganya dari layar karena takut, tapi ia malu mengatakan hal itu.


“Kamu takut?” tanya Yosha melihat gelagat aneh Nania.


“Tidak.” balas Nania berbohong.


Yosha tesenyum, lucu melihat ekspresi Nania. Perlahan Yosha meraih tangan Nania yang berada di sampingya, mengenggamnya lembut. Nania bergeming dengan wajah yang kembali merona. Sampai pada satu adegan yang di takutinya, Nania kembali memjamkan matanya.


Cup.


Nania membeku, merasakan bibir lembut Yosha menyentuh bibirnya. Nania membuka sedikit bibirnya, membiarkan lidah mereka saling membelit dan menyesap lembut. Terasa hangat, sampai Yosha melepaskan ciumanya.“Bibirmu terasa manis untuk ku.” puji Yosha menatap lembut Nania.


Nania tersenyum malu. Sampai film itu berakhir dan mereka pun kembali ke rumah.


***


“Aku, mandi dulu.” ucap mereka saat sudah berada dalam kamar.

__ADS_1


“Oh ya.” balas Yosha. Nania pun masuk ke dalam kamar mandi. Yosha menunggu searaya tersenyum. Nania benar benar membuatnya jatuh cinta. Tak lama Nania keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kimono handuk putih selutut. Rambutnya yang basah semakin membuat gadis itu terlihat cantik natural. Yosha menelan ludahnya, meliahat pemandangan itu. Nania sangat menggoda untuknya.


“Kamu mau mandi?” tanya Nania membuayarkan lamunan Yosha.


“Oh iya.”


Nania hendak bejalan menuju lemari, namun Yosha menarik tangan Nania ke peluknya.“Katanya mau mau mandi?” tanya gugup Nania, karena jarak wajah mereka begitu dekat.


”Nanti saja,” Yosha menyingkiran sulur rambut yang sedikit menutupi wajh cantiknya.“Aku ingin.” bisik Yosha. Tubuh Nania bergetar, jantungnya berdesir, saat nafas hangat Yosha begitu terasa di telinganya. Nania membeku, sampai Yosha kembali menciumnya mesra. Nania tak lagi kaku merespon ciuman Yosha, keduanya berpangutan mesra.


Yosha terus mengulum bibir ranum itu dan mendorongnya perlahan ke arah ranjang. Yosha melepaskan ciumanya, pandangan mereka saling bertemu mesra.“Boleh aku memintanya sekarang?” ucap Yosha.


Nania gugup, ini akan menjadi pengalaman pertama untuknya. Dia tak mungkin menolak karena Yosha memang suaminya dan sudah kewajibanya untuk melayani suaminya. Nania mengangguk pelan, menyatakan dirinya siap untuk menyerkan tubuhnya saat ini. Yosha tersenyum dan kembali mencium bibir ranum Nania. Mereka kembali berpangutan mesra. Bibir nakal Yosha turun mengecup kulit tipis dan putih Nania, meninggalkan jejak merah di sana.


Hasrat Yosha kian menggebu. Yosha segera membuka kimono handuk yang membalut tubuh Nania. Hingga terlihat jelas tubuh polos Nania di hadapanya sekarang, begitu putih mulus dan mengairahkan. Nania segera mengambil seliut di sisinya, memutupi tubuh polosnya.


“Kenapa di tutupp?” tanya Yosha bingung.


“Aku malu.” jawab Nania dengan wajah bersemu.


Nania kembali membeku saat Yosha kembali mencium bibir ranumnya. Tangan nakal Yosha mulai menyentuh setiap area sensitif Nania. Nania mengelijang, merasakan hawa panas yang menjalar di tubuhnya. Ini pengelaman pertamanya, bibirnya tak bisa mengngkapkan apa yang di rasaakanya saat ini. Sentuhan Yosha memabukan untuknya. Kini bibir Yosha mulai menciumi setiap inci tubuih polos itu.“Aaahh..” desahan pelan lolos dari bibir mungil Nania yang tak bisa lagi menahan gelora di dirinya.


