Mengejar Cinta Duyung Kolam

Mengejar Cinta Duyung Kolam
Bab 29 Udang Rebus


__ADS_3

Selamat membaca.


Terima kasih anda sudah sampai ke bab ini.


******


"Yulia izinkan saya terus berhubung dengan kamu," pinta Bimba menurunkan Yulia di tepi tempayan. Dia menimba air lalu mencuci kaki gadis itu perlahan.


Setiap sentuhannya meremangkan tubuh Yulia.


"Amm..." tidak sengaja Yulia mendesah yang dikira oleh Bimba sebagai jawaban dari permohonannya.


Detik itu juga Bimba berdiri tegak memeluk Yulia.


"Terima kasih," peluk Bimba erat.


Tanpa mereka sedari ada mata-mata yang melihat dan bibir-bibir yang tersenyum.


"Ok diterima lamarannya." ucap dari salah seorang pemilik mata itu.


"Bagaimana kalau malam ini kita nikahkan mereka. Biar malam ini jafi malam pertama mereka." timpal yang lain.


"Iya setuju. Lagipun semua sudah ada disini."

__ADS_1


"Biarkan mereka masuk dan suruh langsung duduk di depan sana dan biarkan tok ketua akan langsungkan pernikahan mereka."


Semua yang hadir tersenyum riang melanjutkan tugasan masing-masing.


"Kami balik!!" seru Yulia menjengukkan kepala ke dalam.


"Wah cucu nenek sudah balik? Sana kamu duduk di saitu," tunjuk nenek Yulia dengan wajah berseri-seri.


"Cucu berdua mahukah kamu berjanji kepada nenek kamu yang sudah tua ini? Apa pun terjadi kamu mahu terima perjanjian ini?"


Ucapan neneknya to ang tiba-tiba aneh mengejutkan Yulia dan Bimba. Ada apa ini? Nenek kenapa? Sakit? Persoalan-persoalan itu tersimpan di hati masing-masing tidak mahu bertanya kerana melihat wahah nenek yang sendu.


"Ya nek, saya berjanji," ucap keduanya serentak dan mendapat pelukan mesra dari nenek Yulia.


Kedua pemuda berbeza usia itu saling berpandangan tidak mengerti.


Ketika upacara pernikahan itu dimulai, keduanya terlopong tanpa kata. Mereka ingin menolak tapi janji sudah diucapkan.


Seumur hidup Yulia, dia tidak pernah mengetahui akan ada kejadian seumpama ini. Tidak di buku romansa atau di movie-movie kisah cinta.


Dengan tatapan memohon, dia memandang nenek dan datuknya yang tersenyum gembira. Sesekali kedua orang tua itu memutar ke kiri ke kanan telepon yang dipegang nenek.


"Nenekkkk, apa ni?" teriak Yulia dalam hati. Dia melirik Bimba yang turut bingung dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


Dalam suasana meriah dan mengejutkan itu, tiba-tiba muncul kedua keluarga Yulia dan Bimba juga.


Senyuman senang dari kedua keluarga itu membuatkan Yulia juga Bimba bertambah bingung.


"Adakah ini dinamakan penjodohan. Dijodohkan sebelum lahir atau dijodohkan setelah kedua keluarga mengetahui ada anak meteka yang dapat dinikahkan?" batin Bimba.


Lamunan kedua orang yang sedang dinikahkan membuyar hilang setelah disedarkan dengan tepukan gemuruh seluruh keluarga.


"Cium pengantinnya, cium, cium!" seru seluruh keluarga.


Yulia mengerdip-ngerdip matanya berfikir itu masih mimpi atau mungkin gurauan.


Sedangkan Bimba menoleh gadis di sampingnya yang sudah sah menjadi isterinya, menyentuh tangannya lalu mencium dahi gadis itu.


Seketika itu juga wajah Yulia memerah bagaikan udang rebus. Nafasnya terhenti dan dia mengeletar shok.


"Kamu sudah sah menjadi isteri saya sekarang," bisik Bimba tersenyum licik.


Yulia menjeling Bimba yang sudah berstatus suaminya lalu mengangkat kakinya tanpa sesiapa menyedarkannya lalu menginjak kaki Bimba.


Kerutan kesakitan jelas kelihatan di wajah tampan Bimba, tetapi dia sedaya upaya menahannya dengan merangkul isterinya lebih rapat lalu mengucup pipi gadis itu.


Kelakuan mereka diperhatikan seluruh keluarga dengan perasaan senang. Menyangka pasangan itu sangat bahagia

__ADS_1


__ADS_2