
Setelah satu minggu berada di rumah, Yulia mulai bosan. Mana tidak bosan kalau di rumah ibunya tidak membenarkannya banyak bergerak.
"Lama-lama saya jadi robot ni di rumah," gumam Yulia.
Dia duduk di laman belakang rumah memandang padang nun jauh di sana. Petang itu kelihatan agak ramai orang bermain di sana. Mungkin kerana ini hari minggu.
Yulia tidak sedar kalau saat ini ada seseorang menuju kearahnya.
"Bah..." teriak Mya mengejutkan Yulia yang tersenyum sendirian memandang padang permainan.
"Myaaaaa..."teriak Yulia terlompat kecil kerana terkejut.
Mya ketawa terbahak bahak melihat reaksi Yulia seperti itu.
"Awas kamu Mya. Sini, sini. Saya tarik telinga kamu. Biar panjang tu telinga macam rabbit," marah Yulia sambil mengurut dadanya.
"Hehehehe maf sekadar bercanda ria sama kamu aja. Kita uda lama tidak bertemu. Apa lagi bercerita dan ketawa-ketawa begini," ucap Mya masih tertawa.
"Angin apa sampai kamu ke sini," tanya Yulia mulai tenang.
"Rindu membara sama kami la Yul, apa lagi," kata Mya girang.
"Isss rindu membara konon, macam saja couple," ejek Yulia.
"Hahaha apa salahnya pura-pura couple," rengek Mya seraya duduk di samping Yulia manja.
"Dasar anak manja. Kenapa baru hari ini kamu datang ke sini?" rajuk Yulia menjentik lembut dahi licin Mya.
"Saya sibuk la Yul. Kerja di office ayah tu tak pernah surut. Menyesal pun ada masuk office ayah," rungut Mya sambil meluruskan kaki panjangnya
"Kan dulu kamu juga yang tak sabar-sabar mau berkerja di syarikat ayah kamu tu? Jadi sekarang jenapa merungut pula?" kata Yulia panjang lebar mengingatkan Mya keputusannya dulu.
"Ehhh kamu sudah sihatkan? Kita jalan-jalan hari minggu ini yuk," ajak Mya antusiasi.
"Hmmm boleh juga. Nanti kamu yang pujuk mama aku supaya aku dapat keluar ya. Saya sudah bosan di rumah, terperap macam ikan sardin.," aduh Yulia sunguh-sunguh.
"No hal. Serahkan saja pada saya. Ini Mya tau. Nanti saya pujuk aunty lepaskan anak kesayangannya ni jalan-jalan," janji Mya yakin membanggakan diri.
Hari minggu yang ditunggu- tunggu pun tiba.
"Kita mau ke mana?" tanya Yulia membetulkan letak duduk tangannya.
"Kita ke taman aja ok," jawab Mya.
Di taman suasana siangnya sangat meriah. Entah ada apa acara di taman hari ini sehingga ada banyak orang dari berperingkat usia datang membanjiri tempat itu.
Terdapat juga banyak gerai jualan dari hari- hari biasa.
__ADS_1
"Ramainya orang," seru Mya melihat sekitar.
Yulia hanya tersenyum mendengar ucapan Mya. Dia merasa terbebas dari sangkar bagaikan burung terbang ke udara.
Mereka dengan gembira berbaur dengan orang ramai melihat-lihat di sekitar taman itu. Setelah lama berjalan mereka menuju ke sebuah gerai ais krim. Tempat menjual ais krim tidak pernah lepas dari persinggahan dua gadis ini ya. Kemana pun mereka pergi, pasti mereka akan masuk atau berhenti beli ais krim.
"Mya, tolong ubah ikatan tangan ku. Nanti susah pula makan ais krim. Tinggikan sedikit ya," pinta Yulia membelakangi Mya agar Mya mudah mengubah kedudukan pengikat tangannya yang terbungkus patah.
"Biarkan saya," suara seorang lelaki dari arah belakang mereka menolak lembut Mya ke tepi.
Yulia dan Mya melopong melihat pemuda itu.
"Kamu," seru mereka serentak.
"Hallo, kamu juga disini?" ucap Jaja menyeringai memandang kedua gadis itu
Bimba tanpa sepatah kata mengubah panjang tali pengikat tangan Yulia sambil memperbetulkan duduk tangan gadis itu.
"Wangi, harum," batin Bimba menikmati bau harum rambut Yulia. Dia ingin terus berdiri rapat menikmati bau harum itu.
Namun egonya lebih tinggi ingin membalas dendam pada gadis ini.
"Sudah boleh jalan-jalan ke taman? Kenapa tidak datang kerja?" ucapnya sinis setelah selesai mengubah tali tangan Yulia.
