
Sekembalinya mereka ke rumah, Mya tidak terus pulang ke rumahnya. Tetapi dia pergi ke rumah Yulia dengan bermacam cerita yang ingin dia kongsikan.
"Mya kamu kenapa biarkan Jaja mencium kamu? Kamu dan dia ada apa-apakah?" soal Yulia sejurus mereka masuk ke bilik tidurnya.
Dengan santai Mya melemparkan dirinya ke ranjang sambil tersenyum riang. Hatinya berbunga-bunga indah teringat saat dia menerima kucupan lembut Jaja. Wajahnya memerah saat teringat ciuman itu semakin menghangat.
Namun terhenti gara-gara Bimba menegur mereka.
"Ah nikmat bibir lelaki itu. Manis. Ahhh..." batin Mya melamun jauh.
"Mya...,"bentak Yulia sambil melemparkan sebiji bantal ke muka Mya.
"Aaa...apa. Suka - suka saja baling bantal," tergagap menjawab Yulia
"Kamu dan Jaja ada apa-apa?" soal Yulia lagi.
"Ti..ti.tidaklah. Mana ada. Siapa bilang?" tukas Mya.
"Tadi tu apa? Berciuman tak sedar diri di mana berada," marah Yulia.
"Yul, santai ajalah. Kalau kamu dapat ciuman gitu, tentu kamu pun tak ingat dunia," tambah Mya lagi tersenyum senang.
"Hei gadis cantik, jangan bilang kamu kemaruk ciuman dari Jaja. Ya ya ya. memang Jaja tampan handsome. Bibirnya indah. Melentik gitu," ejek Yulia menyeringai memandang Mya.
Mya tidak peduli ejekan temannya itu. Malah dia terus melamun mengenang saat mereka kissing tadi. Akan adakah ciuman dari Jaja lagi? Atau ciuman tadi itu hanya contoh untuk menggoda Yulia dan Bimba? Mungkinkah Jaja mau mencuba bagaimana dirinya diperlakukan lelaki begitu?
Yulia membiarkan Mya melamun terlentang di ranjangnya, lantas dia sendiri duduk merebahkan diri di samping Mya. Hatinya terusik dengan kata-kata Mya tadi, "Kalau kamu dapat ciuman begitu..."
"Hmm begitu. Tapi saya mahu ciuman itu yang betul. Yang benar. Tidak macam yang dulu. Ciuman pertama ku parah. Ciuman curi. Tapi kenapa bibir ku terus berdenyut begini setiap teringat ciuman kancil tidak berotak itu? Bibir ku terasa ada bibir lain menempel disini," batin Yulia tanpa sedar menyentuh bibirnya
Di luar sedarnya dia menjilat bibirnya sendiri seperti mencari-cari bibir yang terasa menempel di sana. Dia mengigit bibir bawahnya sambil mengulum bibirnya sendiri.
Hatinya berdegup kencang, bagaikan bibirnya benar-benar dilumat lembut oleh seseorang. Semakin dibiarkan semakin darahnya mendidih kesukaan. Dia merasakan gunung kembarnya memberi respon yang tidak dia mengertikan.
"Ahhhh...." tiba-tiba Mya mendengus kesal. Yulia sontok terkejut lamunannya membuyar hilang.
"Kamu kenspa tiba-tiba kesal begini Mya? Buat orang terkejut saja," protes Yulia menghadap Mya.
"Yul jangan ketawakan saya ya, janji tau," pinta Mya turut menghadap Yulia.
__ADS_1
Dua gadis itu baring mengiring berhadapan.
"Mmm iya ok. Kamu kenapa?" ucap Yulia tidak sabar.
"Saya tidak pernah berciuman. Betul. Selama ini saya memang pernah couple. Tapi tidak pernah bersentuhan. Dengan erti kata lain, couple tanpa ada apa-apa sentuhan yang romantis. Apa lagi sampai berciuman. Itu tidak pernah terjadi. Saya membuat jarak," terang Mya membuka kisah cinta masa lalunya.
"Lantas itu uda dua kali berciuman dengan Jaja tanpa hubungan couple. Enak ya? Hahaha" sindir Yulia tertawa senang.
"Yullllllll..... kamu sudah janji tidak akan ketawa. Teman apa kamu ini, haaayaaaa," seru Mya sambil mendorong Yulia menjauh darinya. Hampir aja Yulia jatuh dari ranjangnya sendiri haha..