“Aku lakukan sekarang ya.” ujar Yosha yang hendak melakukan penyatuanya.


“Tunggu.” Nania menahan pergerakan tubuh Yosha.


“Ada apa?” Yosha mengeryitkan keningnya.


“Aku takut, kata orang ini akan sakit.” ucap Nania ragu.


“Awalnya mungkin akan terasa sakit, tapi aku akan melakukanya dengan lembut.” bujuk Yosha membelai lembut pipi Nania.“Kamu percaya pada ku?” tanya Yosha menatap intens Nania.


Nania mengangguk pelan.


Yosha tersenyum dan kembali memulai penyatuanya. Nania mengigit bibirnya. Rasa sakit menjalar di area sensitifnya.“Akh..!!” pekik Nania.


Yosha menghentikan gerakanya, melihat cairan bening di pelupuk mata Nania.“Maafkan aku, tahan sedikit ya.” Yosha mencium bibir Nania untuk mengurangi rasa sakitnya. Dan melakukan gerakanya dengan selembut mungkin. Hingga Nania merasakan rasa sakit itu yang kini perlahan berubah menjadi sebuah kenikmatan.

__ADS_1


“Yosh..” seru Nania saat Yosha semakin mempercepat gerakanya.


“Keluarkan sayang, jangan di tahan.” ucap Yosha tersenyum yang melihat Nania menikmati permainanya. Lenguhan demi lenguhan pun keluar dari bibir mareka berduan. Memenuhi seisi kamar yang semakin intens. Sampai keduanya mendapatkan pelepasan yang sempurna.


“Makasih ya, sudah memberikanya untuk ku.” ucap mesra Yosha mencium kening sang istri. Nania tersenyum dan terdtidur dalam peluk suaminya malam itu.


***


“Sayang bangun.” Nania menepuk pelan bahu Yosha yang masih terlelap.


Yosha perlahan melebarkan matanya terlihat Nania yang sudah rapih dengan aroma yang menyegarkan.“Kamu sudah mandi?” tanyanya.


“Sudah.”


“Kenapa mandi duluan, seharusnya kita mandi bersama.” goda Yosha yang sontak saja membuat wajah Nania merona mendengarnya.“Apaan sih.” balasnya malu.“Cepat mandi kamu ada kelas kan? aku sudaha membuatkan sarapan untukmu.” titah Nania.


“Kamu ada kelas juga?”


“Ada sih, aku berangkat belakangan saja.” tolak Nania.


“Kenapa harus belakangan, kita kan suami istri?”


“Tapi...”


“Mulai saat ini kamu harus ke kampus bersamaku, dan tidak boleh pergi keluar tanpaku.” tegas Yosha memegang lembut jemari Nania.


“Aku akan menuruti suamiku.” ucap Nania, tersenyum.


Yosha pun segera mandi, sarapan dan ke kampus bersma istrinya. Sampai tak lama mereka tiba di kampus. Yosha keluar dari mobilnya.“Silakan istriku.” ucapnya seraya membuka pintu mobil untuk Nania.


Nania tersneyum dan keluar dari Yosha. berjalan beriringan dengan suaminya. Sampai Yosha mengenggam tanganya.“Yosh, tidak usah bergandengan.” tolak Nania.


“Kenapa memang? memang salah kalau aku mengendeng istriku?”


“Tidak, tapi bagaimana jika yang lain melihat?” ucap Nania menginggat tidak semua anak kampus tau jika mereka sudah menikah.


“Tidak apa apa, biarkan mereka semua tau, jika kamu istriku.” ucap Yosha yang tetap mengandeng tangan Nania sepanjag jalan. Terlihat beberapa mahasiswa yang memperhatikan mereka lengkap dengan bisik bisik mereka yang membicarakanya. Terdengar samar di telinga Yosha dan Nania. Yosha tak sedikitpun memperdulikanya. Karena saat ini dirinya sudah yakin dan jatuh cinta pada Nania, istrinya.

__ADS_1


__ADS_2