Mengejar Cinta Duyung Kolam

Mengejar Cinta Duyung Kolam
Bab 4 Salah Pandang


__ADS_3

Di sebuah rumah.


Seseorang memanggil sebuah nama.


"Bim, Bim....," panggil seorang gadis.


"Kemana lagi ni orang," gerutu gadis itu.


Di luar rumah kedengaran suara kesal seseorang dan tawa mengejek.


"Rasakan nikmat di perut mu yg mulus" kekeh seorang lelaki.


"Hey, kamu juga samakan. Jangan pura - pura tidak rasa apa - apa," ringis temannya.


"Bim, kamu dari mana aja?" teriak gadis tadi sejurus melihat abangnya Bimba masuk ke rumah.


Bimba bertukar pandangan dengan temannya Jaja sambil mengangkat bahu mereka.


"Bang Bim, tadi papa dan mama cari tu. Mereka mau bawa kita ke rumah teman mama. Tapi nampaknya tak jadi. Dah terlambat. Abang tak bawa hp?" kata Gigi kesal.


"Hp da mati," ringkas jawaban Bimba sambil membuka peti sejuk mengambil jus.


"Ya sudah la. Lagi pun dah lambat untuk nyusul papa dan mama," kata Gigi menaiki tangga ke atas dengan kesal.


Bimba tanpa kata menuju ke luar membawa beberapa kudapan dan minuman diikuti Jaja. Mereka duduk santai di beranda pondok atas pohon.


"Hmmm, kamu rasa gadis tadi ahli bela diri ka?" tanya Bimba sambil meneguk jusnya.


"Mungkin," balas Jaja memasukkan sekeping roti ke dalam mulutnya.


"Kalau saya jumpa perempuan itu lagi, awas," ancam Bimba kesal. Hatinya menyala - nyala penuh amarah gara - gara gadis tadi.


"Santai kawan ku, itu bukan salah siapa - siapa. Tapi masalahnya kamu. Kalau kamu tidak buat mereka kesal, tak mungkin kita ditendang tiba - tiba macam itu," Jaja menenangkan Bimba.


"Tapi perempuan itu tidak munasabah. Hp dia taklah teruk sangat. Cuma calar sikit je," protes Bimba.


Jaja tertawa lucu dengan perangai Bimba yang tidak mahu kalah.


"Ja, kalau saya jumpa perempuan itu lagi, saya pasti balas dendam," janji Bimba tersenyum licik.


"Tadi di mall kenapa tak kejar sampai dapat?" ejek Jaja tertawa.


"Hey, kalau bukan kerana kamu yang tiba - tiba bengong tadi, sudah pasti kita dapat kejar mereka la," marah Bimba.

__ADS_1


"Mereka team yang hebatkan? Seorang memandu jalan seorang lagi mengawasi keberadaan kita," tanpa sengaja Jaja memuji.


Brukkk...


"Aduh... apa pula pukul - pukul ni?" kata Jaja sambil mengusap kepalanya yang digebuk oleh Bimba.


Tanpa peduli Bimba berbaring santai dengan melipat tangannya di belakang kepalanya. Dia tiba - tiba tersenyum penuh makna.


Awas kamu perempuan jahat, kalau kita bertemu lagi kita buat perhitungan. Saya tak puas hati.


"Ah.... berani berani tu perempuan buat hal. Arggghhh..," Bimba tiba - tiba bersuara keras.


"Bim... sudahlah tu," pujuk Jaja sedikit kesal.


********


Petang itu di sebuah Syarikat kelihatan sebuah team sedang sibuk melakukan sesuatu.


"Hemmm, program dua hari lalu berjalan lancar. Pemilihan para pemenang juga lebih baik dan telus berbanding tahun lalu," kata seorang wanita separu baya.


"Iya Puan. Suasana juga lebih tenang dan para peserta juga tidak tertekan. Semua pihak lebih santai," kata seorang teamwork dari kumpulan itu.


Puan Mimi tersenyum puas dengan pencapaian program amal mereka. Dia menganggap itu adalah sebuah program amal khas untuk mereka yang meminati kecantikan diri.


"Puan, ini file semua pemenang program dandanan itu," seseorang mematikan lamunan Puan Mimi. Dia memandang semua file yang diletakkan dihadapannya tersenyum.


"Atur waktu untuk bersama mereka. Tapi ingat, setiap pemenang dijadualkan pada waktu yang berlainan," perintahnya dengan tegas.