"Maaf maaf, tawa ku tak sengaja terlepas. Ikatan talinya terlepas," kata Yulia sambil mengangkat dua jarinya dengan bentuk peace ✌️.
"Yul saya serius la," marah Mya melototkan mata pada teman baiknya ini.
"Ok ok, lanjut," ucap Yulia serius.
"Yul enak rasanya saya dicium. Nyaman sekali dikiss begitu. Bibir Jaja seperti candu bibir ku Yul. Saya mau lagi dicium Jaja. Bibir ku masih merasa bibirnya Yul. Seperti bibirnya masih menempel disini. Dia isap bibir ku sampai aku terbuai Yul. Saya suka. Betul suka, ahhh," luah Mya sambil baring menelentang memandang lelangit kamar Yulia. Dia memejamkan mata seperti hanyut menikmati rasa ciuman yang hangat.
"Tapi Mya, kamu dengan dia itu tidak ada hubungan apa-apa. Kamu kenal dia itu siapa? Tinggal di mana? Dia punya kekasih atau tidak? Dia normal atau tidak?" bantah Yulia tidak suka.
"Entahlah Yul. Seperti dia ada magnet yang kuat," ucap Mya.
Mereka membaringkan diri memandang kipas di lelangit kamar itu tanpa kata.
"Yul, kamu dan Bimba bagaimana?" tanya Mya asal.
"Benci tau. Benci sangat sama tu kancil tiada otak. Sepertinya dia sengaja kenakan saya," geram Yulia.
"Haha kancil tiada otak? Lucu. Kenapa benci?"
"Dari kolam ikan dulu uda sangat benci dengan si kancil tidak berotak. Hmmm lupakan," kata Yulia serius.
Ada apa sebenarnya di kolam ikan kala itu?
Setelah Mya berparmitan untuk pulang, Yulia berbaring di biliknya tidak tenang.
Fikirannya begitu terganggu mengingat Bimba kancil tidak berotak itu.
"Benci, benci, benci," gumam Yulia menendang-nendanh bantal peluknya.
__ADS_1
"Saya mesti cari kerja secepatnya supaya hukuman permainan gila ini berakhir," putus Yulia berfikir nekad mengakhiri permainan hamba itu.
Yulia tertidur dalam banyak fikirannya.
"Yulia bangun, hari uda siang. Tidak baik gadis cantik lambat bangun. Nanti dapat jodoh pun susah. Dapat pun yang sudah keriputan,"suara seseorang membangunkan Yulia.
"Tidak apa asalkan tidak berjodoh dengan Kancil tidak berotak itu" jawab Yulia dengan malas.
"Baiklah permintaan mu akan didengar dan nanti ketika kamu keluar dari rumah ini, orang pertama yang kamu lihat akan menjadi jodoh kamu selamanya," ucap orang itu tegas.
Mendengar itu, Yulia bangun membuka matanya.
"Tunggu! Kamu siapa? Kenapa kamu ada di bilik saya? Bagaimana kamu masuk?" soal Yulia bertubi-tubi.
Tetapi orang itu tidak memedulikan pertanyaan Yulia. Malah dia bergerak pergi menuju pintu kamar itu.
"Tunggu....tunggu....tunggu..saya bilang tunggu," teriak Yulia. Dia tidak dapat bergerak kerana merasakan ada sesuatu di kakinya.
Dia berusaha berdiri dan alhasilnya dia jatuh.
Brughhh...
"Ahhhh..."
"Yul bangun... kamu kenapa sampai begini? Bangun nak," sayup-sayup kedengaran suara ibunya mengoncang tubuh Yulia yang terjatuh dari katilnya.
Yulia membuka mata dan mendapati dia terjatuh dari ranjangnya.
"Ehh mama. Kenapa mama disini?" tanya Yulia yang masih terbaring diatas lantai.
"Tadi kebetulan mama ada di depan pintu bilik kamu. Mama dengar kamu teriak-teriak. Bila mama masuk, kamu jatuh pula ke bawah," terang ibunya.
"Kamu mimpi apa tadi?" lanjut ibunya lagi.
Dengan susah payah, Yulia bangkit berdiri dan duduk di tepi katilnya.
"Mimpi? Oh jadi yang tadi itu cuma mimpi? Syukur..." gumam Yulia merasa lega.
"Lain kali, kalau mau tidur, cuci dulu muka dan kaki baru masuk tidur," pesan ibunya berlalu pergi.
__ADS_1