Yulia membalikkan diri memandang Bimba tajam tidak suka. "Nasib tangan ku belum sembuh. Kalau tidak, teringin ku tonyoh tu mata," batin Yulia geram.
"Dasar kancil tak berotak," gumam Yulia berbalik menuju ke tempat Mya yang sedang membeli ais krim.
"Aawww..." teriak Yulia kesakitan. Air matanya keluar kerana ada perih yang dia rasakan ketika tangannya di tarik.
Dari teriakan kecil gadis itu, Bimba tersedar dari perbuatannya lalu melepaskan tangan Yulia.
"Yul, kamu ok," ucap Mya yang datang menghampiri mereka membawa dua batang kon ais krim dengan perasaan terkejut.
Temannya itu tidak menjawab tetapi wajahnya menunjukkan dia kesakitan dan matanya kelihatan menitisikan air mata.
"Kamu sengaja menyakiti Yulia kah? Kamu mau dia lambat sembuh? Kamu suka dia tak boleh buat apa-apa dengan tangannya? Kamu suka pergerakannya terbatas?" marah Mya berapi-api.
Beberapa orang pengunjung memandang mereka dengan bermacam persoalan. Mereka melihat seperti ada perdebatan diantara pasangan kekasih kerana situasi Mya, Yulia, Bimba dan Jaja bagaikan pasangan kekasih.
"Mari ke sana," ucap Bimba sambil memegang bahu Yulia membimbingnya menuju sebuah pondok dekat sebuah kolam. Dia tidak menghiraukan Mya yang terus membebel bagaikan nenek memarahi ayam.
Kebetulan pondok yang mereka tuju tidak berorang jadi dengan leluasa Mya terus membebel tidak henti-henti.
"Sudah selesai membebel? Bebelan kamu ada hasilnya untuk dia?" ucap Bimba sinis.
"Kamu.." ucap Mya melototkan matanya.
__ADS_1
"Sudah la Mya," pujuk Yulia dalam kesakitan.
"Macam mana, kita mau ke rumah sakit?" tanya Jaja yang terus berdiam dari tadi.
"Tak apa, saya perlu rehat sebentar saja," terang Yulia meredahkan kerisauan yang ada pada mereka.
"Yul ais krim? Kamu masih mau?" tanya Mya menyodorkan kon ais krim vanila kepada Yulia.
"Mau. Siapa bilang saya tidak mau," kata Yulia dengan mata berbinar senang.
Saat mereka berdua nenikmati ais krim masing-masing, tiba-tiba Yulia ketawa terdekeh-dekeh.
"Apa?" seru Mya hairan.
Bimba dan Jaja yang memerhati mereka dari tadi bingung dengan apa yang terjadi.
Yulia hanya mengelengkan kepalanya sambil terus terkekeh sendiri menikmati ais krimnya.
"Ummm mmm mmmm," Yulia mencium ais krimnya terus tertawa.
"Yul jangan buat saya takut la," marah Mya mengetuk kepala temannya.
"Ini rahasia," terang Yulia tersenyum. Dia menghabiskan potongan terakhir ais krimnya sambil memejam mata.
"Ahhh dia ini ada-ada saja," batin Bimba melihat reaksi Yulia menikmati ais krim terakhirnya. Dia teringat ciuman mereka yang lalu. Ciuman paksa atau mungkin itu ciuman curi. Bimba tersenyum.
Dia mula berfikir bagaimana mencuri ciuman dari bibir munggil Yulia itu lagi.
"Bim, kamu kenapa tersenyum sendiri?" kata Jaja hairan melihat temannya.
"Jangan-jangan mereka ni ada koneksi ghaib. Kamu bercium pakai body language kah?" ucap Mya sembarangan.
Wajah Yulia dan Bimba menjadi merah mendengar ucapan tidak bertapis dari Mya tadi.
"Mungkin juga, hmmm," ucap Jaja menyokong ucapan Mya sambil memandang kedua orang itu silih berganti.
"Maningan kamu langsung berciuman saja sekarang. Rasanya saya ok melihat kamu buat itu," senyum Mya memandang Yulia penuh makna.
"Hei...jangan macam-macam la. Dia itu tuan saya. Saya ni hamba dia," geram Yulia.
"Tak salah juga kamu berciuman disini. Daripada membayangkan bibir-bibir kamu bertaut dalam angan," goda Jaja.
"Ja..." tegur Bimba tidak senang.
"Lihat ini," kata Jaja terus menangkup muka Mya dan ******* lembut bibir gadis itu.
Kedua orang muda berlainan jantina itu melopong melihat tindakan sepontan Jaja.
__ADS_1
Mya yang terkejut diperlakukan begitu hanya menikmati ciuman lembut Jaja.
Mukanya memerah menikmati ciuman tiba-tiba itu.