*********


Bermain dengan alat kecantikan membuatkan Yulia tersenyum sendiri. Dia teringat bagaimana dia diketawakan oleh roommatenya sewaktu kuliah dahulu. Apa tidak diketawai apabila dia memakai gincu merah menyala dengan alis mata hitam legam tebal lagi.


Dia benar - benar buta tentang makeup waktu itu. Dari hari itu, kawan - kawan sekamarnya memanggilnya si gagak. Sebenarnya Yulia tidak mengerti kenapa dia disamakan dengan gagak ketika itu. Tapi dia tidak marah.


Yulia dengan tenang menyapukan sedikit bedak pada mukanya dan memakai lip balm. Natural. Dia kelihatan manis dengan kesederhanaan ini.


Tok tok


Pintu kamarnya diketuk.


Cklak pintu dibuka.


"Yul kamu mau ikut mama kluar tak," kata ibunya sambil duduk di tepi katil.

__ADS_1


"Mmm mama mau ke mana?" tanya Yulia memandang mamanya dari cermin.


"Mama mau beli alat memancing," jawab ibunya.


"Hah? Biar betul ma. Sejak bila pula mama suka pancing memancing ni? Selalunya mama klau mau beli ikan, mama ke pasar. Iyakan? Aneh." kata Yulia bingung dan terkejut.


"Kamu lupa ya? Abang kamu mau kita ikut dia memancing hujung minggu ini. Semua harus ikut. Mau tidak mau, kita kena ikut," jawab ibu Yulia tenang.


"Hahaha ok Ma, mari jalan kita cari joran sekarang," tawa Yulia girang.


Yulia sebenarnya tidak pernah memancing. Jadi dia sangat teruja untuk mengikuti acara yang abangnya rancang. Apatah lagi, dia tau ibunya tidak suka memancing. Dia mahu melihat bagaimana reaksi ibunya nanti.


Mereka memasuki sebuah kedai alat pancing yang terbesar di mall itu. Sewaktu melihat - lihat, Yulia tidak faham kenapa ibunya terlalu memilih joran. Kerana joran baginya hanya untuk memancing ikan.


"Ma, apa yang mama cari ni? Kaki Lia dah pegal - pegal ni," protes Yulia sambil duduk di sebuah bangku khas pelanggan di kedai itu.


"Maaaa, semua pancingkan sama. Mama mau cari pancing ikan atau pancing batu ni?" omel Yulia lagi. Ibunya tidak menjawab Yulia, malah terus berjalan sambil memperhatikan joran - joran yang ada.


Hahahaha tawa seseorang di belakang Yulia.


Tapi Yulia tidak peduli. Dia menganggap orang itu ketawa kerana hal lain.


"Aishhh Mama ni. Joran pun susah pilih. Emang mama cari yang joran bertangan manusiakah? Joran penangap ikan?" kara Yulia sendirian sambil berdiri menuju ke arah ibunya.


Orang yang duduk di belakang bangku Yulia menoleh. Dia ketawa lagi mendengar kata - kata gadis itu.


"Eh, dia?" batin lelaki itu.


"Saya harus pastikan. Nanti salah orang, itu lebih memalukan," batinnya lagi sambil berdiri membuntuti Yulia.


Dari beberapa meter, lelaki itu memperhatikan dua anak beranak itu dengan teliti.


"Jura... Jura? Kamu juga di sini?" sapa seorang wanita cantik kepada ibu Yulia.


"Mimi? Kamu juga di sini?" jawab ibu Yulia terkejut.


"Iya, tapi ini dah mau pulang." balas Mimi tersenyum sambil mengangkat hasil beliannya.


"Aku duluan ya. Lagipun saya mau beli beberapa barang lagi di tempat lain," terang Mimi. Jura ibu Yulia hanya mengangguk memberi jawaban kepada teman baiknya.


Ehhh seperti aku melihat seseorang. Ahh mungkin aku salah pandang ni, gumam Yulia sambil mengosok - gosok matanya beberapa kali.


Bagi memastikan penglihatannya betul, Yulia memandang sekeliling beberapa kali. Ternyata sosok yang dicari tidak ada. Ah mungkin halusinasinya saja.

__ADS_1


"Fuhh leganya. Kalau betul apa yang saya nampak tadi, matilah saya," batin Yulia lega.


__ADS_2